
Rahasia Menantu Culun Bab 37
Anak buah Rifki pun mulai menceritakan semua informasi yang ia ketahui. Dan Rifki yang mendengar informasi tersebut, bola matanya langsung membulat sempurna.
"Apa semua yang kau katakan ini benar?"
Anak buahnya pun dengan semangat mengatakan iya, dan Rifki yang mendengar pengakuan tersebut, hatinya langsung berbinar bahagia.
Bagaimana tidak? ini bisa menjadi alasan utama agar dia dapat kembali bersama dengan Citra.
"Baiklah Bos, jangan lupa transferannya."
"Hum, oke."
Rifki yang merasakan kebahagiaan luar biasa, kemudian dia tertawa terbahak, rasa kesal yang dia rasakan sebelumnya mendadak sirna.
"Ha...ha..ha, aku tidak menyangka perbuatan nekad ku itu akan membuahkan hasil, dan kau Citra, sekarang kau tidak bisa lepas dariku," ujar Rifki lalu dia kembali tertawa terbahak.
Namun tawa bahagianya mendadak sirna, saat mengingat kedekatan Citra dengan Angga. Dan laki-laki itu sepertinya menaruh hati terhadap istrinya, Citra.
"Awas saja kalau aku bertemu dengannya, dan aku akan memberikan pelajaran pada laki-laki sok jagoan itu," batinnya kemudian.
****
Syasi yang merasa pernikahannya dengan Rifki sudah berada di ujung tanduk, kemudian dia menelpon ibunya, karena, dia ingin merencanakan untuk segera menyingkirkan Citra dari kehidupan Rifki untuk selama-lamanya.
Dengan kemarahan yang menggebu, ia pun menceritakan tentang semua yang terjadi antara dirinya dan Rifki kepada ibunya, Brenda.
Brenda yang mendengar keluh kesah Syasi, dirinya pun mulai tersulut emosi lalu dia meminta Syasi agar segera datang ke Apartemennya.
"Baiklah Mom, sebentar lagi aku akan ke sana."
Tidak butuh waktu lama mobil yang dikendarai oleh Syasi pun kini sudah berhenti tepat di depan Apartemen Brenda.
Syasi terus mengayunkan telapak kakinya hingga dia sampai tepat di depan pintu apartemen ibunya.
Tok...tok...tok.
Brenda yang sedang menelepon seseorang langsung mematikan sambungan ponselnya, ketika mendengar suara ketukan pintu.
"Masuk," ujarnya kemudian.
Syasi pun langsung masuk, ketika mendengar seruan ibunya.
__ADS_1
"Ibu….!" terik Syasi sambil berhambur kedalam pelukan wanita paruh baya itu, lalu dia kembali menangis dengan tersedu.
Sedangkan Brenda, iapun sangat merasa kasihan dengan putri semata wayangnya.
Sembari mengusap punggung Syasi dengan lembut, kemudian dia mengatakan kalau dirinya sedang membuat rencana untuk menyingkirkan Citra.
Syasi yang awalnya menangis tersedu, kemudian dia melepaskan pelukannya terhadap Brenda. Lalu menatap ibunya dengan sedikit berbinar.
"Benarkah, apa yang kau katakan Bu?" ucap Syasi sambil mengusap air matanya dengan punggung tangan.
Brenda tersenyum, kemudian dia mengangguk.
Melihat hal itu, kemudian Syasi kembali memeluk ibunya dengan sangat erat, lalu dia berterima kasih kepada Brenda karena ibunya selalu mengetahui apa yang dia inginkan.
"Terima kasih Bu, kau selalu membuat diriku bahagia," ucap Syasi. Kemudian dia kembali melepaskan pelukannya terhadap Brenda.
****
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, dan Citra yang sudah merasa baikan kemudian dia pun memutuskan untuk pulang dari kantor secepatnya.
Karena seperti yang dokter Lisa katakan, dia tidak boleh terlalu capek dalam bekerja.
"Apa perlu aku antar," tanya Robin.
"Tidak perlu, aku sudah baikan kok," ucap Citra sambil mengulas senyum. Lalu dia melangkah perlahan menuju parkiran.
Namun ditengah perjalanan, Citra tiba-tiba menepikan mobilnya di sebuah pusat perbelanjaan, karena dia ingin membeli sesuatu.
Citra yang sedang berbelanja, tiba-tiba merasakan ada seseorang yang mengawasi dirinya.
Namun, ketika dia melihat ke belakang, tidak ada sesuatu yang aneh, hanya orang-orang yang sibuk berbelanja mencari keperluannya masing-masing.
"Apa ini hanyalah perasaanku saja," batin Citra lalu dia kembali melanjutkan aktivitasnya.
Usai membeli semua yang ia butuhkan, kemudian Citra pun berjalan menuju meja kasir. Dan saat mengantri untuk membayar barang belanjaan, Citra pun kembali merasakan ada seseorang yang mengawasi dirinya.
Citra pun kembali celingak-celinguk kesana-kemari mencari sosok yang mencurigakan. Namun, sama seperti sebelumnya, semua orang hanya sibuk berbelanja kebutuhan mereka masing-masing.
"Baiklah, tenangkan dirimu Citra. Ini semua hanya perasaanmu saja," batin Citra sambil bermonolog meyakinkan dirinya sendiri.
Setelah membayar semua barang belanjaannya, kemudian Citra berjalan kembali menuju mobil.
Namun, saat dirinya memasuki mobil, tiba-tiba seseorang menodongkan pistol tepat di pinggang kirinya.
__ADS_1
"Masuk, dan jalankan mobilnya sekarang," perintah seorang laki-laki berbadan tegap dengan wajah yang ditutup masker.
Citra tersentak, kemudian dia hendak berteriak. Namun, salah satu temannya yang menyadari hal tersebut, langsung membekap mulut Citra dengan sapu tangan yang sudah dicampur dengan obat bius.
Tanpa butuh waktu lama, Citra pun akhirnya pingsan.
Takut orang lain melihat aksi mereka, kemudian para preman itu pun langsung meninggalkan lokasi dengan mengendarai mobil Citra.
Di dalam mobil
Salah satu dari preman itu pun menghubungi orang yang menyuruh mereka melakukan tugas tersebut.
"Hallo bos, semuanya sudah beres, Citra sudah kami culik dan akan membawanya ke tempat yang sudah kita sepakati."
"Baiklah, sebentar lagi aku akan kesana," jawab orang yang berada di seberang sana.
Dan setelah preman itu memberitahukan kalau Citra sudah berada di dalam genggaman mereka, kemudian preman itu pun langsung mematikan sambungan telepon, lalu membawa Citra ke tempat yang mereka sepakati.
Chit….
Mobil itu pun berhenti tepat di sebuah gubuk yang lama tidak dihuni oleh manusia, karena atap dan dindingnya saja sudah tampak reot dan mau roboh.
Kedua preman itu pun turun dari mobil dan langsung membopong tubuh Citra masuk ke dalam gubuk reyot tersebut.
Kemudian mereka berdua mendudukkan tubuh Citra disebuah kursi, lalu para preman itu mengikat tubuh Citra dengan tali yang mereka sudah sediakan sebelumnya.
Setelah merasa sudah aman, kemudian preman itu berjaga di depan pintu. Sambil menunggu kedatangan bos mereka, lalu keduanya pun mulai berbincang-bincang dengan santai.
"Bagaimana? apakah bos kita sudah mentransfer uang yang dia janjikan?"
"Sudah," jawab Rico.
"Wah…. kalau begitu malam ini kita akan bersenang-senang dong," ucap Tio sembari tertawa bahagia.
Namun, tawa bahagia Tio tiba-tiba sirna saat sebuah mobil mewah berhenti tidak jauh dari gubuk reyot itu. Dan mereka berdua yakin, kalau itu adalah bos mereka.
"Bos," sapa Rico dan juga Tio sembil membungkuk hormat. Kemudian Rico memberi isyarat agar Tio segera membuka pintu gubuk reyot tempat Citra disekap.
Dengan langkah anggun, kemudian wanita paruh baya itu pun masuk ke dalam gubuk.
Hatinya langsung berbinar senang, kala melihat ketidak berdayaan Citra.
"Ambilkan seember air, dan guyur wanita tak berguna itu," perintahnya kemudian.
__ADS_1
"Baik bos."
Sembari menunggu kedatangan orang suruhannya, kemudian wanita paruh baya itu pun tersenyum bahagia. Sebab, rencananya kali ini akan benar-benar berhasil.