Rahasia Menantu Culun

Rahasia Menantu Culun
Rahasia Menantu Culun Bab 59


__ADS_3

Rahasia Menantu Culun Bab 59


Tawa bahagia terus saja menggema, saat Citra melihat betapa indahnya tempat yang dia kunjungi bersama dengan Angga.


"Angga, ini sangat begitu indah, bagaimana kamu tau kalau ada tempat yang sangat menakjubkan seperti ini…!" ujar Citra menatap hamparan bunga warna-warni yang saat ini sedang bermekaran. Bahkan, aroma yang menyeruak dari bunga itu sangat menenangkan pikiran.


Belum lagi sungai kecil yang sangat jernih berada di tengah-tengah hamparan bunga warna-warni itu, menambah tempat tersebut begitu sangat menakjubkan.


Sambil merentangkan kedua tangan, kemudian Citra menutup mata perlahan, lalu menghirup udara di sekitar itu dengan lembut. Belum lagi suara gemericik air yang mengalir membuat hati Citra merasakan ketenangan luar biasa.


"Hufh…!" Citra menghirup udara di tempat itu berulang kali.


Sedangkan Angga yang melihat hal itu, kemudian dia menghampiri Citra, lalu memeluknya dari arah belakang.


"Jika kamu suka dengan tempat ini, kita bisa datang berkunjung setiap hari," bisik Angga tepat di telinga Citra.


Citra membuka mata, kemudian menyandarkan kepala di dada bidang Angga.


"Aku memang sangat suka dengan tempat ini. Tapi kalau setiap hari kita berkunjung, apa ibumu tidak marah," ucap Citra.


Angga tersenyum, kemudian mengajak Citra untuk duduk di atas gazebo yang berada di tengah hamparan bunga warna-warni itu.


"Baiklah," ucap Citra sambil tersenyum manis, bahkan Angga yang melihat senyuman Citra, membuat hati Angga kian meleleh.


Sembari menggenggam tangan Citra begitu lembut, kemudian Angga dengan telaten menuntun Citra menuju gazebo.


Sesampainya di gazebo, Angga pun mengajak Citra untuk berbincang-bincang dengan santai. Hingga pada menit berikutnya, Angga mulai berpikir, inilah saatnya dia mengutarakan perasaan yang telah lama dia pendam untuk Citra.


Sembari tersenyum tipis, kemudian Angga meraih jari-jemari Citra, lalu mengelusnya dengan cukup lembut.


Citra yang merasakan sesuatu keanehan yang ditunjukkan oleh Angga padanya, dia pun mulai menunjukkan tanda-tanda, bahwa sekarang dirinya mulai tak nyaman.


Angga tersenyum, menyadari perubahan sikap yang ditunjukkan oleh Citra. Lalu dengan lembut menaruh jari-jemari Citra di dada bidangnya.


"Apakah kau merasakan detak jantungku yang kian berdegup kencang?" tanya Angga.

__ADS_1


Citra terdiam, kemudian menunduk.


Meski tak dapat dipungkiri, bahwa Citra memang sangat-sangat begitu merasakan detak jantung Angga, karena Angga meletakkan jari-jemari Citra tepat di dadanya.


"Ayolah Cit, jawab pertanyaan ku," desak Angga.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, kemudian Citra mengangguk. Dan hal itu mampu membuat Angga bersorak kegirangan di dalam hati. Mungkin, saat ini Dewi Fortuna sedang berpihak padanya.


Angga menggeser posisi duduknya, lalu menyandarkan kepala di bahu Citra. Rasanya dia sudah tak sabar untuk mengutarakan perasaan pada sang pujaan hati, yang sejak pertama kali bertemu selalu membuat hatinya dag dig dug.


Angga menatap manik mata Citra dengan dalam, karena sejak tadi apa yang dia lakukan tidak ada penolakan, kini Angga pun semakin berani. Dengan perlahan Angga berbaring di pangkuan Citra, kemudian menggenggam tangan Citra dan sesekali ia pun mengelusnya.


"Citra…!"


"Hum." Citra menjawab dengan singkat, karena sejak tadi apa yang dilakukan oleh Angga tidak bisa ia tolak. Apalagi saat ini, Angga dengan tenang menjadikan pahanya sebagai alat untuk menyandarkan kepala.


Dengan demikian, Citra pun merasakan detak jantung yang kian berdegup tidak karuan.


Gub..gub…gub.


"Citra…!" Sekali lagi Angga memanggil nama sang pujaan hati.


"Iya…ada apa kak?"


"Apa kamu masih ingat dengan awal pertemuan pertama kita?"


Citra mengulas senyum.


"Ya, ingatlah kak. Mana mungkin aku lupa," jawab Citra.


"Kalau begitu, apa kamu tau, semenjak saat itu aku sudah menaruh hati padamu. Tapi, aku merasa sedikit kecewa karena ternyata saat itu kamu masih menyandang status istri dari Rifki Ansori Bagaskara," Angga menarik nafas dalam, kemudian dia duduk lalu berbalik menghadap Citra.


Sedangkan Citra, ia hanya menunduk menunggu kalimat berikutnya yang akan disampaikan oleh Angga.


Sambil menggenggam tangan Citra erat, kemudian Angga kembali mengutarakan isi hatinya.

__ADS_1


"Tapi sekarang aku sudah merasa lega, karena kamu sudah terbebas darinya," lagi-lagi Angga menarik nafas dalam, berusaha menetralisir rasa gugup yang kian membuncah di lubuk hati. Lalu, menit berikutnya Angga menatap manik mata Citra.


"Apakah kamu bersedia, kalau aku menggantikan posisi Rifki, dan aku berjanji akan mencintaimu seutuhnya."


Citra yang tadinya menunduk, seketika mengangkat kepala, kemudian menatap manik mata Angga. Memang tergambar jelas, bahwa laki-laki yang berada di hadapannya itu sangat-sangat begitu serius.


"Hufh…!" Citra menghembuskan nafas dengan cukup kasar, lalu dia melepas genggaman tangannya dari Angga.


"Aku tidak pantas bagimu Angga, aku ini seorang janda. Dan masih banyak perempuan diluar sana yang lebih cocok untuk kamu jadikan pacar, ataupun pendamping hidupmu, aku yakin, saat ini mereka sedang mengantri untuk dijadikan pacar olehmu. Sebab, kamu adalah laki-laki idaman setiap wanita," ucap Citra merasakan sesak yang teramat sangat.


Padahal sebenarnya ia pun, merasakan hal yang sama seperti Angga. Namun, karena statusnya sebagai seorang janda, akhirnya Citra memilih mundur. Terlebih kemaren, Citra sempat melihat, ada seorang perempuan yang cukup dekat dengan Angga. Yang Citra ketahui belakangan, wanita itu bernama Dila.


"Tapi Citra, apa salahnya jika kamu seorang janda, aku mencintaimu melebihi apapun, bahkan aku rela meninggalkan semua yang aku miliki, jika ibuku nanti tidak merestui hubungan kita," ucap Angga.


Citra terperanjat, saat mendengar ucapan Angga barusan.


"Sebegitu besarkah cinta Angga terhadap diriku? sampai-sampai ia rela meninggalkan orang tuanya demi aku," batin Citra. Kemudian dia menunduk, karena masih bingung harus menjawab apa.


******


Di Rumah Angga


Saat ini, Rosa Hafiq sedang uring-uringan di dalam kamarnya, ia memikirkan bagaimana cara agar dia bisa mempertemukan Anaknya Angga dengan Dila nanti malam.


Pasalnya, Rosa Hafiq sudah berjanji pada Dila kalau nanti malam ia akan meresmikan pertunangan Angga dengan Dila.


"Haduh…bagaimana ini? kenapa sejak tadi Angga tidak mengangkat telpon dariku," ucapnya sambil memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa berdenyut.


Entah apa yang harus dia lakukan sekarang, agar ia tau dimana keberadaan Angga.


"Oh…Angga? kamu berada di mana sih Nak, kali ini jangan membuat ibumu malu lagi dong sayang," ucapnya sambil menjambak rambutnya sendiri. Karena saat ini, Rosa Hafiq benar-benar cukup frustasi.


Namun disaat Rosa Hafiq sedang bingung, tiba-tiba di dalam kepalanya terbesit satu nama. Anton, sekretaris sekaligus sahabat baik anaknya.


"Kenapa sejak tadi tidak terpikirkan olehku," ujar Rosa Hafiq. Buru-buru dia berjalan menuju Nakas, kemudian meraih ponselnya, lalu menghubungi nomor telepon Anton.

__ADS_1


__ADS_2