Rahasia Menantu Culun

Rahasia Menantu Culun
Rahasia Menantu Culun Bab 60


__ADS_3

Rahasia Menantu Culun Bab 60


Anton yang sedang berada di kantor, tiba-tiba dirinya cukup terperanjat saat melihat siapa gerangan yang menelpon.


"Ibu Sultan. Pasti Angga mematikan ponselnya, sehingga Rosa Hafiq menghubungi ku," batinnya berkecamuk. Sebab, Anton cukup bingung, antara menjawab telepon itu atau tidak.


Namun, setelah menimang-nimang beberapa menit, akhirnya Angga pun memutuskan untuk mengangkat telepon dari Rosa Hafiq.


"Hallo nyonya, ada apa?" jawab Anton.


Rosa Hafiq yang merasa cukup kesal, karena panggilannya terlalu lama diangkat oleh Anton. Dirinya pun murka, kemudian memarahi sekretaris pribadi anaknya itu.


"Iya nyonya, maafkan saya. Karena tadi ada klien bisnis yang mengobrol dengan ku," ucap Anton berbohong.


"Oh.. begitu rupanya, kalau seperti itu. Maafkan saya, karena telah mengganggu pekerjaanmu."


"Tidak apa-apa nyonya, ini sudah selesai kok."


Setelah berbasa-basi sebentar, kemudian Rosa Hafiq mengutarakan maksud dan tujuannya untuk menelpon Anton.


Namun, Rosa Hafiq kembali merasa kecewa, karena Anton sama sekali tidak mengetahui keberadaan Angga.


"Huft…baiklah, kalau begitu aku matikan saja sambungan telponnya," ucap Rosa Hafiq merasa sangat kecewa. Padahal Anton adalah satu-satunya harapan untuk mengetahui keberadaan Angga.


Setelah Rosa Hafiq memutuskan sambungan ponselnya, kemudian Anton buru-buru menghubungi nomor telepon Angga.


Namun, sayang seribu sayang. Nomor ponsel Bosnya itu sama sekali tidak bisa di hubungi. Hanya suara operator saja yang terus-menerus di dengar. Hingga Anton merasa bosan, barulah ia meletakkan ponsel itu di atas meja.


"Kamu kemana sih Bos, sampai-sampai ponsel kamu tidak bisa di hubungi," batin Anton. Kemudian dia kembali melanjutkan pekerjaannya.


*******


Sama halnya dengan tempat yang Citra dan Angga kunjungi, begitu pula lah dengan hati kedua insan itu. Berbunga-bunga.


Ya, bagaimana tidak? saat ini Angga sangat merasa bahagia, karena Citra telah menerima cintanya. Dan setelah cukup lama berbincang-bincang dengan Citra, Angga memutuskan. Bahwa malam ini ia akan memperkenalkan Citra pada keluarganya.


"Kamu serius, apakah tidak terlalu cepat. Kita baru saja jadian," ucap Citra.


Namun, Angga dengan cepat menggelengkan kepala, lalu dia mengecup punggung tangan Citra dengan lembut.


"Ini adalah waktu yang tepat, lagi pula aku sudah lama mengenal mu Cit, jadi aku ingin membina hubungan yang serius, bukan hubungan yang main-main," ujar Angga meyakinkan Citra.


Citra menatap manik mata Angga sejenak, lalu menunduk. Dan sepersekian detik kemudian, Citra pun akhirnya menyetujui keinginan Angga.


"Baiklah," jawab Citra akhirnya.

__ADS_1


Lagipula, setelah dipikir-pikir, apa yang dikatakan oleh Angga itu memang benar. Mengingat status Citra sebagai seorang janda. Jadi untuk apa lama-lama berpacaran?


Angga yang mendengar ucapan Citra barusan, dirinya pun sangat merasa senang, hingga ia lupa diri, lalu mencium wajah Citra bertubi-tubi.


"Angga sudah," ucap Citra.


Angga seketika menghentikan aksinya, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"He…he… maaf, aku hanya terlampau senang, jadi aku lupa kalau ternyata kita belum muhrim," jawab Angga sembari cengengesan.


Citra tersenyum.


"Tidak apa-apa," jawab Citra.


Setelah itu mereka berdua meninggalkan taman bunga warna-warni itu menuju rumah Angga.


Dalam perjalanan, Citra pun sempat merasakan kecemasan luar biasa. Sebab, inilah pertama kalinya ia bertemu dengan keluarga Angga.


Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Karena Angga yang mengerti dengan kecemasan Citra, kemudian menggenggam tangan kekasihnya itu dengan lembut, lalu menenangkan hati Citra.


"Kamu tidak perlu merasa cemas dan khawatir sayang, karena aku selalu berada di sampingmu," ucap Angga sambil tersenyum.


Citra menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembusnya secara perlahan.


"Baiklah," jawab Citra, kemudian ia kembali menatap lurus ke depan.


"Hufh…hufh."


******


Malam semakin larut, kini tibalah keluarga Dila di Mension mewah keluarga Rosa Hafiq.


Rosa Hafiq yang sedang menunggu di ruang tamu, dan tiba-tiba mendengar seseorang mengetuk pintu, hatinya pun merasa sangat riang gembira.


"Pasti itu adalah keluarga Dila," ucap Rosa Hafiq. Kemudian dia memanggil para pelayan untuk segera membuka pintu.


"Baik Nyonya," ucap pelayan itu sambil membungkuk, kemudian bergegas untuk membuka pintu.


Setelah pintu di buka.


Dila dan keluarganya pun memasuki Mension mewah itu, lalu mereka semua berjalan beriringan menuju ruang tamu, setelah pelayan memberitahukan kalau mereka semua sudah ditunggu kedatangannya oleh Rosa Hafiq di ruang tamu.


"Selamat malam nyonya," ujar Ibunya Dila sambil cipika-cipiki dengan Rosa Hafiq.


"Selamat malam juga," jawab Rosa Hafiq. Kemudian dia mempersilahkan semua tamunya untuk duduk di sofa.

__ADS_1


Keluarga Dila pun duduk, dan tidak berselang lama, para pelayan pun datang untuk menyuguhkan minuman dan berbagai jenis cemilan, mulai dari harga ratusan ribu sampai dengan harga yang cukup fantastis.


"Tidak perlu repot-repot, nyonya Rosa Hafiq," ucap ibunya Dila sebagai bentuk basa-basi.


Rosa Hafiq tersenyum.


"Ini semua aku lakukan, untuk calon menantuku." Kemudian Rosa Hafiq menatap ke arah Dila.


Dila tersenyum, lalu dia celingak-celinguk mencari keberadaan Angga.


Namun, setelah beberapa menit tidak menemukan keberadaan Angga, ia pun akhirnya memutuskan untuk menanyakan keberadaan Angga pada Rosa Hafiq.


"Tunggulah, sebentar lagi juga dia akan datang," ucap Rosa Hafiq berbohong. Padahal yang sebenarnya dia tidak tau, apakah malam ini Angga akan datang ke rumah atau tidak.


Namun, demi menyenangkan hati Dila, terpaksa Rosa Hafiq berbohong.


"Baiklah, aku akan sabar menunggu," jawab Dila.


Kemudian kedua keluarga itu pun mulai berbincang-bincang dengan santai.


Sedangkan di luar rumah, Angga cukup terkejut saat melihat mobil keluarga Dila terparkir di halaman rumah.


"Untuk apa mobil perempuan itu ada disini, apakah ibu kembali mengundangnya makan malam," batin Angga. Lalu dia membanting pintu mobilnya dengan sedikit kasar.


Citra yang melihat ekspresi Angga, kemudian dia menanyakan apakah Angga baik-baik saja.


Angga tersenyum, kemudian dia meyakinkan Citra bahwa dirinya baik-baik saja.


"Baiklah, kalau begitu ayo kita masuk," ajak Angga, kemudian dia menyatukan jari-jemarinya dengan Citra, lalu menggenggamnya dengan sangat erat.


Citra terdiam tanpa mengucapkan sepatah katapun, lalu dia melirik ke arah tangannya yang digenggam erat oleh Angga. Kemudian berjalan mengikuti kemana arah langkah kaki Angga.


Namun, ditengah perjalanan menuju rumah, Angga tiba-tiba menghentikan langkah kakinya, lalu membalikkan badan ke arah Citra.


"A-ada apa," jawab Citra terbata. Sebab, saat ini dia merasakan sensasi yang sangat berbeda, antara gugup, takut, semuanya bercampur menjadi satu.


"Berjanjilah padaku, apapun yang terjadi nanti, jangan pernah meninggalkan diriku," ucap Angga sambil menatap manik mata Citra dengan sangat dalam.


Citra menunduk, kemudian mengangguk mengiyakan.


Angga pun sangat merasa lega dengan jawaban Citra, dan setelah itu ia kembali melangkah perlahan menuju pintu rumahnya.


Tok…tok…tok.


Rosa Hafiq yang sedang berbincang-bincang di ruang tamu bersama dengan keluarga Dila, dirinya pun sangat merasa senang, saat mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu.

__ADS_1


"Itu pasti Angga," ucapnya dengan wajah berbinar.


Rosa Hafiq pun berdiri dari tempat duduk, lalu dia berjalan menuju pintu untuk membukanya.


__ADS_2