Rahasia Menantu Culun

Rahasia Menantu Culun
Rahasia Menantu Culun Bab 62


__ADS_3

Rahasia Menantu Culun Bab 62


Citra terus melangkah meninggalkan kediaman Angga dengan kepedihan mendalam. Bahkan air matanya tak berhenti menetes dari kelopak mata, perkataan Ibunya Angga sejak tadi terus terngiang-ngiang di dalam pikirannya.


Citra terus melangkah tak tentu arah, hingga dia sampai di persimpangan jalan, barulah ia menghentikan sebuah taksi.


"Taksi," panggil Citra sambil melambaikan tangan.


Taksi itu pun berhenti, kemudian Citra masuk ke dalam.


Namun berbeda dengan Angga, Ia yang baru saja keluar dari dalam rumah, dirinya pun terus menerus berteriak memanggil nama Citra. Sebab, ia sangat yakin kalau Citra tidak akan pergi jauh, karena Citra sendiri tidak membawa mobil.


"Citra pasti masih berada di sekitar sini," batin Angga. Kemudian dia mencari Citra sampai di pintu gerbang.


"Citra…Citra…Citra. Kamu dimana?"


Angga terus menerus berteriak memanggil nama Citra. Namun, perempuan itu tak pernah sekalipun menyahut panggilan dari Angga.


Hingga salah satu tukang kebun datang menghampiri dan mengatakan kalau perempuan yang dicari oleh Angga sudah pergi menaiki taksi.


"Apa? tidak mungkin?" ucap Angga sambil menjambak rambutnya dengan sedikit kasar, tampak dari raut wajahnya, saat ini ia sangat begitu cemas.


"Baiklah, terima kasih infonya pak."


"Sama-sama, Den Angga."


Setelah mendapat informasi dari tukang kebun, Kemudian Angga berlari menuju mobil. Dan ia berniat untuk menyusul Citra ke rumahnya.


Chkiit…


Taksi yang ditumpangi oleh Citra tiba-tiba berhenti di tengah jalan.


"Ada apa dengan mobilnya pak? kenapa tiba-tiba berhenti?"


Pak supir menoleh kearah belakang, saat mendengar pertanyaan penumpangnya.


"Maafkan aku Nona, ban mobil sepertinya kempes," jawab supir taksi itu. Kemudian dia pun meminta Citra untuk turun dan melanjutkan perjalanan dengan mobil taksi lain. Sebab, memperbaiki ban mobil membutuhkan waktu yang cukup lama.


"Baiklah pak," jawab Citra pasrah. Kemudian dia pun bergegas turun dari dalam mobil taksi tersebut.


Dipinggir jalan, Citra pun terus melambaikan tangan pada setiap mobil taksi yang lewat. Tapi tidak ada satupun yang berhenti, karena di setiap mobil taksi yang lewat itu selalu ada penumpang.

__ADS_1


Citra terdiam sejenak, lalu berjongkok di pinggir jalan. Ingin menelpon Robin. Namun, dirinya takut mengganggu pekerjaan sahabatnya itu.


"Bu-buka kah itu adalah Citra," ucap Angga. Kemudian dia mengucek matanya beberapa kali. Takutnya nanti ia salah lihat.


"Iya, benar. Itu adalah Citra, aku tidak mungkin salah lihat," ucap Angga merasa senang. Kemudian dia pun menghentikan mobilnya. Lalu turun menghampiri Citra.


Citra yang sedang berjongkok di pinggir jalan, tiba-tiba dirinya terperanjat melihat keberadaan Angga. Ia pun lalu berusaha berdiri, dan berniat untuk melarikan diri.


Namun, baru saja dia melangkah beberapa langkah, tiba-tiba Angga mengejarnya.


"Citra…berhenti," pekik Angga. Kemudian dia berlari menghampiri Citra, dan langsung menarik pergelangan tangannya.


"Apa yang kamu lakukan, kenapa kau meninggalkan aku sendiri, padahal kita sudah berjanji sebelumnya untuk menghadapi ibuku bersama-sama," sarkas Angga.


Citra terdiam, kemudian menundukkan kepala, merasa salah, karena tidak menepati janjinya pada Angga.


"Maafkan aku," ucap Citra akhirnya. Tanpa berani melihat kearah Angga.


Angga menutup mata, kemudian dia menarik nafas dalam. Ia merasa bersalah karena barusan dirinya telah berteriak cukup keras pada Citra.


"Tidak, seharusnya aku yang meminta maaf padamu," ucap Angga kemudian dia meraih tubuh Citra kedalam pelukannya.


"Mari aku antar pulang," ucap Angga sambil melepas pelukannya dari Citra.


Citra tersenyum, kemudian dia mengangguk mengiyakan.


*****


Sedangkan di rumah Dila


Sejak kepulangannya dari rumah Angga, wanita itu tak pernah sekalipun keluar dari dalam kamar.


Hingga membuat Romlah sangat merasa cemas dengan keadaan anak semata wayangnya.


Dengan perlahan Romlah pun berjalan menuju menuju kamar Dila, ingin mengetahui keadaan anaknya.


Tok…tok…tok.


"Dila…Dila…Dila. Nak buka pintunya," Romlah terus menerus memanggil nama anaknya sambil terus mengetuk pintu kamar Dila.


Namun, sudah berulang kali dia mengetuk pintu, tapi Dila tak pernah sekalipun menyahut panggilannya.

__ADS_1


Hingga membuat rasa cemas bersarang di lubuk hati. Dan ingin sesegera mungkin mendobraknya. Karena sejak tadi, Romlah sudah berusaha mendorong pintu kamar itu, tapi tidak bisa terbuka juga.


"Argh…!" Romlah menendeng pintu kamar anaknya. Lalu dia berteriak sekencang-kencangnya memanggil nama Dila.


Namun, wanita muda nan cantik itu tak pernah sekalipun menyahut panggilannya.


"Bagaimana ini apa yang harus aku lakukan?" ujar Romlah sambil mondar-mandir tidak karuan di depan pintu kamar Dila. Saat ini Romlah sedang dihinggapi rasa cemas yang luar biasa. Hingga membuat dia tidak bisa berpikir jernih.


Setelah cukup lama Romlah mondar-mandir di depan pintu kamar, akhirnya diapun menemukan ide.


"Oh…iya Papi, aku harus menelepon papi untuk memberitahukan hal ini padanya," ujar Romlah sambil mengetuk kepalanya sendiri. Karena sebelumnya tak terpikirkan olehnya.


Dengan langkah kaki seribu, kemudian Romlah berjalan menuju kamarnya untuk mengambil benda berbentuk pipih yang dia taruh di atas nakas.


Sembari tangan gemetar, Romlah pun meraih benda berbentuk pipih itu, lalu dia mencari nomor kontak suaminya. Dan setelah menemukannya, kemudian dia menghubunginya.


"Hallo ada apa," jawab Tuan Nugroho yang langsung terhubung.


Dengan suara gemetar, Romlah pun mulai menceritakan tentang apa yang terjadi kepada Dila, dan semenjak pulang dari rumah Angga, anaknya itu tak pernah sekalipun keluar dari dalam kamar. Bahkan dirinya sudah menggedor-gedor pintu, tapi anaknya Dila tak pernah sekalipun menyahut.


"Aku sangat takut pih, cepatlah pulang," ujar Romlah dengan suara gemetar.


"Baiklah mah," jawab Tuan Nugroho yang langsung berdiri dari kursi kebesarannya. Kemudian dia berlari menuju mobil.


Sepanjang perjalanan pulang, Tuan Nugroho sudah tidak bisa berpikir jernih, bahkan dia melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.


Hingga tak butuh waktu lama, akhirnya mobil yang dikendarai olehnya pun sudah sampai di halaman rumah.


Buru-buru dia keluar dari dalam mobil, kemudian langsung bergegas masuk ke dalam rumah.


Setelah sampai di dalam rumah, Tuan Nugroho sangat begitu terhenyak, melihat keadaan istrinya yang saat ini sedang duduk di pojokan. Dengan keadaan yang cukup menyedihkan.


"Mah, apa yang terjadi?" tanyanya pada Romlah, kemudian dia memeluknya untuk menenangkan keresahan dan kegundahan yang bersemayam di lubuk hati sang istri.


"Pah…!" tangis Romlah terdengar begitu menyayat hati. Lalu menyandarkan kepala di dada bidang suaminya.


"A-aku sa-sangat takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada anak kita Dila, pah," ujar Romlah.


Tuan Nugroho yang mendengar kalimat yang diucapkan oleh istrinya, kemudian mengelus punggung Romlah dengan sangat lembut.


"Apa yang kamu pikirkan Bu, anak kita baik-baik saja," ucapnya, kemudian melepas pelukannya dari Romlah. Lalu berjalan bergegas menuju pintu kamar Dila.

__ADS_1


__ADS_2