
Rahasia Menantu Culun Bab 46
Pagi yang cerah nan indah, seperti biasa Citra mulai menjalankan aktivitasnya sebagai CEO di perusahaannya sendiri, Pratama Group.
Saat ini dia sedang memimpin rapat, dan setelah hampir satu jam, akhirnya rapat yang dipimpin oleh Citra pun telah usai. Dan para kolega bisnisnya juga sudah pergi meninggalkan ruangan.
Kini tinggallah Citra, Robin dan juga Angga di ruangan itu. Mereka bertiga mulai berbincang-bincang dengan santai, membahas bisnis mereka yang berada di kota B.
Namun, ditengah perbincangan hangat mereka, tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu dengan cukup kasar.
"Masuk," ujar Citra dari dalam.
Seseorang yang mengetuk pintu itu pun memutar knop pintu. Namun, baru saja dia berdiri di ambang pintu, tiba-tiba resepsionis mendahului dirinya.
"Maaf Non Citra, saya sudah melarangnya untuk masuk, tapi dia memaksa," ujar resepsionis itu merasa bersalah karena dia tidak becus menjalankan tugas, padahal beberapa bulan yang lalu, Robin dengan tegas sudah memperingatkan dirinya agar tidak memperbolehkan Syasi datang ke kantor, apalagi sampai masuk ke dalam ruangan Citra.
Citra memandang sekilas wajah adik tirinya Syasi, lalu kembali menatap resepsionis yang tampak cukup ketakutan.
Resepsionis itu menundukkan kepala saat pandangan matanya beradu dengan sang atasan, dan saat ini dia sangat merasa takut. Takut kalau Citra marah dan memecat dirinya.
"Sudah tidak apa-apa, sekarang pergilah dan lakukan pekerjaanmu," ucap Citra sambil mengibaskan tangannya.
"Baik Nona, terima kasih," ujar resepsionis itu merasa lega karena apa yang dia pikirkan ternyata tidak terjadi.
Sedangkan Syasi yang melihat Citra membiarkan resepsionis itu pergi, kemudian dia berjalan mendekat ke arah Citra.
Lalu dia menceritakan semua yang dilakukan oleh resepsionis itu pada dirinya. Dan meminta Citra agar memecat resepsionis itu sekarang juga.
Citra menarik nafas dalam.
"Sudahlah Syasi, tidak usah diperpanjang, lagi pula dia hanya menjalankan tugas," ujar Citra.
Robin yang sejak tadi diam membisu mendengar keluh kesah Syasi, lalu dia berdiri dari tempat duduknya.
"Iya, aku yang meminta resepsionis itu untuk melarangmu datang ke kantor ini, karena aku sangat takut kamu menyakiti perasaan sahabatku Citra, kamu itu 'kan wanita bermuka dua, lain di luar dan lain di dalam?" sarkas Robin sambil menatap Syasi dengan tajam.
Ia merasa sangat kesal melihat keberadaan Syasi di ruangan itu, jadi sekarang Robin memutuskan untuk kembali saja ke ruangannya.
__ADS_1
"Robin," panggil Citra saat sahabat baiknya itu beranjak meninggalkan ruangan.
Robin melirik sekilas wajah sahabatnya.
"Apalagi Cit, kamu tau 'kan kalau aku sangat muak melihat wajah saudara tirimu itu, terlebih wajah kepura-puraannya," ujar Robin ceplas-ceplos tanpa peduli dengan perasaan Syasi. Karena menurutnya orang seperti Syasi tidak perlu di kasihani.
Citra terdiam melihat kepergian Robin yang mulai menghilang dibalik pintu, ia tau betul kalau sahabatnya Robin sangat membenci Syasi. Apalagi setelah kejadian beberapa bulan lalu, dimana Almarhum ibunya Syasi dengan tega menyiksa dirinya. Bahkan sampai di rawat di rumah sakit.
Sedangkan Syasi Ia hanya mengulas senyum tipis, saat mendengar ucapan Robin, meski tak dapat dipungkiri bahwa dirinya sangat merasa sakit mendengar perkataan Robin yang cukup menyayat hati.
Namun, baginya tidak masalah Robin berkata seperti itu? yang penting sekarang dia sudah berhasil mendekati Citra.
"Syasi, maafkan perkataan Robin, mungkin hari ini moodnya sedang tidak baik," Citra memberi perhatian pada Syasi.
"Tidak apa-apa kak," jawab Syasi.
Angga yang menjadi pendengar setia sejak tadi, akhirnya dia pun undur diri karena pekerjaan di kantornya masih menumpuk.
"Baiklah," ucap Citra.
Setelah kepergian Angga dan Robin, kemudian Syasi mulai melaksanakan tugasnya, dan kali ini dia bertekad agar rencananya tidak gagal.
Citra yang merasa tidak enak untuk menolak ajakan Syasi, akhirnya iapun menyetujuinya.
-
-
-
Dret...dret..dret.
Rifki yang sedang sibuk memeriksa beberapa berkas penting di kantor, begitu terganggu dengan suara ponselnya yang sejak tadi tidak berhenti berdering.
"Siapa sih yang nelpon di jam seperti ini? tidak tau apa? kalau aku sedang sibuk," oceh Rifki.
Namun, walaupun begitu ia tetap meraih benda berbentuk pipih itu, sebab dirinya cukup penasaran, kenapa sampai orang tersebut mengganggu pekerjaannya.
__ADS_1
"Mom," batin Rifki sambil mengerutkan kening, setelah melihat nama yang tertera di layar ponsel.
Tanpa pikir panjang, kemudian Rifki menggeser tombol hijau itu ke atas.
"Ada apa Mom?"
"Rifki, cepat susul mom ke rumah sakit, Ronald suhu badannya sangat tinggi dan mom bersama dengan pengasuhnya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit," terdengar suara khawatir dari Siska.
Rifki yang mendengar suara khawatir dari sang Mommy, kemudian dia langsung bergegas keluar dari dalam ruangannya.
"Baiklah Mom, aku akan menyusul." kemudian Rifki menanyakan kepada Siska, ke rumah sakit mana Mommynya membawa Ronald.
Siska pun menjelaskan kepada Rifki, bahwa dia akan membawa Ronald ke rumah sakit terbesar di kota itu.
"Baiklah Mom, aku akan kesana," ujar Rifki lalu dia memutuskan sambungan telepon dari sang Mommy.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Rifki menghubungi istrinya Syasi. Namun, beberapa kali ia mencoba menelpon nomor ponsel Syasi, tapi tetap tidak terhubung.
"Kemana saja sih dia, sampai-sampa nomor teleponnya tidak bisa dihubungi?" ujar Rifki cukup kesal. Karena beberapa hari ini Syasi selalu saja sibuk dan mengabaikan tugasnya sebagai seorang ibu.
Bahkan, kemarin Rifki sudah memperingatkan Syasi agar memperhatikan keadaan Ronald. Namun, sepertinya Syasi tak mengindahkan peringatannya itu.
Mobil yang dikendarai oleh Rifki pun terus saja melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibukota, hingga akhirnya mobil itu pun kini sudah berhenti tepat di depan rumah sakit yang diberitahukan oleh Mommynya tadi.
Rifki pun keluar dari dalam mobil, lalu berjalan tergesa menuju meja resepsionis.
Setelah menanyakan nama pasien atas nama Ronald, yang ternyata masih dirawat di ruangan IGD. Kemudian Rifki pun kembali berjalan tergesa menuju tempat anaknya dirawat.
"Rifki, dimana Syasi?" tanya Siska saat melihat anaknya sudah hampir dekat dengannya.
Rifki terdiam. Lalu dia menghampiri Siska, kemudian memeluk Mommynya yang tampak masih dalam keadaan panik.
"Tenangkan dirimu Mom? nggak usah terlalu panik." Rifki berusaha menenangkan Mommynya, walau sebenarnya ia juga sangat begitu panik. Namun, berusaha tetap tenang di hadapan Siska.
Siska langsung melepas pelukannya dari Rifki, lalu dia menatap wajah anak kesayangannya itu sambil berlinang air mata.
"Bagaimana Mom tidak panik? Ronald itu cucu satu-satunya Mommy, dan kamu tau 'kan kalau mom sangat menyayanginya," ucap Siska yang mulai terisak. Lalu dia kembali menanyakan keberadaan menantunya Syasi.
__ADS_1
Rifki menarik nafas dalam, lalu dia memberitahukan kepada Siska, bahwa dirinya sudah menelpon Syasi, tapi belum juga terhubung.