
Rahasia Menantu Culun Bab 58
Dua hari kemudian
Sesuai janji Angga kemarin, bahwa dirinya akan mengajak Citra untuk jalan-jalan. Dan sekarang dia sudah berada tepat di depan rumah Citra, untuk menunggu sang pujaan hati yang saat ini sedang bersiap-siap di dalam kamar.
"Den Angga, kenapa tidak masuk saja ke dalam rumah?" tanya bi Ojah sambil menaruh kopi pesanan Angga di atas meja.
Angga tersenyum tipis. Kemudian menatap perempuan paruh baya itu dengan seksama.
"Belum muhrim bi, takut sesuatu terjadi yang tidak diinginkan kalau aku menunggu Citra di dalam," ucap Angga.
"Oh…begitu, makanya buruan atuh den Angga, non Citranya di halalin. Biar mantan suaminya itu tidak lagi mengganggu kehidupan non Citra."
Angga begitu terperanjat saat mendengar ucapan bi Ojah. Bahkan dia menatap wajah perempuan paruh baya itu dengan penuh tanda tanya.
"Maksud bibi apa?"
Bi Ojah pun mulai menjelaskan kronologi awal mula Rifki datang ke rumah itu pada kemarin sore. Dimana Rifki dan Citra terlibat pertengkaran sengit, dan kalau tidak ada satpam yang membantu Citra, mungkin kemarin Rifki sudah berhasil membawa Citra pergi.
"Apa…?" Angga pun berdiri dari tempat duduknya sangking terkejutnya mendengar penjelasan bi Ojah.
"Iya den Angga, kemaren mantan suaminya Non Citra datang ke sini, dan dia meminta Non Citra untuk rujuk kembali dengannya. Tapi Non Citra tidak mau, maka dari itu terjadilah pertengkaran diantara keduanya," jelas bi Ojah lagi.
Angga pun duduk kembali pada kursi dengan cukup lemas, saat mendengar penjelasan bi Ojah barusan. Menurutnya, Rifki cukup bernyali datang ke rumah Citra. Padahal mereka berdua telah resmi bercerai.
"Aku harus berbuat sesuatu. Jika tidak, Rifki akan selalu berusaha untuk mendekati Citra. Dan satu hal lagi, aku akan melindungi Citra dari laki-laki sialan seperti Rifki," batin Angga sambil mengusap wajahnya dengan sedikit kasar.
Namun tidak berselang lama, Citra sudah berada di teras rumahnya, dan bi Ojah pun sudah masuk ke dalam rumah, karena dia tidak ingin Citra mendengar obrolannya dengan Angga barusan.
"Ayo berangkat," ajak Citra pada Angga.
__ADS_1
Angga berdiri dari tempat duduknya, lalu dia menatap manik mata Citra dengan cukup dalam.
"Ada apa kau melihatku seperti itu, aku tidak suka tau, kalau kamu menatapku seperti itu," ucap Citra sambil tersenyum manis.
Angga menarik nafas dalam, lalu dia menggenggam tangan Citra lembut. Dan terlintas di benaknya akan mengungkapkan isi hatinya dalam waktu dekat ini pada Citra.
"Tidak, aku hanya sedikit pangling dengan penampilanmu, itu saja," jawab Angga berbohong. Kemudian dia mengajak Citra untuk masuk ke dalam mobil.
******
Dirumah Keluarga Dila
Dila yang berada di ruang tamu, saat ini dirinya sangat begitu kesal dengan Angga. Bagaimana tidak, sejak tadi sudah hampir puluhan kali dia mencoba menghubungi nomor telepon Angga. Namun, tak sekalipun pria pujaan hatinya itu mengangkat telpon darinya.
Bahkan ibunya Dila pun sangat merasa kesal dengan sikap anaknya, yang memaksakan kehendaknya sendiri, padahal dia sudah tau kalau Angga sudah tidak lagi mencintai dirinya.
"Sudahlah Dila, lebih baik kau cari saja pria lain nak, dan sadarlah Angga itu sudah tidak mencintai dirimu lagi," nasehat ibunya Dila.
Ibu Dila langsung melongo mendengar ucapan anaknya. Bisa-bisanya Rosa Hafiq berjanji seperti itu Dila.
Padahal dia tau sendiri kalau Angga tidak setuju, Bahkan malam itu Angga sengaja menghindar dengan perjodohan yang mereka lakukan.
"Apa…! tidak Nak. Ibu tidak akan membiarkan dirimu menikah dengan Angga, sadarlah Dila Abraham. Angga itu tidak mencintai dirimu, dan ibu tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupanmu nanti, jika sudah menikah dengan Angga," ujar ibunya Dila sambil menggoyang-goyangkan pundak anak kesayangannya.
Dila menatap manik mata ibunya dengan cukup tajam, lalu dia melepas genggaman tangan ibunya dari pundaknya.
"Lepas Bu, lagipula aku tidak butuh saran darimu. Yang aku butuhkan hanyalah dukungan. Dan apa salahnya, jika aku menikah dengan laki-laki yang aku cintai. Terlebih, ibunya Angga setuju kalau aku menjadi menantunya, itu saja sudah cukup bagiku," sarkas Dila.
Kemudian dia pergi meninggalkan ibunya menuju kamar.
"Tunggu Nak, tunggu. Dengarkan dulu penjelasan ibu."
__ADS_1
Dila menghentikan langkah, lalu dia membalikkan badan.
"Ada apa lagi Bu?"
Ibunya Dila pun langsung mendekat ke arah anaknya. Kemudian dia kembali memegang kedua pundak anaknya dengan lembut.
"Dengar sayang, bukannya ibu tidak setuju kalau kamu menikah dengan Angga, tapi ingat satu hal Nak, jika kita menikah dengan orang yang tidak mencintai kita, kehidupan rumah tangga yang akan kita jalani nanti akan terasa hampa, dan ibu tidak ingin hal seperti itu terjadi padamu, karena kamu adalah anakku satu-satunya, aku ingin melihatmu selalu bahagia," jelas ibunya Dila.
Namun hal itu tidak dihiraukan oleh Dila. Karena tekadnya sudah bulat untuk menikah dengan Angga, terlebih dia mendapat dukungan penuh dari Ibunya Angga, Rosa Hafiq.
"Lepas Bu, aku mau istirahat," ujar Dila kemudian meninggalkan ibunya.
Ibunya Dila menggelengkan kepala, saat melihat betapa keras kepala anaknya, kemudian menghirup udara di ruangan itu dengan cukup paksa. Lalu berjalan sempoyongan menuju sofa yang tersedia di ruang tamu.
"Ada apa? kau bertengkar lagi dengan Dila?" tanya papa Dila yang baru saja datang. Lalu dia duduk di samping istrinya.
"Hufh… iya, anak mu itu sangat keras kepala, aku sudah peringat 'kan untuk tidak menikah dengan Angga, karena laki-laki itu tidak mencintainya. Tapi hal itu tidak dihiraukan oleh anakmu itu sama sekali. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Oh… Tuhan," ucap ibu Dila yang bernama Romlah.
Romlah pun lalu mencurahkan isi hati pada suaminya, bahwa dia sebenarnya tidak setuju dengan perjodohan Dila dengan Angga.
"Sudahlah, kamu tidak perlu merasa khawatir, biar aku saja nanti yang akan menanganinya," ucap ayah Dila yang bernama Nugroho.
Romlah menatap lekat kearah suaminya.
"Apa yang akan kamu lakukan, jangan macam-macam. Kamu tau sendiri 'kan bagaimana sifat Rosa Hafiq. Jika bukan anak kita sendiri yang menolak perjodohan ini, kita tidak bisa berbuat apa-apa," jelas Romlah cukup khawatir dengan masa depan anaknya Dila.
"Jadi bagaimana? apa kita harus diam."
Romlah menggelengkan kepala, karena dia sendiri tidak tau apa yang harus di lakukan. Kemudian mengambil segelas air mineral yang tersedia di atas meja, lalu meneguknya sampai habis.
"Entah apa yang dipikirkan oleh anak itu, sehingga dia mau saja menikahi laki-laki yang tidak mencintainya sama sekali," ujar Romlah.
__ADS_1
Sedangkan Nugroho yang mendengar celotehan istrinya, dia hanya diam, tanpa menimpali sama sekali.