Rahasia Menantu Culun

Rahasia Menantu Culun
Rahasia Menantu Culun Bab 55


__ADS_3

Rahasia Menantu Culun Bab 55


Di kantor Angga


Malam semakin larut, dan jarum jam juga sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Namun, Angga masih enggan untuk pulang ke rumah. Ia masih termenung di kursi kebesarannya sambil mengetuk-ngetuk 'kan bolpoin yang berada di tangan ke atas meja.


Bagaimana tidak, saat ini dirinya sangat merasa kesal atas pertemuannya dengan Dira tadi siang. Dan ini adalah dampak yang dia rasakan sekarang.


Beberapa menit yang lalu ibunya Rosa menelpon dan meminta dirinya untuk segera menemani Dira untuk makan malam.


Namun dia menolak dengan alasan, kalau saat ini dia sedang sibuk. Tapi, ibunya bersikeras dan meminta Angga untuk segera pulang ke rumah secepatnya, karena ada pertemuan penting dengan keluarga Dira malam ini.


Angga menarik nafas dalam, sudah berulang kali dia menolak untuk dijodohkan dengan Dira, karena Dira sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Sebab, dari kecil Dira memang suka bermain di rumah mereka.


"Apa yang harus aku lakukan? aku sangat begitu mencintai Citra, tapi bagaimana cara ku memberitahukan semua hal ini kepada ibu," ujarnya dalam hati.


Saat ini Angga sangat begitu dilema, di satu sisi ia sangat menyayangi ibunya, dan di sisi lain ia juga sangat mencintai Citra.


Dengan perlahan ia pun berdiri dari kursi kebesarannya, lalu berjalan menuju balkon, berharap semua rasa resah dan gelisah yang dia rasakan akan segera sirna, setelah menatap keindahan langit malam yang dipenuhi oleh bintang-bintang.


Namun, baru saja Angga sampai di balkon. Tiba-tiba ponsel yang berada di saku Jasnya berdering.


Ia pun meraih benda pipih itu, dan melihat nama yang tertera di layar ponsel.


"Ibu…!" batinnya kemudian.


Dengan rasa malas yang mendera, akhirnya Angga pun menggeser tombol hijau itu ke atas. Karena dia tidak ingin membuat ibunya merasa khawatir.


"Hallo... ada apa Bu?"


Rosa terdiam, berusaha mengontrol emosinya agar tidak meledak. Sembari menarik nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan, kemudian dia menanyakan kenapa Angga sampai melewatkan makan malam bersama dengan keluarga Dira.


Angga mengusap wajahnya dengan sedikit kasar, saat mendengar pertanyaan ibunya.


"Aku rasa ibu sudah tau alasannya, jadi aku tidak perlu menjelaskan berulang kali."

__ADS_1


"Tapi Angga, aku ingin Dira menjadi pendamping hidup mu, menjadi menantu di rumah ini, lagi pula kalian 'kan saling mencintai, itu yang lebih penting dalam menjalin kehidupan awal rumah tangga," ujar Rosa dengan sedikit tekanan.


"Ibu… aku sudah tidak mencintai Dira, semenjak kejadian itu. Dan satu hal lagi, dia itu sudah aku anggap sebagai adik ku sendiri, ibu sudah tau hal itu 'kan," jawab Angga sengit.


Rosa menarik nafas dalam, memang kalau berdebat dengan anaknya yang satu ini, ia lebih baik mengalah.


"Baiklah- baiklah, kita akhirnya saja perdebatan ini, dan sekarang pulanglah aku menunggumu di rumah, lagipula ini sudah jam dua belas malam, tidak akan ada klien yang menemui mu selarut ini," ujarnya kemudian.


Angga menutup mata perlahan, berusaha menghirup oksigen di ruangan itu dengan paksa.


"Tidak bu, aku tidak akan pernah pulang ke rumah sampai ibu berhenti menjodohkan aku dengan Dira, lagipula ini jaman modern, aku bisa mencari pendamping hidupku sendiri," ucap Angga kemudian dia memutuskan sambungan teleponnya.


Sedangkan Rosa, ia hanya mengelus dada saat mendengar pernyataan anaknya. Kemudian dia mendudukkan bokongnya di atas kursi, sambil melihat layar ponsel yang sudah mati.


"Hufh…!"


Rosa menarik nafas dalam, lalu dia meletakkan jari telunjuknya di kening. Memikirkan bagaimana cara agar anaknya Angga mau menikah dengan wanita pilihannya, Dira.


*****


Namun berbeda dengan Citra, saat ini ia masih enggan untuk membuka mata. Karena mulai hari ini ia berniat untuk cuti beberapa hari ke depan.


Dengan memasang raut wajah yang cukup menggemaskan, kemudian dia kembali menarik selimut untuk menutupi seluruh bagian tubuhnya.


Namun, baru saja dia melakukan hal itu, tiba-tiba ponsel yang dia taruh di atas nakas berdering.


"Hufh... siapa sih yang menelpon pagi-pagi buta begini," ucapnya sambil membuka selimut yang menutupi bagian wajahnya. Kemudian meraih benda berbentuk pipih itu.


"Robin…!" buru-buru dia mematikan sambungan ponselnya dan menaruh benda berbentuk pipih itu di atas nakas, lalu dia kembali menutup tubuhnya dengan selimut.


Namun, tidak berselang lama. Tiba-tiba ponsel itu berdering kembali.


Dengan rasa kesal yang membuncah, kemudian Citra meraih ponsel itu dan langsung meminta agar Robin tidak mengganggunya hari ini. Karena hari ini dirinya akan beristirahat sejenak.


"Hoam... jangan mengganggu ku Robin, aku mau tidur lagi," ucap Citra.

__ADS_1


"Tidak bisa Tuan putri yang terhormat, hari ini ada klien penting yang ingin bertemu denganmu. Maka dari itu, aku minta lebih baik sekarang turun dari ranjang empuk mu dan bersiap-siaplah, aku akan menjemputmu," ujar Robin langsung mematikan sambungan ponselnya secara sepihak.


Citra pun merasakan ke kesalan luar biasa, kemudian dia turun dari ranjang menuju kamar mandi sambil terus menggerutu dengan tidak karuan.


"Kadang aku berpikir Robin atau aku adalah bosnya, seenaknya saja dia menghalangi diriku untuk istirahat sejenak," gerutu Citra di dalam kamar mandi.


Dalam kurun waktu tidak lebih dari dua puluh menit, kemudian Citra keluar dari dalam kamar mandi, lalu dia pun mulai bersiap-siap.


"Selamat pagi Non Citra, sarapan sudah siap," ujar bi Ojah dengan ramah.


Citra tersenyum.


"Selamat pagi juga bi, tapi sepertinya aku tidak bisa sarapan, karena Robin sudah menunggu ku di depan. Bibik dengar sendiri 'kan, sejak tadi dia terus saja membunyikan klakson, membuat diriku tidak bisa tenang," ucap Citra merasa sedikit kesal.


Sedangkan bi Ojah yang mendengar celotehan Citra, ia hanya diam sambil sesekali menyunggingkan sebuah senyuman tipis.


****


Citra mendudukkan bokongnya di atas kursi mobil dengan sedikit kasar, lalu dia meminta Robin untuk segera melajukan mobilnya dengan perlahan.


"Baik Tuan putri, sesuai permintaan mu," ucap Robin lembut.


Padahal dalam hati, ia ingin tertawa terbahak melihat tingkah laku Citra yang sangat begitu menggemaskan.


Robin pun mulai melajukan mobilnya sesuai permintaan Citra, dan dalam waktu dua puluh menit mereka berdua sudah sampai di kantor.


Buru-buru Citra keluar dari dalam mobil, kemudian dia berjalan menuju ruang kerjanya, sedangkan Robin ia hanya mengikuti langkah kaki Citra dari belakang.


Sesampainya di ruangan Citra, tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu. Dan Robin pun mempersilahkan nya untuk masuk.


"Masuk," ucap Robin dari dalam.


"Ada apa?" tanya Robin setelah melihat siapa gerangan yang datang.


"Tuan Robin, sebentar lagi klien bisnis kita akan segera sampai, dan aku juga sudah mempersiapkan semuanya di ruang rapat," ucap sekretaris Robin yang bernama Indah.

__ADS_1


"Baik Indah, terima kasih."


__ADS_2