Rahasia Menantu Culun

Rahasia Menantu Culun
Rahasia Menantu Culun Bab 53


__ADS_3

Rahasia Menantu Culun Bab 53


Bertemu mantan


"Duduk di sana yuk," tunjuk Angga pada kursi kosong yang berada tepat di pojok restoran mewah itu.


Citra tersenyum manis, lalu dia mengangguk setuju.


Dengan debaran jantung yang kian membuncah, kemudian Angga menggenggam tangan Citra semakin erat. Lalu dia menuntun Citra menuju meja yang telah tersedia di restoran mewah itu.


Sesampainya di depan meja, kemudian Angga melepas genggaman tangannya dari Citra, lalu dia menarik kursi untuk Citra.


"Silahkan duduk Tuan putri, aku akan melayanimu dengan senang hati," ujar Angga disertai senyuman tipis.


"Apa-apaan sih, tidak lucu tau," ujar Citra sambil menyikut pinggang Angga gemas. Lalu dia duduk di atas kursi.


Sedangkan Angga Ia hanya tersenyum, kemudian duduk di samping Citra.


Tidak berselang lama, datanglah pelayan membawakan buku menu dan meletakkannya di depan Citra dan Angga.


"Kamu pasti mau pesan spaghetti? iya 'kan?" tanya Angga yang membuat Citra mendongak seketika.


"Kok, kamu tau?" tanya Citra merasa heran.


"Ya, iyalah aku tau. Karena aku sudah menyelidiki semua tentang dirimu, termasuk makanan apa yang kamu suka dan yang tidak kamu suka," batin Angga.


Sedangkan Citra yang melihat Angga diam saja, tanpa menjawab pertanyaannya kemudian dia kembali melihat buku menu yang berada di hadapannya. Dan segera memberitahukan pesanannya pada pelayan. Sebab, saat ini dia sudah sangat lapar.


"Baik Nona, saya sudah catat semua pesanan anda, tapi bagaimana dengan Tuan ini, dia masih sibuk membolak-balik halaman demi halaman buku menu. Apa perlu saya menepuk pundaknya, biar dia sadar, karena sejak tadi aku perhatikan dia hanya melamun," ujar pelayan restoran itu pada Citra.


Citra hanya tersenyum menanggapi ucapan pelayan itu. Lalu dia dengan lembut menggenggam tangan Angga yang sedang membolak-balik buku menu.


Tangan Angga seketika terhenti saat merasakan ada yang menggenggam tangannya. Dan sepersekian detik kemudian dia menatap manik mata Citra dengan dalam.


Perasaannya kali ini benar-benar berbeda, apalagi setelah Citra menyandang status janda.


"Mas Angga, kamu mau pesan apa?" tanya Citra yang membuat Angga langsung tersadar dari lamunannya. Lalu dia menunjuk pada sembarang menu yang tertera pada buku menu tersebut.

__ADS_1


Sedangkan pelayan yang melihat hal itu, dia langsung mencatatnya. Kemudian dia pamit undur diri.


Angga begitu salah tingkah, saat tadi Citra menggenggam tangannya. Bahkan dia sekarang tidak henti-hentinya mengedarkan pandangan pada janda kembang yang berada di hadapannya.


Andai saja sudah halal, pasti Angga sudah melahap bibir indah Citra.


"Mas Angga kenapa sih? sejak tadi aku perhatikan kamu terus saja melihat diriku, apa penampilanku ada yang salah," ujar Citra sambil memperhatikan penampilannya.


Namun, dia tidak melihat ada yang aneh dengan penampilannya. Sehingga Citra kembali mendongak dan mengedarkan pandangannya pada Angga.


Angga tersenyum, lalu dia meminta Citra untuk mendekat ke arahnya. Sedangkan Citra, ia hanya menuruti keinginan Angga.


"Seperti ini," ucap Citra.


"Hum…!" jawab Angga.


Kini keduanya sudah saling berdekatan, bahkan sapuan nafas Citra terasa jelas di wajah Angga. Hingga membuat laki-laki itu membayangkan sesuatu yang membuat dirinya tersenyum sendiri.


"Cepatlah, apa yang ingin kau katakan," ucap Citra.


Segenap keberanian Angga kumpulkan. Namun, saat dia ingin mengutarakan pada Citra, tiba-tiba sang pramusaji datang dan membawakan pesanan mereka.


"Nanti saja, aku sudah sangat lapar," ujar Citra yang langsung menyambar makanan yang telah diletakkan oleh pramusaji di atas meja.


Sedangkan Angga, dia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bahkan sesekali ia tersenyum mengingat betapa dekatnya dirinya dan Citra tadi.


Andai saja pramusaji itu tidak datang, mungkin Angga sudah melahap bibir tipis Citra.


Citra yang sedang menikmati makanannya, lalu dia melihat ke arah Angga yang tidak menyentuh makanannya sama sekali.


"Kenapa tidak makan, apa kamu tidak merasa lapar?" tanya Citra.


Angga terkekeh.


Kemudian dia kembali mendekatkan wajahnya pada Citra. Dan kali ini membuat janda kembang itu merasakan sekujur tubuhnya bagaikan tersambar aliran listrik tegangan tinggi.


Sangat tegang, hingga membuat Citra hanya terdiam dan tidak bergerak sama sekali.

__ADS_1


"Maaf, ada saos di pipimu," ucap Angga yang langsung mengambil tissue dan mengelapnya.


Sedangkan Citra yang mendengar ucapan Angga barusan, ia pun sampai menjatuhkan sendok dan garpu yang ia pegang ke atas piring saji.


Citra pikir tadi Angga akan mencium bibirnya. Namun, prediksinya salah dan membuat dirinya menarik nafas panjang.


"Huh….!" Citra mengumpulkan oksigen di ruangan itu dengan cukup paksa.


Sedangkan Angga yang melihat tindakan Citra, ia hanya tersenyum. Merasa geli sendiri dengan kelakuannya.


*****


Beberapa menit berlalu, keadaan Citra yang sempat menegang karena ulah Angga, kemudian dia kembali melanjutkan makanannya.


Namun, di saat Citra sedang benar-benar menikmati spaghetti bolognese yang dia pesan. Tiba-tiba seorang wanita cantik datang menghampiri mereka. Dan yang paling mengejutkan wanita itu memeluk tubuh Angga dengan mesranya.


"Mas, Angga. Kemana saja kamu selama ini, aku sudah lama mencarimu, menelpon nomor ponsel mu berulang-ulang, tapi kau tidak pernah menjawab panggilan ku, hum…!" tanya wanita itu mendayu-dayu.


Bahkan tangannya sudah merayap ke dada bidang Angga. Mungkin kalau mereka sedang berduaan di tempat sepi. Wanita itu sudah melahap bibir Angga dengan ganas.


"Apa-apaan sih, kamu Dira. Apa yang kamu lakukan? kamu tidak lihat apa aku sedang bersama dengan wanita lain, lagi pula hubungan kita sudah lama putus. Jadi lepaskan tanganmu sekarang juga dari tubuh ku," perintah Angga lembut. Namun di setiap kalimat mengandung penekanan yang membuat Dira langsung melepas tangannya dari tubuh Angga.


"Citra ayo kita pulang," ajak Angga.


Citra hanya terdiam. Lalu dia menatap kearah wajah wanita yang berdiri di samping Angga.


Sangat cantik, hingga membuat Citra merasa minder. Apalagi mengingat statusnya hanya sebagai janda. Yang tidak layak bersanding dengan Angga yang nyaris sempurna.


"Citra, ayo kita pulang," ucap Angga untuk kedua kalinya. Bahkan sekarang dia sudah berdiri dari tempat duduknya.


Wanita di samping Angga, tiba-tiba tersenyum menyeringai. Lalu dia memeluk Angga.


Angga tersentak, ia sangat begitu kaget melihat keberanian Dira.


"Dira... lepaskan," ucap Angga sambil menatap wajah Dira dengan mata elangnya.


Namun, Dira hanya menanggapi dengan menerbitkan sebuah senyuman tipis di bibir indahnya. Lalu dia kembali mengeratkan pelukan di tubuh Angga. Bahkan dia sudah menempelkan wajahnya di punggung Angga.

__ADS_1


Angga semakin geram dengan kelakuan Dira, lalu dia menarik tangan wanita itu dari tubuhnya dengan sedikit paksa.


"Apa-apaan sih mas, aku hanya kangen dengan dirimu, apa itu salah," ucap Dira yang mulai meneteskan air mata buayanya.


__ADS_2