
Laura keluar dari apartemen kekasihnya. Dia berjalan menuju ke mobil yang terparkir di basemant. Setelah itu, Laura melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah.
Di perjalanan pulang, Laura mengendarai mobilnya dengan pelan karena tubuhnya sangat letih sekali. Perselingkuhan yang dia lakukan sudah sangat keterlaluan, karena secara langsung sudah berani mengkhianati rumah tangganya sendiri.
Hanya membutuhkan waktunya setengah jam, Laura sampai di rumahnya. Lalu betapa terkejutnya dia melihat mobil Indra yang sudah terparkir di halaman. "Apa? Kok Indra sudah pulang, kenapa dia tidak menelepon ku dulu? Waduh, bisa gawat ini! Aku harus cari alasan yang tepat ini," gumamnya panik.
Setelah memarkirkan mobilnya, Laura turun dan keluar. Dia berjalan pelan dengan perasaan yang sedikit was was. Perlahan tangannya membuka pintu dan melihat Indra sudah duduk di meja makan dengan meminum segelas teh.
"Darimana kamu sayang? Semalam kamu tidak pulang ke rumah. Kok tumben banget sih?" tanya Indra tiba-tiba.
"Iya ada pemotretan yang selesainya sampai malam sayang. Jadi terpaksa aku harus menginap. Oh Ya, kamu sendiri kok sudah pulang. Bukannya bisnis mu masih sekitar satu mingguan lagi baru selesai?" Laura mencoba untuk mengalihkan pembicaraan dengan suaminya.
Indra menghela nafas panjang, "Iya aku disuruh Mama pulang. Lagian mana bisa aku tenang jika kamu itu selalu bertengkar dengan Mama. Aku bekerja pun tidak bisa konsentrasi Sayang."
Laura memutar bola matanya. Dia merasa sangat malas jika mendengar kata-kata tentang mertuanya. "Lagian Mama sendiri yang memancing keributan dengan ku. Selalu membahas tentang kehamilan, keturunan, apalah. Bikin bosen tahu tidak sayang," sahut Laura dengan suara manja.
"Wajarlah kalau Mama membahas itu sama kamu Laura, karena memang sudah saatnya pernikahan kita hadir seorang bayi," jelas Indra semakin membuat istrinya kesal.
"Sudahlah aku tidak mau debat soal ini, aku mau mandi terus tidur. Soalnya nanti siang aku ada pemotretan lagi." Laura meninggalkan Indra di ruang tamu sendiri.
Indra hanya bisa mengusap wajah capeknya, karena banyak beban yang harus dia tanggung. Bahkan bertindak tegas pada istrinya saja dia tidak bisa.
Di dalam kamar, Laura melemparkan tasnya dengan kasar ke kasur. Dia segera berganti baju dan memutuskan untuk tidur. "Enak saja menyuruh ku hamil. Itu tidak akan pernah terjadi, siapa suruh menjadi mertua sangat cerewet sekali. Suka mengatur orang sembarangan. Bikin sebal saja," gerutu Laura sembari menarik selimutnya.
Tak lama kemudian, Laura pun tertidur.
__ADS_1
Setelah meminum habis tehnya, Indra naik ke atas untuk menyusul Laura. Namun, setelah masuk dalam kamar dia melihat istrinya tengah tertidur sangat pulas sekali.
'Laura, tumben sekali dia tidur di pagi hari. Apa semalam dia tidak beristirahat?' gumam Indra dalam hati.
Indra memungut baju Laura yang berserakan di lantai. Tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh. Sebuah kartu ATM dengan nama ROY. Indra mengambil ATM itu dan melihat ke arah istrinya.
"Kartu ATM siapa ini? Roy, siapa dia?" ucap Indra penasaran. Setelah itu dia meletakkan kartu tersebut di meja dan memutuskan untuk segera berganti baju kemudian berangkat ke kantor. Indra tidak begitu memikirkan masalah itu. Dia tetap positif thinking.
Selepas kejadian itu, Indra tidak pernah menanyakan apapun pada Laura. Hingga dua minggu berlalu dan Indra tak pernah ada waktu untuk kembali ke Bandung menjenguk Dinda. Indra selalu beralasan ketika Dinda menanyakan sesuatu.
Di Toko Roti.
"Din, suamimu belum kembali dari dinasnya di Jakarta?" tanya Lestari teman kerja Dinda.
"Belum Tari, ya mungkin dia masih sibuk. Biarlah dia menyelesaikan pekerjaannya dulu," sahut Dinda dengan suara sendu.
"Ah, sudahlah. Berpikir positif saja, okey. Doakan yang terbaik saja untukku," sahut Dinda menghibur diri.
Setelah dua minggu di tinggal pergi oleh suaminya. Dinda merasa sangat ragu dengan pernikahannya. Dia merasa seperti orang yang tak mempunyai arah dan tujuan. Akan tetapi, Dinda mencoba untuk tetap tenang dan menyingkirkan semua pikiran negatif yang selalu mengusik hatinya.
"Tari aku pulang duluan ya, sepertinya aku tidak enak badan. Oh ya, catatan hari ini aku taruh dalam laci. Tolong sampaikan sama Bu Retno nanti," ucap Dinda dengan melepas celemeknya.
"Tumben banget, tapi wajahmu pucat sekali Din. Ahh! atau jangan-jangan kamu hamil lagi. Coba nanti kamu mampir ke apotek beli tes pack," seru Lestari membuat Dinda semakin sumringah.
"Iya kamu benar juga Tari. Ya sudah aku duluan ya, bye!" Dinda melangkahkan kakinya keluar dari toko roti itu. Dia berjalan dengan semangat menuju ke apotek yang terletak tak jauh dari tempatnya bekerja.
__ADS_1
Sesampainya disana, Dinda langsung membeli tes pack kehamilan. Setelah dapat dia segera pulang karena sudah mulai larut malam. Tak lama kemudian, Dinda sampai juga di rumah. Dia turun dari motor ojek online. Setelah membayar, Dinda masuk ke dalam rumah. Dia segera menuju ke kamar mandi untuk mengetes urine dengan tes pack yang dibelinya tadi.
Sepuluh menit kemudian, Dinda keluar dari kamar mandi dengan menenteng hasil tes urinenya. "Aku hamil, aku akan menjadi seorang ibu. Mas Indra pasti senang dengan berita ini. Aku harus segera memberitahunya," ucap Dinda dengan senang.
Dia menuju ke kasur untuk mengambil ponselnya dan menelepon Indra. "Halo Mas. Ada kabar gembira untukmu. Aku hamil Mas. Aku hamil anakmu!" seru Dinda pada suaminya.
[Apa Din? Kamu sudah hamil, syukurlah akhirnya aku akan segera memiliki keturunan. Oh ya kamu jaga kesehatan ya! Jangan terlalu lelah bekerja. Nanti, dua hari lagi aku akan pulang ke Bandung. Kamu sabar ya. Tunggu aku periksa ke dokter.]
"Iya Mas, kamu selesaikan dulu pekerjaan mu. Aku akan setia menunggumu disini. Ya sudah kalau begitu aku tutup teleponnya ya Mas. Aku mau bersih-bersih karena baru pulang kerja," sahut Dinda dengan senyum senang.
[Iya jangan lama-lama mandinya. Nanti bisa masuk angin.]
"Iya Mas." Dinda menutup sambungan teleponnya. Setelah itu dia segera mandi karena hari semakin malam.
Di Tempat Lain.
"Sayang, berita bagus. Dinda sudah hamil. Kamu harus bersiap sekarang," seru Indra pada Laura.
"Iya Sayang. Aku sudah mempersiapkan dokter yang mau ikut kerja sama dengan kita. Jadi semuanya akan berjalan dengan lancar. Cepat juga prosesnya jadi semua bisa sesuai dengan rencana ku," jawab Laura dengan senyum yang sinis.
"Aku sempat khawatir sebelumnya, karena Mama memberiku waktu sebulan untuk membuktikan bahwa kamu dalam proses hamil Sayang," ucap Indra dengan raut wajah lesu jika mengingat kebohongannya pada sang ibu.
"Sudahlah Sayang, kamu tenang saja. Semua akan berjalan lancar, percaya sama aku."
"Baiklah, dua hari lagi aku akan ke Bandung menjenguk Dinda. Aku ingin mengantarnya untuk periksa kehamilan."
__ADS_1
"Ya kamu harus lakukan itu sayang. Beri perhatian yang lebih padanya, agar calon bayi kita tumbuh dengan sehat," ucap Laura dengan penuh keyakinan.