Rahim Yang Terbuang

Rahim Yang Terbuang
RYT 33


__ADS_3

"Harus bersih-bersih dulu ini," ucap Dinda ketika masuk dalam kontrakan.


"Ya sudah aku bantuin kamu," sahut Diky dengan senyum ramah.


"Ha?" Dinda bertanya-tanya.


Tak lama kemudian, suara ponsel berdering terdengar dalam saku celana Diky. "Halo Ma," ucap Diky menjawab telepon.


"Baiklah, aku pulang sekarang," jawab Diky, kemudian menutup teleponnya.


Dinda masih dalam raut wajah yang bertanya-tanya. Dia bingung dengan lelaki yang ada didepannya itu.


"Ada apa?"


"Emm, Mamaku menyuruh pulang sekarang. Maaf aku tidak jadi membantumu," jawab Diky.


Dinda tersenyum dan menjawab, "Tidak apa-apa. Aku bisa melakukannya sendiri kok. Terima kasih atas semuanya ya!"


"Iya sama-sama. Nanti, kapan-kapan kita ketemu lagi. Bolehkah minta nomor ponsel mu?"


Dinda ingin menjawab, akan tetapi Diky teringat kalau ponsel Dinda sudah dijual. "Sorry, aku lupa kalau ponselmu itu...."


"Tidak apa-apa, nanti aku akan beli kalau sudah mendapatkan pekerjaan," jawab Dinda santai.


"Oke aku pulang dulu. Bye!" Diky keluar dari kontrakan Dinda dengan melambaikan tangannya. Dinda pun mengantarnya sampai depan pintu.


Senyum Dinda pudar kembali ketika dia sendiri. Nyeri di hatinya datang kembali. Dia harus melakukan sebuah kegiatan untuk mengalihkan pikirannya yang kacau. Dinda harus bisa membohongi diri sendiri, dia menjadi kuat di luar namun sangat rapuh di dalam.


Dinda membereskan kontrakannya yang berdebu. Dia menyapu dan menaruh barang-barang yang sedikit berantakan.


"Aku harus mencari pekerjaan, semoga besok ada lowongan untukku," gumamnya pelan. Setelah itu dia melanjutkan kembali bersih-bersihnya.



"Aku pulang Ma," seru Diky sampai rumah.



Bu Inggrid muncul dari dalam dapur, dia berjalan menghampiri anak laki-lakinya. "Dasar anak bandel! Kemana saja kamu semalam, Diky? Mama teleponin pakai nomor tidak aktif segala. Dari mana kamu?"



"Emm, itu Ma. Tadi malam aku...."



Belum sempat menjawab, Bu Inggrid mengecek wajah Diky. Dia mengendus-endus area wajah. Bu Inggrid pun marah ketika mencium bau alkohol di mulut Diky.



"Mabuk dimana kamu Diky? Sudah mau melenceng jadi orang baik," tanya Bu Inggrid marah.

__ADS_1



"Sedikit Ma. Aku sudah putus sama Ayuna, Ma."



Bu Inggrid yang memalingkan mukanya pun berubah senang. "Beneran kamu putus dari gadis tidak baik itu?"



"Iya, Ma. Aku tadinya sedih banget, tapi sekarang sudah tidak sedih lagi," jawab Diky lesu.



"Baguslah kalau gitu. Jadi, Mama tidak perlu repot-repot untuk memintamu mutusin dia. Sekarang kamu sana pergi mandi. Bau sekali mulutmu!" Bu Inggrid masuk kembali ke dapur. Setelah itu Diky naik ke atas untuk membersihkan badannya.



Sesampainya di dalam kamar, Diky merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia mengurungkan niat untuk pergi mandi. Justru dalam bayangan dia teringat dengan Dinda.



"Ada apa ini? Perasaan apa yang ada dalam hati ini. Tadinya aku sangat sedih jika mengingat kebohongan Ayuna. Ini kedua kalinya aku bertemu dengan Dinda. Rasanya juga sama saat pertama kali bertemu. Ahh, aku benci perasaan ini. Kamu belum tahu Dinda itu jomblo atau tidak Diky." Diky terus berbicara sendiri, dia memikirkan hal yang belum pasti.



"Huh, akhirnya selesai juga. Tinggal pinjam tangga untuk memasang lampu itu."


"Permisi, Bu," seru Dinda dari halaman.


"Iya Neng ada apa?" sahut pemilik kontrakan.


"Ini Bu, boleh saya pinjam tangga. Soalnya lampu di kontrakan mati."


"Oh ada tangga, tapi lebih baik aku panggilkan anakku saja, Neng!" ucap Bu pemilik kontrakan. Lalu, dia memanggil anak laki-lakinya untuk membantu Dinda.


Sembari menunggu, Dinda mendengar obrolan ibu-ibu tersebut. Mereka membahas tentang lowongan pekerjaan.


"Iya, ada toko roti baru di samping swalayan merpati. Dengar-dengar mereka membuka lowongan pekerjaan untuk umum. Syaratnya mudah lagi, hanya membuat kue yang nanti akan dinilai rasa serta kualitasnya, Bu!"


"Wahh, mereka bisa melihat keadaan sekitar ya. Jadi lowongan pekerjaan tidak hanya untuk yang berijazah tinggi. Tinggal adu skill maka bisa mudah untuk dapat pekerjaan," sahut Ibu lainnya.


Dinda penasaran dengan obrolan mereka. Dia mencoba bertanya agar mendapatkan sebuah informasi, "Maaf, Bu saya mau bertanya! Dimana letak lowongan itu Bu? Kebetulan saya sedang mencari pekerjaan."


"Oh Neng coba saja! Dari sini keluar gang nanti dari kiri Neng jalan terus. Setelah sampai jalan raya, naik angkot ke jalan merpati. Nah, disitu toko rotinya Neng," jelas ibu itu pada Dinda.


Dinda pun senang mendapat info yang sangat akurat. Dia akan menunjukkan kemampuannya dalam membuat aneka kue.


"Aku pasti bisa mendapatkan pekerjaan itu. Aku akan keluarkan resep yang sudah aku rancang sendiri," gumam Dinda dalam hati.


"Terima kasih ya Bu, atas informasinya. Saya permisi dulu." Dinda undur diri dari rumah pemilik kontrakan .

__ADS_1


Dinda berjalan pulang ke kontrakan, dalam hati sangat senang sekali. Akhirnya dia mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan seleranya. Sesampainya di kontrakan, Dinda langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Beberapa menit kemudian, Dinda telah selesai dan segera beristirahat. Tubuhnya sangat lelah sekali.




Malam hari sekitar jam 8, Indra baru pulang dari kantornya. Dia merasa capek sekali karena aktivitasnya seharian. Hari ini Indra akan pulang ke rumahnya sendiri untuk mengambil sesuatu. Sejak Kenzo dirawat oleh Bu Ningrum, Indra sudah sangat jarang pulang.



Indra keluar dari kantor dengan memijat pelan leher belakangnya yang kaku. Kesehariannya terlalu monoton, meski telah hadir Kenzo tak membuat Indra tersenyum. Dia selalu tampak murung.



Kini, Indra sudah berada dalam mobil. Tak menunggu lama dia langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah. Hanya dengan waktu 20 menit, Indra sampai di rumah. Dia segera turun dan masuk ke dalam.



Sesampainya di dalam, Indra pun terkejut karena keadaan rumah yang gelap gulita. Lalu, samar-samar dia mendengar suara aneh di lantai atas. Indra pun menghampirinya dengan langkah pelan. Dia hanya ingin memastikan bahwa yang didengarnya itu sebuah kesalahan.



Setibanya di atas, suara itu semakin jelas terdengar. Ada suara wanita yang sedang meracau tak jelas, ditambah suara erangan dan juga hentakan-hentakan yang menerobos masuk ke dalam pendengaran Indra.



"Roy, kamu sungguh membuatku melayang ke angkasa. Selama ini Indra tak pernah membuatku seperti ini. Dia itu rasanya hambar, tidak seperti dirimu yang selalu membuatku menjerit."



Indra mengepalkan kedua tangannya. Dia tak percaya dengan apa yang didengarnya.



"Jangan bicarakan suamimu ketika kita sedang bercinta, Sayang. Membuatku tak berga!rah saja."



Indra semakin tak tahan, dengan langkah cepat dia mendobrak pintu yang tak tertutup itu dengan keras.



Brakk ...!



"Laura, apa yang sedang kamu lakukan?" teriak Indra keras dengan mata yang melotot.


__ADS_1


Laura segera mendorong tubuh Roy, kemudian dia menutupi bagian tubuhnya yang polos tanpa memakai apapun.


__ADS_2