
Dinda melepas pelukan suaminya. Setelah itu dia mencoba untuk turun dari ranjang, karena ingin pergi ke toilet. "Aku ingin ke toilet Mas. Terus aku sudah lapar, aku pengen makan nasi padang," ucap Dinda sembari mengelus perutnya.
"Baiklah, aku pesankan sekarang. Apa masih ada yang lain ingin kamu makan Din?" tanya Indra.
Dinda menggelengkan kepalanya kemudian masuk ke dalam toilet. Setelah itu, Indra langsung memesan dua porsi nasi padang melalu grab food.
Keluar dari toilet, Dinda langsung menuju ke dapur. Dia ingin membuat teh hangat, untuk menenangkan perutnya yang masih sedikit mual. Indra juga langsung menyusul istrinya keluar kamar. Dia menemani Dinda duduk di meja makan, sembari mengerjakan pekerjaannya.
Dinda hanya terdiam melihat suaminya yang terlihat sangat serius bekerja. Lalu, dia mulai ikhlas mengizinkannya untuk kembali ke Jakarta. "Baiklah, kali ini aku percaya padamu Mas. Semoga kamu tidak menghancurkan kepercayaan ku ini," ucap Dinda dalam hati.
Beberapa saat kemudian, grab food pun datang membawa nasi padang yang sudah di pesan. Indra beranjak untuk mengambil dan membayar pesanan itu. Dia membawa masuk nasi padang tersebut, kemudian Indra mengambil piring dan menyajikannya buat Dinda.
"Ini makanlah selagi panas," ucap Indra sembari menyodorkan piring di depan istrinya.
Dinda menatap ke arah suaminya dengan penuh arti. Lalu dia berkata, "Suapin aku Mas. Kayaknya lebih enak."
Indra tertegun sesaat, lalu dengan cepat dia menuruti permintaan istrinya, "Baiklah, aku akan suapi kamu."
Dinda membuka mulutnya menerima suapan dari Indra. Betapa bahagia rasa hatinya saat ini. Ternyata Indra mau memanjakan dan juga menuruti permintaannya.
"Kamu juga makan dong Mas, bukan hanya aku," ucap Dinda memprotes suaminya.
Indra menganggukkan kepalanya lalu ikut memakan nasi padang itu sepiring berdua. "Mau nambah lagi, Din? Ini masih satu porsi," tanya Indra.
Dinda segera menganggukkan kepalanya, tiba-tiba saja nafsu makannya bertambah. Indra pun menyuapi istrinya lagi. Namun, satu suapan itu membuat Dinda kepedesan.
"Mas, pedes banget, sambalnya kebanyakan," seru Dinda dengan meminum segelas air putih.
"Maaf, iya ini punyaku memang pedas. Gimana mau makan lagi?"
__ADS_1
"Cukup Mas, aku anti pedas soalnya. Tidak apa-apa akan makan sendiri, aku temani kamu disini."
"Baiklah aku akan habiskan sendiri kalau gitu." Indra memakan nasi padangnya itu sendiri, sedangkan Dinda menemaninya sampai selesai.
Di Tempat Lain.
Laura mengendarai mobilnya menuju ke sebuah kafe. Dia ingin makan siang karena tadi belum sempat sarapan. Sesampainya di kafe, Laura segera masuk dan mencari tempat duduk. Seorang pelayan menghampiri dan mencatat pesanannya.
Sembari menunggu, Laura memainkan ponselnya. Samar-samar dia mendengar suara mertuanya sedang berbicara. "Seperti suara Mama, tapi dimana?" ucap Laura dengan kepala celingak-celinguk.
Rasa penasaran membuatnya mencari sumber suara. Dia ingin memastikan kalau itu benar suara sang mertua. Laura melihat mertuanya sedang mengobrol dengan beberapa orang. Lalu, dia memutuskan untuk mendengar percakapan mereka.
"Jeng, besok datang ke rumah ku ya. Ada pesta kecil-kecilan, karena cucu pertamaku sudah lahir," ucap salah satu teman Bu Ningrum.
"Beneran? Wah selamat ya Jeng, pasti Jeng Ani sangat senang dengan kehadiran cucu pertama," sahut teman lainnya.
"Sabar Jeng, apa kamu tidak curiga kalau menantumu itu ada masalah? Misalnya, maaf ya jeng. Mandul gitu!"
"Pernah aku suruh periksa ke dokter spesialis. Hasilnya dia normal kok, Jeng. Tapi, entah kenapa sampai saat ini belum juga ada tanda-tanda kehamilan. Membuatku tak sabar saja, awas saja ya kalau sampai bulan depan belum hamil juga. Terpaksa aku mencarikan istri baru buat Indra," ucap Bu Ningrum kesal.
Mendengar obrolan mertua dan juga teman-temannya membuat Laura sedikit geram. Dia tak terima dengan obrolan mereka yang menyebutnya mandul.
Laura berdiri dari tempatnya. Dia berjalan dan menghampiri tempat duduk sang mertua. "Mama," seru Laura sembari meletakkan sebuah amplop di depan mertuanya.
Bu Ningrum sedikit terkejut dengan kedatangan menantunya. Bahkan dia kesal karena sikap Laura yang tidak sopan. "Laura ada apa? Sikapmu sangat tidak sopan sekali," ujar Bu Ningrum menegur menantunya.
Laura memutar bola matanya dan mendengus sebal, "Silahkan Mama buka amplop itu dan baca dengan serius."
Bu Ningrum memicingkan matanya sambil meraih amplop yang ada di depannya. Lalu, dia membaca dengan seksama tulisan yang tertera di selembar kertas itu.
__ADS_1
"Laura kamu hamil? Akhirnya kamu hamil juga Sayang. Indra sudah tahu berita ini belum, dia kan ada di luar kota sekarang? Jeng lihat, aku akan mempunyai cucu. Menantuku hamil juga," seru Bu Ningrum senang.
"Selamat ya Jeng!" ucap semua teman Bu Ningrum.
"Laura kamu ngapain di sini Sayang?" tanya Bu Ningrum penuh perhatian.
Perhatian itu membuat Laura kesal. Dia pun menjawab dengan nada yang ketus, "Tadinya aku mau sarapan Ma. Tapi mendengar ucapan Mama membuat telinga ku panas."
"Sayang, kamu jangan makan sembarangan ya. Satu lagi, sebaiknya kamu jangan memakai high heels lagi, untuk menjaga kandungan kamu."
"Terserah Mama saja lah. Aku mau makan dulu di sebelah sana," jawab Laura dengan muka kesal.
"Sial, begini yang aku tidak suka. Aturan dari mertua yang cerewet sekali. Bakalan menderita aku selama 9 bulan. Kalau tidak menurut bisa gagal semua rencana yang aku susun," ucap Laura dalam hati.
Laura makan dengan hati yang kesal, karena dia akan mendengar ceramah beserta aturan dari Mama mertuanya. Tak lama kemudian, Bu Ningrum berjalan menghampiri menantunya yang sedang makan. Dia ingin menanyakan beberapa hal.
"Laura, Mama mau bicara sama kamu."
"Bicara saja Ma," sahut Laura malas.
"Begini, kamu kan lagi hamil. Bagaimana kalau kamu tinggal di rumah Mama. Biar Mama bisa ikut menjaga kandungan kamu. Mama hanya khawatir kalau kamu ceroboh dengan kehamilan pertama ini."
Laura meletakkan sendoknya dengan kasar. Dia sudah menduga hal semacam ini akan terjadi. "Ma, Laura sudah dewasa ya. Jadi aku tahu mana yang baik dan yang buruk. Mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Lagian ya Ma, aku itu ada edukasi sama dokter. Jadi Mama tidak perlu khawatir akan hal buruk yang terjadi. Mama cukup memantau saja, jaga mood aku biar tetap baik dan jauh dari stress. Mama tahu kan maksudku," jelas Laura membuat Bu Ningrum diam tak berkata lagi.
"Oke, Mama mengerti maksudmu. Terserah padamu mau tinggal dimana, Mama hanya mau ingatkan sama kamu saja Laura. Jaga baik-baik kandungan kamu, karena Mama sangat berharap keturunan dari pernikahan mu dengan anak Mama. Kalau begitu Mama duluan, kalau ada apa-apa hubungi Mama."
Bu Ningrum pun pergi dari kafe itu. Dia tahu, kalau pada akhirnya dia tidak bisa mengatur menantunya yang keras kepala itu.
"Jangan harap Mama bisa mengaturku. Hidup aku ya harus sesuai dengan apa yang aku mau dan bukan orang lain yang menentukan," gumam Laura pelan.
__ADS_1