Rahim Yang Terbuang

Rahim Yang Terbuang
RYT 6


__ADS_3

(AWAL MULA IDE GILA bagian 3)


Indra mengantarkan Dinda ke kos-kosannya. Tak ada percakapan di dalam mobil tersebut. Dinda hanya diam dengan wajah memandang ke samping. Indra yang melihat hal itu pun bertanya, "Kamu tinggal dimana? Apakah masih jauh?"


Dinda menoleh ke arah Indra, lalu tangannya menunjuk ke arah depan, "Dari sini masih lurus, nanti ada pertigaan belok kanan masih lurus nanti gang pertama berhenti. Sudah sampai sana saja, soalnya kosan ku masuk ke gang agak jauh."


Indra menganggukkan kepalanya, lalu mengikuti arahan yang ditunjukkan Dinda tadi. Mobil melaju lurus menerjang malam yang dingin. Dinda merasa tegang karena ini pertama kalinya, dia diantarkan oleh seorang laki-laki.


Lima belas menit kemudian mobil Indra berhenti tepat di gang arah kosnya Dinda. Sebelum keluar Dinda mengucapkan terima kasih pada Indra.


"Terima kasih sudah menolong saya. Maaf saya tidak bisa membalas dengan apapun," ucap Dinda dengan kepala yang menunduk.


"Sama-sama, tidak usah sungkan karena sudah sewajarnya aku menolong seseorang yang sedang dalam kesulitan," jawab Indra santai.


Setelah itu, Indra memutuskan untuk melanjutkan lagi perjalanannya, "Aku pulang dulu ya! Hati-hati sampai rumah."


Dinda mengangkat kepalanya dan meluruskan pandangannya ke arah Indra. Dia tersenyum manis, lalu menjawab, "Masnya juga hati-hati. Sekali lagi terima kasih."


Indra membalas senyuman Dinda. Setelah itu dia melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke hotel tempatnya menginap bersama Laura. Mobil Indra sudah tak terlihat, Dinda membalikkan badannya kemudian berjalan lesu ke arah kosnya.


Di jalan, Indra fokus menyetir. Badannya sudah penat sekali karena aktivitasnya di kantor. Tak lama kemudian, Indra sampai juga di hotel. Indra memarkirkan mobil, setelah itu masuk ke dalam hotel dan langsung menuju ke atas.


Sesampainya di atas, Indra memencet bel dan tak lama kemudian pintu pun terbuka. Laura menyambut suaminya dengan senyum yang mengembang. "Malam sayang. Ada apa mukamu kusut seperti itu?" tanya Laura dengan meletakkan tas suaminya di kursi.

__ADS_1


"Aku capek sekali hari ini. Huh, aku ingin cepat tidur malam ini," sahut Indra dengan mengendurkan dasinya.


Laura berjalan menuju ke ranjang lalu duduk dengan elegan. "Apa kamu tadi sudah bertemu dengan gadis itu?" tanya Laura dengan tatapan menggoda.


Mata Indra langsung membulat seketika, dengan cepat dia membalikkan badannya. "Jangan bilang kamu yang telah mengatur itu semua Laura," ucap Indra dengan nada kaget.


Laura tersenyum sembari menangkup wajah Indra dengan kedua tangannya, "Kalau memang aku yang mengaturnya kamu mau apa? Bukankah semuanya berjalan dengan natural. Bagaimana sayang? Gadis itu cantik bukan? Sangat cocok untuk menampung benihmu yang akan menjadi calon anak kita nanti."


Indra tak percaya kalau istrinya bisa menjalankan rencana itu sesuai dengan keinginannya, "Aku masih tidak percaya kalau kamu yang mengatur semua ini Laura."


"Sayang sudahlah, kamu ikuti saja alurnya. Sebentar lagi dia akan masuk dalam permainanku. Sekarang aku ingin bersenang-senang denganmu sayang, karena besok kamu sudah harus pindah ke rumah yang telah aku sewa selama setahun," ucap Laura dengan memainkan jarinya di wajah suaminya.


Indra yang jongkok di depan istrinya pun berdiri. Dia ingin membersihkan badannya yang terasa capek, "Aku ingin mandi dulu. Soal ini kita lanjutkan lagi nanti."


Laura tersenyum sinis melihat sikap suaminya. Dia merasa bangga dengan semua rencana yang dirancang. Sembari menunggu Indra selesai mandi, Laura bersiap untuk menyenangkan hati suaminya yang sedang bimbang.


Dua puluh menit kemudian, Indra keluar dari kamar mandi. Dia keluar hanya dengan melilitkan handuk di pinggulnya. Laura langsung tersenyum manis melihat suaminya yang terlihat sangat tampan


"Sayang sini dong, kamu tega mengabaikan aku malam ini. Padahal aku sudah mempersiapkan semua ini untukmu," ucap Laura merayu suaminya.


Laura berdiri di atas kasur lalu dia turun dan menarik tangan suaminya ke arah ranjang. Indra hanya menurut ketika Laura menariknya di ranjang. Melihat istrinya yang begitu antusias membuat Indra tak bisa menolak lagi. Dia segera mengangkat tubuh Laura dan menindihnya.


Kini Laura sudah berada di bawah tubuh Indra. Tangannya mengelus lembut wajah lelaki yang sudah menemaninya sejak SMA itu.

__ADS_1


"Sayang, aku mencintaimu. Hanya dengan cara ini hubungan kita akan bertahan. Semoga kamu selalu mengerti dengan kemauanku," ucap Laura dengan tatapan lembut kepada suaminya.


Indra hanya bisa pasrah melihat wajah memohon istrinya. Sampai sekarang, Indra masih belum bisa melawan kehendak Laura yang terkadang di luar nalar. Indra sudah dibutakan dengan rasa cintanya yang besar kepada wanita itu.


"Baiklah aku akan menerima semuanya. Aku akan menerima segala resiko yang akan terjadi nanti. Sangat mustahil jika rencana mu ini akan aman sampai masa mendatang. Aku yakin suatu saat rahasia kita akan terbongkar. Jika itu terjadi masalah besar akan muncul dalam hubungan kita. Apa kamu sudah siap dengan itu Laura?" Indra bertanya pada istrinya dengan penuh penekanan.


"Aku akan menanggung semua resiko itu Sayang. Kita akan hadapi bersama, asal kamu janji jangan pernah tinggalkan aku apapun yang terjadi. Janji ya?"


Indra menganggukkan kepalanya, setelah itu dia mulai mencium lembut bibir Laura. Tangan Laura pun tidak mau diam. Dia mengarahkan tangannya untuk membuka lilitan handuk suaminya, dan dengan sekali tarik lilitan handuk itu pun terlepas.


Indra mulai beraksi panas dengan istrinya. Dia melupakan semua kekesalannya dengan bercinta mesra bersama Laura.


Setelah kejadian singkat itulah, Indra mulai dekat dengan Dinda. Dia berusaha untuk mendapatkan hati dan kepercayaan Dinda yang masih polos itu. Setiap hari Indra selalu memberikan perhatian dan juga rasa pedulinya yang besar.


Hingga akhirnya, Dinda berhasil jatuh dalam pelukan Indra dan hubungan mereka mengarah ke jalur yang lebih serius. Indra berhasil mendapatkan cinta Dinda dengan semua janji dan juga kebohongannya. Dia tega memanfaatkan sifat polos Dinda hanya demi kepentingan pribadi. Bahkan Indra tidak memikirkan nasib Dinda kedepannya akan bagaimana.


Dalam hati Indra hanya ucapan Laura lah yang benar dan harus dia wujudkan meski itu mengorbankan perasaan orang lain.


Setelah satu jam berlalu, Indra mengakhiri aksinya dengan Laura. Dia tertidur lelap disamping istrinya yang juga sudah sangat kelelahan sekali. Laura sangat lega karena Indra mau menerima idenya gilanya itu.


"Sayang, terima kasih selalu pengertian denganku. Aku sangat mencintaimu suamiku," ucap Laura dengan mengecup lembut bibir suaminya. Setelah itu, Laura pun ikut terlelap dengan memeluk erat Indra.


FLASBACK OFF

__ADS_1


__ADS_2