
Setelah mobil Indra telah menghilang dari pandangan, Dinda masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang sedih. Sungguh dia ingin sekali ikut suaminya ke Jakarta.
Di perjalanan, Indra juga merasakan hal yang sama. Ada sedikit rasa khawatir menyelimuti hatinya. Namun, dia tak ada pilihan lain. Meski ada keraguan, Indra tetap melanjutkan sandiwaranya.
Di Tempat Lain.
Bu Ningrum telah sampai di halaman rumah anak dan menantunya. Dia ingin menjenguk sang menantu dengan membawa bermacam makanan. Akan tetapi, langkah Bu Ningrum terhenti ketika Laura keluar rumah dengan memakai pakaian yang serba ketat dan sepatu hak tinggi.
"Laura mau kemana dia? Lalu, pakaian apa yang dikenakannya itu? Apa dia lupa kalau sedang mengandung?" gumam Bu Ningrum pelan, kemudian dengan langkah cepat dia menghampiri menantunya.
"Laura mau pergi kemana kamu?" seru Bu Ningrum dengan suara keras.
Teriakan Bu Ningrum mengejutkan Laura. Dia mendengus kesal melihat Ibu mertuanya.
"Kamu mendengar panggilan Mama tidak Laura?"
Akhirnya, Laura menghentikan langkahnya. "Ada apa sih Ma?" tanya Laura dengan kesal.
"Kamu mau pergi kemana? Lalu, pakaian apa yang kamu kenakan ini?"
Laura menghela nafas panjang, kemudian menjawab dengan malas, "Aku mau pergi ke pemotretan Ma."
Jawaban itu membuat Bu Ningrum kesal dan sedikit marah. "Laura kamu itu sedang hamil Nak. Jaga kesehatan dan keselamatan kandungan mu," jelas Bu Ningrum. Sehingga membuat Laura semakin malas.
__ADS_1
"Ma, aku bisa menjaga diri. Jadi Mama tidak usah khawatir dengan keadaan ku. Oke!"
"Lebih baik kamu berhenti bekerja saja. Bukankah uang bulanan dari Indra lebih dari cukup untuk semua kebutuhanmu? Jadi buat apa lagi kamu capek-capek bekerja."
Laura memutar bola matanya, dia jengah sekali dengan semua aturan Ibu mertuanya. "Ma please ya! Laura mohon sama Mama, tolong jaga mood aku biar tetap stabil. Kalau mood aku sampai rusak, dan aku jadi stres. Otomatis akan berpengaruh pada kandunganku Ma," ucap Laura penuh dengan kebohongan.
Bu Ningrum tak bisa menjawab jika menantunya sudah memprotes semua larangannya. Jadi mau tak mau dia harus setuju dengan semua penolakan itu.
"Kamu ini selalu saja membantah Mama. Lagian ini semua demi kebaikan mu juga. Mama hanya ingin yang terbaik saja buatmu Laura."
"Ma, sudah ya! Sayangnya aku sudah telat banget ini. Nanti, kita bahas lagi. Oh ya, maaf sebelumnya Ma. Laura tidak bisa membawa Mama masuk ke dalam rumah. Aku pergi dulu."
Laura masuk ke dalam mobil dan melajukannya. Dia tak mempedulikan Ibu mertuanya yang sedang berdiri dengan perasaan kesal juga kecewa.
Setelah itu, Bu Ningrum memutuskan untuk pulang. Dia ingin melampiaskan kekesalannya pada Indra.
Di Kantor.
Tepat pukul 14.00 Indra sampai di kantor. Dia masuk ke dalam ruang kerjanya dan disuguhkan dengan setumpuk file yang harus cepat ditangani. Namun, konsentrasinya terganggu dengan panggilan telepon dari Ibunya.
Mau tidak mau Indra harus mengangkat panggilan itu. Dia menelepon sembari mengetik mengerjakan semua filenya.
"Halo Ma," ucap Indra pada Ibunya.
__ADS_1
[Indra, kamu masih di Bandung? Mama harap kamu cepat pulang. Istrimu sudah tidak bisa Mama atur. Dia bertindak seenaknya sendiri dan tidak menghormati Mama sebagai orang tua.]
"Ma, maaf aku lagi sibuk banget hari ini. Aku baru saja sampai, jadi Mama jangan ganggu Indra dulu ya. Ada sedikit masalah di kantor Ma," jawab Indra dengan muka serius.
[Kalian itu sama saja. Suka sekali membuat Mama ini kecewa. Kalau saja kamu dulu mendengarkan ucapan Mama. Semuanya pasti tidak akan menjadi seperti ini. Mama sangat kecewa sekali sama kamu Indra.]
Percakapan pun selesai ketika Bu Ningrum mematikan sambungan teleponnya. Indra semakin pusing memikirkan situasinya saat ini. Di satu sisi dia memikirkan keadaan Dinda. Di sisi lain dia harus tetap menjalankan sandiwara yang telah direncanakan.
"Kenapa semua menjadi seperti ini? Laura kenapa kamu semakin bertindak seenaknya. Apa kamu sudah tak menganggap ku sebagai seorang kepala rumah tangga?" Indra mengusap wajahnya dengan kasar. Dia merasa sangat tertekan sekali.
Setelah itu, dia melanjutkan kembali pekerjaannya dengan pikiran yang tidak fokus hingga sore hari tiba. Tepat jam 5 sore, Indra memutuskan untuk pulang. Dia langsung pergi menuju ke rumah ibunya.
Tak membutuhkan waktu lama, Indra telah sampai di rumah Ibunya. Dia keluar dari mobil dengan menenteng dua paper bag yang berisi kue buatan Dinda.
Indra masuk ke dalam dan mencari Ibunya. "Ma, aku pulang!" ucapnya dengan meletakkan kedua paper bag itu di atas meja.
"Mau ngapain kamu kesini? Bukannya kamu sangat mencintai istri yang kurang ajar itu?" sahut Bu Ningrum dengan sangat ketus.
"Ma, sudahlah. Tidak usah memperkeruh suasana. Ini aku bawakan oleh-oleh dari Bandung."
Bu Ningrum pun turun menghampiri Indra di ruang tamu. Dia penasaran dengan apa yang dibawa oleh anaknya."Apa itu? Kamu beli darimana? Jangan harap hati Mama akan luluh ya?"
"Terserah Mama. Indra capek mengahadapi sikap Mama yang seperti ini," sahut Indra dengan raut wajah yang sangat lelah. Dia harus ekstra sabar jika berhadapan dengan sang Ibu.
__ADS_1