
Indra senang sekali mendengar berita kehamilan Dinda. Secara tidak langsung hal itu membuat status rumah tangganya dengan Laura bisa terselamatkan.
Dua hari kemudian, Indra memutuskan untuk pergi ke Bandung menjenguk Dinda. Dia tampak bersemangat sekali dalam perjalanannya kali ini. "Andai saja yang hamil ini Laura, pasti aku akan sangat bahagia sekali," ucap Indra sembari fokus menyetir.
Akhirnya dalam waktu kurang lebih tiga jam, Indra sampai juga di rumah sewaannya. Dia turun dan keluar dari mobil, kemudian berjalan lalu masuk ke dalam rumah.
"Dinda, aku datang! Kok sepi, kemana dia?" ucap Indra dengan meletakkan tasnya di atas meja.
Indra pun masuk ke dalam kamar, dia mendengar suara gemericik air dalam kamar mandi. Setelah itu, Indra menunggu dengan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tak lama kemudian, Dinda pun keluar dari dalam kamar mandi.
Dia kaget melihat Indra yang tiba-tiba berada dalam kamar, "Astaga Mas, kamu bikin jantung ku mau copot. Kaget aku kira siapa?" seru Dinda dengan memegang erat handuknya.
Indra bangun dan berdiri, dia berjalan menghampiri Dinda yang sedang berdiri terpaku. "Maaf membuatmu kaget, habisnya aku panggil berkali-kali tidak ada sahutan darimu," ucap Indra memeluk Dinda dengan sangat mesra.
"Hai Nak, ini Papa. Terimakasih kamu sudah berkenan hadir dalam dunia Papa," seru Indra sembari mengelus lembut perut istrinya.
Dinda tersenyum senang melihat sikap Indra yang begitu perhatian terhadapnya. Dia sangat bahagia karena merasa sangat dicintai oleh suaminya.
"Kamu lucu Mas. Anakmu mana dengar suara kamu," sahut Dinda malu-malu.
"Kamu tuh gimana? Ya pasti dia dengar dong di dalam sini. Iya kan, Nak!" kata Indra dengan mencium lembut perut istrinya yang masih rata.
"Ya sudah kamu cepetan pakai baju. Aku antar periksa kandungan hari ini." Indra memerintah istrinya. Setelah itu dia kembali merebahkan tubuhnya di kasur.
Dinda segera pergi menuju ke almari untuk mengambil baju. Dia sangat bersemangat hari ini karena akan memeriksakan kandungannya ke dokter.
Sepuluh menit kemudian, Dinda telah siap. "Mas ayo berangkat, aku sudah siap," ucapnya pada Indra.
Indra pun segera bangun dan mengambil remote mobil yang dia letakkan di meja. Dinda pun mengikutinya dari belakang. Sesampainya di luar, Indra membukakan pintu untuk istrinya. Dinda pun masuk ke dalam, lalu Indra segera melajukan kendaraannya.
Dinda duduk dengan tenang di dalam mobil. Sesekali dia memainkan ponselnya. Lalu, Dinda mencoba memberanikan diri bertanya pada suaminya, "Mas, apa orang tuamu sudah tahu kalau aku sedang hamil?"
Indra menoleh lalu memalingkan wajahnya fokus ke depan. "Mama sudah tahu, dia juga sudah tidak sabar untuk melihat calon cucunya lahir. Nanti ya, setelah kamu melahirkan. Aku akan boyong kamu ke Jakarta dan mengesahkan pernikahan kita di KUA," jawab Indra memberikan harapan yang lebih pada istrinya.
Dinda hanya bisa tersenyum dan merasa yakin dengan janji yang diberikan oleh suaminya. "Terima kasih Mas, aku kira kamu tidak mempedulikan soal itu. Sampai saat ini aku masih ragu dengan hubungan ini. Terkadang aku mempunyai pikiran buruk terhadapmu. Semoga kamu menepati janjimu itu ya Mas," ucap Dinda dengan penuh arti.
__ADS_1
Indra hanya bisa menganggukkan kepalanya untuk menanggapi keraguan yang ada dalam hati istrinya. Ungkapan Dinda yang dalam membuat hatinya tersentil karena pada kenyataannya janji yang dia ucapkan hanyalah janji palsu.
Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai oleh Indra sampai juga di rumah sakit. Dia turun membukakan pintu untuk istrinya. Dinda pun turun dan segera masuk ke dalam rumah sakit untuk melakukan pendaftaran.
Setelah mendaftar, Dinda dan Indra menunggu panggilan di ruang tunggu. Sembari menunggu, Indra sibuk dengan ponselnya. Hal itu membuat Dinda merasa terabaikan. Namun, dia hanya bisa diam dan mencoba untuk membiasakan diri.
Sekitar sepuluh menit, nama Dinda dipanggil. Lalu, mereka berdua masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Di dalam sudah ada dokter spesialis kandungan yang menunggu.
"Selamat siang," sapa Dokter itu.
"Selamat siang dokter," jawab keduanya. Dinda dan Indra pun duduk di kursi yang tersedia.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya sang Dokter.
Dinda pun langsung menjawab pertanyaan itu, "Saya mau memeriksakan kandungan Dok."
"Kalau begitu mari ikut saya," jawab sang Dokter, kemudian mengajak Dinda untuk dilakukan pemeriksaan.
Kurang lebih lima belas menit, Dinda selesai pemeriksaan. Dia keluar dari ruangan dan duduk kembali di samping Indra.
"Bagaimana keadaan istri saya Dokter?" tanya Indra.
"Nanti saya akan tulis resep suplemen buat anda, bisa ditebus di apotek rumah sakit ini. Oh ya, satu pesan saya! Di usia kehamilan yang masih muda tolong hubungan intimnya agak dikurangi ya, Pak. Hal ini terkadang sering dilakukan," imbuh sang Dokter.
"Baik Dok, akan selalu saya ingat pesan Dokter," sahut Indra dengan menolehkan kepalanya ke arah Dinda.
Dokter menyerahkan secarik kertas pada Dinda, "ini resepnya dan sekali selamat atas kehamilannya."
"Terima kasih Dok, kalau begitu kami permisi dulu. Selama siang," ucap Dinda beranjak dari ruangan itu.
Indra dan Dinda keluar dari ruang pemeriksaan. Mereka berdua berjalan menuju ke apotek untuk menebus obat. Indra berjalan dengan menggenggam tangan istrinya.
Hal itu membuat Dinda merasa senang. Dia tersenyum dan membalas genggaman tangan suaminya. Setelah menebus obat, mereka berdua kembali menuju ke mobil.
"Kamu ingin makan apa Din? Ini kan jam makan siang. Aku akan Carikan sesuatu, biasanya kan bumil itu suka pengen makan makanan apa gitu?" tanya Indra pada istrinya.
__ADS_1
Dinda diam sambil berpikir, kemudian dia menjawab, "Kita makan soto yuk Mas. Kayaknya seger dan enak siang-siang gini makan yang berkuah."
"Ide bagus, kamu tahu tidak tempat yang enak buat makan soto?"
"Ada satu tempat tapi agak jauh sih Mas dari sini, apa tidak apa-apa?" ucap Dinda penuh pertimbangan.
"Ya tidak apa-apa? Lagian aku punya banyak waktu kok buat kamu. Dah, kita berangkat sekarang. Kamu jadi penunjuk jalan biar cepat sampai karena aku sudah lapar," sahut Indra dengan semangat. Dinda tersenyum manis menanggapi sikap suaminya yang sangat peduli dan juga perhatian.
Jarak rumah makan dari rumah sakit lumayan jauh. Butuh waktu setengah jam untuk sampai di sana. Setibanya di rumah makan itu, Indra parkir di tempat yang ada. Dia turun bersamaan dengan istrinya. Lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah makan yang suasananya cukup ramai karena bertepatan dengan jam makan siang.
Indra dan Dinda duduk di salah satu kursi kemudian ada seorang pelayan yang menghampirinya. "Mau pesan apa?" tanya pelayan.
"Soto dua porsi terus tambah gorengan ayam dan juga tempenya. Untuk minuman es jeruk, kamu minumannya apa Din?"
"Aku minum teh hangat saja," jawab Dinda.
Pelayan itu pun segera mencatat pesanan mereka, "Silahkan ditunggu, pesanan anda segera siap."
Pelayan itu pergi. Indra dan Dinda pun menunggu dengan memakan kacang goreng yang tersedia di dalam toples. Namun, tiba-tiba saja ada seseorang yang menyapa Indra dengan suara keras.
"Indra! Hei, Bro sudah lama tak jumpa," seru laki-laki berjaket hitam itu.
Indra pun menoleh dan membalas sapaan itu, "Hei, Andre! Gimana kabarmu makin ganteng saja kamu."
"Kamu juga makin sukses juga. Siapa dia istrimu?"
"Iya dia istriku. Oh ya, kapan kamu balik dari London?" tanya Indra seakan mengalihkan pembicaraan.
"Sudah sebulanan, kapan-kapan kita ketemu ya di Jakarta ada yang ingin aku bahas," ucap Andre dengan melirik ke arah Dinda.
"Boleh, nanti kita agendakan waktu kalau sudah di Jakarta. Mau gabung kita makan tidak, biar sekalian?" tanya Indra menawarkan.
"Tidak usah, aku kesini hanya mengambil pesanan saja kok. Ya sudah, aku duluan ya. Mari Mbak," ucap Andre pada Dinda. Setelah itu ia pergi dengan menepuk pundak Indra.
"Teman kamu Mas?" tanya Dinda pada suaminya.
__ADS_1
"Iya, teman kerja ku di Jakarta," jawab Indra sembari menulis pesan di ponselnya.
[Thanks, Andre. Sudah berpura-pura tidak tahu.] Begitulah isi pesan Indra pada temannya tadi. Tak lama kemudian pesanan soto pun siap. Indra dan Dinda langsung menyantap soto itu dengan lahap sekali.