Rahim Yang Terbuang

Rahim Yang Terbuang
RYT 31


__ADS_3

"Bruukk." Pria bertubuh besar itu menimpa tubuh ramping Dinda hingga terjungkal ke aspal.


"Aww! Ssssh! Duh berat banget nih orang. Mas, Mas, bangun! Eh, malah pingsan. Astaga, ternyata lagi mabuk," gumam Dinda menolong pria tersebut.


Dinda membalikkan tubuh pria yang pingsan itu. Setelah terbalik, Dinda terkejut melihat wajah pria itu yang tak asing baginya. "Sepertinya aku pernah melihatnya tapi diman ya?" gumam Dinda sembari berpikir.


"Oh ya, aku ingat! Dia adalah pemilik bazar waktu itu. Namanya.... Pak Diky," seru Dinda yakin.


"Harus bagaimana ini?" Dinda berdiri sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia terus berpikir bagaimana cara membawa pria itu ke dalam mobil.


Perlahan, Dinda mulai menegakkan tubuh pria itu. Setelah dalam posisi duduk, dia mulai memapah tubuh besar itu untuk masuk ke dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan.


Dinda berjalan dengan susah payah. Rasa nyeri ditubuhnya semakin terasa. Sesampainya di mobil, Dinda segera masuk dan mendudukkan pria itu di kursi belakang.


"Huh, masuk juga! Sekarang aman," ucap Dinda dengan menutup pintu mobil.


Dia ingin melanjutkan perjalanannya kembali. Namun, dalam pikirannya ada sesuatu hal yang muncul.


"Tunggu, kalau aku tinggal sekarang bahaya tidak ya. Ini kan jalan raya, terus sekitar sudah sangat sepi. Nanti kalau ada orang jahat bisa gawat."


Dinda mengurungkan niatnya untuk pergi. Dia berbalik dan masuk ke dalam mobil untuk menunggu pria itu sadar. Sesampainya di dalam, Dinda langsung duduk dan bersandar di kursi. Tubuhnya capek sekali, sesekali Dinda mendengar suara pria itu meracau menyebut nama seseorang. Namun, hal itu tak dihiraukan oleh Dinda. Matanya pun mulai mengantuk dan lama-kelamaan terpejam kemudian tidur.



Keesokan Pagi.



Fajar menyingsing, dengan cahaya matahari masuk melalui jendela mobil. Sinar yang terang menyadarkan Diky dari mabuknya semalam. Matanya yang terpejam mulai terbuka perlahan. Tidurnya semalam terasa sangat nyaman. Saat matanya terbuka lebar Diky terkejut karena dia tertidur di pangkuan seorang wanita.



"Astaga, kaki siapa ini?" tanya Diky dalam hati. Setelah itu, dia membalikkan tubuhnya perlahan. Diky melihat seorang gadis yang tengah tertidur pulas. Wajahnya yang natural terlihat sangat cantik.



Diky terus memperhatikan secara intens. Dia terpesona sesaat, tapi dia cepat sadar ketika gadis itu terbangun. Dia cepat-cepat bangun sebelum gadis itu sadar.



Dinda menguap dan terbangun. Dia meluruskan badannya yang pegal. Setelah itu dia melihat Diky yang sudah sadar.



"Pak Diky sudah sadar?" seru Dinda.



Diky tampak heran karena gadis yang ada di depannya itu ternyata mengenalnya. Diky menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak mengingat apapun.


__ADS_1


"Maaf Pak Diky lupa apa yang terjadi?" tanya Dinda.



Diky pun terkejut mendengar pertanyaan Dinda, "Memang apa yang terjadi?" sahutnya cepat.



"Bapak semalam kan...."



"Apa semalam aku melakukannya sama kamu?"



Dinda bengong tak mengerti dengan maksud pria yang ada di depannya itu.



"Maaf aku tidak sengaja, semalam aku minum terlalu banyak," jawab Diky bingung.



Dinda semakin bingung kenapa pria itu harus meminta maaf. "Emm, mungkin anda salah paham. Kita tidak melakukan apa-apa semalam. Saya hanya menolong anda yang mau terjun dari jembatan itu. Saya pikir anda mau bunuh diri," jelas Dinda pada Diky.




"Anda lupa, beberapa bulan yang lalu anda menyelenggarakan bazar di Bandung. Saya adalah ...."



"Oh iya iya aku ingat. Kamu yang waktu itu kejatuhan kardus ya. Astaga aku bisa lupa. Terima kasih sudah menolong ku. Kalau tidak mungkin aku sudah nyebur ke sungai," sahut Diky tidak enak.



"Sama-sama Pak, kebetulan saya juga pas lewat."



"Kamu malam-malam lewat sini ngapain?" Indra bertanya dengan rasa penasaran.



"Emm, saya baru tiba kemarin Pak. Tapi, ada musibah. Dompet saya hilang, terus saya menjual ponsel untuk cari kontrakan. Tapi jalan sini sepi banget, sejauh saya jalan tak ada taksi ataupun angkot," jawab Dinda gelisah.



"Kasihan sekali kamu. Kamu kesini mau ngapain? Kerja atau apa?"

__ADS_1



"Sa-saya mau cari seseorang Pak. Tapi alamatnya sudah hilang," jawab Dinda dengan kepala menunduk.



"Ya sudah, sekarang kita sarapan dulu. Nanti aku bantu kamu cari kontrakan yang strategis dengan harga terjangkau. Bagaimana?"



Dinda menoleh dan langsung tersenyum senang, "Iya Pak. Terima kasih sudah membantu saya. Anda baik sekali!"



"Anggap saja ini pertolongan balas budiku untukmu," sahut Diky lalu dia keluar dari mobil untuk berpindah ke depan.



"Din, ayo pindah ke depan," serunya.



Dinda pun ikut keluar dari mobil untuk berpindah tempat. Dia sangat lega karena mendapat pertolongan ketika sedang kesusahan.



Diky membawa Dinda ke sebuah warung makan di pinggir jalan. Diky sangat menyukai makanan di pedagang kaki lima. Meski dia mempunyai materi yang cukup tak membuatnya menjadi orang yang sombong. Namun, kesederhanaannya sering kali dimanfaatkan oleh orang lain.



"Oekk, oekk, oekk." Suara bayi menangis terdengar sangat melengking di sebuah kamar.


"Sayang, diam dong Nak! Kamu kenapa Kenzo? Oma bingung harus bagaimana?" Bu Ningrum kebingungan untuk menenangkan tangisan cucunya.


"Aduh, ini bagaimana ya? Laura itu keterlaluan punya anak tidak pernah menengok. Kasihan sekali cucuku," gerutu Bu Ningrum sembari terus berusaha menenangkan sang cucu.


"Indra juga mana lagi? Anaknya nangis kayak gini. Sayang cup ya sayangnya Oma. Kamu nangis terus Oma jadi bingung."


Tak lama kemudian, Indra datang dan langsung masuk ke kamar putranya. "Ada apa Ma? Kenapa Kenzo bisa nangis seperti ini," tanya Indra sembari mengambil alih gendongan.


"Mama juga tak tahu. Tiba-tiba saja anakmu nangis sampai kejer. Mama gendong dan timang-timang malah tambah nangis," jawab Bu Ningrum resah.


Indra menimang putranya dengan penuh kasih sayang, "Jagoan Papa diam dong tidak boleh nakal ya, Nak! Harus jadi anak pintar dan juga penurut. Papa sayang sama kamu. Nanti kalau Kenzo sudah gede Papa akan ajak kamu bertemu dengan Mama. Sudah ya cup Sayang."


Indra terus berusaha menenangkan putranya dan tak lama kemudian, Kenzo pun diam dan langsung tertidur dalam gendongan sang Ayah.


"Mungkin anakmu kangen sama Laura, Ndra. Lagian keterlaluan sekali istri kamu itu. Gemes Mama jadinya," seru Bu Ningrum kesal.


Indra hanya diam tak menanggapi ucapan ibunya. Dia terus menimang Kenzo sembari memikirkan seseorang.


"Din, Kenzo kangen sama kamu. Dia sangat membutuhkan mu saat ini. Aku ingin sekali mempertemukannya denganmu. Aku ingin jujur dan mengatakan semuanya sama orang tuaku. Din, aku ingin hidup bersamamu," gumam Indra dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2