Rahim Yang Terbuang

Rahim Yang Terbuang
RYT 39


__ADS_3

Sesampainya di rumah makan, Dinda keluar dan turun dari mobil. Dia masuk ke dalam bersama dengan Diky. Setelah itu, mereka mencari tempat duduk karena pengunjung lumayan ramai. Tak lama kemudian, ada pelayan datang mencatat pesanan mereka.


Dinda memilih nasi goreng seafood dan Diky memilih nasi ayam goreng kremes. Tak ada obrolan di antara mereka, lalu Diky pun membuka pembicaraan. "Bagaimana tadi pembuatan kuenya, apa semua sudah tercetak?" tanya Diky mencari topik.


"Semua sudah tercetak, tinggal meng-oven saja. Lalu beberapa cake dan dessert juga sudah masuk lemari pendingin," jawab Dinda.


"Besok pasti ramai sekali karena teman-teman Mama pasti akan datang semua. Jadi kamu harus siap-siap capek, karena besok kamu pasti akan diwawancarai oleh mereka."


Dinda tersenyum canggung. "Ya, mungkin mereka akan bertanya soal bahan kue yang aku buat."


"Kamu lihat saja besok, aku yakin tidak hanya itu." Diky membalas ucapan Dinda yang sedang meragukannya.


Tak lama kemudian, pesanan makanan pun datang. Pelayan meletakkan dua piring nasi itu di atas meja. Diky dan Dinda langsung menyantap hidangan yang ada di depannya.


Di Tempat Lain.


Indra sedang bersiap untuk menghadiri rapat di luar. Dia sangat sibuk sekali, karena harus bolak-balik ke pengadilan untuk mengurusi perceraiannya dengan Laura. Setelah siap, Indra langsung keluar dan berangkat bersama asistennya.


"Pertemuan hari ini harus ada hasil, karena aku tidak mau ada peninjauan ulang," ucap Indra pada asistennya.


"Baik Pak, saya akan berusaha untuk mencapai kesepakatan kali ini," jawab asistennya. Setelah itu Indra berangkat menuju ke lokasi pertemuan.


Setengah jam kemudian, Indra sampai di sebuah kafe yang ada di pusat perbelanjaan. Dia dan kliennya mengadakan pertemuan di sana. Indra berjalan diikuti oleh asistennya. Setelah sampai dia langsung masuk ke dalam kafe dan ternyata kliennya sudah datang.


"Selamat siang Pak, bagaimana apa kedatangan saya terlambat?" ucap Indra pada kliennya.


"Tidak Pak, saya juga baru sampai lima menit yang lalu," jawab klien.


"Baiklah, mari kita bahas kerja sama kita." Indra langsung mulai rapatnya. Dia sangat serius dalam pekerjaan. Indra dapat mengesampingkan masalahnya dan tidak mencampurkan dalam urusan pekerjaan.


Satu jam berlangsung, Indra dan kliennya sudah mencapai kesepakatan. Dia sangat puas sekali dengan hasil yang dicapainya. Setelah sama-sama setuju, Indra mengakhiri pertemuannya. Dia harus kembali ke kantor secepatnya karena harus menyelesaikan berkas yang belum tuntas.


Di perjalanan secara tidak sengaja, Indra bertemu dengan Laura yang sedang berjalan dengan kekasihnya. Indra mengepalkan kedua tangannya dan berjalan menghampiri mereka.


"Laura, ternyata kamu sudah berani terang-terangan ya sekarang," seru Indra di depan wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantan.


Laura membalikkan badannya dan terkejut melihat Indra. "Eh, kebetulan sekali ada suamiku, eh ... maksudku mantan suami," sahut Laura dengan nada remeh.


"Aku masih tidak menyangka kalau pernikahan ini akan berakhir sangat tragis. Aku menyesal telah menikahi mu Laura." Indra terus menampakkan kebenciannya pada mantan istrinya itu.


Laura tergelak mendengar ucapan mantan suaminya. "Indra kamu lucu sekali, kamu itu terlalu polos sehingga tidak bisa membedakan apa itu cinta. Kalau aku mencintaimu, tidak mungkin aku menyuruh mu untuk menikah lagi. Bahkan mempunyai anak dari orang lain."


"Ya dan aku bersyukur selalu bisa berpisah denganmu, karena kamu bukanlah wanita yang baik. Suatu hari nanti kamu akan menyesal."


Laura masih tertawa, dia sangat puas sekali membuat Indra kesal. "Aku tidak akan menyesal karena sudah mendapatkan apa yang seharusnya aku dapatkan. Jadi berhentilah menyumpahi ku karena tidak ada gunanya."


"Sayang ayo kita pergi dari sini. Aku semakin muak melihat wajahnya." Laura menarik Roy untuk pergi dari hadapan Indra.

__ADS_1


"Aku yakin kamu akan menyesali semua ini suatu hari nanti, Laura. Lihat saja karma berlaku dan itu nyata." Indra langsung pergi dari tempat itu dan kembali ke mobilnya.


Sesampainya di mobil, emosi Indra belum padam. Dadanya masih terlalu panas jika mengingat tentang pengkhianatan Laura. Mobil puk berjalan atas perintah Indra. Kepalanya mendadak pusing ketika mengingat semua masalahnya.


Mobil terus berjalan menuju ke kantor. Lalu berhenti sejenak di lampu merah. Indra melamun ke arah jendela mobil. Tak sengaja matanya melihat seseorang yang sedang dia cari.


"Dinda? Apa itu Dinda?" ucap Indra terkejut. Indra menajamkan penglihatannya.


"Iya itu Dinda." Indra menurunkan kaca jendela mobilnya. Indra berteriak memanggil, namun tidak terdengar karena mobil sudah dalam keadaan berjalan.


"Kamu tolong ikuti mobil hitam yang ada di depan sana. Cepat! Jangan sampai kehilangan jejak," ucap Indra pada asistennya.


"Ba-baik Pak!" jawab sang asisten. Dia segera menambahkan kecepatan penuh agar bisa mengejar mobil itu.


Kondisi jalan yang rame membuat mobil Indra sulit untuk menyalip mobil-mobil yang ada di depannya. Matanya selalu melihat mobil yang dinaiki oleh Dinda.


"Kamu lebih cepat! Jangan sampai kita kehilangan mobil yang ada di depan itu," ucap Indra pada asistennya.


"Tapi Pak, jalanan sangat ramai sekali sulit bagi saya untuk menyalip mobil-mobil yang ada di depan itu."


"Pokoknya aku tidak mau tahu kamu harus tetap mengejar mobil hitam itu."


Sama asisten terus berusaha untuk mengejar mobil yang dimaksud oleh bosnya. Namun, nasib baik tidak berpihak pada Indra. Dia kehilangan jejak di persimpangan jalan dan tidak tahu ke mana arah mobil yang dinaiki oleh Dinda tadi.


"Maaf Pak saya kehilangan jejak. Mobil yang ada masuk sudah tidak ada, dan saya tidak tahu mobil itu belok ke arah mana," ucap sang asisten.


"Sial, aku kehilangan jejak lagi! Berarti Dinda ada di sini, pantas aja aku cari di Bandung dia sudah tidak ada. Apa mungkin setelah kejadian itu dia langsung menyusul ke sini dengan membawa alamat yang aku berikan dulu. Tapi kenapa dia tidak menemui aku, kalau dia mempunyai alamat itu! Dinda Kamu tinggal dimana? Aku ingin sekali bertemu denganmu," gumam Indra pelan.


Indra merasa frustasi karena tidak menemukan jejak Dinda. Namun dia cukup lega, karena dia telah mengetahui keberadaan Dinda yang tak jauh dari lokasinya.


"Aku yakin kita akan ketemu, Din. Setelah kita ketemu aku tidak akan melepaskanmu lagi," ucap Indra dalam hati.


Di Tempat Lain.


Diky dan Dinda kembali ke toko roti. Perasaan Diky sangatlah senang, namun tidak untuk Dinda. Dia sangat puas-puas kalau Diky menyimpan perasaan untuknya. Apalagi Diky belum tahu tentang status Dinda yang sudah bersuami dan bahkan punya seorang anak.


"Din kamu kenapa dari tadi murung terus?" tanya Diky pada Dinda.


"Tidak ada apa-apa! Bukankah wajahku memang sudah seperti ini," balas Dinda.


"Aku memang belum mengenalmu secara jauh, tapi aku ingin secepatnya agar bisa mengenalmu lebih dalam lagi," ucap Diky penuh harap.


Dinda menarik nafas dalam dan menghembuskan pelan. "Aku harap kamu tidak mempunyai perasaan terhadapku. Aku bukanlah wanita baik seperti yang kamu pikirkan. Aku mempunyai sebuah kisah yang sangat sulit untuk diceritakan, bahkan aku sendiri pun tidak kuat untuk menceritakan kisah itu pada orang lain."


"Aku hanya tidak ingin mengecewakanmu, karena aku memang tidak sebaik yang kamu pikirkan saat ini." Dinda terus berbicara sepanjang perjalanan, hingga membuat Diky merasa kesal dan menghentikan mobilnya secara mendadak.


"Aku ingin mengetahui semua rahasia mu, Din. Kalaupun pada kenyataannya kamu tidak sesuai dalam bayanganku, aku akan mencoba untuk menerimamu apa adanya," ucap Diky dengan raut wajah yang serius.

__ADS_1


Dinda menggelengkan kepalanya, perasaannya mulai tak terkendali. "Maaf tapi aku tidak bisa dan aku mohon sama kamu untuk tidak membahas ini dulu, karena hatiku memang benar-benar belum bisa menerima. Jadi aku mohon, jangan ingatkan kembali aku pada kisah itu."


Dinda menangis, tubuhnya gemetar. Dia benar-benar hancur jika mengingat kisah hidupnya sendiri. Diky merasa bersalah, dia mencoba untuk menenangkan Dinda. "Baiklah aku minta maaf sama kamu, Din. Aku tidak tahu kalau kamu punya kisah yang sangat menyedihkan. Sudah ya jangan menangis lagi! Sebentar lagi kita sampai."


Dinda mengusap air matanya, sungguh hatinya tidak mampu jika harus jatuh cinta lagi. Beberapa menit kemudian, Dinda sampai di toko roti tempat dia bekerja. Diky keluar dan turun dari mobilnya. Dia membantu tenda untuk membuka pintu mobil. Setelah terbuka Dinda turun dan dia langsung masuk ke dalam untuk kembali bekerja.


Diky pun merasa heran dan semakin penasaran dengan kehidupan Dinda. "Apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu dia? Kenapa kamu terlihat sangat sedih sekali? Bagaimana aku tahu tentang dirimu, jika kamu saja tidak mau bercerita denganku," gumam Diky pelan.


Setelah Dinda masuk ke dalam, Diky langsung masuk ke dalam mobil dan kembali ke kantornya. Dia sengaja tidak masuk untuk menghindari ceramah dari ibunya.


Sesampainya di dalam Dinda langsung bergabung dengan teman-temannya yang sudah bersiap di ruang kerja. Mereka tampak senang dan juga ada yang menggoda Dinda.


"Cie, yang habis makan siang dengan tuan muda," celetuk salah satu teman Dinda.


Dinda mencoba untuk membiasakan diri agar teman-temannya tidak curiga padanya. "Kalian apaan sih, aku cuma makan siang biasa. Kenapa kalian memandang ku seperti itu? Apakah ada sesuatu yang aneh?"


Teman-teman Dinda menggelengkan kepala dengan kompak. "Mungkin anaknya Bu Inggrid suka sama kamu, Din!"


"Sudah kalian tidak usah berpikir yang aneh-aneh. Ayo cepat lanjutkan pekerjaan karena waktu kita tinggal besok. Aku yakin besok kita akan sangat sibuk sekali," ucap Dinda dengan memulai pekerjaannya.


Setelah itu Dinda mulai bekerja dan tidak memperhatikan godaan dari teman-temannya. Dia fokus dalam membuat kue dan melupakan masalahnya tadi.


Sore hari pun tiba, semua kue dan cake sudah terbuat dan disimpan dalam tempat penyimpanan. Dinda sedang bersiap untuk pulang. Dia menuju ke loker dan segera berganti pakaian.


"Teman-teman aku pulang dulu ya, sampai ketemu besok," seru Dinda dengan membawa tasnya.


"Oke, hati-hati ya Din," jawab semua temannya.


Setelah berpamitan Dinda pun keluar dari toko roti tersebut. Dia pulang ke kontrakan dengan menaiki angkot. Setiap kembali ke rumah hatinya sangat sedih sekali. Keinginan untuk bertemu dengan sang bayi begitu kuat di hatinya. Di dalam angkot Dinda terus melamun hingga tak terasa dia telah sampai di lokasi kontrakannya. Dinda turun dan setelah sampai, dia segera masuk ke dalam kontrakan.


"Aku harus istirahat cukup malam ini, agar besok pekerjaanku bisa lebih baik lagi," ucap Dinda dia bergegas untuk mandi dan beristirahat.


Keesokan harinya.


Dinda bangun sangat pagi sekali. Dia mulai bersiap-siap untuk pergi bekerja. Semalam Dinda tidak bisa tidur dengan nyenyak. Matanya sangat sulit terpejam, sehingga hari ini dia tidak begitu bersemangat.


Meskipun begitu Dinda tetap berangkat bekerja. Dia harus bertanggung jawab dengan tugas yang telah diberikan. Setelah siap berangkat tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kontrakannya. Dinda keluar dan membukakan pintu.


"Diky, kamu cepat sekali datang ke sini," ucap Dinda terkejut.


"Maaf karena Mama lah yang menyuruhku ke sini untuk menjemputmu. Mama takut kalau kamu terjebak macet di jalan," jawab Diky.


"Baiklah aku sudah siap, ayo kita berangkat sekarang!" Dinda menutup dan mengunci pintu kontrakannya. Setelah itu dia berangkat dengan Diky yang sudah menjemputnya.


15 menit kemudian mobil yang dikendarai oleh Diky, sampai juga di toko roti. Situasi di sana sudah cukup ramai karena banyak sekali pekerja yang datang. Acara dimulai jam 08.00 pagi.


"Dinda kamu sudah datang, ayo cepat kita harus menyusun semua hidangan yang ada di lemari pendingin," seru Bu Inggrid, dia langsung memberi perintah untuk Dinda.

__ADS_1


"Baik, Bu saya akan segera menata semua hidangan. Serahkan saja pada saya. Soal hasil, Ibu akan puas nanti," ucap Dinda dengan penuh semangat.


Setelah itu Dinda, mulai sibuk dengan pekerjaannya. Dia menata semua kue dan cake yang sudah dibuatnya kemarin di atas meja dan juga etalase yang tersedia. Jam 7.30 semua orang sudah datang. Para warga dan tamu undangan juga ikut meramaikan peresmian toko roti itu.


__ADS_2