
Hari berganti hari, jam berganti jam, bulan berganti bulan, semua terasa cepat seiring berjalannya waktu. Kini kandungan Dinda sudah besar. Usia kandungannya sudah delapan bulan. Sebagai suami, Indra jarang menemani istri sirinya itu. Dia hanya meluangkan waktu 2 kali dalam sebulan untuk menjenguk. Hal itu membuat Dinda menjalani masa kehamilan dengan kesendirian.
Setiap hari dia disibukkan dengan membuat pesanan kue kering dan juga cake ulang tahun. Dia mempromosikan dagangannya melalui sosial media. Dinda hanya menerima pesanan jika tubuhnya fit saja. Perutnya yang membesar menjadi halangan karena cepat kelelahan.
"Sssshh, aduh perutku!" rintih Dinda sambil memegangi perutnya. Dia duduk sejenak di kursi dan menghentikan aktivitasnya sejenak.
Dinda mengelus perutnya yang kram. Dia menegakkan punggungnya yang terasa pegal. "Sayang, kita lanjutkan pesanan terakhir ini ya. Mama janji nanti setelah pesanan ini selesai, Mama akan lebih bersantai," ucap Dinda dengan mengelus perutnya.
Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk meredakan kramnya. Kurang lebih setengah jam, Dinda harus bersantai. Hal itu membuatnya sering mengalami flek-flek kecoklatan. Dinda berpikir kalau dia akan segera melahirkan.
"Sungguh sial hidupku. Bantal ini sungguh merepotkan sekali. Membuatku tak tahan ingin segera membuangnya. Kapan sih dia melahirkan? Lama sekali, membuat ku tersiksa." Laura terus menggerutu di dalam kamarnya. Dia sudah tak tahan dengan sandiwaranya sendiri.
Laura sudah tidak bekerja sejak perutnya membesar karena bantal. Dia terpaksa berakting seperti orang hamil di depan semua orang. Jadi untuk tetap lancar dia harus sekuat tenaga menjaga rahasianya sendiri.
"Aku harus cari cara supaya dia cepat melahirkan. Aku sudah tidak sabar jika harus menunggu sampai bulan depan," ucap Laura dengan nada kesal.
"Mungkin sudah waktunya aku menemui maduku, akan aku buat dia mengakhiri rasa lelahnya. Waktunya juga sangat tepat, karena Indra sedang perjalanan ke sana." Laura tersenyum menyeringai entah apa yang sedang direncanakannya.
Laura segera bersiap untuk menuju ke Bandung. Dia ingin menuntaskan semua sandiwaranya. Dia melepas bantal di perut lalu beranjak pergi.
Indra sedang fokus menyetir mobil. Dia sudah tak sabar bertemu dengan Dinda. Ada rasa rindu yang tak terbendung mengingat sudah dua bulan dia tak pernah menjenguk istrinya.
Perasaan sayang secara tidak langsung terbentuk dalam hati Indra. Setiap hari muncul rasa ingin bertemu, akan tetapi terhalang oleh kondisi dan juga waktu.
Akhirnya setelah tiga jam perjalanan, Indra sampai juga di rumah yang di tempati oleh Dinda. Dia turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam. Sesampainya di dalam, Indra melihat istrinya yang sedang tertidur di sofa. Dia meletakkan barangnya di meja, lalu menghampiri Dinda yang terlelap.
Indra duduk di sofa dengan membelai rambut Dinda yang menutupi wajah. Dia memandang wajah cantik itu. Ada rasa tidak rela jika harus mencampakkannya suatu hari nanti.
Merasa ada yang membelainya membuat Dinda terbangun. Dia sedikit terkejut dengan keberadaan Indra yang tiba-tiba. "Astaga Mas, kamu membuatku kaget. Aku kira orang jahat," seru Dinda bangun dari tidurnya.
"Kamu kenapa tidur di sofa?"
Dinda gugup menjawab pertanyaan suaminya karena Indra sudah melarang untuk membuat anek kue lagi. "Emm, itu Mas. Anu!"
__ADS_1
Indra menoleh ke arah dapur yang masih berantakan. Melihat semua itu membuat Indra tahu apa yang sedang dikerjakan oleh istrinya. "Kamu masih membuat kue, bukannya aku sudah melarangmu untuk tidak lagi bekerja!"
"Maaf Mas, aku hanya kesepian dan butuh hiburan. Jadi aku menyibukkan diri. Juga aku merindukanmu, karena sudah dua bulan kamu tidak pernah kesini," jawab Dinda dengan kepala menunduk.
"Sudahlah, aku tidak mau berdebat dengan mu. Sekarang istirahat kalau masih capek. Soal dapur biar aku yang membersihkannya. Soal dua bulan itu aku tidak ada waktu karena pekerjaan ku sangat banyak sekali. Aku juga minta maaf sama kamu."
Indra berdiri lalu menuju ke dapur. Dia langsung membersihkan peralatan yang kotor. Dinda terharu melihat sikap suaminya yang begitu lembut dan perhatian. Lalu, dia memutuskan untuk membantu suaminya bersih-bersih dapur.
"Aku bantu ya Mas, kamu baru saja sampai pasti capek juga."
Indra menoleh ke arah istrinya yang mencuci baskom, kemudian dia merengkuh tubuh Dinda dalam pelukannya, "Maaf membuatmu menderita, karena aku tidak ada pilihan lain. Dalam hati ini sudah terisi namamu, aku mencintaimu Din."
Mendengar ungkapan rasa suaminya membuat hati Dinda berdebar. Dia semakin mempererat pelukan dan menyembunyikan wajahnya ke dada Indra, "Mas kamu janji jangan tinggalin aku, karena aku tidak akan sanggup jika itu sampai terjadi."
"Aku tidak tahu apa yang kamu sembunyikan selama menjadi suamiku Mas. Aku hanya memberi semua ketulusanku agar hatimu luluh dan menerima ku apa adanya," ucap Dinda dengan penuh keharuan.
"Iya aku akan memperjuangkan semuanya. Mungkin jalan ini tak akan mudah untuk kita."
"Aku adalah lelaki yang paling munafik di dunia ini Din. Semoga nanti kamu mau memaafkan aku," ucap Indra dalam hati.
Indra melepaskan pelukannya, "ayo kita selesaikan segera. Nanti malam aku ingin mengajakmu makan malam."
"Iya Mas," sahut Dinda dengan tersenyum.
Laura masih dalam perjalanan menuju ke Bandung dan sebentar lagi akan sampai. Dia sudah mempersiapkan sesuatu dalam tasnya. Sikapnya kali ini terbilang nekat karena sedikit membahayakan nyawa seseorang.
Dia mencoba untuk menghubungi Indra, namun tak ada jawaban. "Kok tidak diangkat sih. Aku harus tahu kegiatan mereka. Kalau tidak, mana bisa aku beraksi," gumam Laura kesal, karena panggilannya tak di jawab oleh Indra.
Tak lama kemudian, ponselnya kembali berdering. Indra kembali menghubunginya. Laura langsung mengangkat telepon tersebut, "Sayang kamu nanti malam ada acara tidak?"
\[Nanti malam aku mau makan malam bersama Dinda. Ada apa memangnya?
"Tidak ada apa-apa Sayang cuma tanya. Soalnya aku kesepian banget di rumah," jawab Laura singkat.
__ADS_1
"Ya sudah kalau gitu, aku tutup teleponnya ya Sayang." Laura pun mematikan sambungan teleponnya. Dia tersenyum sinis mengingat semua rencana jahatnya. Setelah itu Laura melanjutkan kembali perjalanannya yang hampir sampai.
Malam hari tiba, Dinda sedang bersiap untuk makan malam bersama Indra. Dia keluar dengan pelan menuju ke mobil, dimana Indra sudah menunggunya. "Sudah ketemu barangnya?" tanya Indra pada Dinda yang masuk ke dalam mobil.
"Sudah Mas, ada di laci paling bawah ternyata," jawab Dinda sembari memasang seatbelt.
"Oke, kalau gitu kita berangkat." Indra mengendarai mobilnya menuju ke sebuah restoran yang telah dia booking sebelumnya.
Sesaat kemudian, ada mobil berwarna merah mengikuti dari belakang. Laura lah yang mengikuti mobil Indra. Dia mengikuti secara pelan agar tidak ketahuan.
"Ternyata wanita pilihan ku tetap cantik meski lagi hamil besar. Pantas saja Indra sedikit berubah. Aku sangat yakin kalau dia sudah jatuh hati pada wanita itu," ucap Laura pelan.
Hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai di restoran. Indra keluar diikuti oleh Dinda yang menggandeng tangan suaminya. Sesampainya di dalam, Indra langsung duduk di tempat yang sudah dia pesan sebelumnya.
Indra mulai memilih menu makanan. Canda dan tawa mewarnai makan malam itu. Namun, kesenangan Indra membuat Laura sedikit kesal. "Apa-apaan itu? Senyum manis itu sebentar lagi akan hilang dan akan berganti dengan penderitaan. Waktunya beraksi Laura."
Laura berdiri dari tempatnya menghampiri pelayan yang membawa pesanan Indra,"Mbak bisa ambilkan saya gula, minuman saya kurang manis."
"Tunggu saya mengantarkan ini dulu ya mbak," jawab pelayan itu.
"Jangan! Aku mau gula sekarang, kalau nanti bisa dingin minumanku. Sini aku bantu memegang nampannya."
Pelayan itu tak bisa menolak, dia memberikan nampan itu pada Laura. Lalu, terbentuk lah senyum jahat di bibir Laura. Dia segera mengambil sesuatu di dalam sakunya dan memasukkan obat ke minuman Dinda.
"Ayo, cepat lahir lah ke dunia calon anak Mommy. Lahir baik-baik ya," ucap Laura dalam hati.
Tak lama kemudian, pelayan itu kembali dengan membawa gula. Laura menerima gula itu dan mengembalikan lagi nampan yang dipegangnya. Si pelayan pun mengantar makanan itu ke meja Indra.
"Ini makanannya. Selamat menikmati!" ucap pelayan itu sembari meletakkan semua piring di meja.
"Kelihatannya enak Mas," seru Dinda senang.
"Ya sudah kita langsung makan sekarang." Indra dan Dinda memakan semua hidangan yang ada di atas meja dengan sangat lahap. Dinda juga meminum minuman yang sudah diberi obat oleh Laura.
Melihat Dinda meminum minumannya membuat Laura tersenyum senang. Tak membutuhkan waktu lama, efek obat itu pun bekerja. Dinda merasakan sakit pada kandungannya.
"Aww, Aww, Mas perutku. Aduh Mas, perut ku sakit banget." Dinda berteriak kesakitan sembari memegangi perutnya.
Indra pun ikut panik melihat Dinda yang berteriak kesakitan. "Din kamu kenapa? Kamu mau melahirkan? Ayo kita ke rumah sakit sekarang," ucap Indra khawatir. Dia memapah istrinya menuju ke mobil. Tak menunggu lagi, Indra segera membawa Dinda menuju ke rumah sakit.
Di dalam mobil, Dinda terus berteriak kesakitan. Air matanya pun keluar menahan rasa sakit itu, "Mas perut aku sakit sekali. Aku tidak kuat. Sakit sekali Mas."
Indra gugup sekali melihat kondisi istrinya. Meski begitu dia harus tetap fokus menyetir agar bisa cepat sampai di rumah sakit.
__ADS_1