
Indra sedang perjalanan menuju ke kantor. Hatinya sangat gundah memikirkan kondisi Dinda. Lalu, dia berinisiatif untuk menghubungi pihak rumah sakit tempat Dinda dirawat.
Setelah menelepon pihak rumah sakit, Indra mendapatkan informasi kalau keadaan Dinda tengah murung dan juga stress berat. Dia lebih banyak diam, tidak mau makan, dan sering kali menangis.
"Dinda maafkan aku, aku memang jahat dan sangat jahat!" gumam Indra pelan.
Indra merasa sangat terpukul dengan keadaan yang tengah melanda di kehidupannya. Dia belum bisa memutuskan tindakan yang tegas.
Di rumah sakit.
Dinda sedang bersiap untuk pulang dari rumah sakit hari ini. Dokter sudah mengizinkannya. Indra memberikan paket lengkap dalam masa operasi dan juga pemulihan. Jadi, kondisi Dinda sekarang sudah stabil. Hanya saja masih perlu istirahat untuk memulihkan tenaganya.
"Bu Dinda sudah bisa pulang hari ini. Selalu jaga kesehatan ya Bu. Perbanyak istirahat agar kondisi segera pulih," ucap Dokter sembari memeriksa kondisi Dinda.
"Iya Dokter, saya akan mengingat semua pesan Dokter," jawab Dinda pelan.
Sebelum pulang, Dinda menyiapkan mental agar lebih kuat ketika melangkahkan kaki ketika masuk ke dalam rumah. Hatinya selalu bergemuruh, setiap mengingat kata-kata manis yang pernah dia dengar.
"Ayo Dinda kamu harus kuat meski hatimu hancur sehancur-hancurnya. Kamu harus bisa menemukannya," gumam Dinda pelan dengan menahan semua air mata yang sudah berkumpul di mata.
Beberapa menit kemudian, Dinda memutuskan keluar dari ruang rawatnya. Dia berjalan pelan dengan menenteng tas yang berisi handphone dan sejumlah uang. Dia sudah beberapa kali menelepon suaminya, akan tetapi nomornya sudah di blokir jadi semua itu hanya percuma.
Dinda pulang dengan menaiki taksi. Sesampainya di luar dia segera masuk ke dalam karena sebelumnya telah memesan lewat online. Hati Dinda selalu berdebar sepanjang perjalanan. Rasa sakit yang telah menggumpal membuatnya mati rasa. Raut wajah sedih, bibir terdiam tanpa senyum sudah tercetak jelas.
Kurang lebih satu jam, Dinda telah sampai di rumah yang dia tinggali bersama Indra dulu. Dinda keluar dari taksi dan melihat barang-barangnya berada di luar.
__ADS_1
"Ada apa ini? Kenapa semua barangku ada diluar?" tanya Dinda dalam hati.
Dinda masuk ke dalam rumah, dan melihat beberapa orang sedang mengacak-acak semua barang-barangnya.
"Maaf, ada apa ini?" Dinda bertanya pada seorang wanita yang berdiri memerintahkan orang untuk mengeluarkan barang.
Wanita itu menoleh dan menjawab, "Kamu hari ini harus keluar dari sini, karena masa sewa rumah ini sudah habis. Saya sudah menghubungi pihak yang menyewa tapi tidak pernah ada tanggapan. Jadi terpaksa saya melakukan ini karena ada penyewa yang membutuhkan tempat tinggal."
Dinda diam terpaku mendengar penjelasan wanita itu. Dia tak habis pikir dengan kemalangan nasibnya. "Baiklah, beri saya waktu untuk berkemas. Saya akan keluar dari rumah ini," sahut Dinda dengan suara tegar.
"Oke, saya tunggu sampai sore hari. Saya mau malam ini juga kamu bisa keluar dari tempat ini," seru wanita itu dengan nada kasar.
"Kuatkan hatiku Tuhan, aku butuh kekuatanmu untuk menghadapi semua ini," ucap Dinda dalam hati.
Setelah itu, Dinda melangkahkan kaki menuju ke kamarnya. Dia ingin membereskan barang-barang yang menurutnya penting saja. Setibanya di kamar, Dinda berjalan menuju ke laci meja. Dia mengambil sebuah kertas yang berisi alamat tinggal Indra di Jakarta.
"Untung aku mempunyai alamat ini. Jadi aku harus menyiapkan kekuatan untuk pergi ke alamat ini," gumam Dinda pelan sembari melihat kertas itu.
Tak membutuhkan waktu yang lama, Dinda sudah membawa baju seadanya dan beberapa barang yang penting. Sisanya dia tak ingin membawanya, dia akan memberikan semua barang itu pada pemilik rumah.
__ADS_1
Dinda keluar dengan membawa tas yang tidak begitu besar. Dia keluar dengan langkah kaki yang tegar. Beberapa kali dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan berat. Setelah keluar dari rumah itu, Dinda ingin mencari sebuah kos-kosan untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang masih lemas. Dia akan pergi jika tenaganya sudah pulih.
Hidup sebatang kara membuat Dinda harus sigap dalam menyelesaikan semua masalahnya. Dia harus bisa memutuskan dan membuat awal yang bagus untuk menata hidupnya kembali. Di dalam taksi, Dinda banyak melamun. Dalam angannya membayangkan bagaimana keadaan anak yang dilahirkannya.
"Sayang, bagaimana rupamu? Maafkan Mama belum bisa memelukmu. Mama akan berjuang untuk mendapatkan mu kembali Nak. Mama akan berusaha untuk menemukanmu. Tunggu Mama!" ucap Dinda dengan air mata berlinang.
Tak lama kemudian, Dinda sampai di area kos-kosan. Dia memilih tempat tinggal yang murah karena uangnya sudah menipis. Dinda harus berhemat agar tabungannya bisa cukup untuk hidup beberapa bulan ke depan.
Dinda memilih untuk tinggal di kosannya yang lama. Untung saja belum ada orang yang menempati bekas kosnya itu. Pemilik kos yang bertanya-tanya hanya dia jawab secara singkat. Terlalu sakit jika diceritakan secara detail.
Sesampainya di dalam kos, Dinda melihat ke sekitar. Dia mengingat dengan kehidupannya dulu yang tampak bahagia sebelum rasa sakit itu datang.
"Aku memang bodoh. Tapi sudahlah, semuanya sudah terjadi karena kebodohan ku sendiri. Jadi aku hanya bisa menyalahkan diriku ini yang telah memberikan sebuah kesempatan kepada seseorang untuk masuk dan menebarkan racun hingga membuat hati ini sakit bahkan sekarat."
Dinda terus bergumam di setiap kesendiriannya. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menghibur dan menguatkan hatinya yang hancur berantakan.
"Roy, faster. Oh, aku merindukan sensasi ini Sayang!" ucap Laura meracau di bawah kungkungan kekasihnya.
"Hem, aku juga Laura. Lama sekali aku berpuasa Sayang. Hari ini aku tidak akan membiarkan mu lolos. Akan aku buat kamu tidak bisa berjalan. Uhh, sensasi ini yang aku rindukan ketika bersamamu," sahut Roy sembari melakukan aksi di atas tubuh Laura.
"Apa suamimu belum menyentuhmu Sayang?"
"Emmmpph, jangan membahasnya ketika kita sedang bercinta Roy. Kamu ingin membuatku hilang mood, kah?" jawab Laura kesal.
"Maafkan aku baby! Tapi bagus jika suamimu itu tak lagi menyentuhmu. Biar aku yang memuaskanmu. Terima lah ini!"
Roy terus melancarkan aksinya bersama Laura. Sikap Laura sekarang lebih berani, dia telah membawa kekasih gelapnya itu untuk datang ke rumah secara langsung. Sepertinya dia sudah siap untuk segala resiko yang akan terjadi nanti.
__ADS_1
Sikap Indra yang cuek dan semakin tidak peduli membuatnya kesal. Dia tak menyangka kalau lelaki yang cinta mati kepadanya itu bisa cepat berpaling hanya karena hidup beberapa bulan dengan seorang wanita.