Rahim Yang Terbuang

Rahim Yang Terbuang
RYT 43


__ADS_3

Indra memejamkan matanya sesaat. Namun, tetap saja hatinya tidak tenang. Dia keluar dari kamar untuk mencari Dinda. Akan tetapi, Indra tidak menemukan Dinda dalam kamarnya. Setelah itu Indra menuju ke kamar Kenzo. Dia membuka pintu dan mendapati Dinda yang tengah tertidur memeluk bayinya.


Dinda terlihat sangat lelap sekali. Sudut matanya berair karena dia menangis sebelum tidur. Indra tersenyum melihat pemandangan itu. Ada rasa bahagia dalam hatinya.


"Keluarga seperti ini lah yang aku dambakan," ucap Indra dalam hati. Setelah itu Indra mencium pipi Dinda dengan lembut. "Aku harap kamu bisa memaafkan aku Din. Aku ingin mengulang semuanya dari awal bersamamu."


Setelah itu Indra keluar dari kamar putranya. Dia membiarkan Dinda tidur dengan Kenzo. Indra turun ke lantai bawah untuk mencari ibunya. "Ma, Mama," panggil Indra.


"Ada apa? Teriak-teriak kayak gitu?" tanya Bu Ningrum sedikit kesal.


Indra tersenyum lebar lalu memeluk ibunya. "Aku bahagia, Ma! Baru kali ini aku merasakan hal yang seperti ini," ucap Indra.


"Kamu kenapa? Apa yang membuatmu bahagia?" tanya Bu Ningrum penasaran.


"Dinda tidur dengan memeluk Kenzo, Ma. Terlihat sangat hangat sekali," jawab Indra.


Bu Ningrum tersenyum melihat Indra yang terlihat bahagia. "Mama bukannya menyalahkanmu. Akan tetapi, sikapmu yang seperti ini mengingatkan hubunganmu bersama Laura. Jika saja dulu kamu mendengar nasehat Mama, pasti sekarang kamu sudah bahagia."


"Ma, sudahlah. Masa lalu biarlah berlalu, yang akan aku lakukan sekarang adalah meraih kembali hati Dinda. Aku tidak menyerah Ma," ucap Indra dengan sangat yakin.


"Iya, Mama akan bantu kamu untuk meluluhkan hati Dinda. Mama yakin kalau suatu hari nanti, Dinda pasti akan luluh padamu. Kamu terus bersikap lembut padanya, tunjukan perhatian dan juga tanggung jawabmu. Secepatnya kamu selesaikan perceraianmu dengan Laura, agar kamu bisa meresmikan pernikahanmu dengan Dinda," balas Bu Ningrum.


Indra melepaskan pelukannya, kemudian dia membalikkan badan, saat itu juga Indra melihat istrinya turun dari tangga dengan menggendong Kenzo. Indra menatap dengan penuh harap.


"Ada apa Dinda? Apa Kenzo menangis?" tanya Bu Ningrum.

__ADS_1


"Tidak Tante, aku hanya ingin membawanya keluar dari kamar. Biasanya, Kenzo mandi jam berapa, Tan? Aku ingin memandikannya."


Mendengar suara Dinda yang lembut, membuat Indra dan ibunya saling bertatapan satu sama lain. Setelah itu, Bu Ningrum menjawab, "Biasanya Kenzo mandi jam empat. Jadi sebentar lagi, nanti Tante akan menyuruh bibi untuk menyiapkan air hangat."


Dinda mengangguk dan tersenyum tipis dengan terus menciumi pipi gembul Kenzo. "Aku ingin membawa Kenzo ke dekat kolam, Tante," ucap Dinda meminta izin.


"Pergilah, sikapmu yang seperti ini membuat Tante senang. Semoga kamu lebih terbiasa nanti," sahut Bu Ningrum dengan perasaan lega.


Dinda langsung membawa Kenzo keluar dari rumah menuju ke dekat kolam. "Sayangnya Mama, sekarang kita ada di pinggir kolam. Mama tidak sabar ingin kamu cepat bisa melihat Mama."


Asik mengobrol tiba-tiba Indra muncul dari belakang dan ikut menyahut percakapan Dinda dengan bayinya, "Aku ikut senang melihat Kenzo bertemu lagi denganmu, Dinda."


"Aku ingin kamu dan aku bisa bersama. Aku akan memberi waktu untukmu, Din. Aku tahu kalau hatimu terluka. Izinkanlah aku untuk mengobati lukamu dengan cara hidup bersamaku," ucap Indra, dia terus berusaha membujuk Dinda.


Dinda tetap diam tak menjawab. Justru dia pergi menghindari suaminya. Meski Dinda menghindarinya, Indra mencoba untuk tidak mengejar. Dia ingin menunjukkan image baiknya di hadapan Dinda. Untuk sekarang ini Indra menerima semua sikap acuh istrinya.


Dinda masuk ke dalam dengan terburu-buru hingga tak sengaja dia menabrak Bu Ningrum. "Tante, maaf aku tidak sengaja."


"Kamu ada apa terburu-buru seperti itu?" tanya Bu Ningrum.


"Tidak ada apa-apa, Tante. Apakah air hangat dan Kenzo sudah siap? Kenzo sudah agak rewel mungkin karena badannya lengket," ucap Dinda, dia gemas sekali dengan Kenzo.


Bu Ningrum tersenyum melihat senyuman Dinda. "Iya meskipun masih bayi, Kenzo itu sangat risih kalau badannya lengket. Ya sudah sana cepat mandikan tidak perlu bantuan Tante, kan?"


"Tidak perlu tante aku bisa melakukannya sendiri." Setelah itu Dinda pergi ke kamar Kenzo untuk memandikannya.

__ADS_1


Indra masuk ke dalam setelah dihindari oleh istrinya sendiri. Bu Ningrum pun menegurnya. "Jangan-jangan Dinda kabur tadi karena ada kamu di luar. Mama kan sudah bilang, pelan-pelan jangan membuat dia takut. Dinda mempunyai rasa trauma yang tinggi kamu harus tahu itu," ucap Bu Ningrum.


Indra menarik nafas dalam dan mengembuskannya kasar. "Aku hanya berusaha Ma, dan aku tidak menakutinya," jawab Indra singkat.


"Teruslah berusaha karena itu sudah menjadi tugas kamu. Kalau kamu masih tidak bisa meluluhkan hatinya, berarti Dinda mempunyai luka yang sangat dalam dan sangat sulit untuk sembuh. Jadi Mama harap kamu melakukannya dengan baik," jelas Bu Ningrum.


Indra hanya mengangguk-angguk mengiyakan setelah itu dia masuk ke dalam kamarnya.


Di dalam kamar.


Dinda sedang sibuk memandikan bayinya. Bibirnya selalu mengulas senyuman, tidak tampak lagi kesedihan diraut wajahnya ketika bersama Kenzo.


"Sayang, duh segernya mandi. Ayo ayo kita sudahan yuk. Jangan lama-lama nanti bisa masuk angin," celoteh Dinda bersama bayinya.


Dinda mengangkat tubuh mungil Kenzo dan membalutnya dengan handuk tebal. Setelah itu dia kembali ke ranjang untuk memakaikan pakaian. Dinda sangat teladan sekali merawat buah hatinya. Tidak ada kecanggungan sedikitpun ketika merawat Kenzo.


Setelah memakaikan pakaian kepada bayinya, Dinda menggendong kembali Kenzo. Dia keluar dari kamar mencari bantuan. Dinda turun menuruni anak tangga. Lalu dia melihat Bu Ningrum sedang berada di dapur.


"Tante, apakah Tante sibuk?" tanya Dinda.


"Tidak, Tante tidak sibuk. Ada apa?"


"Bisakah Tante menggendong Kenzo sebentar. Aku ingin mandi Tante," ucap Dinda.


Bu Ningrum menjawab," bisa, sini biar Kenzo, Tante yang gendong."

__ADS_1


Dinda pun menyerahkan bayinya pada sang nenek. Setelah itu dia kembali ke kamar untuk mandi.


__ADS_2