Rahim Yang Terbuang

Rahim Yang Terbuang
RYT 17


__ADS_3

Bu Ningrum keluar kafe dengan perasaan senang. Bahkan dia sangat semangat sekali. "Emm, rasanya sangat tidak sabar menunggu calon cucuku lahir. Andai saja Laura mau menurut pasti akan sempurna sekali hidupku," gumamnya pelan.


"Pak, mampir ke butik dulu ya!" ucap Bu Ningrum pada sopirnya.


"Baik Bu," jawab Pak sopir.


Mobil Bu Ningrum langsung melesat menuju ke butiknya. Semenjak ditinggal suami, Bu Ningrum hidup menjanda dan membesarkan putra semata wayangnya sendiri. Dia mempunyai dua toko butik yang cukup terkenal. Dari butik itulah, Bu Ningrum bisa mengembangkan perusahaan dan juga beberapa bisnis peninggalan mendiang suami.


Sesampainya di butik, Bu Ningrum langsung masuk ke dalam. Ketika berjalan dia tak sengaja menyenggol seorang pembeli yang sedang memilih baju.


"Eh, maaf saya tidak sengaja," ucap Bu Ningrum yang hampir terjatuh.


"Tidak apa-apa, saya yang seharusnya ...! Ningrum, hai apa kabar?" sahut perempuan itu yang ternyata kenal dengan Bu Ningrum.


"Inggrid, hai kabarku baik. Lama banget kita tidak pernah ketemu ya. Ayo ikut aku, kita ngobrol di dalam."


"Toko ini milikmu?"


"Iya, kamu tahu kan cita-cita ku dulu kayak gimana?" sahut Bu Ningrum dengan menggandeng tangan Bu Inggrid.


Sesampainya dalam ruangan, Bu Ningrum mempersilahkan temannya untuk duduk. Dia memanggil karyawannya untuk membuat minuman." Ra, tolong buatkan teh hangat untuk dua orang ya," ucap Bu Ningrum pada karyawannya.


"Baik Bu," jawab Rara.


Setelah itu, Bu Ningrum duduk di sebelah temannya. "Apa yang membuatmu datang ke Jakarta Inggrid?" tanya Bu Ningrum.


"Itu karena aku membuka cabang toko roti di sini, Ningrum," jawab Bu Inggrid.


"Wah hebat sekali kamu. Lalu anak mu dulu itu bagaimana? Apa sudah menikah?"


Bu Inggrid menarik nafas dalam lalu menjawab, "Belum, entah apa yang membuatnya susah sekali untuk cepat menikah. Harusnya aku sudah menggendong cucu sekarang."


"Nasib kita sama, Nggrid. Anakku sudah menikah selama lima tahun tapi baru hari ini aku mendapat kabar gembira kalau menantuku hamil. Kamu tahu betapa senangnya hatiku ketika mendengarnya tadi," sahut Bu Ningrum.


"Wah, selamat ya Ningrum. Doakan aku semoga cepat menyusul. Aku juga sudah tidak sabar ingin menggendong seorang cucu."

__ADS_1


"Iya, kalau soal itu gampang, Nggrid. Asal ada pasangannya saja," celetuk Bu Ningrum hingga membuat Bu Inggrid tertawa.


Tak lama kemudian, dua cangkir teh hangat pun tiba. Bu Ningrum segera meminum tehnya dan mengobrol kembali membahas tentang kehidupan masing-masing.


Di Tempat Lain.


Selesai makan, Dinda memutuskan untuk mandi. Setelah mencuci piring kotor, dia beranjak dari dapur mengambil handuk di kamar dan langsung melesat ke kamar mandi.


Indra mengikuti istrinya masuk ke dalam kamar. Dia ingin merebahkan tubuhnya yang pegal sembari mengerjakan pekerjaannya yang tidak bisa ditinggal.


Dua puluh menit kemudian, Dinda selesai mandi. Dia keluar dengan lilitan handuk di tubuhnya dan rambut yang terurai basah. Indra sedikit terpancing ketika melihat tubuh mulus tepat di depan matanya.


Indra meletakkan laptopnya dan turun dari ranjang. Dia berjalan pelan menghampiri Dinda yang sedang berdiri memilih pakaian. Tiba-tiba Indra melingkarkan tangannya ke pinggang ramping istrinya hingga membuatnya terkejut.


"Apa yang kamu lakukan Mas?"


Indra menghirup aroma tubuh Dinda. Dia juga mengecup lembut pundak dan juga leher belakang istrinya. "Kamu tahu Din, tampilan mu yang seperti ini sungguh menggodaku. Ingin sekali aku memakanmu saat ini," ucap Indra dengan rayuannya.


Hembusan nafas Indra membuat tubuh Dinda meremang. Tiba-tiba hawa panas menjalar ke seluruh tubuhnya. "Kamu masih kerja Mas. Kamu kan bisa melakukannya nanti malam," jawab Dinda sembari mengambil pakaian.


"Pertanyaan macam itu? Aku ini istrimu Mas. Jadi sudah menjadi kewajiban ku melayani semua keinginanmu."


"Baiklah, aku akan melakukannya nanti malam. Kalau begitu aku lanjut bekerja lagi. Cepatlah ganti baju nanti kamu masuk angin," ucap Indra melepas pelukannya, kemudian dia kembali ke atas kasur untuk melanjutkan pekerjaannya.


Dinda menoleh ke arah suaminya dengan banyak pertanyaan dalam pikirannya. Setelah itu dia segera memakai baju dan ingin meminta izin untuk keluar sebentar.


"Mas, bolehkah aku keluar sebentar? Aku mau pergi ke toko untuk membeli bahan kue," ucap Dinda mengambil tasnya.


Indra melirik dan menjawab, "Tunggu sebentar ya, Din, nanti biar aku yang antar. Aku takut kalau tiba-tiba kamu pingsan atau perut kamu mual."


"Tidak usah Mas, tokonya dekat kok dari sini. Jalan kaki pun sudah sampai, nanti kalau kepala ku pusing atau ada apa-apa. Aku pasti telepon kamu."


"Beneran ya, dan jangan lama-lama perginya."


"Iya Mas, aku pergi dulu ya!" Dinda keluar dari kamar dan segera pergi ke toko untuk membeli bahan membuat kue.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, ponsel Indra pun berbunyi. Dia mendapat panggilan dari ibunya. Indra pun langsung mengangkat panggilan itu, "Halo Ma."


[Indra, kamu sudah tahu belum kalau Laura hamil? Tadi pagi Mama tidak sengaja bertemu dengan istrimu, dia memperlihatkan surat kehamilannya di depan Mama.]


Bu Ningrum tampak semangat sekali. Namun, tidak untuk Indra. Justru dia sedih sudah berbohong kepada ibunya sendiri.


"Aku sudah tahu Ma, mungkin Laura sudah tidak sabar untuk memberitahukan berita itu pada Mama," sahut Indra dengan suara lesu.


[Kamu kapan pulang? Mama saranin jangan terlalu sering ke luar kota. Perhatikan kehamilan istrimu. Kamu tahu sendiri kan Nak, kalau istrimu itu selalu membantah setiap perkataan Mama. Padahal maksud Mama kan baik padanya.]


"Iya Ma, lusa aku akan pulang. Aku mau menyelesaikan pekerjaan ku dulu disini Ma."


[Oke, Mama tunggu kepulanganmu.]


Setelah itu, Indra mematikan panggilan teleponnya. Dia kembali merenung, dalam hatinya Indra tak tega meninggalkan Dinda yang masih lemah dengan kondisi hamil mudanya.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku mencintai Laura, tapi lama-lama aku juga jatuh hati pada Dinda. Mana yang harus aku pilih? Dinda begitu lembut dan perhatian. Dia juga sangat penurut tidak pernah menuntut apapun. Tuhan, apa yang harus ku lakukan? Aku bingung dengan semua ini," ucap Indra dalam hati.


Setengah jam berlalu, Dinda kembali dengan belanjaan di tangannya. Dia langsung menuju ke dapur untuk membuat kue kering. Indra juga langsung keluar dari kamar karena mendengar suara berisik dari dapur.


"Kamu sudah kembali, Din? Kamu mau ngapain?"


"Ini Mas, lusa kan kamu kembali ke Jakarta. Aku ingin membuat kue kering buat Mama. Tolong kasih sama beliau ya Mas. Titip salam juga buat Mama," jawab Dinda sembari menyiapkan semua bahan pembuatan kue.


Indra tercengang mendengar ucapan istrinya. Dia merasa sangat bersalah, karena Dinda begitu tulus padanya. Indra datang menghampiri istrinya lalu memeluknya mesra.


"Terima kasih sudah perhatian dengan Mama. Pasti akan aku sampaikan salam mu. Bolehkah aku membantu, kebetulan ada waktu senggang."


"Boleh, emm tolong kocokin telur yang ada di baskom itu Mas. Biar aku siapkan tepungnya."


"Kamu ahli sekali dalam membuat kue, Din."


"Iya Mas, impian aku pengen mempunyai toko roti sendiri. Tapi itu hanya mimpi."


Indra hanya tersenyum menanggapi jawaban Dinda. Dia takut memberi harapan palsu pada istrinya itu,"Maafkan aku Din, kenapa semakin hari sandiwara ini semakin berat ku jalani."

__ADS_1


__ADS_2