Rahim Yang Terbuang

Rahim Yang Terbuang
RYT 38


__ADS_3

Sejak di terima bekerja, Dinda selalu sibuk. Apalagi dia dijadikan sebagai manager koki di toko roti tersebut. Hal itu membuat hubungannya dengan Diky juga semakin membaik. Diky sering memberi perhatian yang lebih pada Dinda.


Matahari yang cerah telah terbit, Dinda harus bersiap untuk masuk kerja. Dia siap dan berpakaian rapi, seperti biasa dia akan berangkat dengan menaiki angkot. Hari ini dia akan sangat sibuk sekali karena besok adalah hari peresmian toko roti. Dinda sudah sangat menyiapkan resep baru untuk membuat kue yang lebih bervariasi.


Dinda keluar dari kontrakan dan berjalan menuju ke jalan raya untuk mencari angkot. Meski dalam keadaan tenang, namun pikiran Dinda masih memikirkan pertemuan tidak sengaja waktu di lampu merah kemarin. Dia masih penasaran tentang semua itu.


Beberapa menit kemudian, Dinda telah sampai di depan toko roti. Dia turun dan masuk ke dalam toko roti tersebut. Sesampainya di dalam Dinda langsung bergabung dengan teman-temannya yang juga telah bersiap untuk bekerja.


"Din, kamu sudah mempersiapkan resep barunya kan?" tanya salah satu teman Dinda.


"Iya sudah Ris, semuanya ada dicatatan ini! Jadi selama ini aku selalu berimajinasi dan membayangkan membuat kue yang enak gitu. Terus aku mempelajari bahan dan juga dasar pembuatan kue itu seperti apa. Jadi deh, semuanya di buku ini," jawab Dinda santai.


"Wah, kamu benar-benar the best. Pasti toko roti ini nanti bakalan laris manis tanjung kimpul," sahut yang lainnya.


Dinda terkekeh pelan. "Kalian bisa saja, sudah yuk kita mulai! Nanti, Bu Inggrid keburu datang loh!"


Setelah itu, Dinda dan semua temannya bekerja sama untuk membuat sajian di hari peresmian besok. Dinda sudah diberi kepercayaan oleh pemilik toko dengan penyajian makanannya.


Siang hari, waktu jam makan tiba. Semua karyawan berkumpul untuk makan siang. Hari ini pemilik toko roti memesan katering untuk menu makan siang.


Dinda dan temannya keluar dari ruang produksi. Mereka segera berkumpul di ruangan karyawan.


"Wah, sepertinya sangat enak ya! Jadi tambah lapar," seru salah satu karyawan.


"Iya, makanan hari ini spesial untuk kalian," sahut Bu Inggrid dari depan pintu.


Semua karyawan menoleh. "Iya terima kasih, Bu atas akomodasinya."


"Sama-sama, oh ya Din bisa ikut ke ruangan saya sebentar?" ucap Bu Inggrid pada Dinda.

__ADS_1


Dinda mengangguk. "Baik Bu!"


Setelah itu, Dinda mengikuti pemilik toko untuk menuju ke ruangannya. Sesampainya di dalam, dia disambut oleh Diky. "Hai, Dinda bertemu kembali!"


Dinda melirik ke arah Bu Inggrid yang berpura-pura tidak tahu. Dinda lalu menjawab sapaan Diky. "Hai Diky, kok kamu sudah sampai sini saja!"


"Ya, karena hari ini aku mau mengajakmu makan siang bersama. Bagaimana mau kan?"


"Emm, jadi katering itu tadi kamu yang pesan?" tanya Dinda penasaran.


Diky bangun dari tempat duduknya. Dia berjalan menghampiri Dinda. "Ya, aku yang membelinya khusus untukmu," jawab Diky pelan, sehingga Dinda tidak begitu mendengarnya.


"Apa katamu? Aku tidak begitu jelas mendengarnya," sahut Dinda bingung.


"Emm, bukan apa-apa. Aku memesan hanya untuk berbagi saja!" jawab Diky gugup.


"Ck, Mama kasih lah pengecualian untuk Dinda," ucap Diky memprotes Ibunya.


Bu Inggrid melirik anaknya dengan tatapan sinis. Diky langsung menyerah dan segera pergi. Memang kalau soal pekerjaan, tidak mudah menawarnya dari kehendak sang ibu.


"Oke, oke aku pergi! Terima kasih Mamaku yang baik!" seru Diky dengan menggandeng tangan Dinda keluar dari ruangan ibunya.


Dinda melihat tangannya yang digenggam begitu saja oleh Diky. Membuatnya sangat sungkan pada atasannya. Dinda pergi dan hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum pada Bu Inggrid.


Bu Inggrid hanya tersenyum saja melihat sikap sungkan Dinda. "Dasar, semoga hubungannya berjalan baik."


Di luar, Dinda terus ditarik tangannya oleh Diky. Para karyawan pun melihat kedekatan Dinda dengan anak pemilik toko. Bahkan salah satu teman Dinda ada yang bersorak senang, seakan mendukung hubungan mereka untuk lebih serius.


Dinda hanya bisa menggelengkan kepala. Dia merasa tidak enak jika ingin menarik tangannya kembali. Sesampainya di luar, Diky baru melepaskan gandengannya. Dia membukakan pintu untuk Dinda.

__ADS_1


"Silakan masuk," ucap Diky dengan senang.


Dinda pun langsung masuk ke dalam. Dia sangat gugup sekali dengan sikap Diky yang semakin berlebihan padanya. Diky pun ikut masuk ke dalam mobil. Dia sangat bersemangat sekali. Setelah itu mobil dinyalakan dan berjalan.


Di dalam mobil, Dinda merasa tidak tenang. Hal itu membuat Diky bertanya-tanya. "Ada apa Din? Ada yang kamu pikirkan?"


Dinda menoleh ke arah Diky. "Emm, itu. Aku hanya merasa tidak enak saja dengan teman-teman di toko. Mereka melihatku dengan tatapan yang aneh."


Diky mengerutkan alisnya. "Tatapan aneh? Memangnya kenapa? Apa yang membuatmu merasa tidak enak?"


"Aku khawatir mereka mempunyai pikiran yang buruk terhadap ku karena kita terlihat semakin dekat," jawab Dinda dengan kepala menunduk.


Diky menoleh, dia membenarkan apa yang dikatakan oleh Dinda. Memang pada saat ini, perasaannya sudah tidak bisa dikendalikan. Setiap hari, Diky ingin bertemu dengan Dinda.


"Ya kamu memang benar, sikapku bisa menimbulkan pemikiran buruk bagi orang lain. Tapi, asal kamu tahu Din. Aku nyaman ketika bersamamu, entah perasaan ini sejak kapan muncul aku pun tidak tahu. Di dekatmu aku merasa tenang, karena pada awalnya aku sakit hati dengan hubunganku yang kandas. Aku berharap hubungan ini tidak hanya sekedar teman, Din!"


Deg!


Jantung Dinda berdegup keras. Dia sudah menduga bahwa Diky sudah mempunyai perasaan terhadapnya. Hal itu membuatnya semakin tidak tenang mengingat dirinya yang mempunyai status tidak jelas.


"Sebaiknya kita berteman dulu, bukan apa-apa karena kita baru saja kenal. Kamu belum tahu sifat dan pribadiku seperti apa? Takutnya kamu akan kecewa setelah mengetahui identitas ku yang sebenarnya," ucap Dinda dengan senyuman datar.


"Identitas? Apa kamu mempunyai sebuah rahasia pribadi?" tanya Diky sangat penasaran. Dia sedikit curiga dengan sikap Dinda yang berubah menjadi dingin.


Dinda menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu harus menjawab apa lagi.


Melihat itu pun membuat Diky tersenyum tipis, dia mengerti dengan maksud Dinda. "Baiklah, aku mencoba mengenalmu! Jadi berikan aku jalan untuk memasukinya karena aku ingin mengenalmu lebih jauh, Din," ucap Diky dengan yakin.


Setelah itu, Diky melajukan mobilnya menuju ke sebuah restoran untuk makan siang. Dinda menjadi diam, setelah mendengar ungkapan perasaan Diky terhadapnya. Dia khawatir kalau Diky kecewa kepadanya, karena pada kenyataannya dia bukanlah wanita yang baik bahkan jauh dari kata sempurna.

__ADS_1


__ADS_2