Rahim Yang Terbuang

Rahim Yang Terbuang
RYT 8


__ADS_3

Keesokan pagi, Dinda yang sudah terbangun sejak subuh memutuskan untuk segera membersihkan badannya. Dia membiarkan Indra tertidur, dia akan membangunkannya jika sarapan pagi telah siap.


Dinda pagi ini membuat menu sayur asem-asem daging sapi. Dia semangat sekali, mengingat Indra yang suka dengan masakannya. "Semoga Mas Indra suka dengan masakan ku," ucap Dinda pelan.


Satu jam berlalu, Dinda telah siap dengan masakannya. Indra juga keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Dia berjalan menuju ke meja makan.


"Baru saja aku mau bangunin kamu Mas," ucap Dinda pada suaminya.


Indra tersenyum, "Aku bangun sendiri karena hidung ini mencium aroma masakan yang sangat menggugah selera. Boleh minta tolong ambilkan sarapan untukku."


"Oh iya Mas, tunggu sebentar," jawab Dinda, dia pergi mengambil piring di dapur dan mengambilkan nasi beserta lauknya.


Setelah itu, Indra sarapan pagi dengan sangat lahap. Bahkan tidak ada obrolan apapun di pagi itu, yang terdengar hanyalah dentingan sendok yang beradu pada piring.


"Nanti malam mau aku masakin apa Mas?" tanya Dinda pada suaminya.


"Terserah kamu saja, apapun itu akan aku makan. Oh ya, gunakanlah kartu ini untuk memenuhi kebutuhanmu," jawab Indra sembari menyerahkan kartu kredit kepada istrinya.


Dinda tersenyum sambil menerima kartu itu, "Terima kasih Mas."


Selesai sarapan, Indra langsung berangkat bekerja. Dinda berdiri dan mengantar suaminya sampai ke luar pintu. "Hati-hati di jalan Mas. Semangat kerjanya!" ucap Dinda tulus.


"Ya aku pergi dulu," sahut Indra lalu masuk ke dalam mobil.


Indra melajukan kendaraannya menuju ke kantor. Dia menjalani sandiwara itu dengan sangat sempurna. Bahkan Indra terlihat sangat menikmati hubungan singkatnya dengan Dinda.


Di Tempat Lain.


Siang hari, Laura sedang bersantai di ruang tamu. Tiba-tiba saja ibu mertuanya datang dan langsung menanyakan keberadaan Indra. "Laura, dimana Indra?"


Laura tak menghiraukan kehadiran ibu mertuanya. Dia bahkan tak menoleh sedikitpun. Merasa terabaikan, membuat Ibu Ningrum kesal. "Laura, apa kamu sudah tidak menghormati Mama sebagai mertuamu?"

__ADS_1


Laura menurunkan kakinya dari atas meja. Lalu dia melihat ke arah ibu mertuanya, "Mama kalau mau mencari Indra, maaf anak Mama belum pulang dari Bandung. Dia masih ada pekerjaan seminggu ke depan."


"Lalu kapan kamu akan memberikan Mama seorang cucu. Pernikahan kalian sudah berjalan lima tahun Laura. Mengapa sampai sekarang kamu belum memberikan keturunan pada keluarga Laksmana," ucap Ibu Ningrum dengan nada marah.


"Ma, please! Jangan membahas tentang ini lagi. Aku capek mendengarnya Ma, sudah ya Laura tinggal dulu. Aku mau siap-siap ke pemotretan Ma. Kalau Mama masih ingin disini, silahkan!" sahut Laura angkuh.


Ibu Ningrum tidak percaya dengan ucapan Laura yang terlihat sangat kasar sekali menurutnya, "Kamu mengusir Mama Laura?"


"Astaga, Mama. Siapa juga yang mengusir, sudah ya Ma. Aku tidak mau debat lagi, okey!" Laura meninggalkan Ibu mertuanya sendiri di ruang tamu.


Setelah itu, Ibu Ningrum juga pergi dari rumah menantunya. Dia ingin mengadukan sikap Laura pada Indra. 'Awas saja akan aku buat kamu terpisah dengan anakku jika sampai bulan depan tidak ada tanda-tanda kehamilan,' ucap Ibu Ningrum dalam hati.


Ibu Ningrum pulang dengan diantar oleh sopir pribadinya. Sesampainya di rumah, dia langsung mengirim pesan pada Indra.


[Indra, Mama sakit kamu cepat pulang ya! Tadi Mama telepon Laura tapi dia tidak merespon Mama]


Pesan sudah terkirim ke ponsel Indra namun, tidak langsung dibaca. Mungkin ponsel Indra sedang tidak aktif.


Indra sedang memimpin rapat dengan direktur cabang. Dia tampak serius sekali dengan bisnis yang sedang di tanganinya. Indra ingin segera menyelesaikan permasalahan di perusahaan itu karena kantor pusat juga sangat membutuhkannya.


Tepat sore hari rapat itu selesai, semua masalah sudah teratasi. Setelah mengakhiri rapat, para karyawan langsung pulang. Namun, tidak untuk Indra. Dia harus tetap di kantor untuk menyelesaikan satu berkasnya.


Indra masuk ke dalam ruang kerjanya. Setelah duduk, dia menghidupkan ponsel yang sempat non aktif tadi. Banyak sekali pesan yang masuk, terutama pesan dari sang ibu. Indra membuka pesan tersebut dan membacanya.


Indra menghela nafas panjang dan segera menelepon Bu Ningrum, "Halo Ma, ada apa lagi sih?"


[Mama ingin kamu cepat pulang, kalau kamu masih ingin bertemu dengan Mama]


"Tapi Ma, pekerjaan Indra belum selesai semua di sini. Aku tahu kalau Mama pasti sedang kesal dengan Laura. Ma, sudahlah jangan lagi mendesak Laura. Mama tahu sendiri kan watak Laura itu gimana?"


[Pokoknya Mama tidak mau tahu. Cepat pulang atau jangan pernah kunjungi Mama lagi]

__ADS_1


Di rumah, Ibu Ningrum kesal terhadap anaknya sendiri. Dia mematikan telepon sebelum Indra menjawab semuanya. Indra juga sangat pusing menghadapi ibu dan juga Laura.


"Kenapa mereka tidak bisa akur? Laura dan Mama sama-sama keras kepala. Seandainya sifat Laura seperti Dinda pasti Mama akan senang sekali," ucap Indra frustasi.


Indra memijit pangkal hidungnya, "Astaga kenapa aku malah membandingkan Laura dengan Dinda. Apa karena aku sudah terbiasa dengan hubunganku ini."


Indra meneruskan kembali pekerjaannya. Malam ini terpaksa dia harus kembali ke Jakarta untuk menuruti permintaan sang ibu.


Di Rumah.


Dinda sedang menyiapkan bahan untuk makan malam. Dia sangat bersemangat sekali dengan perannya sebagai seorang istri. Dinda benar-benar tidak tahu dengan bom waktu yang sedang berjalan itu.


"Mas Indra pasti suka dengan makan malam ini, karena aku membuatnya dengan sepenuh hati," ucap Dinda sembari mengaduk daging yang siap untuk di rendang.


Membutuhkan waktu berjam-jam untuk memasak satu mangkuk rendang. Setelah semuanya siap, Dinda segera menyiapkan makan malam. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Nomor telepon Indra tertera di layar.


Dinda pun mengangkat telepon itu, "Halo Mas, kamu lagi perjalanan pulang ya?"


[Maaf Din, malam ini alu harus kembali ke Jakarta. Mama tiba-tiba sakit, dan aku langsung saja ini pulang ke rumah. Kamu tidak usah nungguin aku ya]


"Ta-tapi Mas, aku sudah memasak untukmu dan juga kenapa kamu tidak membawa ku bertemu dengan orang tuamu. Apa yang sedang kamu sembunyikan dariku Mas?"


[Dinda, kamu tidak usah berpikiran macam-macam ya. Nanti aku akan ajak kamu, kalau tidak aku akan ajak Mama buat bertemu denganmu. Kamu sabar dulu ya?]


"Baiklah, aku percaya sama kamu Mas. Berhati-hatilah di jalan karena ini sudah malam," sahut Dinda dengan suara lirih. Tumbuhnya lemas seketika mendengar perkataan suaminya.


Hingga tak terasa, Dinda meneteskan air matanya. Dia merasa sedih karena belum bisa mengenal keluarga Indra secara resmi.


"Apa yang sedang disembunyikan oleh Mas Indra? Kenapa sampai saat ini dia masih menutupi identitasnya?"


"Apa aku sedang di tipu? Makanya dia menikahiku secara siri. Oh Tuhan berilah aku petunjuk tentang semua hal ganjil ini," ucap Dinda dengan air mata yang terus menetes.

__ADS_1


__ADS_2