
Kini Dinda dan Bu Ningrum sampai di kamar Kenzo. Bayi mungil dan lucu itu tengah tertidur lelap. Lagi-lagi air mata Dinda jatuh membasahi pipinya. Dia pelan-pelan meraih Kenzo ke dalam pelukannya. Dinda menciumi bayinya dengan penuh cinta.
"Sayang, akhirnya kita bertemu. Mama tidak menyangka jika bisa bertemu denganmu. Ternyata putera Mama sangat tampan. Mama merindukanmu, Sayang. Maaf, asi Mama sudah tidak keluar. Jadi Mama tidak bisa memberikannya padamu," ucap Dinda dia terisak sembari memeluk putranya.
Bu Ningrum iba melihat Dinda yang menangis. Tangisannya begitu dalam dan penuh kerinduan. Bu Ningrum mendekat dan memeluk Dinda. Dia mencoba untuk menenangkan hati menantunya itu.
"Kamu bisa menjaga dan merawat Kenzo lagi, caranya hanya kamu menikah dengan Indra. Mulailah kisah kalian dari awal," ucap Bu Ningrum.
Tangisan Dinda berhenti, dia merasa lucu dengan sikap ibu mertuanya itu. "Maaf Tante, aku tidak bisa melanjutkan hubungan itu. Hati ini masih sakit jika mengingat semua kebohongan dan sandiwara yang sudah terjadi. Aku ingin membawa Kenzo pergi dan hidup berdua dengan tenang."
Bu Ningrum tersentak kaget. "Itu tidak akan terjadi, Dinda. Kamu tidak bisa membawa Kenzo pergi dari rumah ini, karena dia adalah generasi penerus keluarga Laksmana. Kami hanya mempunyai 2 pilihan, bertahan atau pergi tanpa membawa Kenzo."
Dinda menatap ibu mertuanya dengan mata yang berkaca-kaca. Dia tidak menyangka kalau Indra dan ibunya suka memaksakan kehendak. "Tante, kita sesama perempuan. Apa Tante tidak memikirkan perasaanku? Aku ini sebagai korban, dan aku lah yang paling menderita di sini. Dinikahi lalu ditinggalkan dan parahnya lagi, aku dipisahkan dari bayi yang kulahirkan dengan mempertaruhkan nyawa. Tante pikir apakah hidupku ini mudah? Sehingga kalian bisa berkata dengan begitu mudahnya. Hati ini sudah mati Tante. Jiwa ini sudah tidak lengkap lagi," ucap Dinda dengan berlinang air mata.
"Tante tahu perasaanmu. Maka dari itu, Tante ingin kamu memberikan kesempatan pada Indra untuk memperbaiki semuanya. Keluarga ini sangat membutuhkanmu, Dinda. Indra juga masih mencintaimu," sahut Bu Ningrum, dia terus membujuk menantunya itu.
__ADS_1
"Mas Indra masih beristri, Tante. Aku tidak mau menjadi yang kedua," seru Dinda dengan nada tinggi.
Bu Ningrum kembali menarik nafas dalam. Dia menjelaskan semuanya pada Dinda dengan pelan-pelan. "Indra sedang proses cerai dengan istrinya, yang membuat rencana konyol ini adalah mantan menantu Tante. Lebih parahnya lagi, Indra mengikuti kemauan mantan istrinya. Dia menyuruh Indra untuk mencari istri lagi untuk mendapatkan keturunan, karena mantan menantu Tante itu tidak mau hamil. Akhirnya Indra mengikuti cara itu, bahkan Tante sendiri tidak tahu. Mereka membohongi Tante, Dinda. Hingga pada saatnya, mantan menantu Tante itu ketahuan selingkuh. Indra sudah mendapatkan balasan dari perbuatannya."
Dinda terdiam tak menanggapi. Dia masih syok dengan apa yang di dengarnya. "Maaf Tante, meski bagaimana pun itu. Tetap saja akulah yang paling dirugikan. Aku sudah kehilangan kehormatan ku, aku juga sudah kehilangan kebahagiaan serta kepercayaan diri. Tidak mudah Tante, tidak semudah itu untuk memaafkan. Butuh waktu dan aku tidak tahu sampai kapan."
Dinda terus menolak keras untuk luluh. Dia tetap pada pendiriannya. Hal itu membuat Bu Ningrum sangat bingung.
"Baiklah, Tante hargai keputusanmu. Tante akan memberikanmu kesempatan untuk menata hati. Kamu akan tetap tinggal di sini, karena rumah Kenzo ada di sini. Beristirahat lah, Tante tinggal dulu," ucap Bu Ningrum, setelah itu dia keluar dari kamar cucunya.
Dinda kembali memeluk bayinya, ada sedikit kebahagiaan masuk ke dalam relung hatinya. "Mama akan terus bersamamu, Sayang. Tumbuhlah dengan sehat ya, Mama akan selalu memberikan yang terbaik untukmu," ucap Dinda, dia terus menciumi bayinya.
Di Tempat Lain.
Diky sedang frustasi dalam ruangannya. Dia sudah tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mengejar Dinda. "Kenapa selalu berakhir seperti ini? Apa salahku? Apa aku tidak pantas bahagia dengan wanita yang aku cintai? Ahh sial," ucap Diky dengan mengusap kasar wajahnya.
__ADS_1
Diky terdiam, dia mengambil ponselnya dalam saku. Dicarinya kontak nomor Dinda, lalu dia menekan tombol memanggil. Diky menunggu penuh harap. Akhirnya panggilan itu terjawab. "Halo, Dinda. Bagaimana keadaanmu? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Diky secara langsung.
Dalam sambungan telepon itu tidak ada suara apapun. Diky pun mengulang lagi sapaannya. "Halo, Dinda apa kamu sedang ada di sana?" tanya Diky penasaran.
[Bisakah kamu untuk tidak menghubungi Dinda lagi. Kamu tahu kalau Dinda adalah istriku. Jadi urungkan niatmu untuk mendekatinya.]
Ternyata Indra lah yang mengangkat panggilan itu. Diky tidak bisa berkata-kata, dia langsung menutup panggilan itu tanpa menjawab. Diky mencengkeram kuat ponselnya. Ada rasa kesal dalam hatinya saat ini.
"Sudah tidak ada lagi kesempatan untuk ku. Apa aku harus benar-benar menjauh dari Dinda? Aku tidak bisa melakukan itu, hati ini sudah terlanjur jatuh cinta padanya."
Diky terus menggerutu, dia tidak bisJa menyikapi perasaannya sendiri.
Di Tempat Lain.
Setelah mengangkat panggilan telepon tadi, dada Indra semakin bergemuruh. Dia kesal karena ada laki-laki lain yang jatuh cinta pada Dinda. Indra membuka ponsel Dinda dan segera membuang Sim card itu.
__ADS_1
"Tidak ada yang boleh mendekatimu selain aku Din. Kamu masih istriku, jadi aku berhak atas dirimu," gumam Indra pelan.
Setelah itu dia merebahkan tubuhnya sangat lelah sekali menghadapi semua masalah dalam hidupnya.