Rahim Yang Terbuang

Rahim Yang Terbuang
RYT 22


__ADS_3

"Sana cepatlah mandi, aku mau istirahat sebentar," ucap Indra pada istrinya.


"Baiklah, Sayang. Terima kasih ya." Laura turun dari ranjang dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


Indra merasa sedih dengan keadaannya saat ini. Tiba-tiba saja dia merasa rindu dengan Dinda. "Din, aku mulai merindukanmu ketika kita berjauhan seperti ini," gumam Indra pelan sembari menarik selimutnya. Tak lama kemudian, Indra pun tertidur. Tubuhnya sangat lelah sekali.


Di Tempat Lain.


Dinda mencoba memejamkan matanya. Akan tetapi, mata itu tak mau terpejam. Dia merasa tak nyaman dengan kondisi perutnya. Dinda berguling ke kiri dan juga ke kanan. Dia ingin sekali Indra mengelus perutnya.


"Mas, kenapa di saat seperti ini. Ingin sekali aku merasakan kehadiran mu. Perutku sakit Mas," gumam Dinda pelan sembari memegang perutnya yang sakit.


Dinda masih meringis menahan kontraksi, "Sayang, kamu jangan seperti ini dalam perut Mama ya, Nak! Baik-baik dalam perut Mama."


Jam menunjukkan pukul 22.00. Semakin dirasakan, Dinda merasa tidak tahan. Akhirnya dia memberanikan diri untuk menelepon Indra. Lama berdering tak kunjung terangkat. Akhirnya, Dinda menyerah dan menahan rasa sakit itu hingga pagi.


Keesokan harinya.


Dinda masih terlelap dalam tidurnya. Dia bisa tertidur setelah memasuki waktu fajar. Sakit perut tadi malam membuatnya tak berkutik. Jadi dia menahan hingga sakit itu hilang.


Tiba-tiba ponsel Dinda berdering. Dia terbangun dan mengambil ponsel yang diletakkan di meja. Dia mengangkat telepon itu dengan mata terpejam.


"Halo," ucap Dinda dengan suara parau.


[Din, kamu masih tidur? Tumben sekali?] tanya Indra di mobilnya.


"Iya Mas, aku masih tidur," jawab Dinda singkat.


[Tadi malam ada apa menelepon ku? Maaf tidak terangkat karena aku sudah tidur.]


"Tidak ada apa-apa Mas. Aku hanya ingin mendengar suaramu saja," jawab Dinda.


[Kamu merindukanku?]

__ADS_1


"Ya sepertinya aku sudah merindukanmu Mas." Dinda menjawab dengan menitikkan air mata.


[Tunggu ya Din, nanti aku pasti menjengukmu lagi.]


"Iya Mas, aku selalu menunggu. Ya sudah aku mau bangun. Kamu semangat kerjanya ya Mas!"


[Iya Sayang.]


Dinda menutup teleponnya. Air matanya mengalir deras. Dia merasa kalau cintanya hanya sepihak saja.


"Mas aku harap cintamu ini nyata. Ingin sekali aku bertindak. Namun, aku terlalu bodoh dan hanyut dalam perasaan ku sendiri," ucap Dinda lirih.


Dia masih mencoba untuk menenangkan diri. Di kehamilannya saat ini, Dinda membutuhkan perhatian yang lebih. Akan tetapi, dia tak bisa berbuat apapun karena dia sadar belum menjadi prioritas untuk suaminya.


Beberapa saat kemudian, Dinda bangun dan turun dari ranjang. Dia langsung menuju ke dapur untuk membuat susu. Biasanya, ada Indra yang membuatkan untuknya. Tak ada rencana apapun dalam hati Dinda saat ini.


Selesai membuat, Dinda duduk di meja makan sembari meminum segelas susu. Dia memainkan ponsel, lalu melihat sebuah bazar di suatu tempat. "Sepertinya menarik, harga bahan membuat kue pasti murah di bazar ini," ucapnya pelan.


Dinda menghabiskan susunya, kemudian dia ingin bersiap untuk pergi ke bazar tersebut. Setelah mandi dan juga ber-make up, Dinda langsung pergi ke bazar tersebut dengan naik taksi online. Jarak rumah dan tempat bazar cukup jauh, demi keamanan Dinda memesan taksi saja.


Langkah Dinda berhenti di salah satu lapak yang mempromosikan bahan untuk membuat cake. Dinda melihat dan membaca bahan tersebut. "Maaf, jika saya menginginkan bahan ini apa barangnya sudah tersedia mbak?" tanya Dinda pada salah satu SPG yang berjaga.


"Semua bahan tersedia mbak. Pemesanan bisa dilakukan di bagian marketing dan order di bagian sana," jawab SPG itu sambil menunjukkan arah pada Dinda.


"Oh, oke terima kasih mbak." Dinda langsung menuju ke bagian marketing dan order. Dia ingin membeli bahan untuk membuat cake. Setelah sampai, Dinda langsung masuk ke dalam. Dia melihat orang yang sedang mengantri untuk membeli paket bahan pembuatan kue.


Dinda berdiri paling belakang, lalu ada kejadian buruk yang menimpanya. Dinda kejatuhan dua kardus berukuran besar, karena ada salah satu karyawan yang melakukan kesalahan.


"Mbak awas minggir!" teriak seseorang.


Dinda menoleh ke samping dan melihat tumpukan kardus yang ingin terjatuh. Dinda tak sempat menghindar, jadi dia kejatuhan kardus berukuran besar tersebut.


"Brukk!

__ADS_1


"Awww!" pekik Dinda kesakitan karena kardus tersebut jatuh mengenai kepalanya.


Orang-orang pun berlari untuk menolong Dinda. Lalu salah satu staf yang bertanggung jawab membawa Dinda ke ruangan untuk di obati. "Mbak ayo ikut saya ke ruangan. Saya meminta maaf atas kejadian ini," ucap staf itu pada Dinda.


"Maaf, kepala saya sedikit pusing," sahut Dinda dengan memegangi kepalanya. Terdapat luka memar di bagian dahi, karena memang kardus tadi lumayan berat.


"Kalau begitu mari ikut saya. Mbak bisa beristirahat di ruangan staf nanti."


Dinda menuruti permintaan staf tersebut. Dia dipapah menuju ke sebuah ruangan. Sesampainya di dalam, Dinda langsung berbaring di atas bed kecil. Lalu, ada salah satu perawat yang khusus di siapkan oleh penyelenggara bazar.


"Maaf mbak, saya ingin mengobati luka anda," ucap perawat itu pada Dinda.


"Silahkan suster," jawab Dinda pasrah.


Perawat tersebut mengompres dan juga membalut luka di dahi Dinda. Terdapat benjolan di dahi sebelah kiri dengan ukuran yang cukup besar. Setelah di obati, Dinda mencoba untuk memejamkan matanya sebentar untuk mengurangi rasa pusing di kepalanya.


"Terima kasih Sus, saya ingin istirahat sebentar."


"Iya silahkan mbak!"


Selesai mengobati suster itu pun pergi. Dinda pun memejamkan matanya. Namun, tak lama kemudian masuk seorang laki-laki menghampiri Dinda yang sedang berbaring.


Laki-laki itu memandangi Dinda cukup lama. Merasa ada yang mendekat, Dinda pun membuka matanya. Dia cukup terkejut melihat lelaki yang ada disampingnya. "Astaga, anda siapa? Membuat saya kaget saja," seru Dinda pada lelaki tersebut.


Dinda bangun dan mulai duduk. Lalu lelaki itu menjawab, "Maaf, perkenalkan nama saya Diky Prayoga pemilik sekaligus penanggung jawab bazar ini. Saya meminta maaf pada anda atas kelalaian karyawan saya."


Dinda tersenyum tipis menanggapi permintaan maaf lelaki tersebut yang ternyata bos di bazar ini. "Tidak apa-apa, karena semua terjadi atas ketidaksengajaan," jawab Dinda dengan sopan.


"Kalau begitu untuk permintaan maaf saya. Maka saya akan memberikan dua paket spesial pada anda secara gratis," ucap Diky dengan ramah.


"Terima kasih tapi izinkan saya untuk membeli juga," sahut Dinda canggung, dia merasa tidak enak dengan lelaki di depannya itu.


"Boleh, dengan senang hati."

__ADS_1


Dinda turun dari bed tersebut. Rasa pusingnya sedikit menghilang. Lalu, dia berkeliling lagi dengan di temani oleh si pemilik bazar.


__ADS_2