Rahim Yang Terbuang

Rahim Yang Terbuang
RYT 12


__ADS_3

Selesai makan siang, Indra dan Dinda keluar dari rumah makan tersebut. Indra memutuskan untuk mengajak istrinya berbelanja kebutuhan orang hamil.


"Din, kita berbelanja sebentar ya. Mau kan? Kebetulan aku mempunyai banyak waktu hari ini. Kalau besok kan aku harus kerja."


"Emm, boleh Mas. Sekalian kita keluar kan ya!"


"Oke, kita berangkat sekarang." Indra pun melajukan kendaraannya menuju ke mall terdekat.


Hanya dengan waktu lima belas menit, Indra sampai di mall tersebut. Dia keluar dan membukakan pintu mobil untuk istrinya. Setelah itu, dia berjalan sambil menggandeng tangan Dinda dan masuk ke dalam mall.


Sesampainya di dalam tanpa memilih, Indra langsung masuk ke salah satu shop yang menjual barang khusus orang hamil.


"Din, pilihlah apapun yang kamu butuhkan," ucap Indra pada istrinya. Setelah itu, Dinda pun berkeliling untuk melihat barang-barang di dalam shop tersebut.


Indra juga ikut berkeliling, dia menuju ke deretan daster yang berjejer di salah satu tempat. Dia memilih dua motif daster untuk Dinda. Satu motif kupu-kupu dan satunya lagi motif bunga-bunga. Lalu, Indra menunjukkan pilihannya itu pada istrinya.


"Din, kamu suka tidak dengan pakaian ini," seru Indra dari belakang.


Dinda menoleh ke arah suaminya yang sedang menenteng dua pakaian untuknya. "Emm, boleh juga pilihanmu Mas," ucap Dinda dengan wajah bahagia.


Setelah memilihkan dua daster untuk istrinya, Indra berkeliling lagi mencari susu khusus ibu hamil. Dinda berjalan menghampiri sang suami yang sedang bingung memilih produk susu untuknya.


"Mas, kamu sedang apa?"


"Emm, ini aku bingung harus memilih yang mana. Di antara kedua produk ini mana yang lebih kamu sukai Din?"


Dinda melihat kedua merk susu yang sedang dipegang oleh Indra. Dia melihat komposisi yang terkandung dalam susu tersebut. "Aku pilih yang ini saja Mas, karena aku lebih menyukai rasa coklat," ucap Dinda sembari menunjuk susu yang dipilihnya.


"Oke, kalau begitu kita beli yang ini," sahut Indra membeli dua kaleng sekaligus.


Serasa cukup, Dinda memutuskan untuk menyudahi belanjanya. Dia berjalan menuju kasir dengan Indra yang berada di sampingnya. Indra meletakkan semua belanjaannya di meja kasir. Setelah semua dihitung, dia pun segera membayar dan bergegas pergi dari shop tersebut.


"Mau kemana lagi kita Din? Ada lagi yang ingin kamu beli?" tanya Indra pada istrinya.


"Sepertinya sudah dulu hari ini Mas, karena aku sedikit lelah. Kakiku terasa pegal dari tadi berdiri dan berjalan terus."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu kita pulang saja," sahut Indra dengan menenteng belanjaan di tangannya. Setelah itu dia keluar dari mall tersebut dan menuju ke parkiran.


Sesampainya di parkiran, Indra memasukkan belanjaan di kursi belakang kemudian masuk ke dalam mobil. Setelah itu dia mulai menjalankan mobilnya untuk pulang ke rumah.


Dinda duduk dengan melandaikan kursi yang didudukinya. Dia merasakan lelah sekali. Indra pun melirik ke arah istrinya itu. Dia merasa kasihan pada Dinda, jika mengingat tujuan jahatnya.


'Kenapa tiba-tiba muncul rasa kasihan dalam hatiku. Melihat wajah tulus itu membuatku ada rasa tidak tega jika harus menyakiti hatinya,' gumam Indra dalam hati.


Tak lama kemudian, Dinda pun tertidur dengan nyaman. Hingga tak terasa sudah sampai di rumah. Namun, Indra tak langsung membangunkan istrinya. Dia menunggu sampai Dinda terbangun sendiri.


Indra menunggu selama setengah jam di dalam mobil. Lalu, beberapa menit kemudian Dinda terbangun. Dia membuka mata dan tersadar kalau ternyata sudah sampai di rumah.


"Astaga, Mas kok kamu tidak bangunkan aku sih. Sudah berapa lama kita sampai?"


"Tidak lama kok, sekitar setengah jam yang lalu," jawab Indra santai.


"Aku tidak tega membangunkan mu yang tidur dan terlihat sangat lelap sekali."


"Maaf Mas, aku merasa capek sekali. Jadi hawanya itu mengantuk, dan ingin tidur," jawab Dinda dengan suara lesu.


"Mungkin ini efek dari kehamilan mu Din. Ya sudah, ayo kita masuk ke dalam. Kamu bisa lanjutkan istirahatmu di kamar." Indra turun dan membukakan pintu mobil untuk istrinya. Setelah itu dia mengambil barang dan ikut masuk ke dalam rumah.


Indra pun bertanya pada istrinya karena dia melihat sikap Dinda yang sedikit aneh, "Ada apa Din? Apa yang kamu rasakan?"


"Kepalaku pusing Mas, dan perutku mual sekali. Serasa ingin muntah tapi entahlah," jawab Dinda dengan memijit pangkal hidungnya.


"Kamu minum vitamin dari dokter ya, mungkin obat itu bisa mengurangi rasa pusing dan mual yang kamu rasakan saat ini. Biar aku ambilkan minum untukmu." Indra pun keluar dari kamar mengambilkan minum untuk istrinya.


Setelah mengambil segelas air, Indra kembali ke dalam kamar dan membantu istrinya untuk meminum vitamin dari dokter tadi. Dinda meminum obat itu dengan patuh.


"Istirahat lah! Malam ini tidak usah masak, kita delivery saja. Biar kamu bisa istirahat total," ucap Indra dengan penuh perhatian. Dia juga mengecup kening istrinya dengan lembut.


"Terima kasih Mas. Mungkin aku wanita paling bahagia saat ini."


Indra tersenyum sembari membelai lembut pipi istrinya. Setelah itu dia pun keluar dari kamar dan membiarkan Dinda beristirahat.

__ADS_1


Di Tempat Lain.


"Iya sayang. Rencana kita akan berhasil. Pasti akan aku bawa bayi itu kemudian pergi meninggalkannya," ucap Indra dalam sambungan telepon.


Percakapan itu tak sengaja didengar oleh Dinda. Sehingga membuatnya tak shock tak percaya.


"Mas apa yang kamu maksud? Kamu sedang berbicara dengan siapa? Bayi? Meninggalkan? Siapa yang akan kamu tinggalkan Mas?" Dinda memberondong suaminya dengan banyak pertanyaan.


Indra membalikkan badan dan menutup sambungan teleponnya. Dia berjalan menghampiri istrinya dengan senyum menyeringai. Dinda pun takut dengan tatapan dan juga senyuman dari suaminya.


"Mas, bisa kamu jelaskan apa maksud dari perkataan yang aku dengar tadi?" ucap Dinda dengan gugup.


Pertanyaan itu tak kunjung dijawab oleh Indra. Bahkan suaminya itu tetap diam dan terus berjalan menghampirinya dengan tatapan tajam. Dinda terus berjalan mundur hingga tubuhnya terhimpit di tembok.


"Mas jawab pertanyaanku. Apa maksudmu tadi? Jangan membuatku takut!"


Tangan kekar Indra mencengkeram kedua pipi istrinya dan berkata, "Kamu mau tahu jawabannya wanita bodoh. Selama ini aku hanya memanfaatkan mu saja. Aku akan meninggalkan mu setelah kamu melahirkan bayi yang kamu kandung sekarang. Jadi hiduplah dengan baik dan lahirkanlah bayi itu dengan selamat."


Dinda berusaha melepaskan tangan Indra yang mencengkram kedua pipinya itu, "Mas lepas, sakit. Mas lepaskan sakit sekali."


"Aku tidak akan melepaskan mu wanita bodoh. Jika aku melepaskanmu sekarang, aku yakin kamu akan kabur dariku," ucap Indra dengan penuh kebencian.


"Mas aku aku mohon lepaskan tanganmu. Sakit sekali Mas!" Dinda terus berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan suaminya. Namun usahanya sia-sia. Indra bahkan tak menghiraukannya sedikitpun.


"Menangis lah, merengek lah. Aku suka melihatmu menangis seperti itu. Asal kamu tahu ya, kamu itu tidak pantas bahagia. Apalagi mendapat cinta tulus dari seorang laki-laki."


"Mas, aku tidak tahu apa salahku tapi aku mohon lepaskan aku dulu. Sakit sekali Mas," seru Dinda dengan deraian air mata.


Indra semakin khilaf dan kejam. Dia melemparkan cengkeraman tangannya itu hingga membuat Dinda terjatuh di lantai.


"Awww, Mas kenapa kamu berubah seperti ini? Apa salahku Mas? Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan mu memiliki anak ini. Aku yang mengandung dan aku juga yang akan merawatnya. Jangan harap kamu bisa merebutnya dariku."


Indra tergelak dengan kerasnya, dia menarik dan menjambak rambut Dinda dengan kasar, "Hahaha, kita lihat apa kamu bisa kabur dariku wanita bodoh!"


Dinda mengerang kesakitan sambil memegangi rambut yang sedang di tarik suaminya, "Mas lepaskan aku, sakit Mas."

__ADS_1


Indra menghempaskan kembali rambut Dinda hingga kepalanya membentur lantai, "Awww, Mas kenapa kamu tega menyakiti aku. Apa salahku Mas?"


Indra terus tergelak melihat penderitaan istrinya. Hingga membuat kedua mata sayu itu terpejam dalam kegelapan.


__ADS_2