
Terlalu menaham rasa sakit membuat Dinda pingsan. Hal itu membuat Indra semakin takut sesuatu buruk terjadi. Indra terus memanggil istrinya akan tetapi tak ada jawaban. "Din, bangun! Aku mohon padamu, bangun Din!"
Melihat Dinda yang sudah lemas, membuat Indra tidak fokus dalam menyetir. Di terus memandangi istrinya yang pingsan.
Beberapa saat kemudian, Indra sampai juga di rumah sakit. Indra memberhentikan mobilnya di depan IGD. Setelah berhenti, dia segera keluar dan memanggil petugas medis, "Tolong! Istri saya mau melahirkan."
Tak lama kemudian, dua petugas medis berlari dengan mendorong brankar menuju ke arah Indra. Setelah itu, Indra masuk ke dalam mobil untuk mengangkat tubuh Dinda yang sudah lemas ke atas brankar.
Kedua petugas itu langsung membawa Dinda ke ruang persalinan. Sesampainya di sana, Indra ingin ikut masuk ke dalam. Akan tetapi tak di perbolehkan oleh salah satu suster.
"Din, bertahanlah. Kamu pasti kuat," ucap Indra dalam hati.
Sepuluh menit berlalu, dokter pun keluar dari dalam ruangan. Dia membicarakan tentang kondisi Dinda. "Dimana keluarga pasien? tanya sang Dokter.
Indra menjawab dengan cepat, "Saya suaminya Dok. Bagaimana keadaan istri saya?"
"Sepertinya istri anda harus di operasi karena masih dalam keadaan pingsan. Apa istri anda mengkonsumsi semacam obat kontraksi? Setelah saya periksa, istri anda kontraksi karena meminum obat, menurut hari perkiraan lahir yang belum cukup. Masih ada sekitar 4 minggu lagi. Kondisi ini sangat berbahaya sekali karena bisa mengancam nyawa ibu dan juga bayinya," jelas dokter dengan sangat rinci.
Indra berpikir keras dengan pernyataan dokter. Tiba-tiba pikirannya mengacu pada Laura. "Ini pasti ulah Laura. Bagaimana dia bisa seceroboh itu," gumam Indra dalam hati.
"Lakukanlah yang terbaik buat istri saya Dok. Saya akan penuhi semua persyaratannya. Tolong selamatkan keduanya Dok," ucap Indra memohon pada dokter.
"Baiklah Pak, saya akan berusaha semaksimal mungkin. Segeralah anda menandatangani semua persyaratan agar kami dapat melakukan operasi."
Indra mengangguk pelan, lalu menuju ke tempat pendaftaran untuk mengisi formulir. Pikirannya masih fokus pada Laura yang pasti menyebabkan semua ini terjadi.
Indra telah selesai mengisi formulir. Kini dia akan menelepon istrinya, "Halo, Laura! Kamu ada dimana sekarang?"
__ADS_1
[Sayang, kamu ini ada apa sih? Baru telepon pakai teriak-teriak kayak gitu.]
"Laura kamu tidak usah mengalihkan pembicaraan. Aku tanya kamu sekarang dimana?"
[Pelan-pelan dong Sayang, aku dengar kok. Aku sekarang ada di kafe, tapi sebentar lagi mau mengusulmu ke rumah sakit.]
Indra terkejut mendengar jawaban istrinya. "Jadi kamu yang menyebabkan semua ini?"
[Iya aku yang memasukkan obat kontraksi ke dalam minuman Dinda.]
"Laura kamu tahu perbuatan mu itu bisa membahayakan nyawa seseorang. Kamu kenapa sih? Bisa-bisanya kamu berbuat senekat ini," seru Indra dengan nada marah.
[Sayang, kamu marah sama aku. Tega ya kamu memarahi aku hanya karena wanita itu.]
"Ini menyangkut tentang nyawa Laura. Kamu tahu anakku sama saja lahir prematur, dan sangat rentan sekali dengan kematian. Kalau terjadi apa-apa dengan bayiku nanti, awas kamu Laura." Indra mematikan teleponnya dan kembali ke ruang operasi. Hatinya sangat kacau sekali.
Hanya dalam waktu 20 menit, Laura sampai di rumah sakit. Dia langsung menuju ke resepsionis untuk menanyakan dimana kamar rawat Dinda. Setelah mendapatkan info, Laura segera menuju ke sana.
Kamar operasi terdapat di lantai dua. Ruangannya terletak di bagian ujung. Laura berjalan melewati setiap lorong dan mendapati suaminya yang sedang cemas.
"Sayang," seru Laura memanggil suaminya.
Indra menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Sorot mata kecewa sangat jelas tergambar di wajahnya. "Kamu masih berani kesini Laura!"
"Sayang, kamu marah beneran sama aku? sahut Laura dengan suara manja.
"Aku terlanjur kecewa sama kamu Laura."
__ADS_1
Laura semakin sebal melihat kemarahan Indra. Baru kali ini dia melihat raut wajah marah suaminya. "Sayang, iya mengaku salah. Aku seperti ini ada alasannya kok," sahut Laura dengan santainya.
"Apa? Apa alasan kamu?" teriak Indra tegas.
"A-aku hanya ingin mengakhiri sandiwara ini saja. Aku sudah capek Sayang. Aku capek berpura-pura hamil. Aku ingin cepat bebas, bisa bekerja lagi."
"Laura, Laura. Aku tidak habis pikir, kenapa kamu menjadi seperti ini. Mana Laura yang dulu? Kamu itu beda jauh dengan Dinda. Dia lebih perhatian dan juga penurut. Aku ingin kamu seperti dia Laura."
Mata Laura melotot ketika dia dibandingkan dengan Dinda, "Sayang, beraninya kamu membandingkan aku dengan wanita kampungan itu. Tentu saja beda dong Sayang, dia itu tidak selevel denganku. Jadi kamu jangan asal bandingkan dong. Aku tidak suka!"
Indra tersenyum tipis. Dia benar-benar bingung menghadapi sikap keras kepala istrinya, "Kalau kamu tidak suka, harusnya kamu berpikir. Jadilah istri yang baik buat aku. Kamu itu aneh Laura, mana ada wanita yang menyuruh suaminya untuk menikah lagi hanya demi karir dan tidak mau melahirkan keturunan. Apa kamu memang tidak mau merasakan hamil dan mempunyai anak, Ha? Takdir wanita itu untuk mengandung dan juga melahirkan, semua itu untuk melengkapi sesuatu hal yang disebut keluarga dan aku ingin merasakan itu dari kamu, Laura."
Laura terdiam mencerna kata-kata Indra. Dia berpikir agar tidak salah jawab, "Sayang, kamu tahu kan, kalau aku masih belum siap untuk hamil. Kamu please lah ngertiin aku."
"Apa aku masih kurang pengertian sama kamu Laura? Kurang apa aku? Kalau kamu memang tidak mau, ya sudah. Aku tidak akan melanjutkan lagi sandiwara ini. Aku ingin membongkar semuanya. Aku akan jujur sama Mama dan membawa Dinda ke dalam hidupku, karena aku sudah jatuh cinta sama Dinda," ucap Indra dengan sedikit mengancam.
Perkataan Indra membuat Laura tercengang. Ternyata suaminya bisa berbuat tegas dalam mengambil keputusan.
"Sayang, kamu jangan gitu dong. Aku menyuruhmu seperti ini karena aku tidak mau berpisah sama kamu. Bagaimana mungkin kamu melepaskan hubungan kita selama ini Sayang. Please beri aku kesempatan! Aku janji akan memberimu keturunan. Ya! Kita tetap jalankan sandiwara yang sudah final ini."
Laura kembali merayu suaminya agar mau melanjutkan sandiwara yang sudah dia rancang selama beberapa bulan ini. Laura tidak mau kehilangan ATM penyokong kehidupannya. Jadi sebisa mungkin dia harus meyakinkan Indra agar kembali percaya padanya.
"Baiklah aku kasih kamu kesempatan. Jika dalam kesempatan ini kamu masih belum berubah maka aku tidak akan berpikir panjang lagi untuk menyingkirkan mu dalam hidupku Laura."
"Iya-iya aku janji akan merubah sikapku Sayang."
Indra kembali percaya pada Laura. Jadi dia masih melanjutkan sandiwaranya itu. "Maafkan aku Dinda. Aku terpaksa melakukan ini. Maaf, maafkan aku!"
__ADS_1