
Laura tergolek lemas dalam pelukan kekasihnya. Dia dibuat tak berdaya oleh Roy yang menghajarnya habis-habisan hingga malam tiba. Hingga tepat tengah malam Laura terbangun dan mendapati tubuhnya yang masih polos.
"Sial, malas sekali turun. Roy kamu benar-benar membuatku tak berdaya," gerutu Laura yang masih dalam pelukan kekasihnya.
Roy mendengar ucapan Laura, kemudian dia sengaja mempererat pelukannya dan membuat Laura protes, "Hei, kamu ingin membuatku kesulitan bernafas Roy."
"Sayang tenanglah, ayo lanjutkan tidurmu. Kita masih mempunyai waktu sampai besok pagi. Seharusnya, kamu itu tinggal bersamaku saja ketika suamimu sedang pergi. Jadi aku tidak akan kesepian Sayang."
"Boleh saja jika kamu menginginkan hubungan ini cepat berakhir. Bukanya kamu sudah tahu konsekuensinya Roy."
"Ck, aku tahu dan aku benci tentang itu."
"Kalau begitu tidak usah banyak protes. Kita jalani saja seperti yang ada. Ada saatnya sendiri hubungan kita ini akan terbongkar nantinya. Lebih baik kita persiapkan semuanya mulai dari sekarang." Laura terus memperdalam kisah perselingkuhannya dengan Roy. Bahkan dia sudah siap jika hubungan rumah tangganya kandas.
Di Tempat Lain.
Dinda tidak bisa memejamkan matanya, padahal malam semakin larut. Dia masih memikirkan tentang mimpi buruk yang dialaminya sore tadi. Hal itu membuat keraguan dalam hatinya muncul kembali. Padahal dia sudah yakin pada Indra karena sikap perhatian yang di tunjukkan.
Indra pun terbangun dari tidurnya. Dia melihat wajah gelisah Dinda. Indra langsung merengkuh tubuh istrinya itu dalam pelukannya. "Apa kamu masih memikirkan mimpi tadi sore, Din?" tanya Indra dengan mata masih terpejam.
Dinda sedikit terkejut dengan pelukan refleks itu. Namun, ada sedikit ketenangan yang mengalir dalam benaknya. "Iya Mas, aku masih kepikiran dengan mimpi tadi. Maaf, telah mengganggu tidurmu," jawab Dinda lemas.
Indra menghela nafas panjang. Dia membuka mata dan melihat wajah gelisah istrinya, "Din, lihat aku!"
Dinda langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Indra. Mata mereka pun beradu melihat satu sama lain. Dinda ingin mengalihkan pandangannya, akan tetapi Indra kembali memfokuskan pandangan istrinya.
"Aku menyuruh mu untuk melihatku Din, pandanglah mataku sebentar saja!"
Dinda kembali melihat kedua mata Indra yang penuh dengan teka teki.
"Apa yang kamu lihat dari mataku? Apa kamu melihat sesuatu yang membuat dirimu ragu dari mataku ini?" ucap Indra dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Ucapan dan tatapan mata Indra yang menunjukkan keseriusan membuat Dinda terdiam. Bahkan dia tidak bisa menerka apa yang ada dalam mata suaminya itu.
"Maaf Mas, tapi aku tidak bisa menyimpulkan apapun ketika aku melihat kedua matamu. Rasa ragu masih sering menghampiriku ketika kamu tidak ada di sampingku. Aku sendiri heran, kenapa hati ini belum sepenuhnya yakin kepadamu."
Indra kembali memeluk istrinya. Dia paham dengan semua kata-kata yang diucapkan oleh Dinda.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk percaya padaku Din. Aku hanya memohon padamu, jagalah kesehatan! Agar bayi kita tumbuh sehat, karena poin pentingnya adalah kamu sehat maka bisa dipastikan bayi kita pun akan sehat. Tidurlah, sudah malam sekali. Biarkan aku memelukmu malam ini."
Dinda menundukkan wajahnya kembali. Posisinya sekarang sedang berada dalam dekapan hangat Indra. Hati dan pikirannya berpikir sangat keras sekali, karena dirinya dalam dilema yang besar.
Akhirnya malam yang semakin larut membawa pasangan itu terlelap dalam mimpi masing-masing.
Keesokan Hari.
"Huekk, huekkk, huekkk!" Terdengar suara muntah-muntah dari kamar mandi. Indra yang mendengar suara istrinya pun langsung bangun dari tempat tidur, dan berlari menuju ke kamar mandi.
"Din, kamu mual?"
"Iya Mas, badan aku lemes banget," jawab Dinda dengan keringat dingin membasahi dahinya.
"Kepala aku pusing Mas, perutku mual sekali."
"Kamu tunggu ya, aku buatin susu sebentar. Nanti, setelah minum susu kamu minum vitamin dari dokter kemarin." Indra pun langsung keluar menuju ke dapur membuat segelas susu untuk istrinya.
Tanpa disadari, Indra sudah melakukan kewajibannya sebagai seorang suami yang siaga untuk Dinda. Namun, sikap baik itu telah tersingkirkan karena niat buruk yang telah dirancang sejak pertama.
Lima menit kemudian, Indra masuk ke dalam kamar dengan membawa segelas susu. Dia memberikan susu itu pada istrinya, "Ini minumlah, supaya perutmu tidak kosong."
Dinda menerima segelas susu itu dan langsung meminumnya hingga habis. Setelah itu, Indra menyiapkan beberapa vitamin juga, "Ini minum segera ya."
Tiga butir vitamin telah diminum oleh Dinda. Kini dia merebahkan kembali tubuhnya yang lemas. Indra terus menemani dan selalu siaga di samping istrinya.
__ADS_1
"Mas kalau kamu ke kantor, pergilah! Aku sudah tidak apa-apa kok," ucap Dinda dengan suara lirih.
"Mungkin hari ini aku bekerja dari rumah saja. Aku akan menemanimu seharian karena aku khawatir kalau terjadi sesuatu padamu."
"Baiklah terserah kamu saja Mas."
Dinda memejamkan mata untuk meredakan rasa pusing yang dirasakannya. Sedangkan, Indra terus menatap wajah pucat Dinda. "Din, kenapa sulit sekali mengabaikan mu. Apa aku sudah benar-benar jatuh hati padamu," ucap Indra dalam hati.
Setelah Dinda tertidur, Indra memutuskan untuk keluar dari kamar. Dia segera mandi dan bekerja melalui laptopnya.
Di Tempat Lain.
Laura masih terpejam di bawah selimut dengan Roy kekasihnya. Dia sangatlah bebas ketika Indra berada di luar kota. Hingga tak lama kemudian, dia terbangun dan langsung mencari ponselnya.
Setelah mendapatkan ponselnya, Laura terbangun ketika membaca sebuah pesan dari rumah sakit. "Cepat sekali hasil tesnya keluar," ucapnya pelan.
"Hasil apa Sayang?" sahut Roy dengan suara parau.
"Surat tes kehamilan. Aku memesannya dari seorang dokter. Kamu tahu berapa harga yang harus aku bayar. Sepuluh juta untuk selembar kertas."
"Sepuluh juta itu uang suamimu kan Sayang? Kalau itu uangmu maka sangat sayang sekali," ucap Roy dengan mempererat pelukannya.
"Semua itu uang dari Indra, dia itu sangat mudah dibohongi. Bahkan aku selingkuh denganmu saja dia tidak tahu."
"Bercerai lah segera Sayang. Menikahlah denganku, aku juga ingin memilikimu seutuhnya. Bukan sembunyi-sembunyi seperti ini," sahut Roy mulai frustasi.
"Roy bersabarlah, tunggu aku mendapatkan imbalan dari mertuaku. Kamu tahu apa yang dijanjikan oleh mertua cerewet itu jika aku berhasil hamil dan melahirkan anak. Aku akan mendapatkan sebuah villa beserta perkebunan teh yang ada di daerah Bandung itu. Tunggu aku mendapatkan semuanya, baru kita bahas hubungan ini selanjutnya."
"Oke baiklah aku akan menunggu mu sampai kamu siap. Apa sih yang tidak buatmu Sayang. Tapi kasih aku satu ronde lagi, untuk sarapan pagi dan juga booster buatku."
"Tidak Roy, semalam sudah lebih dari cukup. Sekarang lepaskan aku mau mandi."
__ADS_1
"No, tidak segampang itu lari dariku Sayang."
"Roy, jangan gila kamu. Roy ...!"