
"Mas, Mas, apa salahku? Kenapa kamu tega menyakitiku Mas? Mas, Mas!"
"Din, bangun Din. Dinda bangunlah," seru Indra membangunkan istrinya yang sedang bermimpi.
"Mas," teriak Dinda terbangun dari mimpinya.
"Kamu mimpi buruk. Sampai berkeringat seperti ini," ucap Indra khawatir. Dia mengelap dahi istrinya dengan tisu, namun tangannya dihempaskan begitu saja oleh Dinda.
"Din ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Indra penasaran.
Dinda masih mengatur pernafasannya. Dia masih panik dengan mimpi yang baru saja dialaminya. Indra pun heran pada istrinya yang masih terbengong memikirkan sesuatu.
"Din, ada apa? Bicaralah!"
"Stop Mas, jangan sentuh aku. Jangan sakiti aku lagi," teriak Dinda dengan tubuh gemetar.
Indra semakin tak mengerti, kemudian dia memberikan segelas air pada istrinya, "Ini minumlah biar kamu tenang."
Dinda menerima segelas air itu dan meminumnya dengan tangan gemetar. Setelah minum dia mulai tenang dan mulai menjawab pertanyaan suaminya.
"Tenang ya! Ada apa? Kamu mimpi buruk apa? Sampai ketakutan seperti ini?" tanya Indra sekian kali. Namun, pertanyaan itu tak langsung dijawab oleh Dinda.
Dinda masih panik dengan apa yang dialami dalam mimpinya. Tiba-tiba air matanya mengalir dan dia pun terisak. Indra langsung meraih tubuh mungil itu dalam pelukannya.
"Sudah ya, tenangkan dirimu. Kalau kamu belum mau cerita tak apa. Aku tidak akan memaksamu," ucap Indra menenangkan hati istrinya.
Dinda masih terisak dalam pelukan suaminya. Dia masih merasakan sakit yang nyata. 'Apa arti mimpi itu? Kenapa terasa sangat nyata sekali? Kenapa tubuhku merasakan sakitnya, padahal hanya mimpi. Apa Mas Indra akan melakukan itu padaku? Tapi buat apa? Apa benar dia menikahi ku hanya untuk bayi yang ada dalam kandunganku? Kenapa hatiku ini gampang sekali ragu? Mengapa aku belum bisa percaya sepenuhnya dengan pernikahan ini?'
Dinda terus bergumam dalam hati. Dia terus memikirkan apa yang baru saja dialaminya. Hingga suara Indra membuyarkan lamunannya. "Din, kenapa kamu diam. Jangan membuatku khawatir! Bicaralah agar aku bisa tenang!"
Dinda merenggangkan pelukan suaminya. Dia menghapus air mata yang membasahi pipi. "Maaf Mas, membuatmu khawatir. Tapi mimpiku tadi sangat mengerikan. Dalam mimpiku, kamu berubah Mas. Aku mendengar kamu bicara dengan seseorang. Kamu mengatakan kalau ingin meninggalkan ku setelah aku melahirkan. Bahkan dalam mimpi kamu bersikap kasar padaku. Itu tidak benar kan Mas? Kamu tidak akan melakukan hal keji itu kan?"
Indra terhenyak dengan pertanyaan istrinya. Mimpi itu seolah memberi pertanda dan firasat yang sangat jelas. Indra pun menjawab pertanyaan itu dan berusaha meyakinkan kembali keraguan pada hati Dinda.
__ADS_1
"Kamu bicara apa? Mana mungkin aku melakukan hal semacam itu. Sudah ya, kamu tidak usah memikirkan hal-hal yang tak masuk akal. Kamu harus rileks dan tidak boleh stres. Ingat kan kata dokter tadi siang. Jangan terlalu lelah dalam hal apapun agar bayi kita tumbuh dengan baik," ucap Indra berusaha menenangkan hati istrinya.
"Tapi Mas, aku sangat takut sekali. Mimpi itu terasa sangat nyata bagiku. Bahkan pipi ini terasa sakit, karena dalam mimpi tadi kamu mencengkeram dengan kuat pipiku ini. Bahkan kamu melemparkan aku ke lantai hingga aku pingsan. Kamu yg tidak akan memisahkan aku dengan bayiku kan Mas?"
Indra terdiam melihat wajah istrinya yang tampak ketakutan. Dia tidak bisa menjawab karena semua yang keluar dari mulutnya itu hanyalah dusta. Meski Indra menyadari perbuatannya, tak membuat dia berkata jujur.
"Mana mungkin aku memisahkan mu dengan bayi yang kamu lahirkan. Kamu ibu dari anakku, sudah pasti kita berdua yang akan merawatnya. Sudah ya, tenang tidak udah pikirkan mimpi itu. Lebih baik kamu mandi sekarang, karena hari sudah mulai petang," ucap Indra terus meyakinkan keraguan hati istrinya.
Dinda merasa sedikit tenang, meski masih ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Lalu, dia segera menuruti permintaan Indra untuk segera mandi karena hari sudah mulai malam.
"Ya sudah, kalau begitu aku mandi dulu Mas." Dinda bergegas turun dari kasur lalu menuju ke kamar mandi.
Indra mengusap kasar wajahnya, dia merasa sangat bersalah. Akan tetapi, dia tetap kukuh dalam rencananya. Setelah itu dia keluar dari kamar dan memutuskan untuk menelepon Laura. Indra mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan segera menekan nomor telepon istrinya.
Satu panggilan tak terjawab. Indra tidak bisa menghubungi Laura. Dia mencoba lagi dengan panggilan yang kedua. Namun, hasilnya tetap sama masih tak terjawab.
"Laura dimana lagi? Tumben lama banget menjawab panggilan ku," gerutu Indra kesal.
Di Tempat Lain.
"Sayang kamu tahu, aku selalu tak bisa mengontrol diri ketika bercinta dengan mu. Ingin sekali aku melakukannya setiap hari," sahut Roy sembari terus beraksi di atas tubuh Laura.
"Ahhh, Roy. Kapan kamu mengakhirinya aku sudah tidak sanggup lagi," rintih Laura sembari berpegangan erat pada kedua lengan kekasihnya.
"Sebentar lagi Sayang aku masih belum sampai. Nikmati dulu ya," jawab Roy dengan melu m@t bi bir Laura yang terus mende sah mengeluarkan suara seksinya.
Setelah lama beraksi, Roy merasa telah sampai puncaknya. Dia mempercepat aksinya dan segera mengakhiri aksi panas itu dengan tertunduk lemas diatas tubuh Laura yang penuh dengan peluh sisa bercinta.
"Kamu sangat menyenangkan Sayang. Aku mencintaimu," ucap Roy lembut. Dia masih berada di atas tubuh Laura.
"Aku lelah Roy, kamu tidak tahu aturan setiap kali bermain. Minggir aku ingin ke kamar mandi."
Laura bangun dan turun dari ranjang. Sebelum itu dia melihat ponselnya yang tergeletak di meja. Ada lima panggilan tak terjawab dari suaminya.
__ADS_1
"Astaga, Indra menelepon ku sampai sebanyak ini. Ada apa ya?"
Mendengar nama Indra membuat Roy tidak suka. Dia segera memeluk tubuh Laura dari belakang dengan mesra."Cepatlah ke kamar mandi sayang. Kamu tahu kan aku tidak suka kalau mendengar nama suamimu itu ketika kita sedang bersama. Atau kamu ingin aku melakukannya lagi sekarang! Lihatlah, junior ku sudah berkembang lagi," seru Roy dengan senyum menggoda.
"Ck, jangan gila Roy! Cepat minggir dan singkirkan tanganmu!" Laura pun pergi melesat ke kamar mandi dengan membawa ponselnya. Dia ingin menelepon balik suaminya.
"Sayang, awas saja jika aku mendengar kamu menelepon suamimu di dalam toilet. Aku akan menggedor pintu biar suamimu tahu kalau kita sedang bersama," seru Roy memperingatkan kekasihnya.
Laura terus berjalan ke kamar mandi tanpa menghiraukan ucapan Roy. Sesampainya di dalam, dia langsung menelepon balik suaminya.
"Halo, Sayang maaf ya aku tidak tahu kalau kamu telepon tadi. Soalnya ponselku silent mode," ucap Laura berbohong.
[Aku kira kamu ada apa-apa Laura, membuat ku khawatir saja. Sebenarnya aku ingin berbicara sesuatu tapi kondisinya sudah tak mungkin lagi. Besok aku telepon lagi ya.]
"Baiklah kalau begitu, besok saja soalnya hari ini aku juga sangat sibuk sekali."
"Brak! Brak! Brak! Sayang keluar lah! Jangan coba melawanku ya!" Suara Roy menggelegar dengan menggedor-gedor pintu dari luar.
Hal itu pun di dengar oleh Indra dan menanyakan apa yang terjadi.
[Sayang suara siapa itu? Kamu ada dimana sekarang?]
"Ahh, itu suara temanku lagi akting. Soalnya aku sekarang ada di tempat pemotretan. Kalau begitu sudah dulu ya, Sayang. Aku lagi sibuk soalnya."
[Baiklah, aku tutup teleponnya. Bye!]
Laura segera mengakhiri panggilannya, kemudian dia segera membuka pintu karena Roy terus berteriak memanggilnya.
"Roy kamu sudah gila ya!" teriak Laura dengan suara keras.
Roy langsung menerobos masuk dan mengangkat tubuh polos Laura. Dia menggendong tubuh kekasihnya itu kembali ke atas ranjang.
"Roy, turunkan aku. Sudah cukup ya hari ini. Jangan buat aku semakin lelah. Roy, kamu dengar tidak. Roy, turunkan aku!"
__ADS_1
Teriakan Laura tak mengurungkan niat Roy untuk menyalurkan kembali hasratnya. Dia membanting tubuh Laura di ranjang dan kembali memulai aksi panasnya.