Rahim Yang Terbuang

Rahim Yang Terbuang
RYT 34


__ADS_3

"Indra kamu pulang?" ucap Laura terkejut.


Indra mengepalkan kedua tangannya. Darahnya mendidih ketika melihat istrinya bercinta dengan lelaki lain. Mata Indra merah dengan tubuh panas yang membakar emosi.


"Laura, aku tidak menyangka kamu melakukan hal yang hina seperti ini!" teriak Indra dengan deru nafas yang memburu.


Roy sibuk memakai baju dan Laura masih duduk santai melihat Indra yang marah terhadapnya.


"Laura jelaskan semua padaku, apa maksudmu melakukan ini?"


"Lalu, kamu lelaki brengsek! Sini bajingan." Indra berlari menuju ke arah Roy lalu menghajarnya dengan brutal.


Laura menjerit melihat Indra memukuli kekasihnya, "Stop Indra! Jangan kamu pukuli, Roy! Pergi sana kamu."


Roy mencoba untuk melawan, dia menendang perut Indra hingga jatuh terjungkal. Indra yang terjatuh memegangi perutnya yang sakit. Dia kembali bangun dan membalas tendangan itu. Laura masih dalam posisinya mengahadang Indra agar tidak memukuli Roy.


"Minggir kamu Laura!" Indra mendorong dan menampar pipi Laura dengan keras.


Plak!


Laura terjungkal ke lantai. Roy tidak terima melihat Laura dikasari oleh Indra. Dia kembali berdiri dan menghajar Indra hingga babak belur. Laura memisah Roy yang terus mengajar Indra.


"Roy, ayo kita pergi dari sini! Semua sudah berakhir," ucap Laura hingga membuat Indra emosi kembali.


"Apa maksud dari semua berakhir, Laura?" Indra masih bingung dengan apa yang dialaminya sekarang.


Mendengar Indra yang penasaran membuat Laura tergelak keras, "Indra suamiku yang bodoh. Selama ini aku itu tidak pernah mencintaimu. Aku hanya menginginkan hartamu saja, Sayang. Makanya, aku menyuruhmu untuk menikah lagi. Ya, hanya karena aku ingin mendapatkan harta yang lebih darimu."


"Maaf, semua sudah kudapatkan maka aku harus pergi dari sini dengan kekasihku. Selamat tinggal Indra, terima kasih atas semuanya."


"Laura, kamu benar-benar. Aku akan pastikan kamu tidak akan mendapatkan sepeserpun dariku Laura. Laura ingat itu."

__ADS_1


Indra berteriak frustasi, dia benar-benar tidak menyangka jika pernikahan yang dijalaninya hanya sia-sia.


"Laura, apa kurangnya aku hingga kamu melakukan semua padaku. Jadi, ini alasanmu tidak ingin melahirkan keturunan ku. Laura, aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan semuanya."


Indra bangkit, setelah itu dia memilih untuk pergi dari rumah itu. Dia ingin membicarakan semuanya dengan sang Ibu. Sesampainya di dalam mobil, Indra melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya benar-benar kacau sekali.


Beberapa menit kemudian, Indra sampai juga di rumah orang tuanya. Dia turun lalu masuk ke dalam. Di ruang tamu, Bu Ningrum sedang bersantai dengan meminum teh. Indra berlari dan langsung bersimpuh di kaki Ibunya.


"Indra kamu kenapa, Nak?" Bu Ningrum terkejut melihat anaknya datang dengan babak belur.


"Ma, maafin aku! Maaf jika aku banyak salah selama ini. Maaf jika aku selalu membantah perkataan Mama. Aku menyesal Ma. Aku menyesal!"


Bu Ningrum masih bingung dengan sikap Indra yang sangat aneh. "Nak, kamu kenapa? Apa kamu habis berantem?"


Indra masih terdiam, rasanya berat sekali mengungkapkan hal yang sebenarnya. Namun, dia harus tetap menjelaskan kepada sang Ibu.


"Laura, Ma. Laura selingkuh dariku. Dia bercinta dengan pria lain di rumah, Ma."


Mata Bu Ningrum membulat, dia tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh anak lelakinya itu.


"Tidak Ma, ini semua nyata. Ternyata Laura tidak perna mencintaiku. Dia hanya menginginkan harta Ma. Makanya dia tidak pernah mau mengandung keturunanku."


Bu Ningrum lebih syok lagi mendengar pengakuan itu, "Apa maksud kamu? Laura tidak ingin mengandung, Indra?Bukankah Kenzo anak kalian berdua?"


"Bukan Ma, Kenzo adalah anakku dengan wanita lain. Indra menikah lagi secara siri dengan wanita lain, Ma! Laura yang merencanakan ini dan bodohnya aku ikut andil di dalamnya. Maafkan aku Ma. Maaf, Indra telah membohongi Mama soal ini."


Bu Ningrum mendorong tubuh Indra hingga terduduk di lantai. Dia benar-benar kaget dengan pengakuan konyol anaknya.


"Ternyata Mama sudah gagal mendidikmu Indra. Kamu telah tega membuat kebohongan seperti ini. Mama kecewa sama kamu. Sungguh Mama sangat kecewa."


Bu Ningrum berdiri dan pergi dari ruang tamu. Dia benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya.

__ADS_1


"Ma, maafin Indra Ma! Aku menyesal telah melakukan semuanya. Mama, maafin aku Ma."


Indra terus berteriak memanggil Ibunya. Akan tetapi, Bu Ningrum tak menghiraukan panggilan itu.


Keesokan harinya.


Bu Ningrum yang sudah berpakaian rapi berjalan menuju ke kamar Indra. Dia ingin melanjutkan kembali perdebatannya semalam. Sesampainya di depan pintu, Bu Ningrum langsung masuk ke dalam kamar. Dia melihat Indra yang masih duduk melamun di lantai samping ranjang.


"Indra, sekarang jelaskan semua kepada Mama. Apa yang telah terjadi? dan kebohongan apa lagi yang kamu perbuat," seru Bu Ningrum di depan pintu.


Indra terdiam dia tak tahu harus memulainya dari mana. Hidupnya benar-benar kacau sekarang. Bu Ningrum pun kesal, karena anaknya itu tidak bisa bersifat tegas.


"Indra jawab pertanyaan Mama? Atau to the point saja, dimana Ibu kandung Kenzo sekarang. Apa kamu tahu kalau anakmu itu butuh sekali ibunya saat ini. Mama tidak habis pikir sama kamu Indra."


"Maaf Ma, aku bingung sekali saat ini. Aku tidak tahu harus bagaimana?"


Bu Ningrum menghela nafas dalam. Lalu berkata, "kamu harus segera urus perceraian kamu dan mencari Ibu kandung Kenzo. Kalau perlu bawa kemari wanita itu. Mama ingin mengenalnya."


Indra menoleh ke arah sang Ibu . Dia tak percaya jika Ibunya menanyakan Dinda.


"Kamu jangan salah, Mama begini karena kasihan sama Kenzo. Dia sangat membutuhkan pelukan seorang Ibu," jelas Bu Ningrum pada anaknya itu.


"Sekarang kamu berdiri, dan lanjutkan hidupmu. Lakukan sesuai dengan yang Mama perintahkan. Sudah Mama keluar dulu, sudah saatnya Kenzo."


Bu Ningrum keluar dari kamar, dan Indra segera berdiri untuk mandi. Dia ingin menyelesaikan semua masalahnya.


Di Tempat Lain.


Dinda sedang bersiap-siap untuk melamar pekerjaan. Dia memakai setelan berwarna putih hitam dan menguncir rambut panjangnya itu ke atas. Make up tipis yang menghiasi wajahnya itu menambah kesan natural.


Kini dia keluar dari kontrakan dengan membawa map kecil berisi persyaratan melamar pekerjaan. Dinda berangkat dengan jalan kaki. Dia harus menghemat dengan sisa uang hasil menjual ponsel.

__ADS_1


"Semoga aku diterima di toko itu. Aku akan mempersembahkan resep terbaikku," gumam Dinda yakin.


Dinda terus berjalan sampai di ujung jalan, kemudian dia harus mencari angkot untuk sampai di toko roti itu. Sesampainya di ujung jalan, Dinda berdiri sebentar menunggu angkot yang lewat. Sepuluh menit berlalu, akhirnya ada angkot yang berhenti. Dinda langsung masuk dan duduk berdesakan dengan orang lain. Dia harus tetap kuat demi usahanya untuk bertemu dengan malaikat kecil yang hilang.


__ADS_2