Rahim Yang Terbuang

Rahim Yang Terbuang
RYT 23


__ADS_3

Dinda berjalan berdampingan dengan Diky seorang pengusaha yang sedang mempromosikan produk terbarunya. Diky menjelaskan secara langsung manfaat dan juga keunggulan barangnya. Dia tampak nyaman berjalan dengan wanita yang baru di kenalnya itu.


"Oh, ya nama anda siapa?" tanya Diky pada Dinda.


Dinda menoleh lalu tersenyum manis. Dia menjawab pertanyaan lelaki itu, "Nama saya Dinda."


"Dinda. Perkenalkan nama saya Diky saya berasal dari Jakarta," sahut Diky dengan menyodorkan tangannya untuk bersalaman.


Mendengar kata Jakarta membuat Dinda terpaku sejenak. Sehingga dia mengabaikan jabatan tangan Diky. Melihat wanita di depannya melamun, Diky langsung menyadarkan lamunan Dinda.


"Hai, Dinda kok melamun?"


Dinda tersadar kemudian tersenyum canggung, "Maaf, saya jadi teringat sesuatu. Senang berkenalan dengan anda ternyata orangnya sangat ramah."


Mendapat pujian dari wanita cantik membuat hati Diky menjadi senang bahkan salah tingkah, "Baru kali ini saya akrab dengan seseorang yang baru saja saya kenal."


Setelah saling berkenalan dan berkeliling di seluruh tempat. Dinda memutuskan untuk pulang. Dia membeli satu set peralatan membuat kue dan juga dua paket gratis pemberian Diky.


"Terima kasih atas kunjungan mu Dinda. Semoga puas dengan produk kami. Setelah bazar ini selesai, semua produk bisa di beli di seluruh super market terdekat."


"Sama-sama Pak Diky, kalau begitu saya pamit dulu. Maaf jika saya merepotkan," sahut Dinda ramah.


"Saya yang harusnya meminta maaf, akibat kelalaian karyawan saya tadi membuat anda terluka," ucap Diky, dia merasa tidak enak dengan Dinda.


"Iya Pak saya mengerti. Kalau begitu saya permisi dulu." Dinda membungkuk kan badan lalu pergi dari bazar itu.


Dinda duduk dengan tenang di dalam taksi. Tangannya meraba benjolan yang ada di dahinya. "Sakit juga ternyata," gumamnya pelan.


Di Tempat Lain.


"Iya Ma, semuanya berjalan lancar. Tadi ada sedikit kendala tapi sudah teratasi," ucap Diky di sambungan teleponnya.


Dia sedang menelepon sang ibu yang berada di Jakarta. Diky menjadi wakil untuk menjadi penanggung jawab atas peluncuran produk terbaru dari bisnis Ibunya. Diky mau membantu karena ada bisnis di kota Bandung. Jadi dia sekalian melaksanakannya.


[Ya sudah, Mama tutup dulu teleponnya. Besok kalau pulang, jangan lupa bawakan oleh-oleh pesanan Mama ya.]


"Iya Ma, tunggu saja." Diky mematikan sambungan teleponnya.


Diky Prayoga adalah anak bungsu dari keluarganya. Di usianya yang sudah matang, dia sudah memimpin salah satu perusahaan yang didirikan oleh sang Ayah. Diky sudah mempunyai calon istri, dan sebentar lagi akan segera menikah. Dia sangat lah mencintai tunangannya itu.


Hubungannya Diky dengan sang kekasih tak berjalan lancar. Terhalang restu orang tua membuat hatinya ragu. Ingin melanjutkan apa tidak. Terkadang Diky ingin menyerah, akan tetapi kekasihnya tidak mau putus hubungan.



__ADS_1


Dinda telah sampai dirumahnya. Dia menurunkan semua barang bawaannya. Banyak sekali barang yang dia dapatkan hari ini. Tentu saja hal itu membuatnya senang, karena Dinda sudah menginginkan barang itu sejak lama.



"Aku bisa berkreasi dengan semua bahan dan barang ini. Jadi aku tak merasa bosan, dan aku bisa berjualan lewat sosial media," ucap Dinda senang.



Setelah memasukkan semua barang, Dinda istirahat sejenak. Tiba-tiba ponselnya berdering, di layar tertera panggilan video dari Indra. Hal itu membuat hati Dinda semakin bahagia. Dia segera mengangkat panggilan telepon tersebut.



"Halo Mas, tumben video call. Ada apa?" tanya Dinda dengan senyum mengembang.



\[Din, dahi kamu kenapa? Kok di perban kayak gitu."\]



"Ini tadi ada kecelakaan ringan Mas. Aku tadi pergi ke sebuah bazar. Terus ada tumpukan kardus yang jatuh menimpa kepalaku. Benjol deh, tapi aku tidak apa-apa kok," jelas Dinda.



\[Din, bukannya aku sudah mengingatkan kamu untuk berhati-hati. Untung hanya benjol, coba kalau terjadi yang lain. Terus kamu pergi kenapa tidak pamit sama aku? Hem!\]




\[Lain kali, izin dulu sama aku ya! Biar aku tahu dimana keberadaanmu. Kamu sudah makan belum?\]



"Belum Mas, aku masih belum lapar. Nanti saja kalau sudah lapar," jawab Dinda dengan muka melas.



\[Kenapa belum makan, ini kan sudah masuk jam makan? Jangan sampai kamu tidak makan.\]



"Kalau aku belum lapar, bisa muntah Mas. Kalau muntah badanku rasanya lemas tidak ada tenaga. Makanya aku menunggu sampai lapar dulu baru makan."


__ADS_1


\[Ya sudah, aku tutup teleponnya dulu. Perbanyak makan buah, jika kamu ingin beli sesuatu cepat beli. Gunakan kartu yang kemarin aku kasih. Terserah kamu mau beli apa? cukupi semua kebutuhanmu, ya! Jaga kesehatan.\]



"Iya Mas, aku akan lakukan semuanya. Maaf jika tadi aku melakukan kesalahan. Mas juga jaga kesehatan, aku selalu menunggumu disini."



\[Iya, sampai jumpa lagi. Bye!\]



"Bye, Mas," jawab Dinda. Setelah itu sambungan telepon pun terputus.



Dinda menghela nafas panjang setiap kali mengakhiri percakapannya dengan Indra. Dia merasakan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Dinda merenung sebentar, setelah itu dia memutuskan untuk mandi dan tidur siang karena tak ada kegiatan yang akan dilakukan.



Di Tempat Lain.



Bu Ningrum sedang berkumpul dengan teman sosialitanya. Kumpulan ibu-ibu itu selalu saja bergosip. Memang jiwa keingintahuan Bu Ningrum itu sangat tinggi.



"Jeng Ningrum, kamu tahu tidak. Menantunya Jeng Siska itu selingkuh dengan teman sekerjaannya. Hem, heboh sekali Jeng. Padahal anaknya Jeng Siska itu ganteng loh," ucap Bu Ani teman akrab Bu Ningrum.



"Masa sih Jeng? Kelihatannya rumah tangga mereka baik-baik saja tanpa ada gosip miring," sahut Bu Ningrum tak percaya.



Bu Ani pun semakin bersemangat untuk bercerita bahkan sangat serius sekali. "Beneran Jeng, menantunya itu langsung diceraikan oleh anaknya Jeng Ani loh. Terus ia diusir dari rumah."



"Ngeri sekali ya Jeng. Kurang apanya juga anaknya Jeng Ani itu. Masih saja ada kesempatan untuk istrinya selingkuh. Amit-amit semoga rumah tangga Indra dijauhkan dari hal buruk seperti itu," sahut Bu Ningrum cemas.



"Iya Jeng, ngeri sekali ya. Wajah tampan, pekerjaan mapan tak menjadi jaminan untuk seseorang setia. Jaman sekarang tergantung pribadi masing-masing Jeng. Bisa mengendalikan diri atau tidak," imbuh Bu Ani menimpali jawaban Bu Ningrum.

__ADS_1



Bu Ningrum terus mengobrol dengan teman-temannya membahas tentang perselingkuhan yang terjadi di kehidupan orang lain. Bu Ningrum tidak tahu kalau sedang di persiapkan sebuah bom waktu oleh anak dan menantunya. Tinggal menunggu waktu saja kapan bom waktu itu akan meledak.


__ADS_2