Rahim Yang Terbuang

Rahim Yang Terbuang
RYT 27


__ADS_3

Dua hari berlalu, Dinda masih terbaring lemah di rumah sakit. Tak ada kerabat maupun teman yang menemaninya. Hanya suster jagalah yang selalu mengecek kondisi saat ini.


Di dalam ruangan, terdapat suster yang mengecek cairan infus Dinda. Saat, mengecek perlahan mata Dinda terbuka dan dia telah sadar dari pasca operasi. Mata lemah itu menatap langit-langit kamar. Setelah itu menoleh ke arah suster yang sedang bertugas.


"Sus, dimana anak dan suamiku? Anakku selamat kan Sus?" Dinda bertanya pada suster dengan suara lemas.


"Eh, anda sudah sadar. Kebetulan ini yang mau saya tanyakan sama anda, Mbak. Anak, Mbak lahir dengan selamat dan berjenis kelamin laki-laki. Tapi, beberapa jam kemudian suami anda membuat rujukan untuk pindah rumah sakit. Alasan lain katanya ingin memindahkan bayi Mbak ke rumah sakit yang lebih bagus dan yang saya heran lagi, suami Mbak tidak lagi menjenguk anda disini," jelas Suster pada Dinda.


Penjelasan suster membuat jantung Dinda berdegup kencang. Dia tak menyangka kalau suaminya setega itu. Bulir air mata jatuh menetes di pipinya. Pandangannya kosong jauh ke depan, tak ada lagi harapan yang membuatnya kuat.


"Mbak, Mbak, kok diam?"


"Anakku Sus, dia dibawa pergi oleh suamiku sendiri. Di memisahkan aku dengan bayiku, Sus!" jawab Dinda.


"Kalau begitu saya permisi dulu Mbak, kalau butuh apa-apa tinggal pencet alarm ini ya."


Setelah itu suster pun pergi dari ruang rawat Dinda. Di ruangan itu, Dinda terus terdiam. Ingin sekali di berteriak akan tetapi tenaganya masih belum kembali. Dia butuh kondisi yang pulih untuk menghadapi masalah hidupnya sendiri.


"Ternyata ini rahasia mu Mas. Mimpiku telah menjadi nyata, tapi betapa bodohnya aku bisa mempercayai dan bahkan sangat mencintaimu. Tunggu aku Mas, karena aku tidak akan tinggal diam. Aku akan merebut kembali anakku. Hatiku dan juga jiwaku tidak akan pernah rela," ucap Dinda dalam hati. Tangisannya pecah ketika mengingat semua janji yang pernah dilontarkan oleh suaminya.


Di ruangan itu, Dinda terus terisak dalam diam. Sungguh tragis nasib yang dia jalani. Harus tersakiti ketika hati sudah menyuruhnya untuk pergi.




"Laura kamu harus minum ini, biar tubuhmu tetap fit pasca operasi. Ini jamu resep turun temurun dari keluarga Mama," ucap Bu Ningrum pada Laura.



"Tidak Ma, aku bisa muntah nanti. Lagian dokter sudah memberiku obat, dan nanti juga pasti cepat pulih kok," ucap Laura membantah mertuanya.



"Kamu ini selalu saja membantah Mama ya. Semua ini demi kebaikanmu juga kan." Bu Ningrum merasa kesal dengan menantunya itu. Setiap kali bertemu pasti tidak akan pernah akur.



"Sekali, tidak ya tidak Ma. Aku tidak suka, jadi please Mama jangan paksa aku. Oke! Lebih baik Mama tengok saja cucu kesayangan Mama."


__ADS_1


Tak lama kemudian, Indra muncul dari luar. Dia sudah mendengar perdebatan antara istri dan juga ibunya. "Ada apa sih Ma, Laura. Kalian tahu, perdebatan tadi terdengar sampai luar. Ini rumah sakit jadi please sama kalian berdua, tenang sedikit. Ya!" ucap Indra menegur istri dan juga ibunya.



"Ini semua karena istrimu itu yang selalu ngajakin Mama ribut terus. Dia itu tidak pernah menyenangkan Mama. Dari pertama sampai sekarang selalu saja membantah setiap apapun yang Mama perintahkan."



"Sayang, masa Mama meminta aku minum jamu itu. Sudah aku bilang, kalau aku itu tidak suka. Mama tetap saja memaksa," sahut Laura kesal.



"Sudah-sudah. Aku tidak mau mendengar lagi perdebatan kalian. Aku sudah mendapatkan surat kelahiran dan aku namakan dia Kenzo Putra Laksmana. Bagaimana Ma? Cocok tidak?" tanya Indra pada Ibunya.



"Bagus, Mama suka. Ada kata Laksmana di belakangnya. Jadi setelah kamu keluar dari rumah sakit, harus mau tinggal bersama Mama Laura. Tidak boleh menolak."



Mata Laura melotot mendengar perintah mertuanya, dengan cepat dia menolak perintah itu, "Ma aku tidak mau. Aku tetap tinggal di rumahku sendiri. Mama sudah aku kasih seorang cucu. Kalau Mama mau merawat dia, y rawat saja Ma. Terus jangan paksa aku juga untuk memberikan asi, karena aku tidak ingin bentuk badanku jelek. Ini mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Oke!"




"Indra urus istri kamu. Mama sudah menyerah, selalu saja Mama yang sakit hati." Bu Ningrum pun keluar dari ruangan itu karena sudah tidak tahan dengan sikap Laura.



Indra duduk di kursi dengan memijat kepalanya yang pusing. Dia juga sudah menyerah untuk mendamaikan istri dengan ibunya.



"Sayang, kapan aku bisa pulang. Lama-lama kepala ku bisa pecah jika mendengar omelan Mama kamu," ucap Laura dengan ketus.



"Terserah kamu Laura, aku sudah capek untuk mengatur mu. Sekarang aku sudah tak peduli lagi kamu mau bagaimana? Selama ini kamu tidak pernah menganggapku sebagai seorang kepala rumah tangga."


__ADS_1


Indra akhirnya menyerah dengan sifat dan watak istrinya yang semakin hari semakin melenceng jauh. Melihat kekacauan dalam hidupnya, tiba-tiba Indra teringat dengan Dinda.



"Din, apa kamu sudah sadar? Pasti kamu membenciku saat ini? Apa kamu lagi menangis? Din, ingin sekali aku bertemu denganmu," ucap Indra dalam hati.



Untuk menjernihkan kepalanya, Indra keluar dari dalam ruangan. Dia semakin muak dengan sikap Laura.



"Sayang kamu mau pergi kemana? Sayang, jawab aku dong!" teriak Laura. Namun tak di hiraukan oleh Indra.



"Sialan, mereka semuanya! Aku sudah tidak tahan ingin segera pergi dari sandiwara ini. Anak dan ibu sama saja, suka sekali memaksakan kehendak. Sabar, Laura sebentar lagi apapun yang kamu mau akan terkabul."



Laura terus mempunyai niat yang tidak baik. Nalurinya sebagai seorang wanita sudah hilang hanya karena sebuah materi. Bahkan dia menghalalkan segala cara untuk menggapai maksud dan tujuannya.



Tak lama kemudian, ponselnya pun berdering. Telepon itu berasal dari Roy sang kekasih. "Halo Sayang. Bagaimana kabarmu? Kamu tahu kalau aku sangat kangen sekali. Kapan kita bisa bertemu. Aku sudah terlalu bosan, Sayang?" ucap Laura mengangkat panggilan telepon itu.



\[Cepatlah keluar dari rumah sakit Sayang. Kamu pikir aku tidak rindu! Aku sangat rindu padamu my Honey.\]



"Sebentar lagi aku akan keluar kok dari rumah sakit ini. Aku sudah muak dengan semua ini. Mereka selalu memaksa dan menyuruhku untuk melakukan hal yang tidak aku sukai."



\[Makanya kamu cepat keluar dari sana. Menikahlah denganku, tetap jangan lupa ya, ketika kamu pergi ambillah sesuatu yang menjadi hakmu sayang.\]



"Pasti itu Roy, aku tidak akan keluar dengan tangan kosong," sahut Laura dengan tergelak keras.

__ADS_1


__ADS_2