Rahim Yang Terbuang

Rahim Yang Terbuang
RYT


__ADS_3

Kini Dinda dan Diky sudah sampai di restoran. Mereka turun dan masuk ke dalam. Sejak kejadian di lampu merah tadi raut wajah Dinda menjadi murung. Dicky pun enggan menanyakan ada masalah apa.


Mereka mencari tempat duduk di sudut ruangan. Diky memanggil pelayan untuk memesan makanan. Cici memesan sepiring nasi dan seafood kesukaannya. Dia juga menawarkan, agar Dinda memilih sendiri makanan yang dia suka.


"Din kamu mau makan apa? silakan memesan, kok malah bengong sih,"ucap Diky membiarkan Lamongan Dinda.


Mendengar panggilan Dicky membuat Dinda sedikit terkejut. "Iya Maaf, kamu bilang apa tadi?"


Dicky mengerutkan alisnya, dia heran dengan wanita yang ada di depannya itu. "Kamu baik-baik saja kan Din! atau kamu sedang tidak enak badan?"


"Tidak, aku tidak apa-apa kok. Hanya sedikit kecapekan saja karena tadi malam aku tidak bisa tidur," ucap Dinda berbohong.


"Aku mau nasi padang saja sama minumnya es jeruk."


Untuk menghindari pertanyaan, Dinda mencoba untuk bersikap tenang. Dia mengajak bicara dan membahas masalah lain.


Di Tempat Lain.


Indra melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia sudah sangat yakin untuk pergi menjemput Dinda. Bahkan sebelum dia berangkat, Indra telah mengajukan gugatan cerainya ke pengadilan. Dia harus segera menyelesaikan hubungan dengan Laura.


Kini Indra lebih semangat lagi untuk menjalani hidup yang lebih baik. Dia ingin meminta maaf dan memperbarui hubungannya dengan Dinda.


"Mungkin Dinda tidak akan memaafkan aku tapi aku akan mencoba untuk meminta maaf padanya dan aku akan memperbaiki semua kesalahanku," gumam Indra pelan sembari fokus menyetir mobil.


Perjalanan kurang lebih 3 jam harus di tempuh Indra demi untuk mendapatkan lagi kepercayaan Dinda. Dia mengambil keputusan sejak ibunya memberikan restu. Terlebih lagi perasaannya sudah sangat dalam mencintai Dinda.


Akhirnya Indra sampai di depan rumah yang dia tempat tidur bersama Dinda. Dari luar rumah itu tampak kosong seperti tidak berpenghuni.


Indra turun dari mobil kemudian dia mengetuk pintu. "Din, Dinda," teriak Indra dengan keras. Namun, tak ada jawaban apapun.

__ADS_1


Lalu, ada orang yang lewat di depan rumah itu. Orang itu bertanya kepada Indra. "Masnya cari siapa?"


"Maaf Pak, wanita yang tinggal di sini ke mana ya?" tanya Indra pada orang itu.


"Oh, orang yang tinggal di sini sudah pergi Mas," jawab orang itu


"Bapak tahu pindahnya kemana?


"Kalau itu sih saya tidak tahu, Mas!Soalnya waktu itu pemilik rumah ini, seperti mengusirnya gitu karena beberapa bulan tidak bayar."


Indra sedikit terkejut dengan informasi orang itu, karena waktu itu Laura sudah membayar biaya sewa selama satu tahun.


"Apa waktu itu Laura membohongiku?Jahat sekali jika Laura bersikap seperti itu. Aku harus cari kemana?" Indra pun kembali ke dalam mobilnya. Dia bingung harus mencari Dinda ke mana lagi.


Indra masih penasaran dengan keberadaan istri sirinya itu, kemudian dia pergi ke toko roti yang tempat Dinda bekerja.


"Permisi mbak, apakah Dinda ada di sini?" tanya Indra pada salah satu teman Dinda.


Teman Dinda itu pun menoleh ke arah teman yang lainnya kemudian menjawab, "Sejak menikah Dinda tidak pernah ke sini. Entah sekarang dia tinggal di mana."


Lagi-lagi Indra kecewa dengan informasi yang didapatkannya. Setelah itu dia memutuskan untuk keluar dan mencari ke tempat lain lagi. Indra masuk ke dalam mobil dan melajukannya ke tempat yang pernah dikunjungi oleh istrinya.


Indra mengemudikan mobil ke tempat yang sebelumnya pernah dikunjungi oleh Dinda. Dia pergi ke taman, swalayan, rumah makan, dan juga kafe namun tak ditemuinya. Hampir semua tempat sudah dia kunjungi dan semuanya nihil. Indra hampir putus asa dan menyalahkan dirinya sendiri.


"Harus kemana lagi aku mencarimu Dinda," ucapnya frustasi.


Setelah itu Indra memutuskan untuk kembali ke Jakarta, karena usahanya untuk mencari Dinda tak mendapatkan hasil.


Di Restoran.

__ADS_1


Dinda dan Diky telah selesai makan siang. Selama makan siang berlangsung, Dinda tak banyak bicara dia hanya berbicara seperlunya saja. Diki mencoba untuk menghibur dan mencari tahu apa yang sedang dipikirkan oleh wanita di depannya itu.


"Din, bukannya aku sok akrab atau ingin tahu soal masalahmu. Tapi kalau kamu ada masalah, boleh kok cerita sama aku. Aku siap membantumu jika membutuhkan bantuan," ucap Diky pada Dinda.


Dinda tersenyum tipis menanggapi ucapan Diky. Dia belum bisa bercerita pada orang lain tentang apa yang dialaminya. "Aku tidak apa-apa kok. Biasalah wanita memang kan ada yang seperti itu. Ya, seperti aku ini!"


Diky masih belum puas dengan ucapan Dinda. Dia merasa kalau ada sesuatu yang masih ditutupinya, "Baiklah tapi ingat pesanku tadi ya. Jika kamu butuh bantuan jangan sungkan untuk mencariku, karena aku akan siap untuk membantumu."


Dinda tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya. Dia sangat bersyukur bisa menemukan seseorang yang mampu menemaninya di saat terpuruk seperti ini.


"Ya, kamu nggak usah khawatir nanti kalau ada apa-apa orang yang pertama akan aku cari adalah kamu," ucap Dinda dengan senyum ramah.


Diky ikut tertawa melihat wajah ceria Dinda. Entah kenapa sejak pertama kali bertemu dia sudah merasa sangat cocok sekali pada wanita itu. Tiba-tiba ada seorang wanita yang berjalan cepat menghampiri mereka berdua.


Wanita itu mengambil segelas air dan menyiramkan ke wajah Dinda. "Oh jadi kamu wanita tidak tahu malu yang mau merebut pacar aku," umpat wanita itu pada Dinda.


Dinda terkejut dengan perlakuan wanita itu. Dia menoleh dan tidak mengerti pada wanita yang sedang marah-marah di depannya.


"Ayuna, apa yang sedang kamu lakukan di sini?" seru Indra memarahi wanita itu. Ternyata dia adalah mantan tunangan Indra yang sudah ketahuan selingkuh.


"Sayang kamu kok marahin aku sih! Aku kemarin kan sudah minta maaf sama kamu, yang kamu lihat itu semua salah! Maafin aku ya sayang. Aku mohon kita balikan lagi ya!" rengek Ayuna dengan manja.


"Kita sudah berakhir Ayuna. Kamu sebaiknya jangan menggangguku lagi, karena aku sudah punya calon istri. Dia lah calon istriku, Mama menjodohkan aku dengannya."


Mata Dinda melotot mendengar jawaban Diky. Tanpa menunggu lama, Diky langsung menarik tangan Dinda untuk pergi dari tempat itu. Dia khawatir kalau Ayuna akan berbuat ulah lagi.


"Ayo sayang kita pergi dari sini. Jangan ladeni wanita penghianat ini," ucap Diky pergi dari tempat itu.


Ayuna pun geram melihat Diky sudah menggandeng wanita lain, "Sial, secepat itu dia mendapatkan ganti. Aku tidak akan menyerah, Diky."

__ADS_1


__ADS_2