
Selesai mandi, Dinda turun lagi ke bawah. Dia melihat Kenzo sedang di ajak oleh Indra. Langkah Dinda pun terhenti, dia ragu untuk menghampiri Indra yang ada di depannya.
Indra melihat bayangan Dinda yang sedang berdiri. Dia langsung menyapa Dinda agar mendekat, "Emm, siapa itu yang berdiri. Mama datang, siapa yang ingin ikut Mama?"
Indra berinteraksi dengan bayinya. Hal itu dia lakukan untuk menarik perhatian istrinya. Dinda masih tetap diam di tempat. Dia masih menahan langkahnya. Kemudian, hatinya tergerak ketika Kenzo menangis.
Dinda langsung berjalan menghampiri Kenzo yang menangis. "Sayang, kamu sudah ngantuk ya. Mama buatin susu dulu ya. Kamu tunggu dulu di sini sama ...."
Dinda kembali diam, dia tidak melanjutkan lagi kata-katanya. Kemudian, Indra menyahut dan melanjutkan kata-kata Dinda, "Kamu di sini sama Papa. Biar Mama buatin kamu susu."
Dinda langsung pergi ke dapur untuk membuatkan susu bayinya. Sesampainya di dapur, Dinda di sapa oleh ibu mertuanya. "Dinda, kamu ngapain lari-larian gitu?" tanya Bu Ningrum.
"Em, itu Tante, aku mau membuat susu untuk Kenzo. Sudah waktunya untuk tidur 'kan?"
"Iya, ini sudah jam tidur untuk Kenzo," jawab Bu Ningrum.
Setelah itu, Dinda masuk ke dalam dapur untuk membuat susu. Bu Ningrum sendiri sibuk memasak untuk makan malam. " Dinda, setelah kamu menidurkan Kenzo, kamu cepat turun ke bawah untuk makan malam bersama," ucap Bu Ningrum.
"Baik, Tante!" jawab Dinda.
Selesai membuat Dinda langsung keluar dan menuju ke ruang tamu. Indra masih mencoba untuk menenangkan Kenzo. "Sayangnya Mama, ini susunya sudah jadi. Yuk kita tidur!" seru Dinda dari belakang.
Indra menoleh dan menyerahkan Kenzo kepada Dinda. Tanpa sepatah kata pun Dinda langsung pergi dari ruang tamu menuju ke kamar bayinya. Indra hanya bisa diam, Dinda mulai belajar mendekat saja sudah membuat hatinya tenang.
"Din, nanti setelah Kenzo tidur kamu turun ke bawah lagi ya. Kita makan malam bersama," seru Indra. Akan tetapi, tidak dijawab oleh Dinda.
"Tidak apa-apa, jika kamu masih mengabaikanku Din. Aku yakin suatu hari nanti pasti kamu bisa memaafkan aku," ucap Indra dalam hati.
Indra langsung pergi ke dapur untuk membantu ibunya menyiapkan makan malam. "Ma, apakah semuanya sudah siap?" tanya Indra.
__ADS_1
"Sebentar lagi, kenapa tumben kamu sudah lapar?"
"Aku selalu lapar kali ini, Ma. Entah kenapa?" ujar Indra, dia duduk di meja makan sembari makan keripik.
"Kamu harus selalu menjaga sikap kamu, Indra. Sepertinya sikap Dinda mulai berubah semenjak Kenzo bersamanya. Mau tidak mau dia harus menyesuaikan keadaan di rumah ini, karena memang itu harus dilakukan. Kapan sidang dengan Laura dilaksanakan? Jangan terlalu lama menunda karena bisa berakibat buruk," jelas Bu Ningrum.
"Sidang itu akan dilaksanakan dua hari lagi, Ma. Aku khawatir, Laura akan membuat ulah lagi jika dia tahu aku sudah menemukan, Dinda. Aku tidak tahu kenapa? hatiku merasa tidak enak ketika aku memikirkan itu, Ma."
"Sudahlah selalu berpikir positif. Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Mama akan selalu mendoakan mu. Pokoknya kamu harus bangkit dan juga memperbaiki kualitas diri, tunjukkan kalau kamu adalah lelaki yang bertanggung jawab kepada Dinda," ucap Bu Ningrum. Dia selalu memberikan nasehat kepada Dinda.
"Sudah matang sekarang bantu mama untuk menyiapkan semuanya di atas meja."
Indra membantu ibunya menyiapkan makan malam di meja. Tak lama kemudian Dinda turun dan langsung bergabung di meja makan.
"Cepat sekali Kenzo tidurnya, Dinda. Sekarang dia bisa tidur nyenyak karena ada kamu yang menjaganya. Sebelum kamu datang, Tante selalu kualahan ketika Kenzo ingin tidur," ucap Bu Ningrum.
"Ya sudah kalau begitu kita segera makan saja."
Dinda duduk di samping ibu mertuanya. Dia makan dengan tenang, tanpa melihat ke arah Indra yang berada pas di depannya. Tentu saja hal itu berbanding terbalik dengan Indra yang terus menatap istrinya.
Tatapan itu terus dilakukannya hingga membuat Dinda salah tingkah. Beberapa menit kemudian, makan malam selesai. Dinda langsung pamit untuk segera pergi dari meja makan.
"Aku sudah selesai makan, Tante. Bolehkah aku pamit ke kamar dulu? tanya Dinda.
Indra langsung meletakkan sendoknya. Untung saja nasinya sudah habis, sehingga dia bisa menetralkan rasa sesak yang ada dalam dadanya.
Bu Ningrum langsung menegur anaknya,"Kamu ini kenapa? bisa kesal seperti itu."
"Aku ingin selalu berdekatan dengan Dinda, Mah. Melihat Dinda yang selalu diam membuatku ingin frustasi. Tapi aku kembalikan lagi pada tujuan awalku yaitu untuk merubah sikap."
__ADS_1
"Nah, itu kamu tahu. Jalanmu tidak mudah, Nak. Sabarlah nanti juga Dinda akan membuka suaranya," sahut Bu Ningrum.
Selesai makan malam, Indra langsung menuju ke kamarnya. Dia harus mengerjakan sebuah file karena besok ada rapat di kantor. Kini Indra sudah ada di kursi kerjanya. Tangannya mulai mengoperasikan benda pipih yang menjadi teman bekerjanya itu.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar. Indra berdiri dan segera membukakan pintu tersebut. Indra langsung kaget dengan apa yang dilihatnya.
"Dinda, ada perlu apa?" tanya Indra gugup.
Dinda mencoba untuk memberanikan diri untuk berbicara dengan Indra. "Aku ingin handphone-ku. Tolong kembalikan padaku karena di dalamnya ada nomor penting," ucap Dinda.
Indra menunduk dan diam, dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. "Maaf aku belum bisa memberikannya karena aku ingin mengganti kartu tersebut dengan kartu yang baru," ucap Indra dengan santainya.
Tentu saja ucapan itu membuat Dinda marah. "Apa maksudmu? Itu adalah handphone aku dan privasi di dalamnya adalah privasi ku. Jadi kembalikan sekarang," pinta Dinda.
"Jadi kalau aku berikan handphone itu padamu, apa kamu ingin langsung menghubungi lelaki itu?" seru Indra hingga membuat Dinda tersentak.
"Aku menghubunginya atau tidak itu bukan urusanmu. Dia baik sama aku, dia selalu membantuku. Jadi aku sangat beruntung bisa mengenalnya," ucap Dinda tegas.
Indra menarik nafas dalam, dengan mengepalkan kedua tangannya untuk menahan emosi.
"Sebaiknya kamu kembali ke kamar, aku akan membelikan handphone baru besok," ucap Indra, dia kembali menyulut kemarahan Dinda.
"Sikapmu yang seperti ini semakin membuatku yakin. Kalau kamu selamanya tidak akan bisa berubah. Kamu masih bisa untuk memaksakan kehendak mu kepada orang lain demi kepentingan mu sendiri. Aku membencimu!"
Dinda mendorong pelan tubuh Indra. Setelah itu dia berlari masuk ke dalam kamarnya. Air mata itu kembali mengalir membuat pipi Dinda.
Indra mengusap kasar wajahnya, dia telah hilang kembali lagi. Sikap Dinda mengingatkannya pada Diky yang menelpon tadi siang.
"Sial, kenapa aku emosi? Seharusnya aku sabar, dan pelan-pelan berbicara dengannya. Semakin sulit aku mendapatkan kepercayaannya lagi."
__ADS_1