Rahim Yang Terbuang

Rahim Yang Terbuang
RYT 19


__ADS_3

Selesai makan, Indra mengajak pulang istrinya. Makan malam yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi sunyi ketika menyangkut tentang sebuah rahasia. Dinda yang masih berharap dengan keterbukaan Indra pun lagi-lagi kecewa. Dia tetap tidak bisa membuat Indra jujur kepadanya.


Akhirnya mereka berdua telah sampai di rumah sekitar jam 10 malam. Dinda masuk ke dalam rumah diikuti oleh Indra dari belakang. Keduanya langsung masuk kamar. Dinda masih diam tak bicara, dia meletakkan tas kemudian masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan kaki.


Indra hanya menghela nafas panjang. Dia tahu kalau istrinya itu sedang kecewa. Tentu dia harus berusaha untuk mendapatkan kepercayaan dari Dinda lagi. Pintu kamar mandi terbuka, Dinda keluar dari sana dengan muka fresh tanpa make up. Lalu, giliran Indra masuk ke dalam toilet untuk mencuci kaki agar bersih.


Dinda duduk di pinggir ranjang dengan menghadap jendela. Entah apa yang dipikirkannya. Selesai mencuci kaki, Indra pun keluar. Dia melihat istrinya yang sedang melamun menatap luar jendela. Dia naik ke atas kasur dan memeluk Dinda dari belakang.


"Apa yang sedang kamu pikirkan Din?" tanya Indra pelan.


"Kamu pasti tahu apa yang sedang aku pikirkan Mas."


Sesuai tebakan, Dinda masih memikirkan tentang pembicaraan di restoran tadi. Tentu Indra mempunyai cara untuk merayu istrinya kembali. "Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu kalau aku akan memperjuangkan mu. Kamu tunggu saja karena aku akan menepati janjiku," ucap Indra menyakinkan istrinya.


"Tapi, Mas aku hanya takut kalau ...."


Indra langsung membungkam bibir istrinya itu dengan sebuah ciuman lembut. Hingga kata-kata tersebut tak selesai dikatakan. Indra terus mencium istrinya yang masih terdiam. Dia melihat mata Dinda yang berkaca-kaca menahan air mata.


Dinda melepas ciuman itu, hatinya benar-benar kacau kali ini. Indra tak menyerah, dia menangkup wajah cantik itu dengan kedua tangannya. Perlahan jarinya mengusap air mata yang hampir jatuh.


"Jangan menangis, bukankah kamu sudah menjanjikan sesuatu untukku di malam ini? Apa kamu lupa?" Indra menatap dalam wajah sendu itu. Dia sangat tahu apa yang dirasakan Dinda saat ini.


"Lakukanlah Mas, aku sepenuhnya milikmu. Meski aku tak tahu hatimu seperti apa? Aku akan terus mencoba untuk mempercayai mu hingga suatu hari nanti aku tahu apa yang kamu sembunyikan dari ku."


"Terima kasih telah memberikan kepercayaan itu padaku. Kamu sempurna Din, wajah ini begitu lembut dan mata ini sangat cantik. Bibirmu ini teramat manis. Aku mulai menggilai mu."

__ADS_1


Indra mengucapkan kata-kata manis itu dan melupakan semua rencananya. Secara tidak langsung dia sudah menciptakan bom waktu untuk Dinda. Dia memanfaatkan kepolosan dan ketidakberdayaan istri sirinya itu.


Pelan-pelan Indra menidurkan Dinda. Dia membelai wajah dan mengecup kembali bibir mungil itu. Indra memulai semuanya dengan kelembutan, karena dia mengingat kondisi istrinya yang berbadan dua.


Hampir setengah jam, Indra menggauli istrinya. Desa asahan kenikmatan keluar dari mulut mereka. Suara rintihan dan erangan keluar secara bersahutan. Indra sangat menikmati persetu buhannya bersama Dinda. Dia selalu mendapat nuansa yang berbeda ketika mencu mbu tubuh ramping itu.


"Mas, aku sudah tidak kuat," rintih Dinda dengan mengalungkan tangannya di leher Indra.


"Iya sebentar lagi aku sampai. Tahan ya, aku masih berusaha ini. Kamu sungguh nikmat Sayang," jawab Indra dengan menatap wajah istrinya yang sudah lemas.


Beberapa menit kemudian, Indra telah sampai pada puncaknya. Dia mempercepat tempo dan menyemburkan benih cintanya itu ke dalam surga kenikmatan istrinya. Indra terkulai lemas di samping tubuh Dinda. Dia memeluk dan mengecup kening wanita yang telah masuk dalam relung hatinya itu.


"Terima kasih Sayang. Aku mencintaimu," ucap Indra penuh kelembutan.


Keesokan Pagi.


Indra terbangun ketika ponselnya berdering dengan keras. Panggilan itu ternyata dari asistennya di Jakarta. Indra segera mengangkat panggilan itu dengan mata yang masih terpejam sembari memeluk istrinya.


"Halo, ada apa?"


"Apa? Lalu bagaimana? Apa yang kamu lakukan setelah surat itu hilang." Indra berteriak kaget mendengar laporan yang diucapkan oleh asistennya.


"Baiklah, aku akan segera pulang. Mungkin siang aku sudah berada di kantor."


Dinda terbangun mendengar percakapan suaminya. Dia mengerjapkan kedua matanya dan bertanya, "Ada Mas? Apa ada masalah? Sampai kamu terkejut seperti itu?"

__ADS_1


"Ada masalah di kantor, dan siang ini aku harus sudah sampai ke Jakarta."


"Jadi kamu kembali ke Jakarta hari ini Mas?" tanya Dinda dengan muka sedih.


"Iya. Maaf ya, kamu tidak apa-apa kan aku pergi pagi ini?"


"Aku tidak bisa kalau pun harus melarang mu Mas. Bersiaplah aku akan menyiapkan keperluan mu." Dinda bangun dan turun dari ranjang.


Sebelum itu, Indra menarik tangan istrinya dan mengecupnya lembut. "Terima kasih kamu istri yang sangat pengertian," ucap Indra dengan senyum yang mengembang.


"Tidak perlu berterima kasih Mas. Ini sudah kewajiban ku sebagai seorang istri."


Setelah itu Indra bangun dan segera bersiap. Dinda juga menyiapkan semua keperluan suaminya. Dari baju hingga sarapan pagi. Tak lupa dia dengan kue yang telah di persiapkan untuk mertuanya. Dinda sangat berharap sang mertua suka dengan kue buatannya.


Satu jam berlalu, Indra telah siap untuk berangkat. Semua barang bawaan telah masuk ke dalam mobil. Indra pun berpamitan dengan istrinya.


"Din, aku kembali ke Jakarta dulu ya. Jaga kesehatanmu, jangan terlalu capek. Nanti, aku akan kembali kesini lagi menjenguk mu," ucap Indra dengan mencium perut rata istrinya.


"Iya Mas hati-hati di jalan. Salam buat Mama ya. Semoga Mama suka dengan kue buatanmu."


"Iya pasti Mama suka sekali. Ya sudah aku berangkat. Bye! Bye anak Papa, jangan nakal di perut Mama ya, Nak!"


Setelah berpamitan, Indra melambaikan tangannya dan masuk ke dalam mobil. Dinda hanya tersenyum melihat kepergian suaminya. Meski dalam hatinya sangat sedih mengingat status pernikahannya yang masih digantung.


"Mas, mungkin aku terlalu bodoh hingga aku mengalami nasib yang seperti ini. Aku hanya bisa berharap dan berharap," ucap Dinda dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2