Rahim Yang Terbuang

Rahim Yang Terbuang
RYT 35


__ADS_3

Membutuhkan waktu selama 15 menit untuk sampai di toko roti tersebut. Sesampainya di sana, Dinda langsung turun dan melihat antrian para pelamar kerja yang lain. Dia juga ikut mengantri untuk melakukan pendaftaran. Para pelamar kerja cukup lumayan karena ini bersifat umum, tanpa ada persyaratan khusus.


Sepuluh menit mengantri kini giliran Dinda untuk mengisi formulir pendaftaran. Selesai menulis Dinda langsung masuk ke dalam toko tersebut untuk menunggu arahan selanjutnya.


Sekitar jam 09.00 pendaftaran ditutup dan jumlah peserta sebanyak 20 orang. Para pelamar kerja diarahkan ke sebuah ruangan yang ada di dalam toko roti tersebut. Di dalam ruangan itu terdapat peralatan untuk membuat kue beserta bahan-bahannya.


Tiap peserta menempati satu set peralatan dan satu set bahan pembuatan kue. Penyeleksian para pelamar kerja ini dipimpin langsung oleh pemilik toko. Kebetulan toko tersebut adalah milik Bu Inggrid.


Bu Inggrid masuk ke dalam ruangan dan langsung menyambut para peserta,"Selamat pagi untuk para kandidat. Perkenalkan nama saya Bu Inggrid pemilik dari toko roti Anugerah ini. Saya sangat bersyukur sekali bisa bertemu dengan para pelamar kerja yang sangat bersemangat sekali ya! Bagaimana sudah siapkah kalian untuk bersaing pada hari ini?"


"Siap," jawab semua orang.


"Oke, jiwa semangat kalian terlihat dari cara kalian menatap saya ya. Begini saya jelaskan aturan pada hari ini. Ada 20 kandidat dan semuanya sudah menempati tempat yang ada peralatan dan juga bahan untuk membuat kue. Tugas kalian hanya berkreasi membuat menu yang menurut kalian bisa dijadikan menu andalan di toko Anugrah ini. Penilaian rasa dan juga kreasi dari kue buatan kalian akan dinilai langsung oleh saya sendiri. Jadi buatlah sekreatif mungkin, sebaik mungkin, dan enak tentunya, agar cita rasa dari kue tersebut bisa dijelaskan, karena nanti ada persentase sendiri dari masing-masing peserta. Bagaimana apa semuanya sudah paham? apa ada pertanyaan? silakan bertanya jika ada yang belum jelas."


"Siap mengerti, Bu!" jawab semuanya.


"Oke kalau begitu semuanya dimulai dari sekarang ya! saya kasih waktu kalian selama 2 jam untuk berkreasi. Selamat bekerja!"


Setelah menjelaskan kepada para peserta, Bu Inggrid mengawasi para kandidat secara langsung. Dia berkeliling melihat kecekatan para kandidat dalam mengolah tepung dan juga mengocok telur.


Kebetulan Bu Inggrid berhenti di samping meja dan ditempati oleh Dinda. Dia heran karena dalam waktu 10 menit Dinda sudah bisa menyelesaikan bahan pokok untuk pembuatan cake.


Bu Inggrid kagum dengan kecekatan Dinda dalam mengolah semua bahan. Dari peserta lain Dinda lah yang paling mencolok dan juga yang paling cepat dalam mengerjakan tugas. 1 jam berlangsung cake yang dibuat Dinda sudah selesai.


Kue yang dibuat Dinda itu sangat unik karena dia menggunakan perpaduan warna yang sangat lembut dan juga cantik. Ada beberapa irisan buah dan juga almond di atas cake tersebut. Meski sudah selesai, Dinda harus menunggu yang lain hingga batas waktu habis.


Di Tempat Lain.


"Iya Ma, aku akan segera ke sana!Sebentar lagi sampai kok," ucap Diky sembari menyetir mobilnya.


Diky dimintai oleh Ibunya untuk ikut menilai calon peserta yang ikut dalam kompetisi pembuatan kue. Nantinya, para peserta yang terpilih akan langsung dipekerjakan oleh Bu Inggrid dan langsung dikasih jabatan sebagai manajer dalam dalam penyajian menu makanan terutama kue dan sebagainya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Diky sudah sampai di toko roti milik Ibunya. Dia turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam. Sesampainya di dalam Diky langsung menuju ke ruang penilaian. Di sana sudah banyak aneka kue dan juga cake yang di sajikan. Lalu siap untuk dinilai.


"Halo, Ma!" Diky memanggil Ibunya.


"Kamu sudah datang. Duduk sini, sudah waktunya penilaian."


Diky duduk di samping Bu Inggrid. Dia belum menyadari kalau salah satu peserta ada seseorang yang dikenalnya. Peserta pertama di panggil sesuai nomor urut pendaftaran.


Mereka mempersentasekan kue yang dibuatnya. Poin penting dalam penilaian tersebut adalah kandungan gizi dari setiap bahan dan juga hitungan kalori juga lemak yang terkandung di dalamnya.


Hampir semua orang menjelaskan keunggulan kue yang dibuat masing-masing. Namun, belum ada yang masuk dalam kriteria yang dicari. Bu Inggrid hampir putus asa karena belum ada yang cocok.


Hingga nama terakhir yang terpanggil yaitu Dinda Khairunnisa. Dinda maju ke depan dengan full senyum. Lalu, senyuman itu memudar ketika melihat Diky duduk di samping Ibunya.


Diky pun melihat ke depan dan betapa terkejutnya dia, ternyata Dinda melamar pekerjaan di toko roti milik Ibunya. Diky bermain mata dengan Dinda agar bersikap biasa. Dinda pun mengerti dan segera mempersentasekan cake yang dibuatnya.


Dinda sangat terampil dalam menjelaskan semua dengan detail. Hingga mampu membuat Bu Inggrid senang, karena ada salah satu yang terpilih dari semua calon peserta itu. Diky tersenyum senang melihat keahlian Dinda. Dia yakin kalau sang Ibu juga memilih Dinda sebagai pemenangnya.


Akhirnya kompetisi selesai. Para peserta akan mendapatkan info esok hari tentang siapa yang terpilih. Diky mengikuti Ibunya ke ruang kerja. Sebelum itu, dia meminta Dinda untuk menunggu sebentar.


"Tapi, aku tidak enak sama Ibumu. Apa tidak apa-apa?" tanya Dinda ragu.


"Sudah tidak apa-apa. Nanti, aku yang akan menjelaskan pada Mama. Oke!"


Setelah itu, Diky masuk ke dalam untuk membahas tentang siapa pemenang kompetisi tadi.


"Bagaimana, Ma? Sudah menentukan pilihan siapa yang menang?" tanya Diky pada Ibunya.


Bu Inggrid duduk dan berpikir. Dia menyakinkan hatinya kalau pilihannya tidak salah. "Mama memilih peserta terakhir. Dia sangat mahir dalam pemilihan bahan serta kandungan di dalamnya," ucap Bu Inggrid dengan sangat yakin.


"Oke, Diky setuju dengan pilihan Mama." Diky pun segera bersiap untuk pergi makan siang bersama Dinda.

__ADS_1


"Mau kemana kamu, Diky? Pakai cepat pergi segala," seru Bu Inggrid menghentikan langkah Diky.


"Aku ada janji makan siang dengan teman, Ma. Bye, aku duluan!"


"Diky kamu mau kemana? Diky ...!"


Diky pergi begitu saja tanpa menghiraukan panggilan Ibunya.


"Dasar, anak nakal. Awas saja nanti!"


Sesampainya di luar, Diky langsung menghampiri Dinda yang masih duduk,"Ayo kita pergi. Kamu pasti lapar kan."


"Kamu sudah izin dengan Ibumu?" tanya Dinda pada Diky.


"Sudah kamu tidak usah khawatir. Mamaku itu baik sekali. Lihat saja nanti kalau kamu sudah bekerja dengannya."


"Memang sudah ditentukan siapa pemenangnya?" sahut Dinda penasaran.


"Sudah lah, dan pemenangnya adalah kamu." Diky menjawab dengan senyum manis.


Dinda merasa tersipu dengan senyuman itu. Dia merasa tenang ketika di samping Diky. Mungkin karena sikap Diky yang ramah.


Dalam perjalanan menuju ke restoran. Diky dan Dinda berbincang dan juga bersenda gurau. Dinda sering tertawa karena sifat Diky yang humoris. Hanya ketika di luar lah, Dinda bisa tertawa lepas. Senyuman itu kembali menghilang ketika dia sedang sendirian.


Mobil Diky terhenti karena lampu merah. Tanpa sengaja, Dinda menoleh ke arah samping. Dia tampak terkejut dengan apa yang di lihatnya. Dinda melihat Indra sedang menyetir mobil dan berhenti tepat di samping mobilnya.


Tiba-tiba hatinya kembali sakit. Tubuhnya gemetar disertai keringat dingin yang mengucur. Namun sebelum Dinda memanggil, mobil Indra melaju duluan dan membuatnya tak bisa berkata-kata.


Diky heran dengan perubahan sikap Dinda. Dia menyadarkan wanita yang ada disampingnya itu, "Din, Dinda. Kamu tidak apa-apa kan?"


Dinda terkejut dan segera menoleh ke arah Diky dengan mata yang berkaca-kaca. "Maaf, tadi aku melamun," ucap Dinda beralasan.

__ADS_1


"Beneran, kamu tidak apa-apa?"


Dinda menggelengkan kepalanya lalu tersenyum dengan paksa. Setelah itu dia memalingkan mukanya lagi ke luar jendela.


__ADS_2