
"Din, aku tahu aku salah. Aku memang sudah membohongimu, tapi aku menyesal. Aku ingin memperbaiki semuanya, aku ingin memulai dari awal. Aku mohon maafkan aku!"
"Kenapa sebegitu mudahnya kamu meminta maaf, dimana rasa perikemanusiaanmu? Aku ingin pergi, minggir! Aku ingin pergi dengan anakku!" Dinda mendorong mundur Indra, setelah itu dia ingin menggendong bayinya. Namun, dengan cepat Indra mencegah itu. Dia mengambil Kenzo dan membawanya keluar kamar. Indra langsung mengunci pintu kamar itu agar Dinda tidak bisa keluar.
"Mas, buka pintunya. Aku ingin pergi dari sini. Mas buka pintunya! Mas buka!" Dinda terus berteriak sembari menggedor pintu dengan keras.
Indra langsung pergi dari kamar itu dengan membawa Kenzo. Mendengar keributan Bu Ningrum turun tangan. Dia menasehati Indra dengan kata-kata bijaknya.
"Indra, Mama tidak setuju kalau kamu memperlakukan Dinda seperti itu. Sikapmu bisa membuatnya takut bahkan semakin membencimu. Kamu harus pelan-pelan dalam menjelaskan semuanya, karena kesalahanmu sudah sangat fatal," ucap Bu Ningrum.
"Aku takut kalau Dinda akan kabur lagi, Ma! Aku tidak ingin itu terjadi," sahut Indra dengan sangat khawatir.
Bu Ningrum mengambil cucunya dari gendongan Indra. "Sini biar Kenzo, Mama yang gendong. Sebaik kamu menyiapkan diri untuk mengontrol emosimu ketika berbicara dengan Dinda. Kamu harus pelan-pelan menjelaskan agar hatinya tenang dan mau mendengarkanmu."
Bu Ningrum langsung pergi dari tempat itu menuju ke kamar cucunya. Sedangkan Indra merasa sedih dengan kebencian Dinda terhadapnya. Di dalam kamar, Dinda masih terisak. Dia hanya ingin keluar dari kamar itu dengan bayinya.
"Diky, aku harus meminta tolong padanya. Ya, aku harus meneleponnya," ucap Dinda gugup. Dia mengambil ponselnya dan segera menghubungi Diky.
Tak lama kemudian, Diky mengangkat panggilan itu. Dinda langsung meminta tolong padanya. "Diky, tolong. Aku tidak bisa kabur dari sini. Aku mohon tolong aku agar bisa keluar dari tempat ini!"
[Dinda, kamu tidak apa-apa kan? Baiklah aku akan segera ke ... ]
Tiba-tiba Indra masuk dan mengambil handphone Dinda. "Kamu tidak usah ke sini. Dinda adalah istriku, aku berhak atas dirinya," ucap Indra menyambung panggilan itu.
__ADS_1
Indra langsung mematikan ponsel itu. Dinda pun marah karena Indra dengan seenaknya merebut ponselnya.
"Apa yang kamu lakukan?" seru Dinda dengan wajah penuh amarah.
Indra langsung meraih tubuh Dinda dan memeluknya erat. "Maafkan aku! Aku mohon sama kamu jangan pergi lagi, Din. Aku ingin kita mengulang semua dari awal. Kita besarkan Kenzo bersama, dia butuh kamu Din. Sangat membutuhkanmu," ucap Indra dengan meneteskan air mata.
Dinda mendorong tubuh Indra dengan sekuat tenaga. Namun, Indra justru memepererat pelukannya. "Aku tidak akan melepaskanmu. Meski kamu sangat ingin pergi, aku tidak akan pernah melepasmu," ucap Indra dengan sungguh-sungguh.
"Lepaskan pelukanmu ini," ucap Dinda lirih.
"Aku tidak mau melepaskanmu."
Dinda menarik nafas dalam. Air matanya tak berhenti menetes. "Baiklah aku mendengar penjelasanmu. Jelaskan lah semuanya, karena aku tidak mau kamu di sini terlalu lama," ucap Dinda. Dia mendorong tubuh Indra sekali lagi hingga pelukannya itu terlepas. Dinda kembali duduk di pinggiran ranjang. Indra pun langsung mengikutinya.
Pelan-pelan, Indra mulai menjelaskan semua kesalahannya terhadap Dinda. "Mungkin kesalahanku ini terlalu fatal, Din. Maafkan aku, telah membohongimu. Aku salah, aku bersalah padamu. Aku menyesal Dinda, semoga kamu bisa memaafkan aku. Kita memulai semua dari awal. Kenzo membutuhkanmu dan aku juga membutuhkanmu. Dinda aku ...."
"Menurutmu sikap yang seperti itu bisakah untuk dimaafkan? Apa kamu tidak membayangkan, jika saja kamu menjadi aku? Aku ingin tahu apa yang kamu lakukan?"
Indra menundukkan kepalanya. Dia mencerna semua ucapan Dinda.
"Kenapa diam? Apakah semua ucapanku tadi salah? lebih baik sekarang kamu serahkan Kenzo kepadaku, aku bisa merawatnya sendiri sekalipun tanpa kamu. Kamu yang menyebabkan kehancuran ini, jadi kamu harus menanggung semuanya, bukan aku yang harus menanggung karena penderitaan itu. Aku hanya ingin Kenzo, berikan dia padaku," ucap Dinda memaksa.
"Aku ingin kita merawatnya bersama. Aku tidak ingin putraku berpisah dari ayah maupun ibunya. Kalau kamu menginginkan Kenzo, kamu harus tetap bertahan di sini sebagai istriku. Kalau kamu tidak ingin maka aku akan memaksamu dan menahanmu untuk tetap tinggal di sini. Pikirkan itu baik-baik. Aku keluar, pintu juga tidak akan aku kunci. Tapi kamu jangan mencoba untuk kabur dari sini."
__ADS_1
Indra keluar dari kamar meninggalkan Dinda sendiri. Dinda terdiam tak bisa berkata-kata lagi, karena dia dihadapkan pada dua pilihan yang menurutnya sangat berat untuk dipilih.
"Aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan? Kenapa aku tidak bisa memilih? apa memang sudah menjadi takdirku?" ucap Dinda pelan.
Indra keluar kamar dengan pikiran yang frustasi. Dia bingung harus menjelaskan seperti apa kepada Dinda, karena dia juga menyadari kesalahannya sangat fatal. Indra masuk ke dalam kamarnya, kepalanya sangat pusing.
Tak lama kemudian, Bu Ningrum masuk ke dalam kamar anaknya. "Bagaimana? Apa penjelasanmu sudah diterima oleh Dinda?" tanya Bu Ningrum.
Indra menggelengkan kepalanya. "Belum Ma, dia tidak mau mendengarkan penjelasanku. Aku bingung harus bagaimana?"
"Biar Mama yang mengatasi masalah ini. Kamu cukup bersikap baik pada Dinda, tunjukkan kalau kamu bisa berubah. Perbaiki kesalahanmu dan ambil hatinya lagi mungkin akan sulit bagimu karena Dinda sudah terlanjur sakit hati dan memang pada kenyataannya sikapmu itu sangat fatal."
"Kamu beristirahatlah dinginkan pikiranmu dan renungi semua kesalahanmu. Kamu harus bijak dalam masalah ini Indra," sambung Bu Ningrum.
Setelah itu Bu Ningrum keluar dari kamar Indra. Dia ingin menuju ke kamar Dinda untuk menjelaskan semuanya. Sesampainya di sana Bu Ningrum melihat Dinda sedang melamun di atas kasur. Pandangannya kosong mengarah ke jendela.
"Dinda, apa Tante boleh masuk ke dalam?" tanya Bu Ningrum di depan pintu.
Dinda menoleh, lalu dia memalingkan lagi wajahnya ke arah jendela tanpa menjawab pertanyaan itu. Bu Ningrum tetap masuk ke dalam. Dia duduk di samping Dinda.
"Dinda apa kamu ingin melihat Kenzo? Kalau kamu ingin melihatnya Tante bisa aja kamu ke kamarnya. Dia sedang tidur sekarang," ucap Bu Ningrum.
Dinda mengangguk. "Jangan pisahkan aku lagi dari Kenzo, Tante. Aku tidak bisa berpisah darinya, Aku ingin memberinya kasih sayang," ucap Dinda lirih.
__ADS_1
"Tidak ada yang bisa memisahkanmu dari Kenzo. Dia adalah milikmu, Kenzo juga cucu dari keluarga Laksmana. Ayo sekarang kita menuju ke kamar Kenzo, sekalian tanpa menjelaskan semua masalah yang kamu hadapi sekarang ini. Semoga bisa menemukan titik terang."
Dinda turun dari kasur Dia berjalan mengikuti Bu Ningrum menuju ke kamar Kenzo.