Rahim Yang Terbuang

Rahim Yang Terbuang
RYT 28


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, kondisi Dinda berangsur pulih. Dia masih menjalani perawatan di rumah sakit, karena memang Indra membayar seluruh tagihannya selama satu minggu. Setiap hari Dinda terus menahan rasa sakit di hatinya. Hingga tak lagi bisa mengeluarkan air mata.


"Mbak waktunya makan siang," ucap Suster yang masuk membawa troli makanan.


Dinda tetap diam tak bergerak, dia selalu bungkam dan tak berbicara sejak dia sadar pasca operasi. Bahkan suster tak bisa berbuat banyak karena Dinda susah sekali dibujuk. Ketika duduk kepalanya selalu menunduk dan ketika berbaring pandangannya lurus melihat langit-langit.


"Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Mbak. Akan tetapi demi kesehatan tetap saja Mbak harus makan. Sudah dua hari perut Mbak tidak terisi apa-apa," kata Suster yang prihatin dengan kondisi Dinda.


"Taruh saja di situ Sus, nanti akan aku makan," jawab Dinda tanpa menoleh ke arah Suster itu.


Suster itu pun pergi setelah meletakkan kotak makan di meja. Dinda menoleh ke arah kotak tersebut dan mengambilnya. Dia membuka kotak makanan itu dan mencoba untuk memakannya.


Dinda menyendok nasi beserta sayur itu. Tiba-tiba saja air matanya berkumpul kembali di pelupuk mata. Dia terisak dengan menutup wajahnya. Dinda mengingat nasib buruk yang dialaminya ini.


Setelah air matanya keluar, Dinda memasukkan nasi itu ke dalam mulutnya. Dia menguyah makanan dengan susah payah. Dinda kesulitan untuk menelan karena merasakan dadanya yang sangat sesak.


"Mas, kembalikan anakku! Apa salahku hingga kamu setega itu Mas?" ucap Dinda dalam tangis.


Setelah makan beberapa sendok. Dinda meluruskan pandangannya kembali. Ada banyak kebencian disorot matanya. "Aku tidak boleh seperti ini aku harus kuat, aku tidak boleh lemah. Ya, aku harus ke Jakarta mencari anakku. Aku tidak boleh tinggal diam disini," seru Dinda dengan tiba-tiba, kemudian dia memakan semua isi makanan itu.


Selesai makan, Dinda mencoba untuk turun dari kasur dan pergi ke toilet. Dia turun dengan pelan sekali sembari membawa infus di tangannya. Ada rasa nyeri di bagian perutnya yang harus dia tahan. Beberapa saat kemudian, Dinda keluar dari dalam toilet. Dia berjalan kembali menuju ke ranjang.


Dua jam berlalu, Dokter masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa keadaan Dinda. "Ibu, waktunya periksa ya!" ucap Dokter kepada Dinda.


Dinda menoleh ke arah dokter yang masuk. Setelah itu dokter melakukan tugasnya. Dokter itu mengecek tekanan darah dan juga yang lainnya.


"Kondisi anda sudah berangsur baik. Menurut catatan besok anda sudah bisa pulang," ucap Dokter sembari menulis catatan.


"Terima kasih Dokter, setelah keluar saya ingin mencari bayi saya yang sudah dibawa kabur oleh suami saya sendiri," sahut Dinda dengan suara lirih.


Dokter menghela nafas panjang, "Ibu yang tabah ya, karena ini masalah pribadi jadi saya tidak bisa ikut campur. Kalau begitu saya permisi dulu. Selamat beristirahat."


Dokter pun pergi dari ruangan Dinda. Sepertinya dia tahu sesuatu, akan tetapi sengaja untuk menyembunyikannya. Dinda hanya bisa membatin dalam hati saja kalau semua orang sedang jahat kepadanya.


"Meski kalian menyembunyikan semua dariku. Aku akan berusaha untuk mendapatkannya lagi," ucap Dinda pelan.



Di tempat lain.

__ADS_1



Laura sedang bersantai di dalam kamarnya. Sudah dua hari dia pulang dari rumah sakit. Dia juga memaksakan kehendak untuk berpisah dengan bayi yang diakuinya. Sehingga membuat Bu Ningrum geram dan kesal.



"Hem, akhirnya aku bisa memakai kembali baju-bajuku setelah beberapa bulan. Memang orang hamil itu ribet sekali. Tidak boleh ini tidak boleh itu. Harus ini harus itu. Bikin orang kesel saja. Apalagi mempunyai mertua yang cerewet, Hem! Membuat kepalaku ini pusing sekali."



Laura menggerutu di kamarnya sendiri. Setiap hari dia dibuat kesal oleh aturan ibu mertuanya.



"Biarlah, bayi itu ada disana. Enak saja menyuruh aku untuk mengurusnya. Apalagi anak wanita itu, membayangkan saja sudah membuatku enek."



Laura masih berdiri di depan cermin. Dia mencoba semua baju yang dibelinya saat hamil.




Laura mencoba menghubungi selingkuhannya. "Halo Roy, kamu lagi ngapain Sayang? Kalau ada waktu datang ke rumah ya! Aku kangen, cepetan kamu kesini!"



\[Sayang, kamu serius? Nanti kalau kita ketahuan gimana? Terus suamimu, apa dia sedang ke luar kota?\]



"Sudah kamu tidak usah khawatir, mereka semua tidak akan berada di rumah ini untuk sementara waktu. Kamu cepat ke sini ya, aku tunggu!"



\[Oke, aku akan kesana Sayang. Tunggu ya! Persiapkan dirimu karena aku akan membuatmu berteriak memohon ampun.\]


__ADS_1


"Oke, aku akan bersiap Roy!" Laura mematikan sambungan teleponnya. Dia segera bersiap untuk menyambut kedatangan sang kekasih.



"Gantengnya cucunya Oma. Rasanya sudah tidak sabar, Oma ingin menggendong mu Sayang. Lihat wajahmu mirip sama Papa mu waktu bayi." Bu Ningrum masih setia menemani sang cucu di rumah sakit.


Dokter belum mengizinkan untuk pulang. Menurut medis harus tinggal dulu selama 2 minggu.


"Heran aku dengan kelakuan Laura. Masa iya, mempunyai anak tapi tidak ada rasa sayang sedikitpun. Kasihan Indra mempunyai istri yang tidak berbakti sama sekali," gerutu Bu Ningrum di depan ruangan inkubator.


"Terus aku perhatikan, sepertinya Laura tidak kesakitan atau lemas gitu pasca operasi. Ah! masa bodoh, yang paling penting sekarang aku mempunyai cucu yang sangat lucu dan tampan."


Bu Ningrum terus mengabaikan kejanggalan yang dirasakannya. Dia masih terlalu fokus dan senang dengan kelahiran cucu pertamanya itu.


"Mama," ucap Indra memanggil Ibunya.


Bu Ningrum menoleh, "Indra kamu tidak ke kantor?"


"Aku kesini mampir Ma. Bagaimana keadaan Kenzo?" tanya Indra.


"Anak kamu begitu cepat beradaptasi, jadi kesehatannya mulai membaik. Kata dokter minggu depan sudah bisa pulang."


"Oh ya, istri kamu bagaimana? Apa dia setuju dengan keinginan Mama?" tanya Bu Ningrum dengan raut wajah kesal.


"Tidak usah membahas lagi Ma. Dia pasti akan kukuh dengan keputusannya," jawab Indra lemas.


"Mama itu tidak habis pikir, Ndra. Andaikan kamu dulu mendengarkan nasihat Mama. Mama sangat yakin kalau sekarang kamu pasti sudah hidup bahagia. Mama lihat kamu itu semakin tertekan dengan kehidupan rumah tanggamu," keluh Bu Ningrum pada Indra yang sedang bingung.


"Entahlah Ma. Aku memang sangat bingung sekarang. Aku tidak tahu harus berbuat apa Ma."


"Kamu harus tetap menjalani apa yang ada dalam hatimu, Ndra. Mama hanya bisa mendoakan saja yang terbaik buatmu. Soal Laura, Mama tidak bisa ikut campur. Semua keputusan dan kuasa ada di tanganmu. Jadi apapun itu Mama hanya bisa menerima, dan tugas Mama menasehati juga mengarahkan jika kamu melakukan suatu kesalahan."


Bu Ningrum tetap memberikan arahan yang baik pada anaknya. Dia tidak menyukai Laura, akan tetapi Bu Ningrum selalu memberikan arahan positif. Ya, meski terkadang ada kata yang bersifat keceplosan.


"Ya sudah Ma, aku ke kantor dulu. Titip Kenzo ya Ma."


"Iya Mama akan selau ada disini. Ya sudah kamu hati-hati ya!"


Indra pamit pergi ke kantor. Tak ada rasa semangat di hari-harinya sejak dia memutuskan untuk pergi meninggalkan Dinda.

__ADS_1


__ADS_2