Rahim Yang Terbuang

Rahim Yang Terbuang
RYT 32


__ADS_3

Indra meletakkan kembali anaknya yang sudah tenang dan tertidur. Sudah sering terjadi, Kenzo menangis seperti itu. Hanya Indra yang mampu menenangkan bayinya sendiri.


"Sudah tenang Ma, aku kembali ke kantor dulu ya. Soalnya setengah jam lagi ada meeting klien," ucap Indra pada Ibunya.


"Iya, hati-hati di jalan." Bu Ningrum prihatin melihat nasib anaknya. Dia melihat itu karena tubuh Indra yang kelihatan kurus.


Di perjalanan kembali ke kantor, Indra terjebak macet. "Sepertinya aku akan telat untuk pertemuan ini, " gumam Indra pelan. Dia sangat tidak suka kemacetan karena menunggu adalah hal yang paling membosankan.


Sembari memperhatikan suasana sekitar, matanya tak sengaja menangkap sosok bayangan yang di kenalnya. Indra mencoba mencari siapa orang itu. Namun, ia sudah masuk ke dalam mobil.


"Apa aku salah lihat ya? Seperti Laura tapi dia kan hari ini ada pemotretan. Ahh, mana mungkin aku yakin dia ada dirumah sekarang," ucap Indra meragukan.


Setelah itu perjalanan lancar kembali. Indra tak begitu memikirkan dengan apa yang dilihatnya. Sejak Kenzo dirawat oleh neneknya, Indra memilih untuk tinggal bersama sang anak. Kondisi yang seperti itu membuat Laura bebas dengan semua aktivitasnya.



"Hahaha, Sayang Indra tidak akan tahu dengan hubungan kita karena dia itu sangatlah sibuk. Bagaimana tidak? pagi dan sore dia ke kantor. Terus malam hari harus mengurus bayinya yang selalu rewel. Jadi tenang saja aku jamin dia tidak ada waktu untuk memikirkan aku," ucap Laura di dalam mobil.



"Kalau begitu kita jujur saja sama suamimu itu. Biar dia cepat menceraikanmu Sayang. Aku sudah tidak sabar ingin menikahimu. Apa yang kamu tunggu? bukankah kamu sudah mendapatkan semuanya," sahut Roy sembari fokus menyetir.



Laura tergelak dan menjawab lagi ucapan kekasihnya,"Roy, sepertinya lebih seru kalau Indra tahu sendiri. Aku ingin tahu bagaimana kesedihannya melihat istri yang dicintainya selama ini telah berkhianat."



"Cih, dasar kamu wanita gila," umpat Roy dia heran dengan kenekatan Laura.



"Hei, not me Roy! Lebih tepatnya kita. Hahaha." Laura tergelak sepanjang jalan bersama kekasihnya. Dia benar-benar sudah bosan menjadi istri dari seorang Indra.

__ADS_1



Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan menuju ke lokasi pemotretan. Laura terus menekuni pekerjaannya itu karena dia sangat menyukai bidang tersebut.



"Terima kasih atas tumpangan dan bantuan Pak Diky. Saya tidak tahu harus melakukan apa jika tidak ada anda," ucap Dinda pada lelaki yang ada di sampingnya.


"Sama-sama tapi jangan panggil aku Pak, karena aku belum menikah dan juga masih muda. Kamu panggil aku Diky saja ya," sahut Diky dengan meminum kopinya.


"Iya Diky." Dinda tersenyum manis pada lelaki itu. Ada cahaya yang menerobos ke dalam hatinya.


Dinda pun mengalihkan pembicaraan. Dia penasaran dengan kejadian tadi malam. "Maaf, kalau boleh tahu kamu kemarin mabuk karena apa? Kemarin kamu menyebutkan nama Ayuna, siapa dia? Pacar?"


"Kamu pengen tahu masalah pribadi ku?" tanya Diky dengan mendekatkan kepalanya di hadapan Dinda.


Hal itu membuat Dinda menjadi salah tingkah. Secara tidak sadar, Dinda terlihat seperti orang penasaran. "Maaf, aku refleks sekali. Maaf, anggap saja aku tidak bertanya apapun tadi," ucap Dinda gugup dia benar-benar sangat malu.


Dinda tersenyum getir mendengar cerita Diky. Lalu, dia teringat dengan kisah percintaannya yang berujung menyakitkan. Air matanya berkumpul setiap kali Dinda mengingat nasib buruknya itu.


"Dinda. Din, kamu tidak apa-apa? Kok bengong." Diky membuyarkan lamunan Dinda.


"Oh, tidak apa-apa. Ceritamu sangat menyedihkan sekali. Aku yakin wanita itu pasti akan menyesal suatu hari nanti," sahut Dinda dengan dada yang sesak.


"Iya sangat sedih awalnya. Akan tetapi setelah bertemu denganmu sedih itu sudah hilang."


"Ha, maksudnya?" tanya Dinda tak mengerti.


"Tidak apa-apa! Kamu sudah kenyang belum? Kalau sudah kita pergi sekarang, aku akan mengantarmu mencari kontrakan. Soalnya masih cukup jauh dari sini," ucap Diky terus memandang wajah cantik itu.


Dinda memfokuskan pandangannya lagi."Sudah cukup. Ayo kita berangkat sekarang. Sekali lagi terima kasih, aku berhutang budi padamu," ucap Dinda dengan selalu menampilkan senyumnya.


Setelah itu mereka berdua keluar dari restoran. Diky mengantarkan gadis yang menolongnya itu ke tempat tujuan. Dia bermaksud mencari kontrakan yang berada di sekitar perumahannya. Entah maksud apa yang ada dalam pikirannya.

__ADS_1


Setengah jam kemudian, Diky telah sampai di kawasan rumah padat penduduk. Dia memberhentikan mobilnya di depan gang, karena sulitnya jalan masuk untuk mobil.


"Hanya tempat ini yang terjangkau Din. Bagaimana?" tanya Diky sembari menengok ke sekitar.


"Tidak apa-apa, harus terjangkau harganya sampai aku mendapatkan pekerjaan," jawab Dinda dengan muka sedih.


"Disini tempatnya sangat strategis. Dekat dengan area perkantoran, toko, dan juga swalayan. Jadi kamu bisa mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidangmu." Diky terus menyemangati Dinda. Dia tahu kalau gadis itu sedang dilanda kesulitan karena dari sorot matanya sudah menandakan kesedihan.


Diky dan Dinda pun turun dari mobil. Mereka mencari rumah pemilik kontrakan. Setelah sampai, Dinda langsung bertanya pada pemilik kontrakan berapa sewa termurah untuk satu bulan.


"Maaf, kalau boleh tahu kalian pasangan?" tanya ibu pemilik kontrakan.


Dinda menoleh ke arah Diky dan menjawab, "Bukan Bu, kami berdua hanya teman."


"Ada dua kontrakan saya yang masih kosong. Satu agak besar dengar uang sewa 1juta per bulan dan yang agak kecil 800 ribu perbulan. Kamu tinggal pilih yang mana," ucap pemilik kontrakan itu.


"Saya pilih yang sebulan 800 ribu saja Bu, karena saya masih belum mempunyai pekerjaan tetap. Nanti saja kalau yang lebih besar."


"Baiklah, kalau begitu mari ikuti saya."


Dinda dan Diky mengikuti ibu pemilik kontrakan itu. Tempatnya tidak jauh, hanya beberapa langkah saja sudah sampai.


"Ini kuncinya, semoga betah ya! Kalau begitu saya tinggal dulu. Kalau butuh pertolongan bisa panggil saya."


"Iya Bu terima kasih, atas kebaikannya," ucap Dinda pada ibu pemilik kontrakan yang beranjak pergi.


Diky kasihan dengan Dinda. Dia ingin menawarkan bantuan. Akan tetapi dia berpikir kalau bantuan itu pasti akan ditolak langsung oleh Dinda.


"Kecil sekali Din. Apa kamu bisa nyaman tinggal disini?" tanya Diky melihat kondisi kontrakan baru Dinda.


"Ini cukup kok, kosan aku di Bandung lebih kecil lagi. Tapi aku betah sampai bertahun-tahun. Aku sudah biasa hidup sederhana seperti ini," jawab Dinda mencoba kuat.


"Oke, aku tahu jika kamu wanita yang kuat." Setelah itu, Dinda masuk ke dalam kontrakan bersama dengan Diky.

__ADS_1


__ADS_2