Rahim Yang Terbuang

Rahim Yang Terbuang
RYT 18


__ADS_3

"Mas, kok bengong sih? Sudah belum telurnya?" tanya Dinda membuyarkan lamunan suaminya.


"Eh, iya ini belum tercampur semua," jawab Indra gugup.


"Sini biar aku yang mengocoknya Mas. Kalau kamu mau bekerja lagi, tinggal saja tidak apa-apa kok. Aku sanggup membuatnya sendiri Mas," sahut Dinda dengan penuh semangat.


"Ya sudah, aku tinggal dulu ya. Nanti, kalau butuh apa panggil aku saja."


Dinda menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Indra kembali ke kamar untuk melanjutkan pekerjaannya. Hingga sore hari tiba, Dinda telah selesai dengan semua kue yang dibuatnya.


Kue kering yang telah di keluarkan dari dalam oven, dia tata rapi di nampan. Kegiatannya hari ini membuatnya sangat lelah. Indra juga keluar dari kamarnya, pekerjaannya telah selesai.


"Din, kamu kenapa? Ya Tuhan, keringat mu sampai seperti ini. Apa kamu pusing? Atau mual?" tanya Indra khawatir. Dia melihat istrinya termenung di meja makan dengan keringat dingin mengucur di wajahnya.


"Aku sedikit kecapekan Mas, membuat badanku gemetar."


"Kamu sih maksa banget hari ini. Mana kue buatanmu banyak sekali! Sudah ya, lebih baik sekarang kamu masuk kamar istirahat sebentar. Nanti, kalau sudah enakan baru mandi. Biar aku yang membersihkan dapur," ucap Indra dengan memapah istrinya masuk ke dalam kamar.


Dinda hanya menurut saja ketika, Indra membawanya ke dalam kamar. Dia tak dapat berbuat apa-apa ketika tubuhnya terasa lemah. Indra membantu istrinya untuk rebahan di atas kasur.


"Terima kasih Mas. Boleh minta tolong?"


"Apa?" tanya Indra.


"Itu Mas, minta tolong kue yang sudah dingin masukin dalam toples ya. Nanti kedua toples itu bawa ke Jakarta. Terus sisanya taruh di toples yang kecil," jawab Dinda dengan raut wajah melas.


Indra tersenyum melihat kepolosan istrinya, "Iya aku akan bereskan semuanya. Terima kasih sudah perhatian sama Mama."


"Aku juga senang Mas, semoga Mama suka dengan kue buatanmu," ucap Dinda lirih dan penuh harap.


"Pasti suka karena Mama juga pecinta kue dan cemilan."


"Sudah istirahat lah, aku keluar dulu," ucap Indra sembari mengelus rambut istrinya. Setelah itu dia keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Indra berjalan menuju ke dapur. Dia membereskan semua peralatan yang kotor. Padahal di Jakarta dia sama sekali tidak pernah melakukan pekerjaan dapur. Dia jarang sekali memasak ataupun makan bersama dengan Laura.


Hari-harinya selalu dia gunakan di luar. Pulang ke rumah hanya untuk beristirahat bahkan di waktu hari libur pun dia jarang berpergian. Laura selalu sibuk dengan sendirinya, dan tidak pernah memperdulikannya. Meskipun begitu, Indra tetap setia dengan cinta palsu Laura. Sehingga dia mau menjadi boneka untuk istrinya sendiri.


"Banyak sekali kuenya. Aku harus bilang apa ya ke Mama nanti. Jadi kasihan sama Dinda." Indra membereskan baskom dengan menghela nafas berat.


"Selama menikah baru kali ini aku merasakan rasanya hidup berumah tangga. Ada rasa tenang dalam hati ini. Dinda termasuk tipe istri idaman. Cantik, lemah lembut, perhatian, dan penurut sekali. Sangat beda jauh dengan Laura. Seandainya Laura bisa seperti Dinda, tentu hidupku akan bahagia sekali," ucap Indra pelan. Dia sudah mulai bimbang dengan perasannya.


Indra membersihkan dan mencuci semua barang yang kotor. Dia juga menaruh semua kue yang sudah dingin ke dalam toples. "Enak sekali kue buatan Dinda, pasti Mama akan suka. Dinda itu juga tipe menantu yang diimpikan Mama. Tapi kali ini aku rela membohongi orang tuaku sendiri. Ya Tuhan, kenapa aku tidak bisa tegas pada Laura. Aku sayang padanya tapi aku juga mulai cinta dengan Dinda," ucap Indra. Dia terus bermonolog dalam hati.


Setelah satu jam lamanya, Indra telah selesai membersihkan dapur yang kotor. Lalu, dia berniat untuk membangunkan Dinda untuk mandi karena hari sudah mulai sore.


Indra berjalan masuk ke dalam kamar. Dia membangunkan Dinda dengan suara pelan, "Din, bangun! Sudah hampir jam lima. Saatnya mandi, cepat bangun nanti keburu malam."


Dinda pun terbangun, dia mengerjapkan kedua matanya sembari menggeliatkan badan. Akan tetapi, hal itu membuat kakinya kram. "Aduh, Mas kaki aku kram. Aduh! Mas," seru Dinda dengan memegang kakinya.


"Mana yang kram, kamu sih menggeliatkan badan sampai segitunya. Aku bantu turunkan kakimu ya. Nanti kamu pelan-pelan berdiri di lantai. Ayo aku bantu bangun!" Indra membantu Dinda untuk meredakan kram di kakinya.


Akhirnya Dinda berdiri dengan pelan. Indra memapah dan memeluknya dengan hati-hati. Setelah menunggu beberapa menit, kram pun hilang dan kembali normal. Dinda melepaskan tangan suaminya.


"Iya, jangan pakai piyama ya Din. Soalnya aku mau ajakin kamu makan malam di luar."


"Iya Mas," jawab Dinda dengan tersenyum manis.


Lima belas menit kemudian, Dinda selesai mandi. Lalu dia menyuruh suaminya untuk cepat mandi. "Mas aku sudah selesai, sekarang giliran kamu yang mandi," seru Dinda dengan memegang ujung handuknya.


Indra meletakkan ponselnya. Dia turun dari kasur dan menarik tangan Dinda lalu memeluknya. "Ingat kamu masih mempunyai janji untuk nanti malam," bisik Indra ke telinga istrinya.


"Iya Mas, aku masih ingat kok. Meski aku capek, tetap akan berusaha memenuhi kewajiban itu jika kamu memintanya."


Indra mengecup pipi istrinya, "Istri yang baik." Indra pun melenggang pergi menuju ke kamar mandi.


Dinda merasa bahagia melihat sikap lembut Indra. Sejenak dia dapat melupakan keraguan dalam hatinya. Tak mau menunda lagi, Dinda segera berganti baju lalu bersiap-siap.

__ADS_1


Satu jam kemudian.


"Din, ayo kita berangkat!"


"Iya Mas, sebentar aku mencari kardigan ku."


Beberapa saat kemudian, Dinda keluar dengan mengenakan kardigan tipis untuk menutupi bajunya yang tanpa lengan.


"Ayo berangkat!"


Indra menggandeng tangan istrinya keluar dari rumah. Sesampainya di mobil, mereka memasang seatbeltnya masing-masing. Indra pun melajukan kendaraannya dengan pelan menuju ke sebuah restoran.


Dua puluh menit kemudian, Indra sampai di sebuah restoran. Dia sengaja memilih restoran terdekat karena menghemat waktu. Mereka keluar dari mobil dan masuk ke dalam restoran yang suasananya lumayan ramai.


"Kita makan di sini Mas?" tanya Dinda.


"Iya memang kenapa?"


"Dengar dari orang-orang restoran ini makanannya mahal Mas."


"Memang kenapa kalau mahal. Aku sanggup membayarnya. Sudah kita duduk sebelah sana saja," ajak Indra menuju ke kursi yang masih kosong.


Dinda hanya menurut saja karena Indra selalu menggenggam tangannya. Setelah duduk, Indra memesan beberapa makanan favoritnya dan juga kesukaan Dinda.


Sembari menunggu, Indra mengobrol dan juga bercanda dengan istrinya. Dia mencoba melupakan tentang semua ambisi yang sedang dijalankannya. Tiba-tiba dia menggenggam tangan Dinda dan menciumnya dengan lembut.


"Din, aku bahagia sekali menikah denganmu. Beruntung sekali aku mendapatkan mu. Tapi ada satu rahasia yang belum bisa aku katakan padamu. Namun, kamu jangan khawatir. Aku akan memperjuangkan semuanya agar kita bisa bersama. Aku mencintaimu."


Dinda menatap dalam wajah suaminya. Hatinya semakin gundah ketika Indra mengucap ada sebuah rahasia dalam pernikahannya. Namun, keraguan itu sedikit memudar ketika Indra mengatakan kalimat cinta.


"Mas, aku juga mencintaimu. Tapi, sangat di sayangkan. Pernikahan kita ini masih ada sebuah rahasia yang menghalangi. Aku tidak tahu rahasia itu. Aku hanya berharap, semoga rahasia yang kamu simpan tidak menyakiti hatiku suatu hari nanti. Jujur aku masih takut jika mimpiku itu ...."


"Ssssst! Jangan teruskan! Jangan ingat-ingat lagi mimpi itu. Intinya tunggu aku dan jangan pergi. Tunggu aku pasti akan menjemputmu. Aku akan membawamu ke Jakarta."

__ADS_1


Dinda tersenyum tipis. Dia tak bisa berbuat apa-apa. "Semoga kamu menepati janjimu Mas. Jangan hancurkan kepercayaan ku padamu," gumam Dinda dalam hati.


Tak lama kemudian, makanan pun datang. Pelayan meletakkan semua hidangan di atas meja. Setelah itu, Indra dan Dinda makan malam dengan tenang tanpa obrolan.


__ADS_2