Rahim Yang Terbuang

Rahim Yang Terbuang
RYT 30


__ADS_3

Sebulan berlalu, Dinda semakin terbiasa dengan kesendiriannya. Sembari memulihkan badan, dia berusaha untuk mendapatkan pemasukan. Dia berjualan on line di kosnya. Dinda membuat kue kering dan cake dengan peralatan seadanya.


"Penghasilan 2 minggu lumayan juga. Besok Mama akan menyusul mu, Nak! Tunggu Mama," gumam Dinda sembari menghitung uang hasil jualannya.


Dinda tetap berusaha untuk tegar dalam menata hatinya. Dia tidak mau terlihat lemah di mata orang lain. Seperti saat ini, dia berkegiatan secara normal tanpa orang tahu dibalik semua itu ada satu kejadian yang besar.


Hari ini Dinda sibuk menata semua barang bawaan yang akan dia bawa ke Jakarta. Uang dan baju sudah tertata rapi. Hanya dengan bermodal selembar kertas yang bertuliskan sebuah alamat, dia akan berangkat.


"Meski aku belum tahu, seluk beluk kota Jakarta. Tapi, aku yakin bisa menemukanmu Nak! Mama akan berusaha apapun yang terjadi," gumam Dinda pelan. Setelah itu dia bersiap untuk tidur.


Keesokan harinya.


Dinda bangun pagi-pagi sekali. Dia harus bersiap ke terminal untuk menaiki bis tujuan Jakarta. Setelah bersiap dia keluar dengan menaiki taksi. Kurang lebih satu jam dia telah sampai di terminal.


Bis arah Jakarta sudah mangkal di terminal itu. Dinda masuk dan mencari tempat duduk yang nyaman. Lima belas menit menunggu, bis akhirnya jalan juga. Dinda duduk bersebelahan dengan dua orang lelaki yang gerak-geriknya sangat mencurigakan.


Perjalanan menuju ke Jakarta di tempuh kurang lebih 4 jam. Pasca operasi yang dialaminya satu bulan lalu memberikan pengaruh besar pada stamina tubuhnya. Dinda lebih mudah capek dan rasa nyeri di bagian perut sering kali terasa.


Kini Dinda tertidur dengan merangkul tasnya. Dia tertidur lelap hingga tiba di terminal Jakarta. Semua penumpang turun namun tidak untuk Dinda. Dia masih tertidur hingga kondektur membangunkannya, "Mbak bangun, sudah sampai tujuan."


Dinda terkejut dan akhirnya terbangun."Terima kasih Pak! Sudah dibangunkan," ucap Dinda dengan suara lemas.


Dia turun dari bis dan kondisi sekitar terminal sangat ramai sekali. Dinda berjalan menengok ke sekelilingnya. Lalu, dia memutuskan untuk membeli minuman karena sangat haus.


"Bu ada air mineral? Boleh kasih saya satu!"


"Berapa Bu?" tanya Dinda pada penjual itu.


"Lima belas ribu Mbak," jawab si Penjual.

__ADS_1


Dinda mengambil dompet di dalam tasnya. Lama mencari dia tidak menemukan dompet itu. Dinda pun panik, hingga ibu penjual itu bertanya," Ada apa Mbak?"


"Maaf Bu, saya tidak jadi beli. Dompet saya hilang," jawab Dinda sedih.


"Walah, Mbak baru datang ke sini ya! Lain kali hati-hati Mbak karena disini rawan pencopet," sahut ibu penjual itu.


"Ya, Bu. Saya permisi dulu." Dinda pun pergi dengan keadaan bingung. Semua utangnya ada di dalam dompet itu. Bahkan alamat kantor Indra juga hilang.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku harus kemana? Semua uang dan alamat itu ada di dalam dompet," gumam Dinda pelan.


"Tuhan, banyak sekali ujian uang engkau berikan. Selalu berikanlah aku kekuatan untuk menjalani semua ini," lirih Dinda dalam hati.


Setelah itu, Dinda berjalan tanpa arah tujuan. Dia hanya mengikuti kemana arah kakinya melangkah. Perutnya terasa lapar sekali, akan tetapi dia tak mempunyai uang untuk membeli makanan.


"Apa aku harus jual handphone ini? Untuk membeli makanan dan menyewa kontrakan. Ya, aku harus menjual ini." Dinda melangkahkan kakinya, mencari sebuah konter HP untuk menjual ponsel miliknya.


Pemilik konter itu pun mengecek kondisi ponsel Dinda. Setelah di cek, pemilik konter itu pun begitu menawarkan harga, "Dua juta, Neng. Bagaimana?"


"Apa tidak bisa lebih dikit Mas?" ucap Dinda menawar.


"Maaf Neng tidak bisa. Ini sudah menurut harga pasar soalnya," jawab Pemilik konter.


"Ya sudah Mas kalau begitu." Dinda pun menyetujui dengan berat hati. Ponsel yang di belinya tahun lalu itu tidak laku tinggi.


"Ini Mbak uangnya. Di hitung dulu."


Dinda menghitung uang hasil penjualan handphone, "Genap Mas, kalau begitu saya permisi."


Setelah mendapatkan uang, Dinda melanjutkan lagi perjalanannya. Dia mencari sebuah warung makan karena hari sudah semakin sore. Dia tiba di salah satu warung soto untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan sejak pagi.

__ADS_1


"Bu nasinya satu ya. Tambah tempe saja," ucap Dinda pada penjual soto.


Tak membutuhkan waktu lama, Dinda menerima soto itu. Dia menyantapnya dalam keadaan masih panas. Lalu, dia bertanya pada pemilik warung. Dimana lokasi kontrakan dengan harga yang terjangkau.


"Bu, disini ada kontrakan tidak ya? Yang harganya terjangkau gitu?" tanya Dinda pada pemilik warung.


"Kalau kontrakan masih jauh Neng. Dari sini harus naik angkot turun di jalan Kartika nah disana banyak sekali yang menyewakan kontrakan," jawab si pemilik warung.


Dinda menganggukkan kepalanya, "Baik Bu, terima kasih infonya."


Dinda segera memakan habis sotonya. Dia harus mendapatkan kontrakan karena hari sudah hampir malam. Selesai makan dan membayar Dinda beranjak dari tempat itu dan melanjutkan kembali perjalanannya.


Dia berjalan lurus ke depan seperti arahan ibu pemilik warung tadi. Dinda menengok ke sekitar akan tetapi tak ada angkot maupun ojek yang lewat.


"Kenapa sepi sekali, taksi atau tukang ojek pun tidak ada. Masa aku harus berjalan terus kapan sampainya?" ucap Dinda pelan dengan menghela nafas lelah.


Hari mulai malam, namun Dinda tak henti untuk terus berjalan. Tidak mempunyai handphone membuatnya tak bisa apa-apa. Sampai separuh perjalanan, Dinda duduk sebentar di pinggir jalan. Kakinya lelah sekali, bahkan perutnya mulai terasa nyeri.


"Aduh, aku sudah tidak kuat lagi. Kakiku sakit sekali, dan perutku ini nyeri banget. Mana masih jauh, masa dari tadi tidak ada satu pun kendaraan yang lewat. Astaga!"


Dinda mengeluh di pinggir jalan. Hingga matanya melihat seseorang ada di seberang jalan. "Siapa orang itu? Dia mau apa? Kenapa mencurigakan sekali ya?"


"Gawat, jangan-jangan mau bunuh diri. Sudah berdiri gitu di pinggir jembatan. Aku harus mencegahnya." Dinda berdiri untuk menuju ke seberang jalan. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk menyebrang jalan.


Setelah sampai seberang, Dinda mendekati lelaki itu. "Orang jahat tidak ya? Bagaimana kalau orang jahat? Ahh, mobilnya bagus kok! Pasti bukan orang jahat," gumam Dinda penasaran dan juga bingung.


Lelaki itu tampak berdiri di pinggir jembatan dengan tubuh yang lemas. Tiba-tiba saja, lelaki itu hampir terjatuh dan Dinda pun segera lari mengejarnya. "Mas, Mas, hei jangan lompat dulu!" teriak Dinda keras.


Akhirnya Dinda berhasil menarik tubuh lelaki itu dengan susah payah. Nafas Dinda tersengal karena sangat panik ditambah lagi tubuh lelaki itu yang sangat berat.

__ADS_1


__ADS_2