
Indra dan Laura masih menunggu proses operasi persalinan Dinda. Laura yang begitu santai dan Indra yang cemas mewarnai momen dramatis itu. Kurang lebih satu jam operasi itu berjalan. Ta lama kemudian dokter keluar dari dalam ruangan menandakan kalau operasi berjalan lancar.
Indra yang melihat langsung berlari menghampiri dokter, "Bagaimana keadaan anak dan istri saya Dok?"
"Operasi berjalan dengan lancar, akan tetapi kondisi bayi sangat lemah karena belum cukup umur. Lalu, istri anda masih belum sadar karena operasi tadi berjalan sangat dramatis sekali," jawab Dokter dengan raut wajah lelah.
"Apa bayi itu bisa kami bawa pergi Dok. Saya ingin membawanya ke Jakarta." Laura berdiri dan bertanya pada dokter.
Indra kaget melihat sikap Laura yang terburu-buru. "Laura haruskah secepat itu?" tanya Indra.
"Memang ada apa anda ingin membawa bayi itu dengan sangat terburu-buru. Kondisi bayi masih harus dalam pantauan medis," sahut Dokter.
Laura berpikir untuk menemukan sebuah alasan yang tepat, "Saya ingin membawa bayi itu ke rumah sakit yang lebih bagus di Jakarta Dok."
"Baiklah anda bisa membuat surat rujukan rumah sakit. Anda bisa membawa bayi itu sesuai peraturan medis kami. Semua itu demi keselamatan pasien kami. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Sayang ayo cepat urus perpindahan rumah sakit. Aku harus bersiap menghadapi Mama. Aku sudah mempersiapkan rumah sakit dan dokter yang mau berakting denganku," ucap Laura berbisik di telinga suaminya.
Indra masih terdiam dalam lamunannya. Dia masih ragu dengan semua niatannya. Lamunannya buyar ketika Laura memanggilnya kembali. "Sayang ayo cepat, urus perpindahannya. Jangan lama menunggu," seru Laura.
Setelah itu, Indra beranjak mengikuti Laura untuk mengurus persyaratan pindah rumah sakit. Di bagian resepsionis Indra sangat sibuk mengisi beberapa lembar formulir. Bahkan dia harus merogoh biaya yang lebih agar tidak dipersulit.
Semua persyaratan sudah lengkap, Indra sudah bisa membawa bayinya keluar dari rumah sakit. Sebelum itu, Indra menjenguk Dinda di ruang perawatan. Dia melihat wajah pucat yang masih menahan rasa sakit.
__ADS_1
Indra duduk di samping istrinya. Dia memegang tangan yang lemas itu lalu menciumnya, "Din, aku pergi! Aku pergi membawa anak kita. Maaf aku sudah jahat padamu. Maaf aku sudah menyakiti perasaan mu. Maaf aku tidak bisa menepati janjiku. Dari awal memang niatku sudah tidak baik padamu. Aku adalah lelaki yang jahat, tapi di dalam hati ini aku ingin sekali hidup bersamamu Din. Namun, keadaan kita yang berbeda, aku mempunyai keluarga yang masih ingin aku gapai. Terima kasih atas semua pengorbanan mu. Perhatian dan juga kasih sayang mu itu tidak akan aku lupakan. Selamat tinggal Din. Aku mencintaimu istriku."
Indra berpamitan kepada Dinda yang masih belum sadar pasca operasi. Dia sudah membulatkan tekadnya untuk tetap menjalankan rencana jahat itu. Setelah itu, Indra keluar dari ruang rawat karena Laura sudah menunggunya.
Kini Indra sudah sampai di mobil, dengan berat hati dia harus melakukan semua ini. "Kenapa hatiku terasa sakit sekali?" ucap Indra dalam hati.
"Sayang ayo cepat jalan. Kamu lama sekali." Laura menegur suaminya. Dia tahu apa yang sedang dirasakan oleh Indra.
Indra segera menghidupkan mobilnya untuk meninggalkan rumah sakit tempat dimana Dinda sedang di rawat. Dia melaju dengan cepat tanpa mempedulikan apapun.
Butuh berjam-jam untuk sampai di rumah sakit kedua. Indra mengendarai mobilnya tanpa rasa kantuk. Dalam pikirannya sekarang hanya ada Dinda yang sendirian di rumah sakit.
Tepat jam 2 pagi, Indra dan Laura tiba di rumah sakit. Bayi Indra sudah sampai setengah jam yang lalu. Sekarang ia sudah di rawat di dalam inkubator. Laura segera mempersiapkan diri untuk berpura-pura seperti orang yang baru melahirkan. Dia akan berakting secara totalitas kali ini. Semua itu demi ambisinya yang dimilikinya.
Indra tak menjawab ucapan istrinya, dia lebih memilih keluar untuk menengok bayinya di ruang inkubator.
Laura merasa kesal ketika diabaikan oleh suaminya, "Sial, beraninya Indra mengabaikan ku. Tapi tak apa, sebentar lagi aku akan mendapatkan apa yang aku mau," ucap Laura dengan senyum licik.
Di luar, Indra sedang berjalan menuju ke ruang inkubator. Sesampainya di sana dia melihat seorang bayi mungil berjenis kelamin laki-laki. Wajahnya yang tak berdosa mengingatkannya pada Dinda.
"Maafkan Papa, Nak! Papa sudah bersalah padamu," ucap Indra dalam hati.
Tak lama kemudian, terdengar suara Ibu Ningrum yang memecah keheningan. "Indra mana cucuku, Nak? Duh, Mama deg-degan sekali ketika mendengar kalau Laura melahirkan secara caesar."
__ADS_1
"Aduh, lucunya cucu Oma. Lihat Nak, dia mirip sepertimu ketika bayi. Akhirnya Mama bisa gendong cucu juga. Sayang, belum bisa dibawa pulang," ucap Bu Ningrum dibalik kaca. Dia terus memandangi cucu kesayangannya.
Bu Ningrum yang terlihat senang kemudian merasa heran dengan kondisi Indra yang melamun. "Indra, kamu kenapa kok bengong gitu. Harusnya kamu senang akhirnya kamu menjadi seorang Papa. Lihat lucu sekali anakmu, Nak!" seru Bu Ningrum menyadarkan lamunan Indra.
"Iya, Ma. Anakku sangat lucu dan tampan. Ma, jika suatu hari nanti aku melakukan sebuah kesalahan. Apa Mama bersedia memaafkan ku?" Indra bertanya pada Ibunya.
"Kamu ada apa? Tumben tanya kayak gitu sama Mama. Memang kamu sedang ada masalah?"
"Tidak Ma, aku hanya bertanya saja sama Mama."
Bu Ningrum merasa aneh dengan sikap diam anaknya. Lalu dia pun menjawab,"Kamu anak Mama satu-satunya jadi meski kamu melakukan satu kesalahan, Mama akan selalu memaafkan mu tapi dengan syarat jangan ulangi kesalahan itu lagi."
"Sudah sana temani istrimu, biar Mama yang jaga cucu Mama. Oh ya, kamu sudah mempersiapkan nama untuknya kan Nak?
"Belum Ma, nanti biar aku diskusikan dengan Laura."
"Iya, kasih nama yang bagus buat cucu Mama," sahut Bu Ningrum senang.
Setelah itu Indra pun pergi untuk kembali keq ruangan Laura. Indra kehilangan rasa semangatnya. Dia seperti orang yang sedang patah hati. Sesampainya di dalam kamar rawat, Indra merebahkan badannya yang penat. Pikirannya tak bisa melupakan wajah Dinda yang kesakitan saat terjadinya kontraksi.
"Ahh, kenapa aku menjadi seperti ini. Hatiku sangat sedih, ingin sekali aku kembali ke sana. Menemani ketika dia membuka mata. Dinda, aku memang jahat. Aku sudah jahat padamu."
Indra terus mengumpat dirinya sendiri. Dia merasa bersalah sekali. Namun, semua itu tak kan berarti jika Dinda terbangun dari mimpi buruknya. Penyesalan dan kata maafnya mungkin tidak akan berlaku lagi.
__ADS_1