Rahim Yang Terbuang

Rahim Yang Terbuang
RYT 9


__ADS_3

Indra sedang dalam perjalanan pulang. Dia benar-benar tidak bisa memilih antara Laura dan ibunya. Demi menjaga perasaan sang Ibu, Indra nekat pulang meski belum waktunya. Kurang lebih tiga jam perjalanan untuk sampai di Jakarta.


Tepat pukul dua belas malam, Indra sampai di rumah orangtuanya. Dia memasukkan mobil ke garasi, lalu masuk ke dalam mencari ibunya. Setibanya di dalam, Indra melihat seorang wanita yang masih tiduran di depan televisi.


"Ma, aku pulang," ucap Indra pada ibunya.


Bu Ningrum menoleh ke arah suara dengan wajah cemberut. Lalu dia menoleh lagi memalingkan mukanya. Indra menghela nafas dan duduk di samping ibunya, "Ma, sudah dong marahnya. Mama tahu kan kalau aku tuh paling tidak bisa melihat Mama marah seperti ini."


Bu Ningrum tetap diam tak berbicara. Dia tetap meluruskan pandangannya ke arah televisi. Indra pun harus mencari cara agar bisa menenangkan hati ibunya.


"Oke, baiklah! Indra janji kalau bulan depan Laura belum hamil. Terserah Mama mau menjodohkan aku atau gimana suka-suka Mama saja," seru Indra dengan bersandar di sofa.


Bu Ningrum langsung menolehkan kepalanya dengan cepat. Dia tak percaya bahwa Indra akan menyetujui rencananya. "Kamu serius mau melakukannya Indra?"


"Kenapa Mama mau aku berubah pikiran lagi?" sahut Indra dengan santai.


"Baiklah, Mama senang jika kamu setuju. Mama akan menunggu sampai bulan depan. Setelah waktunya tiba nanti dan Laura belum hamil, kamu harus berpisah dengannya," sambung Bu Ningrum dengan yakin.


Indra terpaksa membohongi ibunya, karena dia sangat yakin kalau Dinda bulan depan pasti sudah hamil. 'Maafkan aku Ma, terpaksa melakukan semua ini,' ucap Indra dalam hati.


"Sudah malam, Mama seharusnya tidur. Tolong jaga selalu kesehatan Mama."


"Iya, iya Mama akan istirahat. Gitu dong kamu sekali-sekali dengar kalau Mama bicara. Jadi Mama kan tidak perlu marah-marah lagi."


"Iya Ma, maafkan Indra ya."


Setelah itu, Bu Ningrum naik ke atas untuk segera tidur. Indra memijit pangkal hidungnya, dia sangat pusing sekali dalam masalahnya sendiri.


"Semoga saja bulan depan Dinda sudah hamil. Jadi Mama bisa merubah keputusannya," gumam Indra pelan.


Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Panggilan dari Dinda tertera pada layar. Indra pun segera mengangkat panggilan itu, "Halo Din."


[Mas sudah sampai di Jakarta kan?]

__ADS_1


"Sudah, baru saja lima belas menit yang lalu. Kenapa kamu kok belum tidur. Sudah larut malam ini!"


[Aku tidak bisa tidur Mas, aku khawatir sama kamu. Oh ya, bagaimana keadaan Mama? apa baik-baik saja?]


Indra terdiam, dia merasa kalau sudah terlalu membohongi istrinya itu. Dinda menegur kembali suaminya.


[Mas kenapa diam saja? Mas, Halo!]


"Oh maaf, sepertinya aku sudah mengantuk sekali. Ayo kita tidur! Maafkan aku Din, mungkin aku kembali ke Bandung kalau keadaan Mama sudah membaik. Kamu tidak apa-apa kan di rumah sendiri ?"


[Aku tidak apa-apa Mas, aku titip salam saja sama Mama. Ya sudah, kamu beristirahatlah. Selamat malam Mas.]


"Iya selamat malam Din. Mimpi yang indah ya," sahut Indra. Setelah itu, Dinda menutup teleponnya.


Indra masih termenung di tempatnya. Sebenarnya dia tidak tega berbuat seperti itu pada istrinya yang polos. Namun, hanya itulah caranya agar ibu dan Laura bisa akur.


Keesokan Pagi.


Indra bangun dari tidur, dia bergegas untuk pulang ke rumahnya sendiri karena Laura belum tahu kalau dirinya kembali. Indra mencuci muka dan gosok gigi. Setelah itu, dia segera pergi ke bawah menemui ibunya.


"Aku mau pulang dulu Ma. Soalnya Laura tidak tahu kalau aku kembali ke Jakarta," jawab Indra sembari menuangkan air putih di gelas.


"Kamu tidak sarapan dulu? Mama buatkan roti selai untukmu."


"Tidak usah Ma, terima kasih. Aku langsung saja."


"Baiklah terserah kamu saja," ucap Bu Ningrum mengizinkan.


Indra menyalami tangan ibunya, "Aku pulang dulu."


"Ya, hati-hati di jalan."


Setelah itu, Indra pun pergi keluar menuju ke garasi. Dia sangatlah terburu-buru karena harus pergi ke kantor juga. Hanya dalam waktu dua puluh menit, Indra sampai di halaman rumah. Dia turun dan keluar dari mobil dengan terburu-buru dia masuk ke dalam.

__ADS_1


Sesampainya di dalam, Indra langsung masuk ke dalam kamar. Namun, dia terkejut karena Laura tidak ada di rumah.


"Laura," seru Indra memanggil istrinya. Namun, tidak ada sahutan sama sekali.


Indra mencoba untuk menelepon ponsel Laura. Akan tetapi tidak ada jawaban bahkan nomor yang dituju sedang tidak aktif.


"Kemana perginya Laura? Apa ada pemotretan di luar kota? Tapi kenapa dia tidak bilang sama aku? Aneh sekali," gumam Indra dengan penuh penasaran. Setelah itu, dia meletakkan ponselnya di atas kasur karena dia harus segera pergi ke kantor.


Dalam sebuah Kamar.


"Sayang, kamu mau kemana sih? Masih pagi ini, aku belum puas memelukmu," ucap seseorang di atas ranjang.


"Aku harus pulang sayang, nanti siang ada pemotretan di kantor. Besok kita ketemu lagi, biarkan aku pulang pagi ini," sahut Laura dalam pelukan seorang lelaki.


Laura ingin turun dari ranjang besar itu. Namun, dia dicekal oleh lelaki yang ada di sampingnya. "Tunggu dulu, ada sesuatu yang masih belum tersalurkan sayang. Aku pengen sekali lagi pagi ini," ucap lelaki itu dengan tatapan menggoda.


"Apaan sih Roy, kamu sudah melakukan tiga kali semalam. Badanku capek tau tidak," sahut Laura kesal.


Lelaki itu adalah Roy, kekasih Laura dulu. Mereka menjalin cinta lagi sudah sekitar satu tahun. Dulu sempat putus karena orang tua Laura yang tidak setuju. Lalu, mereka bertemu kembali dalam suatu acara dan memutuskan untuk kembali bersama.


"Ayolah, Laura please. Sekali sebelum kamu pulang okey!" ucap Roy memaksa.


"Ahh, terserah kamu saja. Lagian aku tidak akan pernah bisa menolak mu," jawab Laura pasrah. Roy pun tersenyum penuh gairah. Dia kembali mencu mbu Laura dengan penuh hasrat.


Setelah hampir satu jam berlangsung, Laura bangun dan segera membersihkan badannya yang sangat lengket. Sebenarnya, Laura sudah tak cinta lagi dengan Indra. Namun, dia tetap mempertahankan demi harta kekayaannya.


Itulah salah satu alasan Laura tidak mau hamil. Dia hanya memanfaatkan Indra saja untuk menunjang kehidupan glamournya.


Selesai membersihkan badan, Laura segera pergi dari apartemen kekasihnya, "Roy, aku pergi dulu ya!"


"Iya sayang, besok kita harus ketemu karena setiap detik aku sangat merindukanmu. My Honey," seru Roy dengan kalimat manisnya.


"Cih, dasar gombal. Seharusnya itu kamu nikahi aku."

__ADS_1


"Hei, jangan asal bicara ya kamu sayang. Akan aku lakukan itu jika aku sudah bosan dengan hubungan gelap ini. Aku juga ingin memiliki mu seutuhnya," seru Roy dengan kesal.


"Ya, akan aku tunggu momen itu," sahut Laura kemudian dia pergi dari tempat itu.


__ADS_2