Rahim Yang Terbuang

Rahim Yang Terbuang
RYT 40


__ADS_3

Semua sudah siap dan tertata rapi. Akhirnya tepat jam 08.00 pagi pembukaan toko di mulai. Semua orang berkumpul di ruangan itu. Bu Inggrid yang memimpin acara memberikan sambutannya.


Sambutan Bu Inggrid diterima oleh warga sekitar yang ikut meramaikan pembukaan toko roti tersebut. Diky juga ikut membantu Dinda yang sibuk mengatur berbagai hidangan, seperti kue, cake, dan bermacam kue kering. Semua orang mencicipi kue buatan Dinda. Mereka tampak suka dengan cita rasanya.


Setengah jam berlangsung, datanglah para teman-teman Bu Inggrid. Mereka datang bergerombol ramai sekali.


"Halo Jeng Inggrid," sapa salah satu teman.


"Halo Jeng Ani, makasih loh sudah berkenan hadir di sini. Silakan dicicipi, semua hidangan di toko ini adalah resep dari koki terbaik ku. Kalau Jeng Ani punya acara, toko ini menerima loh semua pesanan. Misal, cake ulang tahun atau kue kering lainnya," jelas Bu Inggrid pada teman-temannya.


Salah satu teman Bu Inggrid mencicipi beberapa kue kering yang ada di piring. Ekspresi mereka sangat suka sekali. "Wah rasanya enak dan gurih, Jeng Inggrid. Manisnya pun pas, cocok nih buat ngemil meski lagi program diet," seru Bu Ani.


"Iya benar rasanya enak sekali, jadi penasaran dengan pembuatannya, Jeng. Siapa sih orang yang berbakat?"


Bu Inggrid langsung memanggil Dinda untuk dia perkenalkan pada temannya. "Ini koki terbaik kepercayaan tokoku, Jeng. Namanya Dinda, dia sangat ahli sekali dalam menciptakan resep kue. Dia selalu meneliti kadar gula dan juga kalori di setiap adonan kuenya."


"Wah, jadi semua kue di sini sudah berstandar ya komposisinya, Jeng. Boleh lah nanti kalau ada arisan aku pesan saja kue dari sini," seru teman Bu Inggrid.


Dinda tersenyum senang mendapatkan sambutan baik atas karyanya. Setelah itu dia menjelaskan lagi keunggulan dari kue yang dibuatnya. "Kue yang saya buat ini sangat cocok dimakan oleh beberapa kalangan. Mau balita muda, atau tua bisa juga memakannya, Bu. Soalnya sebelum menciptakan resep, saya mencari takaran yang pas dan menyesuaikan dengan standar komposisi yang sudah ditetapkan. Jadi sangat baik dan tidak terlalu beresiko meski di makan dalam jumlah banyak."


Semua orang mengangguk-anggukan kepala. Mereka puas dan senang dengan penjelasan langsung dari Dinda.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Ibu-ibu semua. Selamat menikmati!" Dinda membungkukkan badannya dan pergi dari tempat itu.


Dari kejauhan Diky langsung menghampiri Dinda. "Bagaimana tanggapan mereka? Apa mereka semua puas?" tanya Diky penasaran.


Dinda tersenyum manis. "Sangat puas, karena aku membuatnya dengan penuh cinta. Jadi rasanya sangat enak."


"Hem, iya deh! Aku akui kemampuan sekarang," ucap Diky memuji.


Bu Inggrid juga kedatangan Bu Ningrum. Dia adalah sahabat dekat Bu Inggrid. Bu Ningrum datang dengan membawa cucunya, karena memang sang cucu itu belum mendapatkan pengasuh yang cocok. Jadi kemanapun bu Ningrum pergi maka cucunya harus ikut.


"Hai Jeng Inggrid, selamat ya atas pembukaan toko rotinya. Semoga semakin sukses dan juga laris manis," seru Bu Ningrum dengan ramah.


"Iya Jeng Ningrum, terima kasih sudah datang di toko kecilku ini. Aduh kamu datang membawa cuci ya. Uluh, ganteng dan lucu sekali cucumu, Jeng," ucap Bu Inggrid.


"Iya, karena belum mendapatkan pengasuh yang tepat jadi aku harus membawanya ketika pergi. Pasti kamu sudah mendengar berita keluarga ku kan? Aku tidak menyangka bakal terjadi pada kehidupan anakku, Jeng!" kata Bu Ningrum sedih.


"Sabar, Jeng. Semua orang pasti akan menjalani sebuah ujian. Jadi sebagai manusia hanya bisa menerima dengan ikhlas dan sabar. Semangat ya Jeng!" Bu Inggrid mencoba untuk memberikan semangat pada sahabatnya itu.


Tiba-tiba cucu Bu Ningrum menangis keras. "Aduh, cucu Oma. Jangan nangis ya! Cup, cup, cup!" Bu Ningrum mencoba untuk menenangkan cucunya. Namun, tangisan itu begitu keras.


Semua orang menjadi fokus pada cucu Bu Ningrum yang menangis. Sehingga menarik perhatian Dinda yang sedang sibuk di belakang. Dinda berjalan menghampiri kerumunan itu.


Dinda bertanya pada Bu Inggrid, "Bu, ada apa? Kok ada tangisan bayi."


"Itu cucu temanku, memang agak rewel sih. Kasihan dia," jawab Bu Inggrid.


Dinda sangat penasaran, lalu dia mencoba mendekat. "Tante bolehkah saya membantu untuk menenangkan adik bayinya?"


Bu Ningrum menoleh, lalu tanpa pikir panjang dia menyerahkan cucunya kepada Dinda. Setelah digendong tangisan bayi itu pun reda. Dinda menimang bayi itu dengan penuh perasaan.


"Wah terima kasih, Nak. Cucuku langsung diam, biasanya butuh waktu lama hanya untuk menenangkannya," seru Bu Ningrum dengan perasaan lega.


"Sama-sama Tante, cucu Anda sangat lucu sekali," ucap Dinda, dia terus memandang wajah bayi yang digendongnya itu.


Diky mendekat dia senang melihat sikap Dinda yang keibuan. Hal sama juga dirasakan oleh Bu Inggrid. Sepertinya ibu dan dan anak itu menaruh ekspetasi yang tinggi pada Dinda.

__ADS_1


"Dinda, kamu terampil sekali menggendongnya, Sayang," ucap Bu Inggrid pada Dinda.


"Saya sangat suka anak kecil, Tante."


"Dinda kamu menangis? Ada apa?" tanya Bu Inggrid heran.


"Oh, saya tidak apa-apa Tante. Entah kenapa air mata ini keluar sendiri," jawab Dinda lirih.


Diky mengerutkan dahinya. Dia bertanya-tanya dengan sikap Dinda.


Bu Ningrum menghampiri Dinda yang masih menggendong cucunya. "Nak, Tante minta tolong gendong Kenzo sebentar ya. Tante sudah menelepon Papanya untuk datang ke sini."


"Iya Tante, saya suka dengan cucu anda. Sangat lucu sekali," jawab Dinda pelan.


Dinda terus menimang Kenzo dengan penuh perasaan. Dia berjalan pelan untuk memberi perasaan yang aman untuk bayi kecil yang digendongnya itu. Sesekali, Dinda mencium lembut pipi Kenzo yang gembul itu.


"Kamu sudah cocok menjadi seorang Ibu, Din," seru Diky dari belakang.


Dinda hanya tersenyum menanggapi ucapan Diky. "Aku memang sudah menjadi seorang ibu, Diky. Hanya saja nasibku tidak beruntung," ucap Dinda dalam hati.


Kenzo semakin terlelap dalam gendongan Dinda, hingga tak sadar seseorang datang untuk menjemput Kenzo.


"Dimana Kenzo, Ma?" tanya seseorang yang baru datang.


"Kenzo sudah tenang, dia lagi digendong oleh seseorang. Masuklah biar Mama panggilkan dia." Bu Ningrum masuk ke dalam dengan mengajak anaknya.


"Kenzo, Papa datang menjemputmu," panggil Bu Ningrum.


Dinda langsung menoleh dan terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dia melihat Indra sedang berdiri di depannya.


"Dinda," ucap Indra yang tak kalah terkejutnya.


Diky mendekati Dinda yang tampak syok. "Dinda kamu kenapa?" tanya Diky sedikit bingung.


Indra berjalan mendekat ke arah Dinda yang ketakutan. "Dinda, akhirnya aku menemukanmu."


Semua orang terkejut mendengar ucapan Indra. Indra terus mendekat, namun Dinda semakin berjalan mundur.


"Stop, jangan mendekat. Kamu jahat, kamu jahat, kamu jahat padaku," teriak Dinda dengan air mata yang berlinang.


"Indra ada apa ini? Apakah dia ...?


Indra mengangguk pada ibunya. "Iya Ma, dia adalah Mama kandung Kenzo."


Semua orang terkejut mendengar pernyataan Indra. Dinda terus berjalan mundur menghindari Indra yang terus berjalan mendekat.


"Diky, aku ingin pergi dari sini. Dia mau mengambil bayiku lagi. Dia jahat, dia jahat sama aku," ucap Dinda dengan menangis.


"Din, apa yang terjadi. Aku tidak mengerti apa-apa." Diky tidak tahu harus berbuat apa, akan tetapi dia sudah bisa menangkap duduk permasalahannya.


Indra meraih tangan Dinda, namun dia terus menghindar. "Dinda, maafkan aku. Maafkan kesalahan ku."


Diky mencegah Indra untuk mendekati Dinda. "Sebaiknya kamu jangan menganggunya. Apa kamu tidak melihat dia sedang ketakutan?"


"Apa maksudmu? Aku hanya ingin membawanya pulang, karena dia adalah istriku," jawab Indra hingga membuat Diky kaget dan harus kecewa lagi.


Semua orang yang ada di situ pun kaget. Acara pembukaan toko roti pun berubah menjadi drama yang membuat semua orang bingung.

__ADS_1


"Dinda, ikut aku pulang ya. Dia adalah Kenzo, putra kita. Maafkan kesalahan ku, aku akan memperbaiki semuanya. Aku menyesal, ikut aku pulang ya. Kenzo merindukanmu," ucap Indra dengan begitu mudahnya.


Bu Ningrum langsung mendekati Dinda, dia ingin ikut membujuk menantunya itu. "Nak, bisakah kamu ikut kami. Biar Tante menjelaskan semuanya padamu. Nanti, biar aku yang meminta izin dengan Inggrid, dia adalah teman baikku."


Bu Ningrum mengambil alih Kenzo. Namun Dinda tidak mau melepaskannya."Jangan ambil anakku, jangan pisahkan aku darinya. Jangan ambil anakku," pinta Dinda pada Bu Ningrum.


"Aku tidak akan mengambil Kenzo darimu, tapi kamu harus ikut dengan kami. Dengarkan penjelasan kami, Nak."


"Aku ti-tidak akan ikut dengan kalian. Kalian jahat, kalian jahat. Kalian jahat." Dinda menangis dengan menekan kepalanya yang tiba-tiba pusing, matanya berkunang-kunang dan kabur. Dinda hampir terjatuh dan Diky langsung menangkapnya. Indra yang melihat langsung menghalau tangan Diky, dia segera mengangkat tubuh Dinda yang lemas untuk dibawanya pergi.


"Maaf, aku harus membawanya pergi dari sini. Ini adalah masalah keluarga. Permisi." Indra keluar dari acara tersebut dengan membawa Dinda pergi.


Bu Ningrum langsung meminta maaf atas kejadian yang tak terduga itu. "Jeng, maaf sudah membuat kekacuan di acara kamu. Aku akan mengganti semua kerugian ini."


"Tidak apa, aku mengerti. Selesaikan masalah mu dengan baik. Dinda dia gadis yang baik, apapun yang terjadi jangan sakiti dia ya!" ucap Bu Inggrid dengan tulus.


Bu Ningrum tersenyum lega karena sahabatnya begitu pengertian. Setelah itu mereka pergi dari toko roti itu. Indra langsung membawa Dinda yang lemas ke dalam mobil. Tak lama kemudian, ibunya menyusul dengan menggendong cucunya.


"Kita langsung pulang, Ndra!" ucap Bu Ningrum.


"Iya Ma, aku tidak akan membiarkannya pergi lagi,"jawab Indra dengan menghidupkan mobilnya. Setelah itu Indra pergi dari tempat itu dan segera pulang ke rumah.


Diky terduduk lemas setelah mengetahui masalah Dinda. Harapannya pudar kembali, dan yang dirasakannya hanyalah kecewa. Diky sudah menaruh perasaannya terhadap Dinda, namun perasaan itu terbang jauh sebelum mendarat sempurna.


Bu Inggrid berjalan menghampiri anaknya yang terlihat sedih. "Bagaimana perasaanmu, Sayang? Apa kamu baik-baik saja?"


Diky menarik nafas dalam. "Kenapa berakhir seperti ini lagi Ma. Kenapa harus Dinda, dia telah menjadi milik orang lain Ma. Aku sudah tidak mempunyai kesempatan lagi."


"Kami sabar, Sayang! Anggap saja Dinda bukan jodohmu. Lupakan dia karena kamu sudah tidak mempunyai peluang lagi. Dia sudah bersuami, Nak!"


"Aku terlajur sayang padanya, Ma. Bagaimana bisa aku melupakannya begitu saja," ucap Diky dengan segala kebingungannya.


Bu Inggrid ikut prihatin dengan perasaan anaknya. Dia juga kecewa karena sudah menaruh harapan pada Dinda sebagai calon menantunya.


Di Tempat Lain.


Indra sudah sampai di rumahnya. Dia langsung turun dan segera mengangkat tubuh istrinya masuk ke dalam rumah. Wajah Dinda tampak pucat sekali, keringat dingin mengucur deras.


Sesampainya di dalam, Indra langsung membawa Dinda ke dalam kamarnya. Dia merebahkan tubuh istrinya itu di atas kasur. Setelah itu, Indra menggenggam tangan Dinda yang dingin.


"Din, bangun! Bangunlah kita berbicara baik-baik. Din aku mohon!" Indra terus berbicara di samping istrinya yang masih pingsan.


Bu Ningrum masuk ke dalam dengan menggendong Kenzo. Setelah itu dia meletakkan cucunya di samping ibunya. "Aku letakkan Kenzo di sini, semoga Dinda cepat sadar," ucap Bu Ningrum pelan.


Indra mengurut kening istrinya dengan minyak kayu putih. Dia memijat pelan dan tak lama kemudian Dinda terbangun dan membuka matanya. Dia melihat ke sekeliling, lalu terkejut melihat Indra yang sudah ada di sampingnya.


"Kamu kenapa membawaku ke sini? Aku ingin pergi, karena kamu sudah jahat sama aku. Kamu berbohong sama aku, kamu hanya manfaatin aku. Apa salahku? Sehingga kamu begitu tega? Aku setulus hati padamu, tapi kamu meninggalkan aku dengan begitu kejam. Kamu jahat, kamu jahat!"


Indra mencoba untuk memeluk istrinya, namun Dinda terus mendorong mundur tubuh Indra.


"Aku minta maaf, aku salah. Aku sudah membohongimu, tapi aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Din, aku sangat menyesal, aku menyesal telah berbuat jahat padamu. Aku sudah mendapatkan balasannya dan aku ingin memulai dari awal lagi. Aku ingin memperbaiki kesalahanku padamu tolong beri aku kesempatan, Din."


Indra terus memohon pada istrinya. Dia terus membujuk Dinda agar mau memaafkannya.


"Tidak, aku tidak mau mengulang lagi kebodohan yang sama. Cukup satu kali kamu menyakiti aku. Hati ini sudah hancur berkeping-keping, jiwa ini bahkan hampir melayang hanya karena kamu ingin memanfaatkan aku. Apakah aku hanya menjadi mesin pencetak anak bagimu? di saat kamu sudah mendapatkan tujuanmu. Kamu meninggalkan ku bahkan sebelum aku melihat bayi yang ku lahirkan. Di mana nuranimu? di mana kemanusiaanmu?"


"Kamu tahu aku hampir mati, aku hampir bunuh diri, kalau tidak mengingat bayi yang aku lahirkan. Jangan lagi kamu mengharapkan aku, karena sejak kamu memutuskan pergi aku sudah tidak lagi menginginkanmu untuk berada di sisiku. Aku hanya menginginkan bayiku. Aku hanya ingin bayiku."

__ADS_1


Dinda terus mencurahkan perasaannya, rasa sakit yang dia tahan selama ini. Dia mencurahkan semuanya pada Indra. Lelaki itu hanya bisa diam dan mendengarkan ungkapan hati Dinda.


Dinda terdiam lalu menoleh ke arah bayi mungil yang sedang tertidur lelap di sampingnya. Air matanya mengalir lagi tak sanggup membayangkan, di saat dia kehilangan bayi yang baru saja dilahirkannya dulu.


__ADS_2