
(Lanjutan dari Bab 3)
Setelah mengantar Laura belanja, Indra kembali ke rumah sewaannya. Dia cepat kembali karena sudah menyuruh Dinda untuk memasak makan malam. Tak butuh waktu lama, Indra telah sampai di rumah. Dia keluar dari mobil dan masuk ke dalam.
Indra masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Sehingga membuat Dinda tidak tahu. Indra berjalan masuk ke dapur dan membuyarkan konsentrasi Dinda.
"Din, aku pulang," seru Indra dari belakang.
"Astaga Mas kamu ngagetin aku saja. Sudah pulang tidak ketuk pintu dulu. Sampai aku tidak tahu kalau kamu sudah pulang," balas Dinda terkejut.
"Masak apa sih serius banget?" tanya Indra penasaran.
Dinda tersadar dan fokus kembali pada penggorengannya di atas kompor, "Ini aku goreng ayam sama tempe tadi. Kalau dimakan selagi hangat kan enak. Terus aku juga sudah masak sayur asam sama sambal. Aku asal masak saja Mas, sebab aku tidak tahu makanan kesukaanmu apa?"
Indra melihat masakan Dinda yang telah matang. Dia mengangguk-angguk sembari tersenyum, "sepertinya enak, boleh siapkan di meja. Kita makan bareng."
"Oh iya sebentar, tinggal penggorengan terakhir nih. Mending kamu mandi dulu deh Mas, biar lebih segar," ucap Dinda dengan senyum manisnya. Dia sangat senang melihat sikap Indra yang terlihat peduli.
"Oke aku mandi dulu. Sekalian buatkan aku kopi ya," sahut Indra sebelum masuk ke kamarnya.
Dinda mengangguk mengiyakan. Setelah itu, dia melanjutkan lagi menggoreng ayam yang masih belum matang. Lima belas menit kemudian, semua masakan telah siap. Dinda menyajikannya di atas meja. Nasi beserta lauk pauknya telah siap untuk disantap.
Indra pun keluar dari kamarnya, hidungnya sudah mencium aroma masakan Dinda yang menggugah selera makannya. Tiba-tiba saja perutnya menjadi keroncongan, padahal sore tadi dia sudah team time bersama Laura.
Dinda langsung mengambilkan piring mengisinya dengan nasi juga lauk kemudian memberikannya pada Indra yang telah duduk di kursi.
Hati Indra merasa tenang dan juga senang melihat sikap Dinda yang begitu tulus padanya. Dia kagum dengan layanan yang diberikan oleh istri sirinya itu. Selama menikah dengan Laura, Indra belum pernah merasakan pelayanan istri di meja makan.
__ADS_1
"Mas di makan dong, kok melamun sih!" seru Dinda membuyarkan lamunan Indra.
"Makasih! Kamu belanja pakai uang pribadi ya?"
Dinda menoleh lalu mengangguk sembari tersenyum, "Iya Mas, aku belanja dan mengisi kulkas untuk menyetok bahan makanan."
"Maaf, aku lupa memberimu uang belanja. Nanti ya setelah makan aku ganti," ucap Indra dengan menyendok nasi ke mulut.
"Iya Mas!"
Indra makan dengan sangat lahap. Masakan Dinda mampu menarik perhatian Indra yang sebelumnya sangat acuh. Sesekali Indra mencuri pandang dengan melihat istri sirinya itu.
"Ada apa Mas? Ada yang aneh di wajahku?"
Indra gugup seketika. "emm, tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin bilang kalau masakan mu enak," ucap Indra mengalihkan pembicaraan.
Satu jam kemudian, Indra dan Dinda selesai makan malam. Dinda segera membersihkan meja makan dan mencucinya. Sedangkan Indra melanjutkan pekerjaannya di kamar.
Tepat pukul sembilan malam, Dinda selesai membersihkan dapur. "Sepertinya aku harus mandi lagi, tubuhku bau masakan," gumamnya pelan.
Dinda pun masuk ke dalam kamarnya untuk mandi. Setibanya di kamar, dia melihat Indra yang sedang fokus pada laptopnya. Dinda tak berani mengganggu suaminya yang terlihat sangat serius. Dia pun menuju ke kamar mandi sambil membawa handuk.
Dua puluh menit kemudian, Dinda selesai mandi. Dia keluar hanya dengan lilitan handuk sebatas dada dan berjalan dengan rambut yang tergerai basah.
Indra melirik ke arah istrinya yang sedang memilih baju di lemari. Dia melihat leher dan pundak Dinda yang terlihat sangat jelas sehingga mengganggu konsentrasinya. Lalu, Indra meletakkan laptopnya di atas meja. Indra turun dari kasur dan menghampiri Dinda yang berdiri tepat di hadapannya.
Tangan Indra meraih pinggang ramping istrinya. Dinda pun kaget dengan sikap suaminya yang begitu tiba-tiba. "Mas, kamu mau apa? Kamu buat aku kaget," ucap Dinda gugup.
__ADS_1
"Apa kamu tidak bisa menebak yang aku inginkan sekarang?" sahut Indra dengan mencium lembut pundak istrinya.
Dinda hanya diam tak berkutik, ketika Indra mencoba menc umbunya. Indra menyibak rambut panjang yang menutupi pundak dan juga punggung istrinya. Dia mengendus leher belakang Dinda hingga membuat istrinya itu mend3sah pelan.
"Aku baru saja mandi Mas," ucap Dinda protes. Namun, dia tak berani untuk menolak.
"Kenapa? Apa ada yang salah jika aku memintanya?" sahut Indra terus mengelus pundak istrinya.
Merasakan sesuatu telah bereaksi membuat Indra langsung membalikkan tubuh Dinda untuk menghadapnya. "Kenapa? Jangan tegang begitu, bukankah kita sudah melakukannya kemarin?"
"A-aku hanya gugup Mas. Maaf aku masih canggung dengan hal ini."
Indra memegang dagu istrinya lalu menciumnya perlahan, "Jangan gugup kita adalah suami istri yang halal. Mari kita lakukan hal penting lagi."
Setelah itu, Indra mengangkat tubuh istrinya menuju ke ranjang. Dinda yang tegang pun secara refleks mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya.
Sesampainya di ranjang, dengan sangat pelan Indra meletakkan tubuh istrinya di atas kasur. Lalu, Indra segera membuka kaosnya dan merangkak naik ke atas tubuh Dinda.
Indra membelai wajah istrinya dengan lembut. Dia bahkan tak mengingat kata-kata yang diucapkannya dulu. Indra pernah mengatakan jika tidak akan jatuh cinta pada Dinda. Namun, kenyataan dia takluk dalam permainannya sendiri. Wajah cantik Dinda mampu mengalihkan bayangan Laura di mata Indra.
Tangan Indra terus mengelus wajah Dinda, kemudian tangannya turun ke bawah untuk melepaskan handuk yang masih menempel di tubuh istrinya. Setelah terbuka, Indra segera melancarkan aksinya dan membawa Dinda dalam buaiannya yang begitu menggelora.
Kurang lebih satu jam, Indra melakukan permainan panas. Lagi-lagi, Dinda takluk dan dibuat lemas oleh suaminya. Dia langsung tertidur pulas tanpa membersihkan badan terlebih dahulu.
"Kenapa tubuhmu begitu lemah sekali Din? Aku hanya bermain sebentar, tapi apa yang terjadi? Kamu bahkan meminta ampun agar aku menyudahi permainan. Dasar!" gumam Indra pelan dengan terus memandangi wajah cantik istrinya. Indra mengecup lembut bibir yang tenang itu.
Tak lama kemudian, ponsel Indra berbunyi. Satu pesan masuk dalam WhatsApp-nya. Pesan itu dari Laura yang telah sampai di Jakarta. Indra pun akan kembali ke Jakarta sekitar dua minggu lagi. Jadi dia harus berusaha semaksimal mungkin agar Dinda cepat hamil.
__ADS_1
Setelah membalas pesan Laura, Indra pun tidur dengan memeluk Dinda. Dia mulai nyaman dengan hubungan singkat yang kini dia jalani. 'Din, aku tak bisa berbohong. Mungkin aku ini telah jatuh cinta padamu. Maafkan aku jika suatu hari akan meninggalkanmu sendiri,' ucap Indra dalam hati.