Rahim Yang Terbuang

Rahim Yang Terbuang
RYT 37


__ADS_3

Diky masih menggandeng tangan Dinda keluar dari restoran. Dia benar-benar nekat mengatakan kebohongan pada mantan kekasihnya itu.


"Diky berhenti! aku capek sekali," seru Dinda di belakang.


Diky pun menghentikan langkahnya,"Maaf aku tadi refleks."


"Tidak apa-apa aku hanya takut kalau mantanmu itu akan melabrakku suatu hari."


Kalau dia melabrakmu, bilang saja padaku," sahut Diky senang.


Dinda menanggapi ucapan Diky dengan senyuman tipis," Aku ingin pulang."


"Oke, ayo aku antar pulang. Besok kamu kan harus bekerja."


Dinda menoleh ke arah Diky,"Bagaimana kamu tahu kalau besok aku bekerja?"


"Karena dari semua peserta hanya kamu yang terpilih," jawab Diky.


"Oh terima kasih. Jujur aku sangat membutuhkan pekerjaan ini. Sekali lagi terima kasih ya," ucap Dinda ramah pada Dicky.


"Sama-sama."


Setelah itu Diky mengantar Dinda pulang ke rumah. Dia merasa senang berdekatan dengan wanita yang baru dikenalnya itu.


Di tempat lain.


Indra sudah sampai di rumahnya. Kepulangannya tidak membuahkan hasil, karena dia tidak tahu keberadaan Dinda sekarang. Sesampainya di dalam, Indra langsung merebahkan tubuhnya di sofa kepalanya sangat pusing sekali.


Beberapa menit kemudian muncul Bu Inggrid dari dalam, dan menanyainya,"Bagaimana Indra? Apa kamu sudah menemukan istrimu?"


"Belum Ma, dia mungkin sudah pergi. Aku cari ke tempat yang pernah dia kunjungi namun tidak kutemukan," jawab Indra pada ibunya.


"Mama sangat yakin kalau istrimu itu sangat marah padamu. Sama saja kamu sudah menipunya mentah-mentah. Mungkin akan sangat sulit jika kamu ingin memperbaiki hubunganmu itu, Indra," sahut Bu Inggrid menyayangkan sikap anaknya.


"Yang paling kasihan saat ini adalah anakmu, Indra. Kenzo menderita tanpa ibunya. Mungkin Kenzo, sedang merindukan ibunya dan begitu pula sebaliknya.


"Aku tadi sudah berpesan dengan orang di sekitar sana, Ma. Aku suruh mereka untuk menghubungiku jika melihat Dinda."


"Mama hanya berharap dan berdoa semoga jalan mu ini dipermudah. Agar kamu bisa menemukan kebahagiaanmu," ucap Bu Inggrid pada Indra.

__ADS_1


Di Kontrakan.


Dinda telah sampai di kontrakan. Setelah mengantar pun Diky langsung pulang. Dinda masuk ke dalam kontrakan dengan hati gelisah. Dia masih kepikiran dengan Indra yang tadi lewat di depannya.


"Berarti aku sudah dekat dengan anakku. Seandainya aku ingat alamat itu pasti aku sudah bertemu dengannya sekarang," gumam Dinda dalam hati.


"Sayang, ingin sekali Mama bertemu dengan kamu, Nak! Bagaimana wajahmu, Nak?"


Dinda selalu ingin menangis ketika mengingat anaknya. Hatinya seperti teriris-iris mengingat perjuangannya untuk melahirkan sang bayi.


Dinda meletakkan tasnya kemudian memutuskan untuk mandi. Dalam hatinya yakin kalau suatu hari nanti pasti akan bertemu dengan anaknya.


Keesokan hari.


Dinda telah bersiap dengan pakaiannya. Hari ini adalah hari pertamanya kerja. Meski tidak mempunyai handphone, Dinda tetap mendapatkan informasi kalau dia diterima bekerja. Dinda mencantumkan nomor ponsel pemilik kontrakan untuk informasi dari toko roti.


Seperti biasa Dinda terus berjalan kaki untuk sampai di jalan raya. Setelah itu dia naik angkot menuju ke toko roti tersebut. 15 menit kemudian, Dinda sampai juga di tempatnya bekerja. Dia turun dari angkot dan mulai masuk ke dalam. Pagi itu sudah ada pemilik dari toko roti yaitu Bu Inggrid.


"Selamat pagi Bu," siapa Dinda pada Bu Inggrid.


"Hai Dinda selamat pagi. Wah kamu cerah sekali pagi ini!" balas Bu Inggrid ramah.


"Iya itu memang harus. Sudah siap dengan semua kreasi resep mu? Saya lihat kamu cekatan sekali dalam membuat kue. Setelah saya lihat dalam profil pendaftaran, ternyata kamu sudah pengalaman di bidang perkuean ya."


"Pertama karena hobi, Bu. Lama-kelamaan jadi profesi, karena saya sangat suka sekali menciptakan resep baru dengan memadupadankan bahan," jelas Dinda membuat Bu Inggrid kagum.


"Oke, sekarang kita ke ruang kerja ya. Saya akan beritahukan bagaimana sistem kerja dari toko kecil saya ini."


Bu Inggrid mengajak masuk Dinda ke dalam ruang kerja. Dia menjelaskan semua bagian yang harus di kerjakan dan tidak. Setelah itu Dinda di beri tugas untuk membuat adonan yang akan dijadikan tes pasar.


Hingga siang hari tiba, adonan kue yang Dinda buat tadi sebagian sudah jadi. Semua terkesan dengan resep yang tergolong baru itu.


"Hem ini enak loh Din. Beneran saya suka, bagaimana menurut semuanya?" tanya Bu Inggrid pada seluruh karyawan.


"Iya Bu enak," jawab semua orang.


Dinda lega sekali, karena resepnya bisa diterima dengan baik. Bahkan responnya antusias sekali.


"Baiklah kalau begitu, saya sudah mendapatkan ikon utama dari toko ini. Jadi pembukaan toko akan saya lakukan minggu depan."

__ADS_1


"Iya Bu, semua setuju," sorak semua karyawan.


"Eh ada apa ini rame sekali?" Diky tiba-tiba muncul di tengah semua orang.


"Tumben kamu ke sini, Sayang! Ini kita semua sedang mencicipi kue buatan Dinda. Kamu coba deh, rasanya enak sekali," ucap Bu Inggrid kepada anaknya.


Diky pun langsung mencicipi kue buatan Dinda. Responnya pun sama, Dicky suka dengan kue buatan Dinda bahkan mengulanginya berkali-kali.


"Eit, sudah ini untuk dibagikan nanti pada orang yang lewat. Kebetulan ini kan hari jumat, jadi sekalian jumat berkah."


"Sumpah enak banget, Ma! Aku yakin toko roti Mama nanti pasti akan laris. Terus pembukaannya kapan Ma?" tanya Diky dengan masih memakan kue.


"Mama akan awali satu minggu lagi. Nanti Mama akan persiapkan dulu semuanya, karena Mama ingin mengundang teman-teman Mama juga ke sini. Ya sekalian reuni," jawab Bu Inggrid.


"Din, yang betah ya! Bagaimana Mamaku baik kan?"


Dinda tersenyum canggung karena merasa tidak enak dengan yang lain,"Iya Mama mu baik, ramah sekali."


"Sudah-sudah, ayo kita keluar. Jangan ganggu mereka untuk berkreasi dan juga berdiskusi. Launching pembukaan minggu depan kan harus membuat menu beda dari yang lain," ucap Bu Inggrid dengan menarik keluar Diky.


"Semuanya yang semangat bekerja, ya!Ibu tinggal dulu ke dalam, nanti kalau ada apa-apa panggil Ibu saja. Oke." Setelah itu Bu Inggrid keluar bersama dengan Diky.


Sesampainya dalam ruangan Bu Inggrid melihat Diky dengan tatapan penuh curiga. Diky yang semula santai pun merasa heran, "Mama kenapa menatap aku seperti itu?" tanya Diky pada ibunya.


"Tidak apa-apa tapi Mama mencium bau-bau cinta lokasi."


"Cinta lokasi apa sih Ma? Mama itu sok tahu ya," sahut Diky asal.


"Sayang kamu pikir Mama itu tidak tahu dengan sifat kamu."


"Terus? Kalau tebakan Mama itu benar, memang Mama mengizinkan?"


Bu Inggrid kembali berpikir dengan pertanyaan Diky. "kalau Mama lihat ya , Dinda itu kayaknya anak yang baik, sopan, rajin dan sederhana. Tipe menantu idaman mama," jawab Bu Inggrid.


"Iya sih Ma, yang Mama katakan tuh benar. Tapi Diky belum tahu dia itu sudah punya pacar atau belum. Bagaimana nanti kalau dia udah bersuami Ma? Bakal patah hati lagi dong aku, Ma!"


"Ya sudah kamu jalani dulu saja seperti yang ada. Kalau memang jodoh tidak akan kemana kok. Mama akan selalu doakan kamu agar mendapat jodoh yang terbaik dan sayang keluarga."


"Makasih Ma. Mama memang yang terbaik buat aku," ucap Diky dengan memeluk ibunya.

__ADS_1


__ADS_2