Rahim Yang Terbuang

Rahim Yang Terbuang
RYT 15


__ADS_3

Laura mengeringkan rambutnya yang basah. Dia terpaksa melayani hasrat kekasihnya yang terlalu over dalam hubungan badan.


"Bagaimana kelanjutan bisnismu Roy? Apakah mereka menyetujui proposal mu?"


Roy berjalan kemudian duduk di sofa, dengan santai dia meminum sekaleng bir dan juga menghisap sebatang rokok. "Nanti siang aku akan tanda tangan kontrak dengan mereka. Jadi aku bisa memulai semuanya setelah kontrak disetujui oleh semua pihak," jawab Roy.


"Semoga berjalan lancar seperti apa yang kamu inginkan Sayang," sahut Laura dengan ber-make up tipis di wajahnya.


Selesai ber-make up tipis, Laura berdiri dari tempatnya menuju ke arah Roy yang sedang duduk bersantai. "Aku pergi dulu ya, emuach," ucap Laura dengan mengecup bibir kekasihnya.


"Hati-hati sayang. I Love You!" seru Roy penuh cinta.


Setelah itu, Laura keluar dari apartemen kekasihnya. Dia akan pergi ke rumah sakit menemui dokter yang mau diajaknya untuk bekerja sama. Sesampainya di tempat parkir, Laura langsung mengemudikan mobilnya. Lalu, dia mencoba menelepon Indra untuk memberitahukan informasi tentang surat hamil palsu yang telah di pesannya.


Laura menekan nomor telepon suaminya. "Sayang, apa kamu sibuk hari ini?" tanya Laura dengan pandangan fokus ke depan.


[Tidak, hari ini aku kerja dari rumah. Dinda sedang tidak enak badan, ada sedikit masalah dengan kandungannya.] jawab Indra dari seberang sana.


"Terus kamu balik ke Jakarta kapan Sayang. Aku kan mau kasih surat ini ke Mama biar dia cepat tahu. Lagian manja banget sih itu orang hamil," sahut Laura dengan nada sinis.


[Iya, nanti akan aku usahakan untuk pulang. Tapi aku menunggu Dinda agak baikan dulu. Tidak apa-apa kan sayang? Aku hanya khawatir terjadi hal yang buruk saja.]


"Baiklah, Its okey! Aku tunggu kamu pulang paling lama dua hari. Ikuti ucapan ku kalau mau rencana kita berhasil."


[Baiklah Laura, dua hari lagi aku akan kembali ke Jakarta.]


Laura pun menutup teleponnya. Dia sedikit kesal dengan Indra yang mulai perhatian pada istri sirinya. "Sial, kenapa aku sedikit cemburu ketika Indra memberi perhatian lebih pada wanita itu," gumamnya pelan sembari memacu mobilnya lebih cepat.


Sesaat kemudian, Laura sampai juga di rumah sakit. Dia segera menuju ke ruangan dokter yang sudah menunggunya. Ruangan itu berada di lantai dua. Sesampainya di lantai dua, Laura langsung masuk ke dalam.

__ADS_1


"Selamat pagi Dokter Iwan," sapa Laura ramah.


"Selamat pagi, Laura. Lama tak bertemu kamu semakin cantik saja," jawab Dokter yang menjadi teman kuliah Laura dulu.


Tanpa basa-basi, Laura langsung duduk di kursi dan segera meminta surat keterangan hamil yang di pesannya.


"Mana surat itu, cepat berikan karena aku tidak mempunyai banyak waktu," ucap Laura dengan sedikit ketus.


Dokter itu tersenyum tipis, dia sudah sangat biasa dengan sikap Laura yang cuek. Lalu, dokter itu membuka laci meja dan mengambil satu amplop berwarna putih kemudian diberikan pada Laura.


"Ini surat yang kamu inginkan Laura. Semoga ide gilamu ini berjalan dengan lancar." Dokter itu menyodorkan amplop dengan senyum smirk di bibirnya.


Laura menerima amplop itu dan menjawab, "Rencana ku ini akan berjalan lancar, asal dokter Iwan bisa kompak dalam bersandiwara."


"Itu hal yang sangat mudah, asal kamu mau menyetujui juga persyaratan yang aku berikan. Dalam hal ini karirku lah yang di pertaruhkan," ujar dokter Iwan, dengan tatapan tajamnya.


"Dokter tenang saja, aku akan selalu mentaati peraturan. Kalau begitu, aku pamit undur diri. Selamat pagi Dokter, terima kasih atas kerjasamanya." Laura beranjak dari kursinya, kemudian pergi dari ruangan itu.


Di Tempat Lain.


Indra sedang sibuk dengan laptopnya. Banyak sekali pekerjaan yang harus dia selesaikan. Dalam dua hari dia harus kembali ke Jakarta. Namun, dalam hatinya tidak tega meninggalkan Dinda sendiri. Tiba-tiba keseriusannya dibuyarkan oleh suara Dinda yang meminta tolong.


"Mas, bisa minta tolong ke sini sebentar? Kepalaku pusing dan rasanya berputar-putar," seru Dinda dalam kamarnya.


Mendengar suara itu, Indra segera meletakkan laptopnya dan bergegas masuk ke dalam kamar. Dia melihat Dinda yang sedang meringkuk sambil memegangi kepalanya.


"Kamu jangan meringkuk seperti ini. Berbaring yang baik, aku akan memijat pelan kepalamu," ucap Indra dengan tangan memijat pelan dahi dan juga kepala istrinya.


"Bagaimana? Apa masih sakit?"

__ADS_1


"Pijatan mu enak Mas, kepalaku sedikit ringan. Tadi rasanya sakit sekali, seperti berputar-putar."


Indra terus memijat kepala Dinda dengan lembut. Dia memperhatikan wajah cantik istrinya itu. "Din, kenapa aku merasa damai ketika melihat wajah cantikmu. Kelembutan sikapmu berbeda jauh dengan Laura," ucap Indra dalam hati.


Hampir lima belas menit, Indra terus memijat kepala istrinya. Hingga rasa pusing itu berangsur dan sedikit menghilang.


"Sudah Mas, cukup! Sedikit membaik," ucap Dinda dengan menurunkan tangan Indra dari dahinya.


Dinda membuka mata, kemudian tersenyum manis pada Indra yang sejak tadi memandangnya. "Terima kasih Mas. Telah menjadi suami yang siaga untukku di tengah kesibukanmu," ucap Dinda dengan suara lembut.


"Sudah menjadi tugasku Din. Tapi, dua hari lagi aku harus kembali ke Jakarta. Kamu tidak apa-apa kan jika aku tinggal sebentar?"


Dinda terkejut mendengar ucapan suaminya. Senyum manis yang mengembang tadi menghilang. Baru saja dia ingin percaya pada kesungguhan sikap Indra. Akan tetapi, rasa ragu itu kembali datang.


"Apa urusan pekerjaan Mas? Apa aku masih belum boleh ikut ke Jakarta untuk menemui keluargamu?"


Indra terdiam mendengar pertanyaan Dinda. Dia bingung harus beralasan apa lagi? Akhirnya dia memilih untuk berbohong lagi.


"Maaf, tapi aku belum bisa membawamu menemui keluarga ku Din. Tapi aku janji setelah melahirkan nanti akan aku boyong kamu ke Jakarta," ucap Indra dengan semua janji palsunya.


Tentu saja jawaban Indra membuat hati Dinda sedih. Lalu dengan senyum terpaksa, dia mengizinkan suaminya untuk pergi. "Baiklah Mas, aku menerima jawaban mu. Walaupun aku tahu ada satu rahasia yang masih kamu sembunyikan dariku. Aku hanya berharap kamu tidak menyalahgunakan kepolosan ku ini Mas, karena aku menyerahkan jiwa ini dengan sepenuh hati untukmu," ucap Dinda dengan suara lirih.


Indra merasa tertampar dengan ungkapan hati Dinda yang sangat dalam. Dia semakin dilema dengan kondisinya saat ini. Ingin rasanya Indra mengakui apa rencana yang sedang dia rancang. Tapi, mengingat rasa cintanya pada Laura menjadikan niat itu kembali tersimpan dengan rapi.


"Aku tahu rasa tulus dalam hatimu Din, karena aku merasakannya. Kamu gadis yang baik dan berhati lembut. Sekali lagi aku minta maaf, jika belum bisa membahagiakanmu."


"Aku akan bahagia jika kamu tidak menyakitiku Mas. Aku tidak menuntut apa-apa darimu. Cukup cintai dan jangan bohongi aku, itu sudah lebih dari cukup. Mungkin diri ini tidak akan mampu menahan jika suatu hari nanti kamu menghancurkan jiwaku Mas. Jujur, hal semacam itu masih menghantui di setiap waktuku."


Indra duduk di atas ranjang lalu ikut berbaring di samping istrinya. Dia memeluk dan mencium kening Dinda dengan lembut, "Aku akan membuktikan hal itu suatu hari nanti Din. Aku akan menunjukkan ketulusanku padamu."

__ADS_1


Dinda hanya bisa menahan air matanya yang ingin jatuh. Dia benar-benar belum bisa mempercayai setiap ucapan yang keluar dari mulut suaminya.


"Kenapa kamu menjadi seperti ini Mas. Apa yang membuatmu belum bisa jujur padaku. Padahal aku sangat mencintaimu, aku berharap kamu tidak mengingkari janjimu itu Mas," ucap Dinda dalam hati.


__ADS_2