
Bu Ningrum melihat paper bag yang berisi dua toples kue kering buatan Dinda. Dia membuka toples tersebut, dan mencicipi kue kering berbentuk bunga itu. Bu Ningrum merasakan rasa kue itu dan menganggapnya enak.
"Kue ini kamu beli dari mana Indra? Rasanya enak," tanya Bu Ningrum dengan memakan kue kering tersebut.
Indra terdiam, dia bingung harus menjawab apa? Hal itu membuat Bu Ningrum bertanya kembali, "Indra kamu tidak dengar Mama tanya apa sama kamu?"
Indra menoleh pada Ibunya dan menjawab, "Kue itu pemberian temanku Ma. Kebetulan dia pandai membuat bermacam-macam kue."
"Enak, ini sangat enak. Mama suka dengan rasanya. Tapi jangan kira kamu bisa lepas begitu saja dengan kekecewaan Mama. Kamu tetap harus tegas dengan Laura, karena Mama tidak ingin terjadi hal buruk padanya. Kamu mengerti kan maksud Mama?"
Bu Ningrum tetap mengeluarkan kekesalannya terhadap Indra. Sedangkan Indra merasa bersalah karena dia harus berbohong pada Ibunya sendiri.
"Baiklah Ma, aku mengerti. Nanti, aku akan tegur Laura biar mau menurut. Kalau begitu aku pamit dulu Ma. Hari ini aku capek sekali," ucap Indra dengan suara lesu. Dia mulai bosan dengan drama yang dimainkannya sendiri.
"Ya pulanglah, Mama lihat kamu sangat capek sekali. Terima kasih atas kuenya, Mama suka."
"Iya Ma, aku pulang dulu." Indra pun pergi dari rumah Ibunya. Dia ingin segera beristirahat di rumahnya sendiri.
Sesampainya di luar, Indra segera naik ke mobil untuk pulang. Hanya dengan waktu 20 menit, dia telah sampai di rumah. Indra turun kemudian masuk ke dalam. Dia masuk dan melihat rumah dalam keadaan sepi sekali, yang terlihat hanya asisten rumah.
"Bi, Laura belum pulang kah?" tanya Indra pada asistennya.
"Belum Pak, biasanya Ibu pulang sekitar jam 9 nanti," jawab ART-nya.
Indra langsung naik ke atas untuk masuk dalam kamarnya. Dia ingin cepat mandi dan beristirahat. Sesampainya di kamar, ada sebuah chat yang masuk dalam ponselnya. Chat itu dari Dinda, lalu Indra pun membuka ponselnya.
[Mas, kamu sedang apa? Sudah sampai rumah belum?]
Indra langsung membalas chat dari Dinda, "Sudah tadi siang. Maaf belum memberitahumu karena aku langsung ke kantor dan sangat sibuk.Ini baru sampai di rumah. Kamu sudah makan belum? Bagaimana tadi ada mual atau tidak?"
[Aku sudah makan, Mas. Tadi ada mual sebentar, tapi ini sudah tidak apa-apa kok.]
__ADS_1
"Baguslah, tetap jaga kesehatan ya. Jangan terlalu capek. Oh ya, dapat salam dari Mama. Terus Mama suka dengan kue buatan kamu, Din."
[Iya Mas, aku akan membatasi kegiatanku. Syukurlah kalau Mama suka, nanti kapan-kapan aku buatkan lagi. Ya sudah, sana mandi dulu Mas. Nanti telepon aku ya.]
"Iya, aku mau mandi dulu. Selesai mandi nanti aku telepon kamu," ucap Indra membalas chat istrinya.
Dinda pun menyudahi percakapan itu, kemudian Indra masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Tak membutuhkan waktu lama, Indra selesai mandi. Dia keluar dari kamar dengan mengenakan celana bokser tanpa memakai kaos.
Indra berjalan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Setelah itu dia menuju ke arah balkon untuk menelepon Dinda. "Halo Din, apa kamu sudah tidur?" tanya Indra.
[Ini baru siap-siap Mas. Kamu sudah makan belum?]
"Belum, nanti sajalah. Aku belum lapar. Din, aku belum tahu kapan kembali ke Bandung. Pekerjaanku sangat banyak, karena baru saja menandatangani proyek yang cukup besar. Kamu tidak apa-apa kan? Jangan melakukan hal-hal yang membahayakan ya. Aku takut terjadi apa-apa sama kamu, disaat aku jauh darimu."
[Iya Mas, aku akan menuruti semua perkataan mu. Aku akan selalu menjaga kesehatan bayi kita.]
"Terima kasih sudah menjadi yang terbaik Dinda," sahut Indra senang.
Indra terkejut dengan kedatangan Laura yang tiba-tiba. Suara Laura juga samar di dengar oleh Dinda. Hingga menimbulkan pertanyaan dari sana.
[Suara siapa Mas? Seperti suara wanita.]
"Mana ada Din? Itu suara Mama sedang menerima telepon dari sahabatnya. Emm, sudah dulu ya Sayang teleponnya. Soalnya aku mau istirahat awal, karena besok ada meeting pagi," ucap Indra gugup.
[Iya Mas, selamat istirahat ya.]
Setelah itu, Indra mematikan teleponnya. Dia membalikkan badan dan menegur Laura. "Laura, kamu bikin aku terkejut saja. Aku lagi teleponan sama Dinda. Bagaimana kalau dia sampai curiga?"
"Apaan sih Sayang, lagian aku kan tidak tahu kalau kamu sedang menelepon dia. Terus apa lagi? Bisa-bisanya kamu memanggil dia dengan sebutan Sayang. Kamu sudah ada rasa sama dia?" seru Laura sedikit cemburu.
Indra melepaskan pelukan Laura dan masuk ke dalam. Dia sedang malas debat dengan istrinya itu. Indra merebahkan tubuhnya di atas kasur sembari membuka laptop.
__ADS_1
Laura pun kesal karena Indra mengabaikannya. "Sayang, kok kamu cuekin aku sih? Jadi beneran kamu sudah jatuh cinta sama dia?"
"Aku lagi malas debat sama kamu Laura. Sebagai suami mana pernah kamu menuruti perkataan ku. Bahkan kamu juga berani bersikap tidak sopan sama Mama."
Laura sudah menduga jika semua ini gara-gara Ibu mertuanya. Dia sangat kesal sekali, akan tetapi Laura harus sabar karena dia menginginkan sesuatu dari suaminya. Laura berjalan lalu naik ke atas kasur. Dia bergelayut manja di lengan Indra.
"Sayang, kamu marah lagi. Kamu sendiri kan tahu bagaimana sifat aku. Kita saling mengenal dari kuliah Sayang. Tapi kamu selalu saja memprotes apa yang aku lakukan."
"Aku seperti itu karena pernikahan kita ini semakin melenceng jauh Ra. Kamu tahu, mana ada istri yang menyuruh suaminya menikah lagi? Terus kamu sampai saat ini belum mau mengandung keturunan ku. Apa kamu tidak ingin membina rumah tangga yang serius sama aku Laura? Bahkan sekedar perhatian, kamu jarang sekali memberikannya padaku. Sekedar memasak makanan, apa kamu pernah melakukannya? Tidak pernah kan, Laura?"
Indra mengatakan semua keluh kesahnya pada Laura. Dia sudah mulai tak nyaman dengan pernikahannya sendiri. Indra mulai nyaman dengan perhatian yang di berikan oleh Dinda. Laura sedikit terkejut dengan penuturan suaminya. Dia mulai mencari akal untuk merayu mood Indra.
Laura mengeratkan kembali pelukan. Dia menyandarkan kepalanya sedikit. "Sayang, kamu tahu kan kalau menjadi wanita karir adalah impian ku. Jadi, sudah seharusnya aku fokus sama karir ku. Bukankah kita dulu sudah sepakat dan kamu juga tidak keberatan dengan keputusan ku."
Indra benar-benar tak habis pikir. Laura selalu dengan keegoisannya. Dia tak pernah mengerti dengan perasaan suaminya sendiri.
"Sudah dong Sayang, jangan marah lagi. Maafin aku ya, jujur aku belum bisa melepaskan karirku. Tadinya aku ingin meminta sesuatu tapi kejadiannya justru seperti ini."
Indra menghela nafas berat, kepalanya sangat pusing sekali. "Kamu menginginkan apa? Segeralah bilang," ucap Indra dengan memijat pangkal hidungnya.
Laura tersenyum senang. Dia melepas pelukannya dan mencium pipi Indra dengan lembut, "Brand tas kesukaan ku launching produk terbaru Sayang. Barangnya masih pre-order. Aku ingin beli, tapi syaratnya harus bayar cash dulu."
"Berapa harganya?" tanya Indra tanpa menoleh.
"Tidak mahal kok, hanya 30 juta Sayang."
Indra langsung mengambil cek di laci mejanya dan menulis nominal uang untuk Laura. "Ini uangnya. Pesanku padamu, selama ini aku selalu menuruti semua permintaan mu Laura tanpa ada pengecualian. Aku mohon balas lah semua itu dengan sedikit perhatian untukku karena aku tidak ingin pernikahan kita ini sia-sia Laura."
"Iya-iya, aku akan merubah sikap aku demi kamu. Terima kasih ya Sayang. Kamu memang terbaik. I love you."
Laura menyandarkan kepalanya lagi di lengan Indra. Dia benar-benar sangat bangga bisa memanfaatkan suaminya sendiri dengan dalih cinta.
__ADS_1
"Indra, aku akan terus memanfaatkan situasi ini sebelum semuanya terbongkar. Kamu pikir aku bahagia dengan pernikahan ini. Aku hanya bahagia dengan semua uangmu," ucap Laura dalam hati.