
Tak disangka setiap hubungan bukan hanya memiliki nama. Karena setiap hubungan juga memiliki warnanya masing-masing. Seperti saat ini, Avril sedang merayakan pesta ulang tahun pernikahan Ayah dan Ibunya. Satu-satunya orang yang duduk tenang dengan wajah datar tanpa ekspresi adalah Aislin.
“Hey, paling tidak berusahalah bersikap seolah kau ikut bahagia bersama Avril” tegur Fiona sambil mencolek lengan Aislin.
Untuk apa aku berpura-pura seperti itu kalau pada akhirnya nanti tawa cerianya suatu hari nanti akan berubah menjadi air mata duka?
“Aku mulai bosan dengan keributan di dalam sini. Sebaiknya aku..., keluar sebentar” jawab Aislin menghindari pertanyaan selanjutnya. Maka Aislin berjalan menuju halaman taman hotel Brixtn tak sengaja berpapasan dengan seseorang di sana. Aislin menghentikan langkah menoleh pada seorang Wanita modis yang berpapasan dengannya. Ia memperhatikan sedetail mungkin apa yang ia lihat dari Wanita tersebut. Tiba-tiba ada seorang Laki-laki di sampingnya ikut memperhatikan apa pun yang mengalihkan perhatian Gadis disampingnya.
“Kau mulai terbiasa dengan warna itu?” tanya Laki-laki disamping Aislin. Gadis bernama Aislin tersebut hanya menatap datar Laki-laki tampan di samping.
“Dua Tahun. Sudah dua tahun sejak kecelakaan sekaligus semenjak kau, selalu berkeliaran di sekelilingku Eros. Dalam waktu selama itu berkatmu aku mulai bisa beradaptasi dengan baik” jawab Aislin sinis sambil melanjutkan berjalan menuju taman.
“Setiap manusia sangat memujaku dan hanya kamu yang memusuhiku padahal saat itu akulah penyelamat jiwamu. Kau ingat?” protes Eros membuntuti Aislin kesal.
“Apa kau tidak punya kerjaan lain selain membuntutiku?”
“Aku sedang istirahat. Apa kau tidak merasa terlalu kejam padaku? Kau tahu siapa aku” sindir Eros sambil merentangkan dua sayap putih halus, di balik punggungnya.
“Aku mulai kehilangan respekku padamu sejak awal Eros. Jadi jangan memintaku untuk memujamu seperti manusia yang lain. Kau, dewa cinta menyedihkan bagiku” gerutu Aislin sambil duduk di bangku taman.
“Semua dilakukan demi suratan takdir agar dapat berjalan sesuai dengan semestinya. Tidak ada sangkut pautnya denganku. Jadi hal menyedihkan apa pun yang terjadi pada seluruh manusia pasti ada sebabnya dan aku hanya menjalankan tugasku" maka ingatan Aislin menerawang mundur ke masa lalu dimana ia mengalami kecelakaan dan sekaligus mengenang lokasi pertama kalinya bertemu dengan Eros.
Perjalanan panjang Wisata Sekolah setelah berhari-hari menjalani ujian akhir semester justru membawa mala petaka. Saat itu tiba-tiba saja petir bergemuruh tak biasa di langit, kemudian petir kedua menyambar pohon tepat di depan bus sekolah yang ditumpangi Aislin dan kawan-kawan.
Pohon itu tumbang, jatuh hampir menimpa bus tapi sang sopir bus menghindar membuat bus yang ditumpangi Aislin selip sekaligus masuk ke jurang. Untungnya, bus tersangkut oleh pepohonan sehingga tidak langsung jatuh ke dasar jurang. Aislin pikir itu adalah akhir hidupnya tapi justru menjadi awal hidup baru. Aislin yang terluka parah, melihat banyak pecahan kaca di depannya.
Demi keinginan hidup panjang, Aislin tidak peduli harus merambat meski taruhannya melewati pecahan kaca tersebut. Akhirnya Aislin dapat mengeluarkan tangan kanannya ke pohon yang menyebabkan bus tersangkut. Ia menatap bingung seorang Laki-laki berjas serba putih sedang berdiri di bibir jurang. Aislin mengangkat tangan yang satunya.
“To...long...tolong aku...” kata Aislin menyita perhatian Laki-laki itu. Muncul Laki-laki lain berjas serba hitam duduk di bibir jurang memperhatikan bus yang sebentar lagi benar-benar akan jatuh ke dasar jurang, setelah seluruh pohon yang menahan bus tersebut tumbang karena tak kuat menahan beban bus.
Mereka bukannya menolong, malah sibuk berdebat! Sementara bus semakin melorot ke bawah dan benar saja, bus itu langsung tiba di dasar jurang sementara Aislin berhasil merambat dari pohon satu, ke pohon yang lebih kokoh lainnya.
BOOoM!!
Suara ledakan mengejutkan Aislin membuat genggaman tangannya mengendur dan tergelincir jatuh! Aislin memilih memejamkan kedua matanya tapi hembusan angin tak biasa di sekitarnya membuat Aislin membuka mata kembali dan melihat seorang malaikat berjas putih, terbang merentangkan kedua sayap menuju ke arahnya.
“Mulai sekarang kau pengikutku” kata Laki-laki itu setelah berhasil menangkap Aislin ke pelukannya. Dalam sekejap, kedua mata itu menyihir hati, dan pikiran Aislin. Mereka kini mendarat di atas bukit.
“Kau...malaikat?”
“Aku Eros. Kau telah membuat perjanjian dengan Dewa cinta sekarang. Selama kontrak dibuat, kau tidak akan mati bahkan menua.”
“Tapi aku belum melakukan janji apa pun denganmu” protes Aislin.
“Saat kau memutuskan untuk memohon pertolongan padaku, sejak itulah kontrak dibuat. Sampai bertemu lagi” sang Dewa memberi penjelasan sambil meniup mata Aislin lembut. Perlahan, tapi pasti...Gadis itu tertidur pulas.
Biiip
__ADS_1
Biiip
Aislin mendengar suara berisik tak jauh darinya. Aislin membuka kedua matanya, menatap ruangan yang di dominasi warna putih.
“Aislin sayang akhirnya kau bangun” sambut Ibu Aislin mengecup kening Puterinya lalu memencet bel meminta perawat datang untuk memeriksa perkembangan Aislin. Gadis muda itu panik luar biasa matanya tak melihat apa pun semua gelap gulita. Dokter memeriksa kedua mata Aislin dan menghela nafas kebingungan.
“Sepertinya kita harus membawanya ke lab untuk mengetahui masalah pada matanya lebih lanjut. Tapi ini benar-benar aneh saya tidak melihat adanya masalah di mata Gadis itu semuanya normal tapi kenapa dia bilang tidak bisa melihat apa pun?” kata Dokter yang menangani Aislin kepada Dokter spesialis mata lainnya.
“Kita cek saja dan lihat perkembangan selanjutnya. Kau benar ini kasus langka” gumam rekan Dokter itu, diambang pintu kamar rawat Aislin.
Gadis malang itu mendengar semuanya tentang keanehan pada kedua matanya. Aislin meremas kuat selimut yang membungkus tubuhnya ia menahan isak tangis merasa masa depannya akan hancur mulai hari itu juga. Ketika air matanya menitik, samar kedua matanya menangkap cahaya lalu perlahan bertambah jelas dan semakin jelas terlihat objek benda di depan matanya. Aislin mengusap matanya yang sembab, memastikan apa pun benda yang tertangkap mata itu adalah nyata.
Aislin turun dari tempat tidur pesakitannya lalu berjalan menuju objek benda yang teridentifikasi sebagai sofa. Aislin menyentuh sofa, dan mencoba meraba apa pun benda di sekitarnya dengan rasa syukur tak terhingga.
“Aislin!! Apa yang kau lakukan?” pekik sang Ibu panik melihat Puterinya yang buta berdiri jauh dari tempat tidurnya. Aislin menoleh, menatap lembut wajah sang Ibu lalu menghambur memeluknya.
“Kau...bisa melihat...Mom dengan jelas?” tanya sang Ibu dengan sebuah tangisan kebahagiaan. Aislin mengangguk penuh suka cita setelah melepas pelukan pada sang Ibu. Aislin terdiam sejenak ia menangkap benda yang sangat ganjil tersemat kuat di jari manis sang Ibu.
Aislin berusaha menggapai benda tersebut tapi tak bisa disentuh seujung jari pun!! Kenapa benda semacam benang berwarna hitam pekat menjuntai panjang....sekali menempel di jari manis Ibunya? Baru kali ini ia melihat Ibunya memakai benang sebagai aksesoris.
“Mom, kau memakai sesuatu di jari manismu? Bukankah itu akan sangat merepotkan?”
“Apa? Mom tidak menggunakan apa pun di sini” balas sang Ibu menggosok jari manisnya dengan tangan lain.
Aislin terkejut menyadari benang berwarna hitam menembus tangan lain Ibunya itu. Berulang kali Aislin mengusap matanya meyakinkan diri antara berhalusinasi atau benar-benar melihat. Sang Ibu panik memanggil kembali suster untuk mencari tahu ada apa dengan penglihatan anaknya.
“Sebenarnya benang apa itu? Kenapa mereka semua sampai tidak menyadari menggunakan benang di jari manis mereka?!” gumam Aislin saat semua orang meninggalkannya sendiri.
“Itu adalah benang perjodohan. Tentu semua orang memiliki benang itu. Jika kau bersikeras terus mempermasalahkannya, di depan semua manusia itu, kau hanya akan di anggap tidak waras” tiba-tiba saja Eros sudah berdiri di samping Aislin, di saat para suster dan dua orang dokter datang mengontrol perkembangannya.
“Apa kau masih melihat sesuatu di jari manis Mommu?” tanya sang Dokter serius. Aislin menatap raut wajah semua orang di ruangan itu.
Aku tidak hanya melihat benda itu di jari manis Momku. Aku juga melihat di tangan kalian semua batin Aislin membuat Dewa Eros terkekeh lembut.
“Ah, aku baru saja bermimpi Mom mengenakan cincin pernikahannya lalu mimpi itu terbawa sampai aku bangun” kekeh Aislin sambil melirik Eros.
“Itu hal yang wajar mengingat pasien tiga bulan koma. Sedikit demi sedikit otaknya akan bekerja dengan normal. Kami akan berusaha sekuat tenaga” kata Dokter sambil menepuk bahu sang Ibu.
“Kau sedang membayangkan masa lalu?” tanya Eros memecahkan lamunan Aislin tentang masa lalunya.
Tiba-tiba terdengar letusan dari dalam hotel!! Aislin bergegas berlari masuk ke dalam hotel dan mendapati Wanita yang beberapa waktu lalu berpapasan dengan Aislin dalam keadaan panik bercampur ketakutan berlebihan, sedang lari keluar dari hotel. Beberapa penjaga keamanan hotel mengejar sekaligus meneriakinya.
Aislin berpikir arah mereka keluar bukankah itu tempat pesta ulang tahun pernikahan orang tua Avril?! Gadis cantik tersebut langsung berlari dan hanya berdiri lemas, melihat pemandangan berdarah di hadapannya. Aislin menitikkan air mata ketika Avril menangis histeris melihat kematian Ayahnya. Eros menutup mata Aislin dari belakang lalu memeluknya.
“Ini bukan salahmu. Kau hanya di beri berkah, untuk melihat hubungan pada setiap insan di dunia. Kau tidak bertanggung jawab atas kematian orang tua Avril” lirih Eros di telinga Gadis itu.
Tetap saja aku merasa berdosa. Aku...,sudah melihat akhir dari hubungan mereka tapi tidak memberi peringatan pada Puteri mereka.
__ADS_1
“Kau tidak tahu kematian macam apa yang menimpa Dad Avril. Kalaupun peringatan itu telah kau sampaikan, apa temanmu Avril akan mempercayai semua yang kau katakan? Apa akan masuk akal baginya?” pertanyaan Eros memang benar.
Pasti Avril hanya menganggap itu efek dari minuman alkohol yang Aislin minum saat pesta berlangsung. Suara sirene ambulance mengumandang, hingar bingar kemewahan berubah menjadi jeritan histeris dalam hitungan detik.
“Apa kau mengetahui ini akan terjadi, sehingga sebelum kejadian kau, bersi keras meninggalkan hotel?” tanya Fiona berbisik kecil saat menghadiri pemakaman Ayah Avril.
“Apa itu masuk akal Fiona?” balas Aislin menaikkan kedua alisnya.
“Ini hanya menurut apa yang aku lihat selama ini. Kau selalu berkelakuan aneh sebelum sesuatu hal yang heboh terjadi. Bagaimana aku bisa mengabaikan fakta seperti itu” kata Fiona meringis kecil.
“Kau selalu menghubungkan banyak hal kebetulan menjadi serangkai plot cerita menarik. Ku rasa kau perlu beralih profesi menjadi penulis,” sindir Aislin mulai berkeringat dingin. Inilah kekurangan dari Aislin Bell. Dia tidak dapat menyembunyikan emosi yang terbentuk di wajahnya maupun pada perilakunya.
Setahun telah berlalu peristiwa berdarah bagaikan mimpi disiang bolong untuk seorang Aislin. Karena hal itu, Aislin berusaha untuk lebih peduli pada orang-orang di sekitarnya. Jika dia bisa menyelamatkan banyak hubungan, itu akan jadi prestasi bukan?
“Aislin, maaf aku tidak bisa berpikiran jernih kali ini. Raighan terus memenuhi kepalaku” kata seseorang pada Aislin sambil menenggak dua cangkir alkohol bersamanya.
Warna hitam adalah hari dimana hubunganmu terputus dengan orang yang berjodoh denganmu selamanya. Warna merah adalah waktu dimana kau terhubung dengan jodoh orang lain dan tidak akan dapat bersama selamanya. Kata hati Aislin ketika ia menatap lekat benang warna merah milik Carty.
“Aku memberimu satu nasihat Carty...jika kau mau”
“Oh ya? Apa itu?” tanya Carty antusias.
“Sebaiknya kau menemui Pria lain dan memulai hubungan yang baru” kata-kata Aislin menuai sebuah tamparan keras di pipinya.
“Kau!! Sudah lama aku mencurigaimu Aislin!! Tapi aku berpura-pura tidak tahu karena berharap kau tidak akan melakukannya padaku. Tapi lihat, kau terang-terangan memintaku memutuskan hubunganku dengan Raighan hanya karena kau menginginkannya juga?!” teriakan dan tamparan Carty yang mabuk berat menuai perhatian banyak orang.
“Carty...ayo pulang kau sudah mabuk”
“Bersikap sok baik huh?!” Carty menampik tangan Aislin yang hendak menggiringnya keluar dari bar. Terpaksa Aislin memohon bantuan pada petugas keamanan untuk menyeret Carty masuk ke dalam mobilnya.
“Kau tidak akan bahagia bersamanya Carty. Mungkin sekarang dia sibuk bekerja. Tapi suatu saat nanti, dia akan menemukan jodohnya lalu mulai mengabaikanmu” Aislin bergumam sambil menatap sendu sahabat karibnya setelah memasangkan sibelt.
Mobil Aislin berhenti di halaman rumah Carty. Kedatangannya disambut oleh Raighan, yang kemudian secara spontan menggendong Carty sangat hati-hati seolah sedang membawa barang pecah belah.
Alangkah lucunya dunia. Ada seorang Pria sebaik Raighan, yang suatu saat nanti akan berubah menjadi seorang pengkhianat bagi sahabatku sendiri. Ini...tidak adil bukan?
“Kenapa kau tidak menelepon ku saja tadi? Setidaknya kau tidak perlu repot-repot untuk mengantarnya pulang” tanya Raighan sambil menutup kembali pintu mobil dengan salah satu lututnya.
“Aku ingin mengatakan sesuatu padanya tadi tapi dia sedang tidak sadarkan diri”
“Kau bisa mengatakannya padaku dulu setelah Putri tidur ini sadar, biar ku sampaikan padanya” senyuman Raighan membuat Aislin ragu.
“Ini..., agak pribadi. Urusan antar Wanita jadi...”
“Baiklah aku paham soal itu. Terima kasih” balas Raighan langsung masuk ke dalam rumah Carty. Begitu Pria itu masuk bersama Carty, Aislin langsung berjongkok di sebelah mobilnya mencoba menjernihkan pikiran.
“Kau sudah melakukan hal tepat. Sekarang tinggal bagaimana takdir berjalan, dan apa keputusan akhir dari Carty dengan hubungannya. Sampai disini, kau tidak bisa masuk lebih dalam lagi” suara Eros terdengar sementara Aislin menatapnya jengkel.
__ADS_1
“Kau ini Dewa cintakan? Artinya kau, bisa menanam bahkan mencabut cinta sampai ke akar-akarnya dari siapa pun orangnya. Kau bisa melakukan itu, tapi kau hanya menonton?” marah Aislin. Ia merasa Dewa dihadapannya sedang mempermainkan sahabatnya.