
Aislin menatap lekat wajahnya di depan meja riasnya, bercermin takjub melihat keajaiban kali ini. Lalu dirinya melirik sedih pada Dewa yang dengan santainya tiduran di atas tempat tidur Aislin.
“Berhentilah terus mengharapkan kebersamaan kita Eros. Hubungan kita tidak akan mungkin menjadi indah selamanya. Baik di kehidupan ini maupun selanjutnya. Aku mohon, ada banyak Dewi di langit sana, lalu kenapa kau masih menginginkanku? Bahkan setelah aku menua” tegas Aislin sambil menyisir rambutnya.
“Aku tidak meminta jatuh hati padamu tapi tangankulah yang memilihmu saat itu Psikhe” jawab Eros sambil menutup matanya perlahan.
“Aku Aislin bukan lagi Psikhe milikmu. Jangan siksa dirimu sendiri dengan menantiku Eros. Aku membenci hal itu” tegas Aislin tak main-main.
“Bisa, tidak kita bicarakan hal seperti ini lagi? Aku jujur muak sekali. Cukup bicarakan saat ini saja tidak perlu melihat ke belakang, itu telah lama berlalu. Dan jangan terpaku dengan masa depan, karena belum tentu terjadi sama persis dengan ketakutanmu saat ini. Aku baik-baik saja” potong Eros menatap tajam Aislin.
“Kalau kau memikirkan kebahagiaanku maka tolong pahamilah aku. Cukup terus bersamaku di sisa hidupmu, bagiku itu sudah cukup. Jadilah Aislin yang selama ini aku cintai bukan yang Richard Louis cintai” tambah Eros, menerbangkan Aislin dalam posisi duduk, membuka selimut yang terhampar rapi diatas tempat tidur Aislin.
Meletakkan dengan sangat hati-hati tubuh Aislin ke atas tempat tidur, lalu dengan kekuatannya pula, ia menarik selimut itu kembali, untuk menyelimuti Aislin. Eros berbalik menatap wajah Wanita tersebut penuh kerinduan.
“Jangan pernah berpikir untuk membuangku dari hidupmu. Tidurlah” bisik Eros di telinga Aislin sambil menepuk-nepuk lembut kepala Aislin berharap ia mampu memberi kenyamanan bagi Wanita itu, hingga terlelap tidur.
Grek
Grek
Grek grek
Dua jam kemudian, seseorang sedang mencoba membuka pintu meskipun ia telah menggunakan kunci cadangan yang memang selalu di bawanya kemanapun dia pergi, tetap saja pintu tersebut sulit terbuka.
“Apa Mom lupa lagi mencabut kuncinya dari dalam?” gumam Laki-laki berusia 39 tahun itu sambil mencoba menghubungi Ibunya.
“Ya ampun bahkan dia meninggalkan ponselnya?!” pekik sang anak frustasi.
Di dalam kamar Aislin, Eros langsung membuka mata mengetahui ada seseorang berusaha masuk ke dalam rumah Aislin.
Ia tersenyum bukannya panik. Padahal seharusnya dia panik, karena wujud Aislin kembali muda sewaktu-waktu dapat dilihat oleh anak cucu Aislin. perlahan tapi pasti Eros turun dari tempat tidur dengan kekuatannya, ia kemudian memberi tahu seluruh pelayan tak kasat mata itu berhenti bekerja, dan diam berkumpul di suatu tempat tanpa membuat suara sedikitpun.
Lagi-lagi Pria tersebut menggunakan kekuatannya, untuk membiarkan anak Aislin mudah masuk.
Krieeeeeeek
“Mom!! Kau dimana?!” panggil anak pertamanya nyaring tapi sang Ibu tak menyahut. Perlahan ditutupnya kembali pintu dan berjalan menyusuri setiap jengkal rumah sang Ibu. Ia khawatir kalau ada hal buruk terjadi pada sang Ibu. Pertama, ia mencari Ibunya ke arah dapur.
“Wow, apa akan ada pesta kecil di rumah ini? Siapa yang menyiakan makanan enak ini?” senyum si anak pertama, sambil mencicipi masakan yang masih terasa hangat.
“Hmm, enak. Baru saja selesai dimasak pasti seseorang menyiapkannya untuk Mom tapi siapa?” si Putra pertama bergegas mengelilingi rumah, tapi tak melihat seorang pun, kecuali Ibunya yang sedang tidur nyenyak.
“Wah, kali ini Mom bisa tidur nyenyak tanpa di temani anak-anaknya? Ini kemajuan” kekeh Putra pertama di ambang pintu.
“Apa Anda Putra dari Grandma Aislin?” tanya Eros tak jauh darinya.
“Aku baru melihatmu disini, siapa kau?” pertanyaan ini sudah pasti akan muncul sewaktu-waktu mungkin hari ini baru anak pertama Aislin, suatu hari nanti pasti dua anak lainnya pun akan mempertanyakan hal yang sama. Eros memanipulasi ingatan si Putra pertama dalam sekejap.
“Mungkin Anda lupa dengan saya. Saya Eros Jorgie, cucu mendiang Edward Jorgie.”
“Ah, pantas aku merasa wajahmu sangat tidak asing ya, ternyata wajah sang cucu sangat mirip dengan Grandpa” kekeh si Putra pertama.
“Lalu, ada keperluan apa kemari Eros?”
“tadi di jalan saya menemukan Grandma Aislin berjalan kaki sendirian tanpa seorang pun yang menemani. Jadi saya berinisiatif untuk menghampirinya. Beliau berkata, sangat kesepian di rumah, lalu beliau keluar untuk mencari Putra-putranya agar pulang ke rumah”
“Ya ampun. Maaf merepotkanmu”
“Tidak masalah. Grandma dan Grandpa saya juga sudah meninggal dunia. Jadi..., begitu melihat Grandma Aislin rasanya seperti memiliki Grandma kembali” kekeh Eros sendu.
“Maaf sudah lancang masuk ke dalam rumah ini apa lagi, saya mengacak-acak isi dapur” tambah Eros mengingat sang Kokinya sedang bersembunyi.
“Jadi kau yang membuat semuanya? Sendiri?”
“Ya, apa Anda sudah menyiapkan makanan untuknya?” jawab Eros merasa lebih tidak enak hati.
“Wah, tidak. Tadinya aku hanya ingin membuatkannya telur mata sapi, tapi tidak di sangka ada malaikat sepertimu yang mau repot-repot menyediakan makanan enak untuk Momku. Terima kasih”
__ADS_1
“Tidak masalah. Biasanya dulu saya sering melakukan hal seperti ini untuk Grandma dan Grandpa tapi sekarang saya tidak mungkin bisa melakukan hal itu lagi”
“Makanan yang kau buat sungguh lezat Eros. Kalau kau mau kapan pun kau bisa datang menemui Momku, tidak masalah. Lagi pula kami juga khawatir dengan keadaannya. Kami terlalu sibuk, sampai mengabaikannya seperti ini. Kalau kau tidak menemukannya tadi, mungkin kami akan panik mencarinya di luar sana.” Jawab dang Putra pertama merasa sangat berterima kasih.
“Jadi Anda sekalian tinggal di rumah terpisah?”
“Ya, kami semua sudah berkeluarga dan saling bergantian menjaga Mom. Tapi kami memiliki banyak keterbatasan karena itu. Kau tinggal dimana?”
“Saya mengontrak di sebuah rumah tak jauh dari sini. Bulan depan kontraknya habis, jadi saya harus mulai mencari tempat yang baru. Karena itu saya berjalan-jalan untuk mencari rumah kontrakan baru yang lebih murah” kekeh Eros sambil menggaruk kepalanya malu-malu.
“Kau bisa tinggal disini? Maksudku, kau tidak perlu membayar uang sewa kau cukup merawat Momku saja. Bagaimana? Atau kau terlalu sibuk?”
“Benarkah? Serius? Tak perlu membayar sepeser pun?”
“Ya, kau tinggal merawat Momku disini sebagai gantinya”
“Oke. Deal. Terima kasih” tiba-tiba Eros memeluk si anak Pertama dengan senang hati.
Tak kusangka sangat mudah mendapatkan izin terus berada di sekitar Aislin. Batin Eros sambil tersenyum riang.
“Kau seperti sedang mendapatkan lotre sekarang nak,” tepukan si Putra pertama di punggung Eros menyadarkannya bahwa dia, sudah terlalu keras memeluk si Putra pertama.
Untung aku sedang menyamar. Umurku dengan umurmu jelas sangat jauh berbeda ribuan tahun. Geram hati Eros tak suka di anggap anak-anak.
“Kau akan pindah mulai kapan? Minggu depan?”
“Kalau boleh saya akan mulai memindahkan barang sekarang, sedikit demi sedikit, dan mulai menjaga Grandma?”
“Lakukanlah. Aku akan memberi tahukan pada Mom kabar baik ini” sambut si Putra pertama melangkah memasuki kamar Ibunya.
Aislin masih dalam mode muda. Gazleil setidaknya bantulah aku kali ini. Rengek Eros dalam hati sekaligus mengirim sinyal meminta bantuan.
Si anak Pertama memasuki kamar, lalu berjalan ke arah Ibunya yang tidur memunggunginya di balik selimut tebal. Si Putra pertama duduk di samping Aislin yang tidur pulas, memeluk sayang dari belakang.
“Eros?” gumam Aislin antara sadar dan tidak.
“Ini Ken. Mom, apa jalan-jalannya melelahkan?” pertanyaan Ken Putra pertamanya membuat Aislin langsung berbalik, dan menatap senang wajah Putranya.
“Ada kejutan untuk Mom. Siapkan dirimu oke,”
“Kejutan? Sudah lama anak ini tidak memberiku kejutan? Apa itu?” jawab Aislin penuh minat sambil mengacak-acak rambut Putranya.
“Akan ada anggota keluarga baru”
“Wow, aku akan mendapatkan cucu lagi? Berapa bulan kandungan Tina?”
“Mom..., bukan itu” kekeh Putranya geli.
“Lalu apa?”
“Dia” tunjuk Joe pada Pria muda yang bertengger di depan daun pintu.
“Dia? Anggota keluarga baru?”
“Dia akan mengurus seluruh keperluan Mom mulai saat ini. Karena sekarang, dia akan tinggal disini”
“Apa?! Tidak. Tidak bisa. Kau!! Bisa-bisanya kau, membiarkan orang asing mengurusku?”
“Dia bukan orang asing Mom, dia cucu dari Edward Jorgie. Bukankah kalian teman baik? Aku sering dengar Dad selalu memuji Edward setiap waktu. Ayolah..., dia ingin mengurusmu seperti mengurus Grandma nya sendiri"
" Aku dan Adik-adik tidak bisa menjagamu dalam waktu lama. Kami akan sering berkunjung, janji. Mengizinkannya merawat Mom, bukan berarti kami akan menelantarkan Mom. Kami masih sangat mencintaimu, dan kami butuh bantuan untuk memastikan semua kebutuhan Mom terpenuhi” bujuk si Putra pertama sempat membuat Eros terharu.
“Aku hanya butuh Putra-putraku” gumam Aislin cemberut.
“Mom, ayolah..., kami selalu gelisah setiap berada jauh dari Mom. Apa Mom makan tepat waktu? Apa Mom menghabiskan makanannya? Apa Mom baik-baik saja? Apa Mom sehat?"
"Bagaimana kami bisa bekerja dengan tenang kalau selalu gelisah memikirkan keadaan Mom? Ku mohon Mom, biarkan anak itu merawatmu” rayu Ken dengan wajah super memelas.
__ADS_1
“Berhenti membuat ekspresi memuakkan itu. Lakukan sesuai keinginanmu” kata Aislin pasrah sambil berdecak sengit.
“O ya. Eros sudah menyiapkan sup asparagus spesial untuk Mom. Ayo, bangun dan makanlah. Itu menu kesukaan Mom, pasti Mom tidak akan menyesal” kata Ken membimbing si Nenek cantik itu berdiri.
Membiarkannya tetap berdiri tegak dalam lima menit, lalu kembali membimbingnya menuju meja makan. Ken sudah menyiapkan kursi roda tapi Aislin yang keras kepala, ingin tetap berjalan dengan kedua kaki rentanya.
Eros langsung menarik kursi, sehingga Aislin dapat duduk diatasnya dengan nyaman. Tanpa ragu ia menyiapkan mangkuk sup dan menuangkan sup asparagus hangat ke dalamnya.
“Badanku terasa lengket. Mom, makan bersama Eros dulu ya, nanti Ken akan menyusul setelah selesai mandi. Oke,” kata Ken menepuk bahu Aislin lalu pergi begitu saja.
Krieeeek
Klek klek
Pintu kamar. Ken tertutup dan dikunci dari dalam. Begitu Ken masuk kamar, Aislin kembali menjadi muda.
“Apa yang kau lakukan sehingga anakku mengizinkanmu tinggal disini huh?” omel Aislin menatap tajam Eros penuh selidik.
“Aku hanya memintanya dengan baik-baik, tidak ada yang istimewa sayang, makanlah sebelum dingin”
“Kau tahu ini akan sangat merepotkanmu. Aku tidak muda lagi Eros,”
“Bagiku, kau masih tetap sama. Tidak ada yang berubah”
“Buka matamu, aku hanya Grandma peyot. Kau muda dan energik pilihlah Wanita muda diluar sana”
“Apa bedanya dengan keadaanmu sekarang? Kalaupun aku bersama salah satu dari Wanita muda diluar sana, mereka juga akan menua dimakan waktu sepertimu suatu saat nanti. Sementara aku? Sebanyak apa pun usiaku, aku akan tetap sama tak lekang oleh waktu.” Kini Eros sengaja duduk di samping Aislin.
Berusaha menutup mulut cerewet Nenek cantik tersebut dengan sesuap sup. Setiap Aislin akan berbicara, Eros memilih menyumpalinya kembali dengan sesendok sup asparagus.
“Kalian sudah akrab rupanya” suara Ken terdengar dari belakang membuat kedua pasangan beda usia itu menoleh ke belakang. Aislin panik lalu melihat punggung tangannya lagi.
Keriput. Untuk pertama kalinya Aislin merasa bersyukur tangannya keriput. Dari pada dia harus menjelaskan panjang lebar kenapa wujudnya bisa kembali muda?
“Dia sangat tidak sabaran Ken, aku belum selesai mengunyah, dia sudah mau menjejalkan satu suap lagi” protes Aislin mengadu pada Putranya.
“Maafkan saya. Mungkin karena belum terbiasa menyuapi orang tua” kata Eros merasa sangat bersalah. Reaksi Eros, membuat Aislin tercengang.
Eros bukan tipikal yang mau disalahkan lantaran memang dia merasa tidak bersalah. Tapi sekarang, kenapa dengan mudahnya dia mau menelan saja kesalahan yang ditimpakan padanya?! Apa rencana selanjutnya Pria ini?! Bagaimana caraku mengusirnya?! Teriak kata hati Aislin tak tertahan lagi.
“Ya ampun. Maafkan kelakuan Momku oke, bisa kau bersabar dengan Wanita tua cerewet itu?” jawab Ken menghela nafas panjang.
“Kau!! Kenapa justru membela Pria asing ini?!” omel Nenek cantik kesal.
“Ayolah Mom, aku tahu kelakuan Mom selama ini oke, ingat Mom sudah berhasil membuat 13 perawat yang kami kirim ke mari memilih keluar? Dan alasan mereka semua keluar selalu sama. Mom terlalu banyak mengeluh, protes, dan sering mengomeli mereka. Siapa yang tahan dengan perlakuan seperti itu Mom?” kini Putranya mulai berkecak pinggang kesal.
“Bukan begitu cara berterima kasih untuk orang-orang yang bersedia mengurus Mom. Paling tidak beri pujian pada mereka lebih sering” kini Putranya berjongkok di samping Aislin memelas.
“Kali ini perlakukan Eros jauh lebih baik dari orang-orang itu Mom. Demi Ken, dan Putra Mom lainnya. Kami sekarang sangat membutuhkan bantuan Eros. Kau ingin kami menjalani kehidupan tenang bukan? Ini jalannya Mom, ini waktunya, dan Eros jalan keluarnya” kini Ken menggenggam lembut tangan Ibunya berharap sang Ibu tak lagi mencari cara untuk mengusir perawat barunya kali ini.
“Berdirilah”
“Janji dulu kau akan bersikap manis pada anak itu Mom”
“Kau terlalu memanjakannya” geram Aislin ketus.
“Mom....,”
“Oke...., aku berjanji. Puas?”
“minta maaflah padanya” Ken melirik pada Eros setelah mengucapkan hal itu pada sang Nenek cantik.
"Maaf" kata Aislin, menatap datar Eros lalu berpaling ke arah Ken.
"Lihat? kau puas sekarang?" kata si Nenek cantik menatap Putranya.
"Ya, sangat menyenangkan melihatmu selembut itu Mom, apa yang Mom inginkan sekarang? Ken akan mencoba mengabulkan"
__ADS_1
"Aku lebih senang kau yang menyuapiku bukan dia" rengek Aislin manja.
"Eros sudah berbaik hati akan menyuapimu Mom," jawab Ken tak enak hati melihat Eros masih membawa mangkuk sup di tangan kirinya, lalu sendok sup yang telah terisi di tangan kanannya.