Rainbow Of Destiny

Rainbow Of Destiny
Episode 11


__ADS_3

“Tiga minggu yang lalu” jawab Aislin dan Richard bersamaan.


“Lihat?!” seru sang reporter heboh sambil menatap ke kamera.


“Mereka benar-benar kompak menjawabnya. Mari kita doakan agar mereka segera menikah” goda sang Reporter sambil mengerlingkan mata di depan kamera sementara kedua pasangan baru itu hanya tersenyum malu-malu.


Sementara itu, terlihat Eros merebahkan diri di atas bukit. Ia menatap ke langit yang biru, tempat seharusnya ia tinggal. Eros mendengus kesal mengingat bagaimana cara Richard Louis mengumumkan diri bahwa sebentar lagi, dia akan menikahi Aislin.


“Kau masih disini? Sampai kapan kau akan tetap terpaku pada manusia itu?” tegur seorang Dewa yang tiba-tiba muncul, ikut merebahkan diri di atas rerumputan.


“Gazleil. Keinginanmu sudah aku penuhi untuk apa kau datang kemari?” jawab Eros enggan. Lebih baik Gazleil tidak menemuinya sekalian.


“Kau tahukan, hubungan Aislin dan Richard adalah hubungan seumur hidup? Kau masih tidak rela melepasnya?”


“Memang urusannya dengan ku apa? Jika dia harus menjalani hidup dengan Pria sialan itu, aku akan mengalah. Sesuai dengan ucapanmu Gazleil, dia harus bersama dengannya untuk melahirkan anak-anak emas itu kan? Jadi, setelah dia melahirkan, tugasnya telah ditunaikan. Saat itu aku akan mengambilnya kembali” jawab Eros lugas.


“Tidak. Tetap tidak bisa. Kau lupa? Guru pertama bagi anak-anak adalah Mom mereka. Jadi, Aislin harus tetap berada disisi anak-anak itu, sampai mereka benar-benar menjadi apa yang telah ditakdirkan Dewa” kekeh Gazleil sambil menggelengkan kepala berulang kali.


“Jadi, kau masih mau tetap bersabar menunggunya? Diusia nya yang ke 70 tahun, Richard bukanlah gangguan lagi bagimu. Kau bisa mengambil kesempatan itu untuk bersamanya sampai akhir hayatnya”


“Di usianya yang ke 70 tahun? Kau bilang hubungan mereka seumur hidup”


“Tapi umur Pria itu hanya sampai 66 tahun. Dan saat itu, Aislin telah kehilangan teman hidupnya. Kau bisa masuk ke dalam hidupnya saat itu” tiba-tiba Dewa lain ikut berkomentar di sebelah Eros.


“Thanatos? Untuk apa juga kau datang kemari? Ingin menertawakan nasibku, bersama Dewa satu ini?” tanya Eros sambil menunjuk ke arah Dewa Gazleil.


“Pilihanmu hanya dua Eros. Kami hanya memperingatkanmu. Pertama, kau akan menunggunya dalam kurun waktu yang lama. Kedua, kau bisa melupakannya saja lagi pula benang kehidupanmu itu justru tertuju pada seorang Dewi, setelah Psikhe terlahir kembali. Kenapa kau memilih penantian yang panjang?” tandas Thanatos mencoba memberi pencerahan.


“Entah berapa kali Psikhe akan terlahir ke dunia ini, tidak akan ada batasan untukku menantinya” Eros masih bersikeras.


“Dasar budak cinta. Bisakah kau berpikir lebih baik dari ini? Kau adalah Eros, Dewa cinta bung!! Untuk apa terus memikirkan Aislin. Dia sudah bukan Psikhe mu lagi” keluh Dewa Thanatos setengah menggerutu.


“Terlalu lama bergelut dengan pekerjaannya mungkin dia sudah mulai terpengaruh para manusia dalam memandang cinta” tambah Gazleil mencibir habis-habisan.


“Pergilah jika kalian hanya akan membuat telingaku gatal” gerutu Eros, ia tahu dua Dewa itu sulit untuk diusir mereka sangat suka mengusik hari tenangnya. Eros duduk, dan bersiap pergi. Dengan sigap, tangan kedua Dewa itu menggapai baju Eros hingga sang Dewa cinta tak punya kesempatan melarikan diri.


“Berikan hadiah kecil untuk Dewa yang telah menjelma menjadi budak cinta ini kawan,” lirih Gazleil sambil melirik ke arah Thanatos.


“Berikan Aislin coklat ini. Maka kau akan melihatnya awet muda. Tapi, orang di sekitarnya mungkin akan menganggapnya aneh karena dirinya sama sekali tak bertambah tua meski belasan tahun telah berlalu.” Thanatos mengulurkan sekotak coklat mungil pada Eros.


“Efek sampingnya?” tanya Eros menaruh curiga.


“Tidak ada. Setelah dia mengonsumsi coklat ini, maka dia hanya punya dua pilihan. Berpindah tempat agar tidak diketahui orang, atau menetap dengan menuai banyak tanda tanya dari masyarakat. Jadi, buatlah pilihan. Kau ingin memilikinya kan? Maka buatlah ia makan coklat ini” jawab Thanatos mencoba menenangkan.


Kalau aku membuatnya memakan coklat ini..., artinya dia harus merelakan impiannya untuk berkecimpung di dunia hiburan. Apa ini tak terlalu egois? Batin Eros sambil menatap sendu coklat di tangannya.


“Jangan ada yang mengikutiku. Aku perlu mempertimbangkan hal ini karena menyangkut masa depan Aislin” jawab Eros dalam sekejap mata dirinya menghilang entah kemana. Meski kedua Dewa tersebut, kalau mau, bisa saja mengetahui keberadaan Dewa Eros dalam satu kedipan mata saja.

__ADS_1


“Kau tahu benar jika Eros tak akan melakukan hal itu terhadap Wanita yang ia cintai. Lalu kenapa kau tetap ingin melanjutkannya?” geram Thanatos menoleh pada Gazleil dengan tatapan menyudutkan.


“Aku iba terhadapnya Thanatos. Bagaimana bisa aku membiarkannya mengalami penantian yang panjang? Sudah cukup penantiannya terhadap Psikhe dan tidak akan terulang lagi kali ini. Setidaknya, jika ia yang memakan coklat itu penantiannya akan terasa sangat singkat” jawab Gazleil sendu. Ya, jika Dewa yang memakan coklat itu, dia akan tertidur sepanjang ukuran coklat tersebut.


“Kalau dia tertidur, benang kehidupan akan kacau. Eros tidak bisa memanah manusia-manusia yang telah kau tentukan perjodohannya” Thanatos memperingatkan.


“Kau bisa mengaturnya bukan? Gunakan Dewa kecil untuk menggantikannya sementara waktu” balas Gazleil terkekeh lembut, membuang muka agar dirinya tak melihat ekspresi kesal dari Dewa Thanatos.


Dewa Thanatos kesal bukan main tapi dirinya juga tak dapat berbuat apa-apa selain mengikuti permainan si Dewa Gazleil. Sang Dewa tersebut hanya meniup udara dan muncullah gumpalan awan, yang dapat digunakan untuk mengawasi Eros. Mata Thanatos melebar setelah melihat Eros benar-benar memakan coklat yang seharusnya di makan oleh Aislin.


“Dewa bodoh” umpat Thanatos lalu menghilang begitu saja. Thanatos pergi ke tempat Eros berada sebelum Eros jatuh ke tanah, Thanatos segera membuat tubuh Eros melayang diudara. Belum ia sadari bahwa Gazleil muncul di belakang, memperhatikan Thanatos yang menatap sendu Eros.


“Jangan khawatirkan dia karena ini keputusan Eros sendiri” suara Gazleil membuyarkan lamunan Thanatos.


Dari tahun ke tahun, waktu telah bergulir cepat. Tak terasa Aislin telah berusia 70 tahun, memiliki tiga orang Putra yang hebat. Ken, Putra tertua kini memiliki 4 orang anak. Bean, Putra kedua Aislin, memiliki 2 orang anak dan terakhir, Daniel Putra terkecil sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan.


Aislin kini hanya sanggup duduk sambil memandang fotonya dengan Suaminya Richard Louis. Memandangi sambil bernostalgia tentang awal pernikahan yang seperti sebuah mimpi bahkan hingga saat ini.


“Kau merindukannya Aislin?” tiba-tiba seseorang mengajaknya bicara dari arah belakang. Aislin berbalik, dan memperbaiki posisi kaca matanya yang melorot.


“Edward Jorgie? Bagaimana kau...tidak berubah sedikitpun?” pekik Aislin terkejut dengan kedatangan Eros.


“Panggil aku Eros. Nama asliku Eros”


“Bagaimana bisa kau tahu rumahku? Dari siapa kau...” Aislin terkesiap ketika tiba-tiba Eros memeluknya erat.


“Kau..., belum menjawab kenapa kau bisa tahu dimana rumahku?” tanya Aislin sambil melepaskan pelukan Eros. Pria tersebut hanya tersenyum lalu meletakkan telapak tangan kanannya di atas kepala Aislin. Dewa cinta ini sedang mengembalikan ingatan sebelum Aislin mengenal suaminya. Maka kenangan kedekatan Aislin dengan Eros bermunculan dalam ingatan Nenek cantik itu.


“Aku tidak boleh mengubah takdirmu Aislin. Takdirmu di kehidupan kali ini, adalah Richard Louis dan aku hanyalah sebutir kerikil yang akan mengganggu.” Eros membalik tubuh Aislin perlahan ingin menjelaskan kesalah pahaman Aislin. Awalnya, Aislin menatap wajah Eros tapi pandangannya terpaku ke kaca, tepat di belakang tubuh sang Dewa cinta.


Matanya melebar karena dalam kaca tersebut, bayangan dirinya sama persis seperti ketika ia masih muda masih sama seperti ketika ia menjadi super model sekaligus bintang film mendampingi Suaminya Richard Louis. Ya, tanpa ada sebuah perjanjian terucap, begitu Aislin menjadi Istrinya, Richard selalu hanya akan mau menerima tawaran main film yang melibatkan Aislin sebagai kekasihnya atau Istrinya.


“Wajahku?” gumam Aislin lalu mengangkat punggung tangannya yang keriput. Ia menatap lekat punggung tangan yang jelas-jelas masih keriput tapi ketika ia melihat ke arah cermin, tangannya masih selentik zaman mudanya.


“Ragamu mungkin sudah renta Aislin, tapi jiwamu masih sama seperti kita pertama bertemu. Karena semenjak kau hilang ingatan, jiwamu sedang menantikan kehadiranku” tegas Eros sambil menepuk bahu Aislin lembut.


“Kau datang padaku karena ingin menemuiku? Atau ada hal yang lain? Bukankah kau Dewa? Apa ini waktuku menyusul Richard? Ke surga?” tebak Aislin ragu.


“Seberapa yakin kau?”


“Maksudmu?”


“Itu, seberapa yakin Suamimu Richard benar-benar masuk surga? Belum tentu yang mati tujuannya selalu ke surga” sahut Eros bersandar di tembok.


“Jadi kau hanya ingin menemuiku? Itu lebih terasa tidak masuk akal. Untuk apa Pria muda sepertimu menemui Wanita tua sepertiku?”


“Kau pernah...jadi kekasihku ingat?” sahut Eros mengangkat kedua alisnya.

__ADS_1


“Itu hal berbeda. Masa muda dan masa tuaku jelas jadi masalahnya?” geram Aislin kesal.


“Mungkin bagi orang lain kau nenek tua tapi bagiku, kau lebih dari itu. Seberapa pun usiamu, itu tak masalah bagiku. Bahkan aku melewatkan banyak waktu hanya untuk menunggumu terlahir sebagai Aislin. Jadi, berapa ratus kali pun kau meninggalkanku, aku akan menunggumu”


“Kenapa kau terus bertahan dengan penantian melelahkan seperti itu Eros? Bagaimana jika setelah ini di berbagai kelahiranku justru benang kehidupanku selalu berakhir pada Pria lain?”


“Maka aku akan tetap memilihmu apa pun yang terjadi. Kenapa kau memikirkan hal itu? Padahal kau hanya perlu menerima karena hanya akulah yang akan menjalaninya”.


“Jadi apa maksudmu datang padaku?”


“Masih belum memahamiku? Sepertinya kau akan jauh lebih paham jika aku menetap disini”


“Apa maksudmu? Apa kata anak-anakku?”


“Memang apa yang bisa mereka katakan? Tinggal bilang kalau aku adalah anak dari saudara jauh Mom mereka"


" Lalu Momku mengizinkanku tinggal bersamamu, untuk menjaga Wanita tua yang tadinya hanya tinggal sendirian. Kurasa, dengan begitu mereka justru akan jauh lebih tenang” potong Eros sambil menjentikkan jarinya. Kejadian yang sama terulang kembali para pembantu dan satu koki gaib kembali menunjukkan eksistensinya.


“Pergilah. Situasi kita berbeda kali ini”


“Maaf akan sulit untuk ku kabulkan. Mengingat betapa lamanya aku menantikan hari ini” senyuman licik itu terlukis indah di wajah tampan sang Dewa. Mendadak suhu diruang tempat Aislin dan Eros menjadi dingin. Pencahayaan lebih terang dari biasanya. Lalu muncullah dua Dewa yang paling peduli pada Eros.


“Maaf mengganggu kebersamaan kalian, tapi kami datang untuk memberikan hadiah pada Eros dan reinkarnasi dari Psikhe” sambut Dewa Gazleil mendapati wajah Eros yang mulai memucat. Ya, kedua Dewa tak diundang bahkan tak pernah ada niatan untuk dijemput sekalipun oleh Eros itu sadar betul, mereka datang mengganggu kenyamanan Eros.


“Ah, jangan bersikap skeptis pada kami bung, kami membawa hadiah untuk kalian,” tambah Dewa Thanatos meringis kesal. Kenapa juga si Dewa cinta itu sangat memperjelas ekspresi tak ingin diganggu?!


“Bagaimana lagi? Bukannya kalian selalu datang untuk memisahkan kami berdua?” ketus Eros kini meraih lengan Aislin merapat padanya.


“Tidak..., kami tak sekeji itu bung, soal perpisahan itu..., memang harus terjadi atau dunia akan kacau. Tapi berbeda kali ini. Aku akan memberi kalian waktu bersama disisa hidup Psikhe sebagai Aislin Bell Wilunark” tanpa berkata lebih panjang lagi, Dewa Gazleil mengeluarkan serbuk dari dalam kantung kecil di balik pakaiannya.


Di tiupnya serbuk tersebut, dan terbang menutupi seluruh tubuh Aislin. Betapa terkejutnya Eros, ketika ia mendengar suara Aislin muda yang sedang terbatuk-batuk. Setelah serbuknya menghilang, wajah Eros sangat bahagia begitu melihat wujud Aislin yang kembali terlihat muda!!


“Kau memperpanjang usianya dengan mengembalikan masa mudanya?” tanya Eros suka cita.


“sayangnya tidak. Jika hal itu kami lakukan, maka akan ada bencana lain yang akan menunggu. Lagi pula, apa kau masih mau hubunganmu dengannya diganggu oleh Pria lain? Jika Pria lain melihat Aislin muda, mereka akan sangat tertarik padanya” kekeh Dewa Gazleil melirik kearah Eros.


“Lalu?” tanya Eros kembali.


“Aislin hanya akan terlihat muda di dalam rumahnya. Dan jika dia keluar, dia akan kembali pada tubuh rentanya. Tapi, hadiah kedua pasti akan sangat kau sukai” tandas Gazleil menekankan kalimat terakhir agar suara protes Eros tak terdengar olehnya. Benar saja, Eros yang akan angkat bicara memprotes langsung kembali menutup mulutnya.


“Tapi tepat pukul delapan malam. Aislin bisa keluar bersamamu dalam wujud mudanya. Ingat, hanya dengan adanya dirimu, hal tersebut bisa terwujud. Dan, akan berakhir tepat pada pukul dua belas malam” jawab Dewa Gazleil mengutarakan kebaikan hatinya pada pasangan itu.


“Jadi berapa lama sisa usiaku?” tanya Aislin cemas.


“Usiamu hanya akan mencapai 80 tahun. Itu waktu yang panjang untuk kebersamaan kalian.” Jawab Dewa Thanatos menimpali.


“Dewa Gazleil apa di kehidupanku berikutnya aku akan berjodoh dengan Eros?”

__ADS_1


“Maaf. Itu tidaklah mungkin terjadi. Kau dan dia dua hal berbeda. Tapi, seperti saat ini, di kehidupanmu selanjutnya, kau dan dia akan bersama setelah Jodohmu meninggalkan dunia fana ini"


"Jika kau tidak ingin hal ini terluang di masa mendatang, kau tinggal berdoa saja padaku. Maka akan ku hapuskan hadiah ini demi kedamaianmu” jawab Dewa Gazleil bijak. Wajah Aislin memucat seketika.


__ADS_2